Selamat tahun baru! Selamat datang di 2016...
Ini tulisan pertama di tahun baru januari 2016, akan saya awali dengan menulis cerita tentang film. Sesuai dengan salah satu resolusi 2016 yang saya buat, ingin rutin ngisi blog ini minimal 1 karya setiap bulannya. Syukur-syukur bisa lebih dari satu. Kalau aku lupa ingetin yaa hehehe.
Beberapa hari yang lalu saya menonton film bioskop yang diputar di tv, kurang tahu judulnya apa, tapi yang jelas film itu mampu membuat saya menangis (ini bukan lebay) siang itu. Saya ini memang mudah menangis apabila berhubungan dengan orangtua. Tidak ada salahnyakan menangis, karena menangis itu bukan tanda sebuah kelemahan tapi itu berarti sebuah kelembutan hati. Bukan berarti saya ini rapuh, tapi saya bersyukur hati ini masih bisa dilunakkan bukan seperti kerasnya batu.
Disitu dikisahkan seorang pemuda yang begitu mencintai ibunya. Walaupun dimasa kecilnya dia tidak begitu respect dengan orangtuanya dan cenderung membandel kepada orangtuanya. Suatu ketika ia dikirim ke sebuah pesantren. Sang anak lelaki ini punya cita-cita jadi artis tapi orangtuanya ingin anaknya jadi seorang Ustadz. Dikirimlah sang anak kesebuah Pesantren. Untuk pertama kalinya sang anak jauh dari orangtuanya, sebelum pergi sang Ibu memeluk dan menangisi kepergian anak lelakinya yang diantar oleh Bapaknya, begitu pula sang anak menangis memeluk ibunya erat.
Di pesantren anak ini di didik oleh Ustadz, Ia sangat cerdas dan ahli berdakwah. Hingga akhirnya sang anak tumbuh menjadi dewasa dan ia didaulat untuk mengajar di sekolah pesantrennya pak ustadz, Nama anak lelaki di tokoh itu RAMADHAN.
Suatu ketika MAD sapaan akrab anak itu, berkenalan dengan seorang sutradara dari jakarta. Karena di Pesantren sedang digunakan untuk shooting film, si Mad dipersilahkan untuk datang Ke Jakarta untuk mengikuti casting sebuah PH yang sedang mencari pemain laga. Singkat cerita datanglah mad ke Jakarta ditemani 2 orang temannya. Sesampainya disana ternyata waktu casting bukan hari itu. Hal ini membuat mad sedikit agak kecewa, dan untung ia ditemani 2 sahabat baiknya dan memutuskan untuk menunggu waktu casting dan tinggal di Masjid untuk beberapa hari.
Beberapa hari tinggal di masjid mad merasa tidak tenang di hatinya. Ia putuskan untuk menelpon rumah. Benar saja perasaan tidak tenang itu muncul karena ibunya sedang sakit. Namun saat ditanyanya keadaan ibu, bapaknya menjawab bahwa ibunya baik-baik saja. Karena permintaan sang ibu yang tidak ingin anaknya khawatir. Namun feeling mad sangat kuat. Keesokan harinya ia bergegas kembali pulang ke Palembang untuk menemui sang ibu. Sesampainya di rumah diciumnya tangan ibundanya.
Beberapa hari di rumah Ramadhan dan Abuya (Bapaknya) mendapat kabar bahwa sang ustadz sedang kritis, mereka berdua bergegas menjenguk sang Ustadz. Sesampainya disana Sang Ustadz menceritakan hal yang selama ini tidak pernah diketahui RAMADHAN bahwa Abuyalah yang mendonorkan ginjal untuk sang Ustadz. Dan sebagai imbalan Abuya hanya memohon agar Ustadz tersebut selalu menyebutkan nama RAMADHAN dalam setiap doanya. Agar Ia menjadi anak yang taat terhadap agama, anak yang sholeh.
Ada kata-kata dari sang Ustadz yang bagi saya sangat dalam maknanya adalah:
“SEORANG IBU RELA MATI UNTUK 10 ORANG ANAKNYA, TAPI 10 ORANG ANAK BELUM TENTU MAU RELA MATI UNTUK SEORANG IBUNYA. SEORANG AYAH RELA BANTING TULANG KERJA KERAS UNTUK MEMBAHAGIAKAN 10 ORANG ANAKNYA, NAMUN 10 ORANG ANAK BELUM TENTU RELA BEKERJA KERAS UNTUK KEBAHAGIAAN AYAHNYA”.
Beberapa lama kemudian sang Ustadz wafat. Begitu terpukulnya RAMADHAN dengan kepergian sang Ustadz yang memberikan banyak ilmu untuknya. Semenjak kejadian itu ia sadar benar bahwa memang Surga itu ada dirumahmu sendiri. Tidak usah jauh-jauh mencari karena orang tua kita adalah surga untuk kita, terutama ibu. Semenjak saat itu pula MAD sering dipanggil dakwah dan ia melakukan kontrak akhirat dengan ibunya, ia akan membagi hasil uang dakwahnya untuk sang ibu. Ia begitu menyayangi sang ibu. Sampai pada suatu ketika ia mendapatkan tawaran dakwah disebuah stasiun televisi. MIMPI RAMADHAN tercapai, dahulu dia bermimpi menjadi seorang artis yang muncul di televisi. Dan ia ditawari menjadi pengisi ceramah di sebuah stasiun televisi ibukota.
Begitulah sepenggal kisah cerita film ini, pelajaran yang paling penting dari kisah di film ini yang bisa saya ambil adalah Menghormati, menyayangi, membahagiakan dan memuliakan orangtua adalah kewajiban utama sebagai seorang anak. Kita tidak akan menjadi apa-apa tanpa doa kedua orang tua. Tanpa restu orangtua, terutama doa dan restu IBU. Orangtua selalu berupaya demi kebahagian anak-anaknya, demi kesuksesan anaknya, demi masa depan anaknya. Jika orangtua kita ridho InsyaAllah, ALLAH SWT pun meridhoi upaya kita. *Jadi kangen rumaahh*
Boleh ditonton deh ini beneran aku sampai nangis, judulnya ADA SURGA DI RUMAHMU. Kalau pusing baca cerita saya, saya sarankan nonton film ini biar feel nya lebih dapet.