Tulisan: Pesatnya Wahabiyyah
Setiap dakwah di media sosial penuh sekali dengan dakwahnya pemahaman wahabiyyah, dan akibatnya banyak pula yg akhirnya tahu tidak tahu, sadar tidak sadar menerima saja pemahaman tersebut. Kebanyakan adalah memang yg dari kalangan awam, yg ketika mendengar, melihat, membaca, maka langsung menerima. Sementara bagi yg mengerti tinggal lihat source, penulis, rujukan, asal muasal tulisan, tafsir yg mana, sudah bisa ditebak itu tulisannya kaum/ulama wahabiyyah atau sunni/aswaja.
Saya kurang suka dengan klaim yg menyebut kaum mereka salafy. Banyak dari kita sudah tahu bahwa Salafi itu cuma 3 abad. Satu, generasi sezaman dengan Rasullulah. Dua, generasi thabiin. Tiga, generasi thabiuth-thabiin. Pembelajar yg baik pastinya langsung mencari tahu siapa-siapa saja yg ada di dalam 3 generasi ini. Tidak ada yg lebih baik pemahaman Islamnya dari 3 generasi tersebut. Merekalah salafiyyah. Maka generasi setelahnya sampai generasi kita sebutannya khalaf.
Sebagai generasi khalaf, pastinya kita hanya akan mengikuti apa-apa yg diajarkan oleh generasi salaf. Jadi, jika ada ulama generasi khalaf yg tidak mengikuti kaidah-kaidah yg diajarkan oleh salafiyyah, maka patut ditinggalkan. Apalagi bila sampai membuat fatwa sendiri, menarik kesimpulan dalam pemahaman agama di luar metode pemahaman salafiyyah, seperti tidak manut pada 4 ulama mazhab dan lebih manut pada petuah ulamanya misalnya, maka jelas itu patut untuk tidak diikuti, bahkan ditinggalkan. Begitu bukan?
Keislaman kita semua adalah salaf bila cara kita mengkaji dan menyimpulkan sudah mengikuti pemahaman ulama salaf. Jadi, jelas salaf tidak bisa diklaim oleh mereka para wahabiyyah, yg jalan kembali kepada Qur'an dan sunnah nya berdasarkan pemahaman tersendiri dan berbeda dengan metode para salafiyyah. Untuk lebih tahu maksud saya, perhatikan ulama-ulama rujukan wahabiyyah ketika mereka mengkaji agama. Tidakkah bersambung sanad ilmunya ke generasi salaf? Masih belum paham? Makanya harus dipelajari sendiri, diperdalam sendiri nasab dan 'ijazah asatidznya/sanad keilmuannya. Pasti ketemu maksud saya. Hal ini sulit untuk dijelaskan bila tidak ditemukan dan dipelajari sendiri. Ustadz Adi saja susah memaparkannya ketika ingin menjelaskan ini, susah mengemasnya agar lebih mudah ditangkap maksud yg ingin disampaikan. Susah dicerna, apalagi bila keinginan untuk memahami hanya setengah-setengah, maunya disuapi tapi tidak mau memahami sendiri misalnya.
Perlu sekali mencari tahu nasab dan ijazah (sanad keilmuan) asatidz, agar tidak sekadar manut pada asatidz dan paham-paham tertentu, supaya tahu jalan dan metodologi salaf dalam kembali kepada Al Qur'an dan sunnah tidak sampai keliru. Supaya kita berusaha dengan sebaik-baiknya dengan harapan berada pada jalurnya para ulama generasi Salaf.
"Masalah" nya lagi, bagi yg sudah mengenal kaum wahabiyyah dan paham2nya, bisa memilah, sehingga hanya akan mengambil dakwah mereka yg sejalan sama paham sunni. Ajaran-ajaran yg tidak sejalan dengan apa yg diajarkan ulama aswaja, pastinya ditinggalkan. Bahkan sekadar quote-quote masalah sepeleh pun bisa tercium wahabinya, terlihat dari rujukannya. Namun sepanjang itu baik dan tidak menyimpang, kadang tetap di-share. Bukan berarti yg men-share itu wahabiyyah juga. Karena saya sering begitu. Salah tidak ya? (Setidaknya itu cara belajar aswaja, ambil yg baik/benar tinggalkan yg buruk/keliru, karena menilik bagaimanapun mereka juga ulama, jadi biarpun ada keliru dalam pahamnya, cukup tinggalkan penyimpangannya, lurusnya ambil. Cara pandang muslim sunni menghargai ulama.)
Namun "masalah" terjadi ketika yg menerima adalah kaum awam plus kurang suka mencari tahu asal usul yg ia terima lebih dalam. Tidak ada filternya. Apa-apa yg dibaca, dilihat, didengar, itulah yg diterima. Habis.
Pertanyaannya. Mengapa dakwah-dakwah wahabiyyah lebih unggul dan begitu gencar melebihi dakwahnya ahlussunnah wal jamaah terutama melalui media sosial, tapi di dunia nyata tidak pernah muncul, sembunyi-sembunyi? Saya ustadz-ustadznya saja jarang mendengar nama-namanya, kecuali si mbah Ust. Jawaz, Abduh Tuasikal, Khalid, Syafiq Riza, Firanda, Badrussalam, dan beberapa ust lainnya yg memakai domisili di belakang namanya sebagai cirinya, seperti Zainudin Al Banjary, Ambony, dll..
Lihat saja di seluruh media sosial penuh sekali dengan tulisan-tulisan dari kaum mereka saja. Juga coba ketikkan masalah apapun seputar agama di google, yg muncul di hasil pencarian teratas hampir semuanya dari situs berpaham wahabiyyah. Bisa jadi selama ini kita merasa bukan seorang wahabiyyah, tetapi termasuk pengunjung setia website yg dikelola wahabiyyah dan manut sama ustadz-ustadznya. Bagi yg masih awam agama, tentunya sulit mengenali apakah ustadz maupun website yg jadi langganan bermuatan faham Wahabi atau Ahlussunnah Wal Jamaah?
Bayangkan bagaimana nasib saudara-saudara kita yg awam, baru belajar sudah masuk kandangnya wahabiyyah salafiyyun. Ranahnya sudah bid'ah-bid'ahan. Yg dibid'ahkan temen-temen yg *maaf* mungkin udah belajar duluan. Bahkan ustadz-ustadz sekaliber ust. Adi, Abdul Somad, Buya Yahya, Idrus Ramli dia sesatkan. Kan lucu?
Fenomena-fenomena seperti ini jika dibiarkan dan tidak disaingi, maka "Islam" seakan diambil alih oleh paham-paham wahabiyyah. Kalau media sosial penuh oleh paham ajaran mereka saja, kasihan kita yg baru saja mau belajar malah masuk kandang wahabiyyah. misalnya. Sunni akan tenggelam, terutama ketika nanti perlahan ilmu sudah Allah angkat dari dunia (ketika satu per satu ulamanya wafat).
Saran saya kalau mendengar kajian, baik asatidznya, dakwahnya, maka dengarlah dari dua sisi (dari kedua paham tersebut), lama-lama akan tahu sendiri perbedaannya, pahamnya, caranya mengambil rujukan, caranya menyimpulkan perkara agama, caranya menyampaikan pemahaman, lama-lama akan terlihat makin jelas. Oh wahabi itu seperti itu.. oh aswaja itu seperti ini dan baik akal maupun hati akan tergugah sendiri memilah mana yg haq dan mana yg bathil.