Surat Permohonan dari Puan
Aku ingin memesan satu porsi bubur ayam. Dengan sedikit cercahan dari rindu yang menggebu, dengan sedikit bayangmu ikut luntur dalam bubur yang kupilih untuk diaduk.
Aku ingin minum es teh manis, dengan harapan pahit-pahit senyummu bisa sirna, digantikan dengan senyum yang selalu kurindukan sejak dulu.
Aku ingin makan di malam hari. Dengan bulan dan bintang yang tidak malu-malu untuk muncul, dan dengan wajahmu yang selalu terbayang di langit; sedang tersenyum, melambai, maupun mengecup. Ah, lama-lama bisa gila aku.
Aku ingin makan di senayan, saat mobil berlalu lalang tidak peduli, saling menyalahkan.
Intinya, aku ingin makan bubur ayam di senayan, malam hari, minum es teh manis, bersama wujudmu yang nyata. Kalau kau tak suka bubur, masih ada pecel lele. Masih ada menu yang lain. Aku akan cari mati-matian sampai kau mau.
Semua itu pun kalau kau sudi. Kalau kau sudi menyisihkan waktu untuk kebahagiaanku. Kalau kau sudi ku pandang sepanjang malam, dengan jantung yang tidak bisa berhenti berdetak kencang tak karuan.
Aku harap kau mau ya. Tak usah kau jawab detik ini. Besok juga boleh. Lusa, bisa. 10 tahun lagi? Ah, lama. Tapi tak apa. Kalau kau sampai mengangguk, aku akan langsung sujud syukur, membiarkan diri tenggelam ke dunia nyata.
Aku ingin, jangan membuat kecewa. Karena sejatinya rasa yang sewindu ini sudah terlalu banyak kau buat terluka.