Something, Someone, Sometimes
Berandai dan perandaian. Mau itu perempuan atau lelaki, semuanya memiliki titik dimana ia ingin tersenyum dengan hati yang berbunga. Susah bagi seorang yang hidupnya penuh akan ketidakpercayaan pada orang lain. Ia menginginkan suatu hal baru seperti yang ia tahu, kegiatan itu dilakukan oleh semua remaja disekitarnya. Ia menunduk, terdiam dengan senyum miris. Beberapa pertanyaan serupa menuntut keluar dari benak terdalamnya. Dalam diamnya, ia menangis.
Siapapun tahu, manusia hidup membawa misi. Kebenarannya adalah tidak semua manusia tahu apa misi yang ia emban untuk berlaku hidup. Tidak semuanya sadar, dan bahkan āmau sadarā meski sudah banyak realita kehidupan lewat depan mata kepalanya sendiri. Menutup diri untuk mengerti, miris.
Berandai, apakah bagian dari doa?Ā
Ia tahu ia manusia yang rapuh, tidak berguna, bukan apa-apa, bukan figur utama dalam laju rotasi bumi, bukan panutan yang sempurna. Kenyamanannya akan detik ini merasa tidak terasa tentram kala tuntutan umur mendorongnya untuk menggapaiĀ āsuksesā ala averageĀ hitungan orang kebanyakan. Tidak bisa dipungkiri namun yas, begitulah realita. Menuntut dirimu menjadi extrovert berdompet tebal. Tapi akan semua itu, ada satu yang sering lupa dimasukkan dalam to do listĀ orang yang benar sampai disana, jarang disampaikan. Yakni kedekatan diri dengan Tuhan.
Jujurlah pada dirimu. Kepada siapa kamu mau menunjukkan bahwa kamu adalahĀ āorang yang sudah seperti apa yang kalian mauā?
Orang lain tidak peduli denganmu. Mereka punya mulut, mereka bebas bercuat. Mereka punya jari, mereka berkomentar ria, Mereka punya misi dan keluarga mereka sendiri, namun hobi membanding-bandingkan. ItulahĀ āsiklusā. Kamu tidak perlu sembunyi atau bahkan lari dari alurnya. Diam, laporlah pada siapa yang mengāadaākan siklus ini. Ia ingin kamu mengadu.
Berlakulah bebas. Ini hidupmu, bukan urusan mereka.