PETRIKOR
Aroma Setelah Hujan
Bab 1: Gema Hujan
---
Tetesan pertama yang jatuh ke tanah kering selalu membawa aroma yang sama. Bagi Mala dan adiknya, Saga, aroma itu adalah aroma kebebasan, sebuah sinyal untuk berlari keluar dan menengadahkan wajah ke langit yang mulai bernyanyi.
Mereka menari. Gerakan mereka canggung dan kekanakan, diiringi nyanyian sumbang mereka, "Tik, tik, tik, bunyi hujan di atas genting…"
Ibu seringkali hanya bisa menggeleng dari balik jendela, senyumnya adalah campuran antara khawatir dan maklum.
"Jangan lama-lama, nanti sakit!" seru Ibu, suaranya nyaris tenggelam oleh deru hujan.
"Sebentar aja, Bu!" balas Mala. Di sampingnya, Saga tertawa, tawa renyah yang hanya bisa dimiliki anak berusia lima tahun.
Ayah yang baru pulang kerja meletakkan tasnya dan ikut tersenyum. "Biarkan aja, Bu. Anak-anak butuh sedikit hujan biar kuat."
Namun, tawa Saga tiba-tiba berhenti. Tubuhnya yang kecil limbung, lalu rubuh di atas rumput basah.
Untuk sesaat, Mala mengira adiknya hanya bercanda.
"De, bangun," katanya, masih dengan sisa tawa di napasnya. Tapi Saga tidak bergerak. Rasa dingin yang tajam mulai merayap di pembuluh darah Mala. "Ibu! Ayah! Saga pingsan!"
Dunia menjadi buram. Ayah membopong tubuh kecil itu masuk, sementara Mala hanya bisa mengikuti dengan langkah gemetar.
Di dalam rumah, di atas sofa, tubuh Saga menggigil hebat. Wajahnya pucat pasi.
Ibu terbirit membawa kompres hangat. Ayah berbicara di telepon dengan suara yang dipaksakan tenang, meminta ambulans.
Mala hanya bisa berlutut di samping sofa, menggenggam tangan adiknya yang terasa sedingin es. "Kamu kuat, De. Ambulans sebentar lagi datang," bisiknya, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Lalu, dalam satu momen yang mengerikan, gigil itu berhenti total. Keheningan yang tiba-tiba terasa lebih memekakkan daripada suara petir. Ibu berhenti mengompres. Ayah menjatuhkan teleponnya.
Ayah mendekat, dua jarinya mencari nadi di leher Saga. Sesaat kemudian, matanya terpejam dan bahunya terkulai. Ibu, dengan tangan gemetar, menempelkan telinganya ke dada Saga. Tangisnya pecah tanpa suara.
Mala tidak perlu bertanya. Ia tahu. Di tengah deru hujan di luar, dunianya baru saja berakhir.
Sejak hari itu, Mala membenci hujan.
---
Interlude: Tahun-Tahun Sunyi
---
Hujan pertama setelah pemakaman Saga turun pada malam yang gelap. Mala terbangun karena suara tetesan di atap, bunyi yang dulu membuatnya bahagia, kini membuatnya tersentak dalam keringat dingin.
Ia menutup telinga, menarik selimut hingga menutupi kepala, tapi suara itu tetap menembus. Setiap tetes adalah pengingat. Setiap deru adalah gema tawa Saga yang tak akan pernah terdengar lagi.
Waktu terasa meregang panjang. Mala hapal betul tanda-tanda hujan akan turun. Kelembapan di udara, bau tanah yang berubah, gerak awan yang melambat. Ia akan bersiap menutup jendela kamar atau menyalakan radio dengan volume keras.
Setiap hujan turun, Mala kembali menjadi anak kecil yang berlutut di samping sofa, menggenggam tangan dingin yang tak akan pernah menggenggam balik.
Hari-hari terus bergulir. Mala tumbuh menjadi gadis yang senyap, membawa mendungnya sendiri ke mana pun ia pergi. Hujan tak lagi berarti tarian, hanya gema dari sebuah kehilangan yang tak kunjung reda.
---
Bab 2: Pelangi yang Lain
---
Suatu sore yang cerah, saat menatap ke luar jendela kamarnya, ia melihat sesuatu yang aneh: sebuah pelangi tipis melengkung di kejauhan, padahal tak ada setetes pun hujan sebelumnya.
Didorong oleh rasa penasaran yang sudah lama padam, ia melangkah keluar. Meninggalkan tatapan heran kedua orang tuanya, ia terus berjalan meninggalkan rumah.
Jalan setapak itu membawanya ke sebuah air terjun tersembunyi di tepi hutan. Kabut tipis menari di udara, membiaskan cahaya matahari menjadi spektrum warna yang lembut.
Sebuah gelembung sabun melayang di hadapannya, berkilauan diterpa cahaya sebelum pecah tanpa suara.
Di sana, Mala melihat seorang pemuda. Ia berdiri membelakanginya, meniup gelembung-gelembung baru yang terbang sesaat sebelum menghilang ke udara senja.
Seolah merasakan kehadirannya, pemuda itu berbalik. Dan saat mata mereka bertemu, ia tersenyum, sebuah senyum yang terasa seolah sudah menunggunya sejak lama.
"Kirain kamu nggak bakal datang," sapanya, suaranya tenang seperti gemericik air di atas batu.
"Kita… pernah ketemu?" tanya Mala bingung.
Senyum pemuda itu melebar, seolah menikmati kebingungan Mala. "Belum," jawabnya dengan nada main-main. "Aku Arka."
Ada sesuatu dari tatapan Arka yang membuat Mala tidak merasa takut. Mereka berbincang hingga senja tiba, tentang bentuk awan yang mengemaskan, tentang warna pelangi yang menawan, tentang hal-hal kecil yang terasa besar ketika dibagikan dengan orang yang tepat.
Malam semakin dekat, Arka mengantarnya pulang dengan sepeda tuanya, melaju pelan di antara jalan yang mulai gelap.
"Bu, aku ketemu seseorang," kata Mala malam itu. Ibunya, yang sedang melipat baju, berhenti. Ia menatap mata putrinya yang kini memiliki binar yang berbeda, binar yang telah hilang bertahun-tahun lalu.
Sejak hari itu, Mala selalu kembali ke air terjun. Bukan lagi untuk pelangi di dasar air terjun, tapi untuk Arka, pelangi barunya.
Tak jarang Mala membawa sekotak bekal untuk mereka santap bersama di tepi air yang jernih. Mereka berbincang tentang segalanya dan tidak ada apa-apa. Arka punya cara berbicara yang membuat dunia terasa lebih ringan, seolah segala beban bisa diletakkan sejenak di atas batu-batu sungai.
Pada suatu sore, kedipan kilat memotong tawa mereka. Awan hitam disertai angin kencang mengisyaratkan bahwa hujan akan segera turun.
Tubuh Mala menegang. Napasnya mulai pendek, dadanya sesak. Kenangan-kenangan lama mulai berdesakan di kepala, Saga yang rubuh, tawa yang terhenti, tangan dingin yang tak bergerak.
Mala dan Arka bergegas mencari tempat berteduh. Mereka berlari ke dalam sebuah gua kecil di balik air terjun. Tapi suara hujan tetap terdengar—menggema di dinding batu, semakin keras, semakin memekakkan.
Jatuh air mata Mala.
"Kenapa kamu nangis?" tanya Arka, suaranya lembut. Tangannya terulur menghapus air mata di pipi Mala.
Mala berusaha menceritakan semuanya, tentang Saga, tentang hujan, tentang bertahun-tahun berlari dari suara yang selalu mengejarnya. Tapi yang terdengar hanyalah isak tangis.
Arka tidak memaksa. Ia hanya duduk di sampingnya, dan entah bagaimana, ia tahu. Ia membiarkan tangis itu mengalir hingga reda, sesekali mengusap punggung Mala dengan lembut.
Setelah beberapa saat, Arka menunjuk ke luar gua.
"Sekarang, coba kamu lihat jatuhan air langit itu." Suaranya penuh kehangatan. "Indah, nggak? Kelihatan seperti air terjun raksasa dari langit."
Mala tercengang sejenak, lalu tiba-tiba tertawa kecil—suara yang hampir asing bagi telinganya sendiri. "Iya ya, kayak air terjun."
"Lihat tuh, tetesannya kayak berlian yang jatuh." Arka ikut tertawa, matanya berbinar melihat Mala tersenyum.
Dan benar—tetesan air hujan itu terlihat menari di udara dingin, memantulkan sisa cahaya sore menjadi ribuan kristal kecil yang berkilauan.
"Ayo," kata Arka sambil menarik lembut tangan Mala yang masih bergetar. "Kita menari di bawahnya."
Mala terkejut. Tubuhnya bergetar, jantungnya berdebar keras. Tapi tarikan tangan Arka yang mantap dan senyumnya yang menenangkan memberinya keberanian yang sudah lama hilang.
Mala mengangguk.
Mereka berdua berlari keluar dari gua, melompat ke dalam hujan yang turun dengan lembut. Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Mala menari lagi di bawah hujan. Bukan dengan tawa renyah seperti dulu, tapi dengan air mata yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih ringan.
Sekarang, air matanya menyatu dengan air hujan.
---
Bab 3: Sang Reda
---
Seperti biasa, keesokan harinya Mala kembali ke air terjun. Tapi hari itu terasa berbeda. Pelangi yang biasa menyambutnya tidak ada. Dan yang lebih penting, Arka juga tidak di sana.
Kekecewaan yang tajam terasa di hatinya. Ia hanya duduk di atas batu, memandangi air terjun yang terasa sepi, menunggu sosok yang mungkin tidak akan datang.
Seharian ia menunggu, tapi Arka tak kunjung muncul. Lembayung senja lah yang akhirnya memaksanya pulang dengan langkah berat dan hati yang bertanya-tanya.
Malam itu, sambil memandang tetesan hujan di kaca jendela yang kini tidak lagi membuatnya takut, ia bertanya pada ibunya.
"Bu, seharian ini aku nggak ketemu Arka. Rasanya… aneh. Kosong."
"Rindu, ya," goda Ibu dengan senyum jahil sambil menyisir rambut putrinya.
Mala langsung merona, pipinya memerah. "Bu, jangan gitu dong." Ia mengubur wajahnya di bantal, malu tapi tidak bisa menyembunyikan senyumnya.
Ibu tertawa kecil. Malam itu, Mala tertidur dengan harapan bisa bertemu Arka esok hari, dan perasaan aneh yang hangat di dadanya.
Malam semakin larut saat Mala mendengar ketukan pelan di kaca jendela. Tak ia sangka Arka berdiri di baliknya dengan senyumannya yang khas.
"Arka! Kok kamu di sini?," sapa Mala girang, membuka jendela dengan tergesa.
Arka hanya tersenyum sambil menyodorkan seikat edelweiss putih, bunga yang tampak terlalu sempurna untuk dipetik dari pegunungan mana pun.
"Buat kamu."
"Makasih," bisik Mala, wajahnya merona. Ia menghirup aroma edelweiss itu, segar dan murni, seperti udara setelah hujan. "Kamu dari mana aja seharian ini? Aku nungguin."
Saat itulah Mala benar-benar menatap wajah Arka. Ada sesuatu yang berbeda...sebuah kekosongan di matanya, tapi Mala memilih untuk menyimpan perasaan itu.
"Aku tahu. Maaf, ya," kata Arka pelan, suaranya terdengar jauh. "Justru karena itu aku ke sini. Aku harus pamit."
Jantung Mala serasa berhenti berdetak. Edelweiss di tangannya terasa tiba-tiba berat.
"Pamit? Kamu mau kemana?"
"Tugasku udah selesai," jawab Arka, matanya menatap langit malam yang menyisakan mendung. "Kamu udah nggak takut lagi sama hujan."
"Hujan? Maksudnya apa? Aku nggak ngerti."
Arka menatapnya dalam-dalam, "Aku nggak sanggup melihat jiwa yang selalu menangis setiap kali Ibuku, sang Hujan, turun ke Bumi," kata Arka lembut. Suaranya seolah datang dari tempat yang jauh. "Dia rindu melihatmu menari dan bernyanyi di bawahnya seperti dulu. Makanya, aku memohon kepada Tuhan agar bisa turun sebagai manusia untuk mengembalikan senyuman itu. Walaupun waktuku tidak lama."
Napas Mala tercekat. Potongan-potongan gambar mulai menyatu di benaknya, pelangi yang muncul tanpa hujan, cara Arka berbicara tentang hujan seolah ia mengenalnya secara personal.
"Jadi… kamu…"
"Ya," potong Arka lembut. "Tapi kamu tenang aja, aku akan tetap jadi pelangimu."
Mala ingin berteriak, ingin menahan Arka, ingin bertanya mengapa semua orang yang ia sayangi harus pergi. Tapi kata-kata itu terjebak di tenggorokannya yang sesak.
Sebelum Mala sempat menjawab, Arka berbalik dan berlari menjauh. Sosoknya bergerak semakin cepat, semakin ringan, hingga akhirnya memudar ditelan kegelapan, seperti kabut yang menyerah pada sinar matahari.
Kriiiing!
Jam analog berbunyi nyaring. Mala terbangun dengan napas terengah-engah dan jantung berdebar kencang.
Didorong oleh firasat yang kuat, ia melompat dari tempat tidur dan berlari keluar rumah, menuju air terjun. Napasnya memburu, kakinya bergerak otomatis melalui jalan setapak yang sudah ia hapal di luar kepala.
"Arka!" panggilnya saat tiba di air terjun, suaranya bergema di antara pohon-pohon. Sunyi. Hanya suara gemericik air yang menjawab, monoton dan dingin.
Rasa panik mulai menjalari hatinya. Ia berlari ke sana kemari, memanggil nama Arka berulang kali, suaranya semakin serak. Tapi tak ada jawaban. Tak ada sosok yang familiar. Tak ada gelembung sabun yang melayang.
Kakinya yang lelah akhirnya tersandung sebuah batu, membuatnya jatuh tersungkur di atas tanah yang lembab dan berbau humus.
Saat itulah ia melihatnya.
Tepat di hadapannya, tergeletak di antara bebatuan basah, seikat edelweiss putih. Segar, tanpa cela, dengan kelopak yang masih berembun, persis seperti yang ada di dalam mimpinya.
Ia mengambil bunga itu dengan tangan gemetar. Ini nyata. Mimpinya nyata.
Perlahan, dengan air mata yang mulai menggenang, ia mengangkat wajahnya ke atas. Dan di sana, melengkung dengan agungnya di langit pagi, sebuah pelangi yang cemerlang menyapanya—lebih indah dari yang pernah ia lihat sebelumnya.
Ia tidak lagi memanggil nama Arka. Ia hanya berdiri di sana, memeluk edelweiss itu erat-erat sambil menatap lengkungan warna di langit. Sebuah senyuman pahit namun damai terukir di wajahnya.
Ia tahu sekarang. Ia mengerti.
Pelangi itu adalah Arka.
Gerimis kecil mulai turun lagi di pagi hari itu, Mala tidak berlari. Ia tetap berdiri di sana, membiarkan tetesan air menyentuh wajahnya, sambil tersenyum pada langit yang mulai mendung.
Dan ia akan selalu disana, menunggu Arka, di setiap hujan yang reda.
---
SELESAI
---
Roni Armanda
[ Remastered: 19 Juli 2025 ]
[ Original: "Hujan dan Pelangi", 12 Maret 2017 ]
















