Ayahku yang diam-diam menyelimutiku ketika aku terlelap menggigil.
Ayahku yang meletakkan beberapa kursi di samping sofa tempatku terlelap, agar aku tak terguling.
Ayahku yang terkantuk-kantuk di sofa depan televisi menunggu kepulangan anak lelakinya yang begadang.
Ayahku yang menahan rasa kantuknya dengan air putih hangat di malam yang dingin pada musim kemarau.
Ayahku yang sedikit bercerita tentang anak lelakinya yang tak menurut, namun banyak memikirkannya
Ayahku yang pandai menyembunyikan rasa sedihnya dengan merawat hewan peliharaannya dan diam-diam mengusap air mata
Ayahku yang menahan tangisnya di dada sehingga suaranya menjadi berat.
Ayahku yang pagi-pagi sekali bangun dan berdoa pada Sang Pemilik Kehidupan agar dipanjangkan umurnya untuk anak-anaknya.
Ayahku yang sangat pagi sekali menata kembali hatinya untuk hari ini.
Dialah Ayahku yang aku mintakan Surga yang abadi kepada Pemilik Keabadian.
Dialah Ayahku yang aku mintakan kemuliaan, derajat yang tinggi dan kebahagiaan dunia akhirat kepada Sang Maha Segala-galanya.
Dialah Ayahku yang kini aku taruh semua kerinduanku untuk berbakti kepadanya.
Dari anakmu yang belum mampu membahagiakanmu, yang belum lelah mengemis pada Pemilik Segala Kebahagiaan. Anakmu yang memohon keridhaanmu untuk hidupnya