Terkadang orang suka salah menyangka. Mereka pikir, begitu mudah menyatakan suka terhadap seseorang. Mereka mengira, seseorang langsung terkesima pada impresi pertama. Atau, terbuai kemolekan fisik, bahkan suara seseorang.
Buat yang lain, mungkin saja bisa. Dengan mudahnya mengaku kagum, padahal belum mengenal dekat. Lalu secara perlahan beri perhatian lebih.
Buat mereka, itu jamak adanya. Namun tidak denganku. Saya termasuk orang yang tidak mudah menyatakan suka terhadap perempuan. Dalam ukuran selama hidup, jumlahnya dipastikan tak banyak. Angka 5 mungkin terbilang lebih.
So, bisa dipastikan berapa kali sudah saya terkesima selama hidup. Dan jika saya suka, dasarnya bisa dipertanggungjawabkan. Tidak sembarang suka, kaka. Tidak begitu!
Bagi saya, sefrekuensi saja tidak cukup. Coba pastikan, jangan-jangan frekuensi kalian itu palsu. Kamu di frekuensi SW, sementara dia di frekuensi AM, misalnya. Jangan sampai, kalian hanya membual, untuk saling meyakinkan. "Mencoba terlihat menarik" istilah saya. Yang jika diteruskan berujung pada penipuan diri. Berupaya menjadi sosok ideal.
Dan kalau ukurannya adalah "nyambung", justru saya menyebutnya "tidak nyambung sama sekali". Lagi-lagi itu hanya delusi. Akibat kebanyakan mimpi, kata anak sekarang. Itu hanya sementara. Lebih tepatnya "kebetulan nyambung" aja. Sisanya, gak tahu. Bisa jadi "gak nyambung" ajah.
Itu sebabnya, "nyambung" tidak hanya terbatas cara dalam berkomunikasi. "Nyambung" bisa lebih jauh dari itu. Nyambung yang menurut versi saya adalah sebuah kondisi, ketika kamu memahami situasi orang lain. Kamu bisa berempati bahkan mampu menyelami mengapa kalian bisa berbeda akan suatu, bahkan banyak hal.
So, nyambung itu soal merendahkan ego, kak! Bukan untuk senang-senangan. Tapi, kamu bisa menerima orang lain apa adanya. Karena dasarnya setiap orang itu berbeda dan unik. Gak ada yang sama.
"Nyambung" itu, ibaratnya kalian kebetulan ada di persimpangan yang sama. Di lampu merah yang sama. Setelahnya, beda jalur yang gak tahu ujungnya kemana.
Karena itu penting untuk selalu bertanya; "apa dasarnya saya suka?" "bisakah diuji?"
Ketika kamu mampu memahami pikiran seseorang lewat karya yang dihasilkan. Misalnya sastra, foto atau karya lainnya, disitu kamu akan memahami, kedalaman nilai dari seorang manusia.
Dari situ akan muncul 'empati', yang tanpa sengaja, berujung pada 'simpati'. Simpati akan perjuangan yang sama, umpamanya. Atau, simpati karena sikap tegasnya. Pun, itu bisa macam-macam pembacaannya.
Sama seperti ketika saya melihatmu, rasa itu tidak ujug-ujug. Dia hadir perlahan. Tanpa memaksa. Pun, tidak bisa diabaikan. Dan sejujurnya, saya gak pernah berniat suka. Tidak begitu.
Biasanya, rasa itu larut bersama proses. Waktu berlalu dalam perenungan panjang, tentang kamu cantik karena kamu cerdas. Bukan karena bentuk tubuh apalagi wajah.
Kamu cantik karena kamu kritis. Skeptis. Kamu cantik karena sinis. Dan kamu cantik karena rela berbagi demi sesama, misalnya.
Dan tenang saja, kak. Meskipun suka, saya tahu batas. Tahu diri. Termasuk tidak akan melakukan langkah-langkah yang dominan.
So, enjoy ur life. Enjoy ur day. Sementara saya akan melihat dari kejauhan. Menyemangati jika dirasa perlu. Termasuk mendoakan yang terbaik.
Persis seperti petuah para tua-tua; "Rasa gak bisa ditolak. Gak bisa dimusnahkan, kak."
Kok, mirip hukum kekekalan energi ya? Hehehe
Lalu, nikmati saja. Setidaknya jadi pembelajaran hidup. Tentang hidup dan kehidupan. Tentang aku yang pernah suka.