Sebab ada hal yang tak lagi bisa aku dapatkan, kala air mata ini mulai membiaskan garis senyuman. Yaitu:
Kehadiranmu.
Beribu-ribu detik telah berlalu, tetapi aku masih saja menjadi orang yang giat menaruh rindu atas kamu. Parasmu kadang hadir dalam bunga-bunga tidur yang mengganggu pejamku. Dan luka lebam yang membawakan rekam jejak kita, selalu muncul bersamaan dengan rinai mata yang menghempaskan seluruh bahagia.
Nyatanya, aku tak pernah baik-baik saja tanpa kamu. Oleh karena itu, bolehkah aku mengenangmu? Kali ini aku janji, setelah mengenang aku akan kembali menata mimpi.
— Arief Aumar Purwanto







