Tidak semua hal yang tak tampak oleh mata berarti tidak ada. Eksistensi suatu benda maupun kejadian tidak melulu harus dibuktikan oleh panca indera karena keterbatasan kita sebagai manusia.
Analoginya, bukan berarti Perang Dunia I dan II tidak benar-benar terjadi hanya karena kita tidak hidup di masa itu dan tidak merasakan langsung kejadiannya. Contoh lain yang lebih sederhana, bukan berarti manusia tidak memiliki jantung hanya karena kita tidak bisa melihat bagian tubuh tersebut dengan mata telanjang. Sebab ia terjaga dan tersimpan rapi di balik tulang rusuk.
Sama halnya dengan suatu hal yang terbenam dan terpendam. Meski tidak kasatmata, bukan berarti tidak ada. Misteri. Itulah nama yang biasanya kita sematkan ke dalam konteks tersebut.
Seperti matahari yang terbenam dan berganti malam. Masih misteri bagi kita apakah besok mentari akan datang lagi atau tidak. Entah karena usia terhenti atau karena dunia memang sudah berakhir. Seperti juga akar dari bibit yang ditanam dalam tanah. Misteri pula namanya karena kita tidak tahu nantinya ia tumbuh sebagai tanaman yang subur bunga dan buahnya atau malah layu dan mati.
Kendati demikian, mari kita lihat dua hal tersebut dengan kacamata yang berbeda. Malam yang ditandai dengan matahari yang terbenam, sejatinya adalah karunia bagi kita untuk beristirahat dari lelahnya siang. Bayangkan saja jika malam hilang, tentu indahnya bintang maupun bulan hanya ada dalam khayalan.
Lalu, akar bibit yang ditanam baik dalam tanah. Meski terkubur dan tak terlihat, namun dari sana-lah sumber kehidupannya tercipta. Darinya akan muncul makhluk dengan wujud berbeda yang akan memulai kembali siklus kehidupannya. Tumbuh, menjadi kuat, lantas berbagi manfaat bagi sekitarnya sebagai tempat berteduh maupun diambil buahnya.
Yang tidak terlihat oleh mata, bukan berarti tidak ada. Lebih jauh lagi, bukan berarti tidak memiliki peran.
Tidak ubahnya dengan masa depan. Masa depan adalah misteri karena tidak seorang pun yang dapat mengetahuinya. Tapi karena ketidakjelasan dan ketidaktahuan tentang masa depan itulah, manusia bisa fokus pada apa yang dapat dilakukannya di masa kini. Kemudian, keyakinan hadir untuk melengkapi.
Keyakinan bahwa Sang Pengendali punya caranya sendiri mewujudkan kehendak-Nya dalam alur cerita bernama kehidupan. Manusia sebagai lakonnya hanya perlu berpindah dari satu adegan ke adegan berikutnya dengan terus percaya dan berprasangka baik.
Termasuk percaya dan berprasangka baik dalam segenap proses mencari yang ke-11. Karena sudah menjadi salah satu ketetapan-Nya bahwa setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan. Juga karena hanya Dia-lah Yang Maha Tahu yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Yang Maha Baik lagi Maha Penyayang dari semua penyayang.
Lalu, inilah aku yang masih terus menikmati setiap detik pencarian seperti menunggu akar bibit tumbuh setelah terpendamnya maupun menanti matahari terbit setelah terbenamnya.