Di antara sekian takdir yang diikhtiarkan, menjadi shalih termasuk salah satu yang harus menjadi tujuan. Terlebih, menjadi pribadi shalih (sebagaimana keterangan Gus Baha) termasuk hal yang paling mungkin dan relatif mudah diwujudkan.
Kenapa mudah? Dawuh Gus Baha, karena bawaan tubuh—atau fitrah—manusia itu pada dasarnya mudah melakukan ketaatan dan cenderung menolak kemaksiatan. Justru untuk bermaksiat, manusia membutuhkan sekian provokasi (ini istilah Gus Baha). Provokasi yang dimaksud antara lain nafsu, godaan setan, dan pengaruh lingkungan.
Karena itu, kegagalan dalam berbagai ikhtiar meraih pencapaian lain sedapat mungkin jangan sampai membuat kita juga gagal menjadi orang yang shalih. Terlebih sebagai seorang bapak, kegagalan dalam menjaga keshalihan tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga pada keluarga. Dosa yang dilakukan seorang bapak berpotensi mencabut keberkahan dan sering kali terlihat dampaknya pada kondisi keluarga. Harta haram yang didapatkan untuk memenuhi nafkah, misalnya, sangat mungkin merusak akhlak pasangan dan anak.
Sebaliknya, keshalihan seorang bapak juga membawa dampak yang luas bagi keluarga. Hal ini dapat kita ambil sebagai ibrah dari ayat ke-82 surat Al-Kahfi, tentang seorang anak yang mendapat perlindungan Allah melalui Nabi Musa dan Khidir ‘alaihimassalam yang memperbaiki rumahnya. Perlindungan itu diberikan karena keshalihan bapaknya, yang menurut tafsir bahkan merupakan buyutnya hingga generasi ketujuh. Ini menunjukkan bahwa amal shalih tidak berhenti pada pelakunya, tetapi dapat melintasi generasi.
Dengan kata lain, keshalihan seorang bapak adalah asuransi dan investasi jangka panjang terbaik, sekaligus legacy yang harus diikhtiarkan. Segagal apa pun kita dalam menyiapkan bekal materi untuk keluarga, jangan sampai gagal menjadi sosok bapak yang shalih: bapak yang menjaga ketaatan, bahkan ketika kesempatan untuk bermaksiat—terlebih di zaman ini—terbuka semakin lebar. Wallahu a‘lam.
Sore itu, aku membawa beberapa snack brownies untuk muridku di TPA. Kuhadiahkan sebagai reward untuk mereka yang selalu hadir dan menyempatkan mengaji setiap sore.
Hari itu, muridku yang hadir hanya tiga dari enam anak. Aku memberi satu-satu, setelah mereka membaca dan menulis. Lalu, kuberi waktu pada mereka untuk jeda sejenak, sambil bergurau satu sama lain. Yaaa sebelum menghafalkan doa-doa.
Kulihat satu muridku tidak memakan kuenya, dan ia simpan di wadahnya. Lalu kutanya,
"Kenapa nggak dimakan?"
"Gapapa", jawabnya sambil tersenyum.
"Dimakan aja, itu bareng sama temennya", kataku.
"Nanti aja, masih kenyang", katanya.
Setelah kedua temannya selesai menghabiskan kue, kami lanjut menghafal dan mengulang kembali doa-doa harian. Setelah semuanya selesai, aku hadiahkan brownies lagi, satu-satu sebelum mereka pulang.
Muridku yang tadi, kukira akan memakan kuenya, namun kulihat ia menyimpannya lagi. Sampai temannya pun ikut bertanya kenapa tidak dimakan kue nya. Temannya itu mengajak untuk makan kue bersama-sama.
"Ayoklah syifa, kita makan kuenya".
"Kena untuk ading ulun", katanya.
Nanti untuk adikku, katanya.
Aku sontak terkejut mendengar jawaban si anak polos berumur tujuh tahun itu. Ternyata, ia menyimpan kue (yang hanya sedikit) untuk adiknya di rumah. Aku tersenyum. Betapa aku terharu mendengarnya.
Kupikir, perhatian seorang kakak seringkali dengan pengorbanan, meski dari hal-hal kecil. Ia tentu akan lebih senang memakan brownies berdua dengan adiknya, daripada ia makan untuk dirinya sendiri. Hal ini tentu tidak lepas dari peran orang tua yang baik dalam mendidik anak-anaknya.
Jika kita menganggap bahwa anak adalah investasi terbesar akhirat kita, maka kita tidak akan menganggapnya sebagai beban. Justru kita akan sungguh menyayangi dan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Kita akan berusaha memperbaiki diri; memberi contoh yang baik; juga mendidiknya dengan sebaik mungkin.
Bahkan semuanya diikhtiarkan sejak sebelum menikah, juga memilih pasangan.
Semoga setiap dari kita yang mengusahakan keturunan, bisa menjadi orang tua yang baik; serta menjaganya sebaik mungkin agar menjadi anak yang shalih, taat, serta memiliki rasa takut dan pengharapan kepada Rabbnya.
Draft yang ditulis di Buntok, 19 Januari 2021 | Pena Imaji
Pada zaman jahiliyah dulu , ketika Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad masih banyak dibenci oleh para kaum Quraish, salah satu yang getol menganggu dakwah Rasul adalah Uqbah bin Muith dan partnernya Ubay bin Khalaf.
Uqbah bin Muith tipikal orang yang so asik di circle pertemanan, dia akan merasa superior dan asik ketika bisa menjadi spotlight diantara teman tongkrongannya.
Sosok Uqbah bin Muith kalo sekarang tuh kaya orang yang merasa keren kalo berbuat dosa, kaya abg abg yang suka pamer dugem mabok terus diposting di stories Instagram lengkap dengan hastag #YOLO.
Salah satu kejahatan Uqbah bin Muith kepada Rasulullah, pernah suatu ketika Nabi Muhammad sedang sujud dalam shalat, kemudian Uqbah mengambil kotoran unta dan menumpahkanya ke badan nabi Muhammad, biadab kan.
Tapi disisi kebiadaban Uqbah terhadap nabi, Uqbah diam diam selalu melihat dan mendengar lantunan Al Qur'an Rasulullah, dan tiap kali mendengar Rasulullah membaca Al Qur'an hatinya selalu terenyuh. Sampai tersyiar kabar kalo Uqbah bersyahadat dan masuk Islam.
Mendengar partner in crime-nya masuk Islam dan tak lagi membenci Rasulullah, Ubay bin Khalaf geram, Ubay pun terus menerus menghasut Uqbah untuk senantiasa kembali membenci Rasulullah, sampai pada suatu ketika Ubay ngide buat challenge Uqbah untuk meludahi Rasulullah jika memang dia orang yang pemberani, Ubay mencoba menyenggol ego Uqbah bin Muith.
Karena sifat Uqbah yang pengen jadi spotlight dan gengsi yang berlebih telah mengimani Rasulullah, Uqbah pun mendatangi serta meludahi Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam.
Cerita dua sejoli jahiliyah ini diabadikan didalam Al Quran, Surat Al Furqon ayat 26 - 29
"Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama rasul."
"Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku),"
"Sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur'an) ketika (Al-Qur'an) itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia."
Ayat ini turun ketika melihat konsep pertemanan yang keliru yang terjadi diantara Uqbah dan Ubay hingga akhirnya mereka tewas dan dimasukkan kedalam neraka.
Makanya ustadz ustadz di kajian selalu menyeru untuk meninggalkan pergaulan toxic dan memperbanyak teman teman shalih, karena pertemanan itu saling mempengaruhi satu sama lain, pepatah Arab pernah bilang ;
الصَّاحِبُ سَاحِبٌ
“Yang namanya sahabat bisa menarik (mempengaruhi).”
Maka, alangkah senangnya kalo kita bisa berteman dengan orang shalih, saling mengingatkan dan menarik kita dalam kebaikan, dan diakhirat bisa saling tarik menarik masuk ke dalam surga.
Setiap Muslim tentu mendambakan dirinya menjadi orang shalih. Namun, bagi sebagian orang, menjadi orang shalih kadang hanya sebatas keinginan, tidak benar-benar diwujudkan. Kadang, keinginan menjadi orang shalih itu malah kontraproduktif dengan praktik-praktik yang dilakukan, Betapa banyak Muslim yang malah mendatangkan halangan-halangan bagi dirinya untuk menjadi orang yang shalih.
Berkaitan dengan ini, Imam Ali pernah berkata, “Seandainya tidak ada lima perkara, seluruh manusia tentu menjadi orang-orang shalih. Pertama: Merasa puas dengan kebodohan. Kedua: Terlalu fokus terhadap dunia. Ketiga: Bakhil terhadap harta. Keempat: Riya dalam beramal. Kelima: Membanggakan diri sendiri.” (Muhammad Nawawi bin Umaral-Jawi, Nasha’ih al-‘lbad, him. 32).
Inilah lima perkara yang oleh Imam Ali dianggap sebagai ‘penghalang’ seseorang untuk menjadi orang shalih. Terkait dengan yang pertama (merasa puas dengan kebodohan), jelas sikap ini tercela dalam Islam yang nyata-nyata telah mewajibkan setiap Muslim untuk menuntut ilmu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap Muslim.” (HR Muslim)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda, “Allah Subhanhu Wa Ta’ala murka terhadap orang yang memiliki ilmu tentang dunia tetapi tidak memiliki ilmu, tentang akhirat (agama).” (HR. Al-Hakim)
Juga sabdanya, “Dosa orang yang berilmu itu satu, sementara dosa orang bodoh itu dua.” (HR ad-Dailami). Maksudnya, orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya mendapatkan satu dosa. Dengan kata lain, dia gugur dari dosa menuntut ilmu, tetapi tetap berdosa karena tidak mengamalkan ilmunya. Adapun orang yang bodoh mendapatkan dua dosa: dosa karena tidak menuntut ilmu sehingga menjadikan dirinya bodoh dan dosa karena dia tidak beramal. Sebab, bagaimana dia bisa beramal, atau apa yang mau diamalkan, sementara dia tidak berilmu?
Terkait dengan yang kedua (terlalu fokus terhadap dunia), sikap ini pun buruk dalam pandangan Islam. Sebab, Allah Subhanhu Wa Ta’ala telah berfirman (yang artinya): Carilah pada apa yang telah Allah anugerahkan kepada kalian (kebahagiaan) negeri akhirat dan jangan kalian melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi (QS al-Qashash[28]: 77).
Dalam ayat ini bahkan kebahagiaan akhirat lebih didahulukan dari pada kebahagian dunia meski manusia didorong untuk bisa meraih kedua-duanya. Rasul juga bersabda, “Sebaik-baik kampung dunia adalah bagi orang yang menjadikannya sebagai bekal untuk akhiratnya hingga ia ridha kepada Tuhannya. Seburuk-buruk kampung dunia adalah bagi orang yang terpalingkan olehnya sehingga berkurang keridhaan kepada Tuhannya.” (HR al-Hakim).
Terkait dengan yang ketiga (bakhil terhadap harta), maka kita tampaknya perlu menyadari kata-kata Imam Ja’far ash-Shadiq. Beliau pernah menyatakan, seorang hamba mesti menyadari bahwa apa yang ada padanya bukan miliknya, tetapi milik ‘tuan’-nya, yakni Allah Subhanhu Wa Ta’ala. Segala hal yang ada padanya adalah titipan dari-Nya. Jadi, tak selayaknya dia bakhil terhadap harta, yang juga sesungguhnya merupakan titipan Allah yang kebetulan Dia titipkan kepadanya.
Terkait dengan yang keempat (riya dalam beramal), Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Orang yang paling keras azabnya pada Hari Kiamat adalah orang yang berlaku riya di hadapan manusia bahwa ia telah berbuat baik, padahal tak ada kebaikan sedikitpun didalamnya.”(HR ad-Dailami).
Rasul pun bersabda, “Sesungguhnya Allah Subhanhu Wa Ta’ala mengharamkan surga atas orang-orang yang berbuat riya.” (HR Abu Nu’aim).
Terakhir, terkait dengan yang kelima (membanggakan diri sendiri), kita pun sejatinya menyadari, bahwa tak layak manusia membanggakan diri. Sebab, sejak awal manusia diciptakan dari ‘air yang hina’. Lebih dari itu, apa yang harus dibanggakan manusia jika semua yang ada padanya, termasuk dirinya sekalipun, adalah milik Allah Subhanhu Wa Ta’ala, Pencipta manusia dan seluruh jagad raya ini? Tentu sangat janggal dan aneh jika manusia berbangga atas apa yang orang lain titipkan kepadanya. Bukankah aneh jika kita berbangga diri hanya karena dititipi rumah (walau rumah mewah) oleh tetangga samping rumah kita yang kebetulan sedang bepergian jauh? Bukankah aneh jika kita harus takjub diri jika teman kita menitipkan mobilnya (meski mobil itu super mahal) kepada kita saat kebetulan dia harus ke luar negeri? Karena itu, tentu aneh pula jika kita berbangga diri, apalagi bersikap sombong, atas apa saja yang telah Allah titipkan kepada kita (anak-istri, rumah, mobil, apartemen, tanah/sawah yang luas, serta harta kekayaan lainnya yang melimpah ruah). Sebab, bukankah semua itu hakikatnya milik Allah Subhanhu Wa Ta’ala, yang kebetulan Dia titipkan kepada kita? Wa maa tawfiiqii illa billaah wa’alayhi tawakkaltu wa ilayhi uniib.[] Arief B. Iskandar
MuslimahNews.com — Setiap Muslim tentu mendambakan dirinya menjadi orang shalih. Namun, bagi sebagian orang, menjadi orang shalih kadang h
Konsisten Beramal Shalih - Hidayatullah.com 🔥 Man Jada #VERZUZ
Konsisten Beramal Shalih – Hidayatullah.com 🔥 Man Jada #VERZUZ
Oleh: Alimin Mukhtar
Hidayatullah.com | Peribahasa mengatakan: ada asap, ada api. Jadi, “api” apakah yang mengepulkan “asap” kemuliaan dari dalam diri mereka? Kita berharap dapat menguak sedikit rahasia ini, dan meraih manfaat dengan meneladaninya.
Di dalam Al-Qur’an, sebenarnya Allah telah mengisyaratkan rahasia di balik semangat mereka, dengan berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman,…