hari ini
langit abu-abu.
dengar, Tuan kelabu
Nona hujan tak kan turun sore ini
yang akan luruh hujan kecil ;)
Oktober 12, 2023

Product Placement

blake kathryn

Discoholic 🪩

Jar Jar Binks Fan Club

❣ Chile in a Photography ❣
🪼
sheepfilms
occasionally subtle
★

bliss lane
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Sweet Seals For You, Always
One Nice Bug Per Day

roma★

Andulka

tannertan36
Fai_Ryy
ojovivo
Game of Thrones Daily
cherry valley forever
seen from Canada
seen from United States

seen from Brazil
seen from United States

seen from Italy
seen from United States
seen from United States

seen from Germany
seen from Malaysia
seen from Kazakhstan

seen from Spain
seen from United States
seen from Argentina

seen from Hungary
seen from United States
seen from Iraq
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Israel

seen from Italy
@tulisantersarabara
hari ini
langit abu-abu.
dengar, Tuan kelabu
Nona hujan tak kan turun sore ini
yang akan luruh hujan kecil ;)
Oktober 12, 2023
Ternyata bertukar cerita bersama seseorang yang dipercaya dapat mengurai benang kusut di kepala
Hal itupula yang kurasakan setelah mengobrol dengan seorang sahabat yang dikenal dari semenjak sekolah menengah atas. Aku yang nggak terbiasa bercerita akhirnya berani mengungkapkan ceritaku kepadanya. Aku berbagi tentang permasalahan dan kegalauanku untuk menemukan pasangan. Bercerita ngalor kidul, mengekspresikan perasaanku.
Sampai akhirnya ada pesan yang sangat menyenggol hatiku, katanya, "Coba cerita ke orang tua, mamah dan bapak kamu yang paling ngerti anaknya. Jangan cuma dipendem seorang diri, coba ngobrol yang sejujurnya tentang dia ke orang tuamu. Carita ke orang tuamu biar mereka bisa memberi pendapat apakah anaknya memang sudah siap atau belum. Karena kalau sudah menikah, suamimu yang jadi tempat bercerita."
Deg.
Selain tanya Allah, aku juga lupa untuk tanya orang tua :(
Dulu sekali ketika masa sekolah, Mama selalu mencoba memulai obrolan, "Gimana sekolahnya? Teman-temannya balageur? Dibalaturan teu?, dll" Karena Mama tahu hal yang paling sulit bagiku adalah adaptasi, dan sayangnya jawabanku hanya sepatah dua kata.
Mau di sekolah ada masalah apapun, aku mencoba untuk nggak membebani pikiran mereka tapi sayangnya perasaanku mudah sekali dibaca orang tua. Mereka selalu tahu kalau perasaan anaknya sedang musim dingin atau musim semi.
Aku tersadarkan bahwa selama ini masalahku selalu bergumul seorang diri dengan isi kepala yang terbatas ini. Susah untuk mengungkapkan diri kepada orang-orang terdekatku. Sampai akhirnya, mau sekeren atau sebaik apapun di mata orang lain, kalau di dalam (keluarga) bersekat mah sama aja ada ruang yang kosong dan berdebu, yang tentu saja harus dibersihkan dan dirapikan.
Maka utamanya untuk diriku sendiri, jika mau memulai sebuah hubungan yang baru, coba perbaiki juga hubunganmu dengan orang tua. Mumpung mereka masih ada, mumpung kita masih merasa. Ceritakan apa yang bisa kamu ceritakan, dan dengarkan apa yang mereka ucapkan.
Senin, 20 November 2023
Kapal yang terlihat tenang dari kejauhan, belum tentu sepenuhnya tenang. Ada banyak hal yang tidak dapat dilihat dari jauh. Bisa jadi tenangnya hanya untuk meredam badai, agar kapal tak semakin goyah.
Percayalah, ada banyak hal yang tidak kita ketahui dari balik tabir yang tidak kita singkap. Alih-alih mengira rasanya mendoakan lebih patut.
Untuk bisa berbagi, kita mesti merasa cukup dengan apa yang kita miliki. Tidak harus berlebihan dan tidak perlu menunggu bergelimpangan dulu untuk berbagi.
Garis Akhir
14 September 2023
Impactivist resmi dibubarkan. Dan malam ini menjadi malam terakhir untuk meeting bersama. Ada 8 orang yang ikut dari setengah populasi anggota impactivist. Ada teh sani, teh intan, kak angga, eriana, rifty, deva, fopi dan sarah.
Alhamdulillah. Purna tugas juga di impactivist, daripada bertahan tapi kewajiban maupun tugas terbengkalai mending udahan aja. Biar hatiku nggak berat karena tugasku nggak terlaksana dan tentumya biar anggota lain dapat fokus ke hal prioritasnya.
Sebenarnya, Impactivist adalah salah satu ruang untuk aku berkarya. Aku belajar dan menyimpan karyaku di Impactivist. Lalu, sekarang udah sampai garis akhir, satu ruang telah ditutup untuk berkarya. Huhu
Bisakah aku tetap semangat berkarya? Harus. Sama halnya dengan anggota lainnya, dimanapun tetaplah menghidupkan karya.
Sebelum memutuskan untuk membubarkan, kita terlebih dulu bertukar kabar. Ternyata anggota Impactivist sudah berpindan dan memiliki kesibukan lain. Dari yang awalnya aku kenal pas kuliah, sekarang udah keluar hingga tetap menekuni bidang kesukaannya yaitu menulis. Lalu ada juga yang jadi guru TK, hal yang cocok banget dengan kepribadiannya. Ada pula yang sibuk menuju semester akhir, bekerja, belajar bisnis hingga memulai peran baru sebagai istri. Ah, masyaallah rupa-rupa sekali warna di hidup ini :)
Bisakah kita tetap bertukar cerita meskipun aku nggak pandai bercerita dengan mereka?
Karena meski bagaimanapun, Impactivist selalu menjadi rumah yang anggotanya tuh keren-keren. Aku belajar banyak dari obrolan mereka, pola pikirnya, hingga cara mereka berdiskusi. Untung kita ketemu udah gede, jadi kita bisa lebih dewasa dalam memahami.
Sukses selalu dengan peran masing-masing dan jadilah seseorang yang terus berdampak :)
Tentang Titipan-Nya
Aku jadi paham
Kalau anak laki-laki, bagi mamah itu adalah dunianya. Jika anak laki-lakinya sakit, hati mamah bakalan terluka dan jadi pengen nangis. Kalau beliau bisa pergi sekarang untuk menghibur anak lakinya, maka pasti bakalan pergi.
Tapi bagi bapak, anak perempuan adalah permatanya. Tak mau melihat dia kesakitan, tak tega melihatnya menangis, maka hati bapak pun akan ikut bersedih. Kalau bisa di tolong, beliau akan lakukan segala cara untuk menolong kesayangannya.
Dan syukurnya, Allah anugerahkan mamah dan bapak anak laki-laki dan anak perempuan yang menjadi titipan-Nya.
Walau terlihat gahar, tapi mereka sangat penyayang. Walaupun berisik, tapi mereka lah yang pertama dicari. Maafkan kami yang senantiasa merepotkan.
Semoga kami dapat menjadi qurrota ayyun bagi mereka berdua :)
12 September 23
Nggak apa-apa untuk mengakui bahwa diri sendiri lelah, kelelahan dengan hidup yang menyesakkan setiap harinya. Hari demi hari yang ingin cepat berlalu, tidur menjadi waktu istirahat meski tak lagi ingat kapan tidur nyenyak. Senyenyak dulu. Dulu waktu menjalani hidup ini dengan penuh rasa bahagia dan khawatir, tapi tetap dijalani dengan penuh rasa percaya. Rasa itu kini telah mati, bertahun lalu, saat perjalanan ini dimulai. Memulai jalan yang salah.
Salahnya aku tak berpikir panjang. Panjang anganku mengalahkan rasionalitasku untuk lebih bijak. Kebijaksanaan yang saat itu belum tumbuh dalam diriku yang penuh energi tapi tidak hati-hati.
Nggak apa-apa untuk mengakui bahwa diri ini sangat lelah. Terlalu banyak masalah, mau kembali tapi tak memiliki rumah. Merasa arus kuat, meski tidak tahu harus ke mana dengan masalah yang serumit ini. Dan berbohong terus menerus setiap harinya, mengatakan bahwa hidupku baik-baik saja.
Tak hanya ke orang lain, tapi juga diriku sendiri. ©kurniawangunadi
"Aku jelek, aku insecure!"
Kamu pernah merasa kayak gitu gak sih? Ngerasa nggak percaya diri dengan fisik yang kamu miliki, sampai menjelekkan diri sendiri. Selalu ada saja yang disebut dari kekurangan dirimu; kurang tinggilah, badannya kurang berisi lah, kurang putihlah, kurang ini- itu, pokoknya segala disebut :(
Kalau kita terus-terusan mencela diri sendiri, kita sedang menghina pencipta kita lho, yaitu Allah swt. Kita jadi kurang mensyukuri pemberian dari-Nya.
Padahal sebelum kita lahir, Allah sudah muji kita di dalam QS. At-Tin ayat 4:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ "Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya."
Maka bentuk fisik apapun yang kita miliki, itu ciptaan Allah, diciptakan dengan rupa yang berbeda dan memiliki keunikan tersendiri.
Kalau fisik kita berbeda dari orang lain, atau tidak sesuai dengan standar kecantikan yang-entah-dibuat-oleh-siapa, nggak papa. Fokus kita bukan menjelekkan ciptaan-Nya, melainkan merawat ciptaan-Nya.
Jadi, nggak usah insecure lagi, ya. Kita terima dengan hati lapang apapun kondisinya, bersyukur jadi kunci. Syukurnya pun bisa macam-macam, merawat tubuh yang Allah titipi dengan baik pun termasuk bersyukur. Dan gunakan juga anggota badan kita kepada kebaikan, biar Allah ridha.
Lalu, saat kita sedang bercermin, ucap doa ini yuk
اللَّهُمَّ أَحْسَنْتَ خَلْقِي فَأَحْسِنْ خُلُقِي
Artinya: "Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah rupaku maka perindahlah pula akhlakku." (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam al-Irwa').
Biar inner beauty dan outer beauty kita terpancar, cantik rupa dengan versi kamu dan cantik akhlak dengan kebaikan hatimu :)
wallahu a'lam
Di seperempat abad ini aku tidak membuat hadiah tulisan untuk diri sendiri. meski agak disayangkan, tapi aku belum siap untuk memasuki tahun ini. Cepat sekali ya Allah. Gak sadar usia semakim bertambah sedang jatah usia semakin berkurang.
Hanya berharap, semoga tahun ini diberikan keberkahan dalam kehidupan, Allah meridai setiap langkah perjalanan, dan dapat menjadi pribadi yang senantiasa ringan tangan; ringan dalam membantu, ringan dalam memberi, dan ringan dalam menghadapi setiap rintangan kehidupan.
Terima kasih ya Allah atas segala nikmat-Mu.
Mengutip ayat Qur'an yang paling sering diulang, "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
ditulis sehari setelah tanggal hari kelahiran
Ternyata ngobrol simpel bersama seorang kenalan bisa naikan mood juga ya. Jadi paham, bahwa semesta bukan hanya berputar di porosku saja. Mereka pun berjuang dan punya cerita kehidupan yang seru juga.
Selain itu, kalau menurutku dengan mengobrol random tanpa script alias ngobrol santai bikin pikiran jadi rileks. Apalagi kalau yang diobrolin gak beda jauh kesukaannya, malah jadi dapet insight baru.
Lalu kemarin malam, harusnya meet bersama beberapa anggota, tapi karena banyak halangan jadinya malah berdua saja. Tapi, malah obrolan mengalir gitu aja bahkan jadi tau sedikit kebiasaan atau sedikit pola pikir temenku itu. Ternyata, memang sesekali kita butuh terbuka tapi jangan sampai pintunya terbuka lebar (?) Jangan terus-terusan jadi misterius yang penuh keseriusan, tapi jadilah sesekali lebih ceria yang manisnya semanis permen gulali.
Obrolan malam itu, memang lebih banyak ngobrolin hal random meskipun porsi obrolan seriusnya ada. Anehnya, aku malah jadi teringat ucapan seorang kenalan yang lain ketika beberapa tahun lalu, katanya dia menyuruhku untuk santai jangan terlalu terpaku dengan tugas yang harus diselesaikan sesuai deadline. Tugas itu penting, tapi bangun interaksi yg akrab gak kalah berguna. Nasihat itu masih terus terngiang-ngiang apalagi kalau aku ketemu orang baru.
So, aku mencoba untuk terlihat ramah, pengen akrab walau terkesan sksd, meskipun kadang ekspresi muka tak ramah hihi. Tentunya, aku masih butuh banyak effort dan keberanian untuk bisa terlihat friendly dan fleksibel. Ganbatte!
Tahun demi tahun
Tahun 2020 yang lalu, ketika galau tak berkesudahan karena tak kunjung menggenap, dibuatlah journal (galau) nikah. Isinya dari keresahan, pertanyaan seputar menikah hingga catatan pranikah dari webinar. Sungguh, kegalauanku harus produktif. Tapi, tulisannya hanya disimpan untuk konsumsi pribadi saja.
Tahun 2021, aku lupa apa yang dilakukan. Mungkin sibuk dengan hal-hal lain yang menaik perhatian, aku menikmati hari meski sesekali merasa sepi hahaha Dan tak ada tulisan yang terabadikan dengan rapi.
Lalu, tahun 2022 ini, masih galau perihal yang sama. Daripada energiku habis menangisi hal yang di luar kuasaku, aku kembali menulis beberapa tulisan yang topiknya perihal nikah atau keluarga hehe sekali lagi, kegalaunku harus produktif. Tapi kali ini, aku beranikan nulis untuk dibaca orang lain dalam bentuk konten atau artikel.
Setelah melewati beberapa tahun, aku baru menyadari bahwa selama ini perjuanganku untuk menuju sah ternyata kurang effort wkwk angan dan ingin harus selaras dengan aksi. Tapi menurutku yang penting, kamu harus selesai dengan dirimu sendiri. Berdamai dengan masa lalu, kenali diri, tau apa yang dibutuhkan atau diingini, hingga kejar karir selagi masih bisa, karena ketika peran sudah berganti tanggung jawab akan bertambah.
Tahun 2023 pun menanti. Apa yang akan kutulis nantinya? Aku ingin merasakan apa yang kutulis dari tulisanku yang lalu (tentu saja tulisan yang baik)
ditulis ketika 9 hari menuju 2023
di upload pada 15 hari lagi menuju usia 25
Benar, ya. Katanya kalau dapat ide harus diikat dengan tulisan, karena dinanti-nanti malah jadi lupa idenya, manusia kan punya sifat pelupa. Jadi, mulai aja dulu nulisnya, gak usah nunggu siap sempurna nanti malah tak lagi berselera
Sebagai orang yang suka menghindari konflik, hidupku lebih banyak bergejolak dengan batin hahaha
Orang lain dengan pencapaiannya, tentu harus disenyumin. Tapi kamu dengan pencapaianmu sering kali dilupakan bahkan disepelekan.
Oleh siapa?
Ya oleh diri kita sendiri. Ngeliat teman lain berada di puncak, mata kita silau, dada kita penuh huru hara. Padahal, bisa jadi kita juga berada di puncak, cuman tingginya aja yang berbeda hehe
Coba deh, sar. Fokusnya ganti. Bukan pencapaian orang lain yang diliat, tapi perjuangan mereka sampai di puncak yang harus di apresiasi.
Bukan juga terus-terusan liat jalan orang lain, fokus saja ke jalan yang sedang kamu lalui. Fokus pada diri nyatanya tak akan terlalu banyak menguras energi.
Sekarang, kamu hanya perlu pelan-pelan, selangkah demi selangkah be better daripada hari kemarin.
Yuk, semangat. Besok kita harus berjuang lagi!
Rasa jenuh, bosan atau malas akan suatu hal bukan berarti udah gak semangat lagi. Melainkan bisa saja kamu butuh naik level.
Aku merasa, rasa jenuh ada di suatu tempat atau di suatu hal bukan karena sudah lama kita berada di sana. Tapi, kita lupa untuk upgrade diri. Sibuk berkarya, tapi lupa memperkaya ilmu. Ya, ilmu kita stagnan di posisi hingga aktivitas kita muter di tempat itu-itu aja. Pantesan ya, setelah belajar kita di suruh untuk ujian bahkan ada kenaikan kelas. Kebayang dong, kalau kita cuman tinggal di kelas satu dengan pelajaran yang itu-itu aja, tentu bikin kita malas ngerjainnya.
So, belajar lagi yuk. Jangan sampai kita merasa cukup dengan ilmu yang kita miliki saat ini. Mulai dari mana lagi? Mulai aja dari yang kamu sukai dulu, perdalam. Atau cari hal yang bikin kamu tertarik, pelajari, pelajari, dan praktekkan.
Hidup itu memang tentang belajar. Belajar dari hari ke hari, belajar dari setiap kehidupan yang kita jalani. Semoga kita punya mental pembelajar, ya. Mau dimanapun, kita akan haus dengan ilmu.
Selamat belajar lagi, yuk!
Menanam doa
Berapa kali dalam sehari kita memanjatkan doa kepada Tuhan seluruh alam? Mungkin paling sedikit 5x sehari setelah solat baru kita menengadahkan tangan.
Berdoa dari mulai meminta dimudahkan urusan, memohon hajat terlaksana, hingga mencurahkan segala gundah gulana. Atau mungkin, lebih banyak lagi keinginan yang dipanjatkan.
Tak apa miminta beraneka macam, toh memang kita lemah, butuh banyak-banyak memanjatkan doa. Tak apa meminta, toh kita punya Tuhan yang Maha mengabulkan doa. Tapi jangan bersedih atau salah sangka jika doamu tak langsung terkabul, ya.
Tapi sebenarnya bukan tak langsung dikabul, Dia hanya memilihkan waktu yang tepat saja untuk kita, bahkan mungkin saja mengganti permintaan kita dengan yang jauh lebih baik lagi.
Dipikir-pikir lagi dengan pikiran yang terbatas ini, aku malu dengan Tuhanku. minta banyak hal, tapi usaha mengerjakan amal baiknya tak kunjung maksimal. Minta ini-itu, tapi tak mau menuruti perintah-Nya. Meminta ampun atas segala khilaf, tapi kegiatan yang salah terus saja diperbuat.
Padahal Tuhanku Maha baik, setiap doa pasti didengar, sebatas doa yang lirih pun bisa menjadi realita di kemudian hari.
Anehnya, doa-doa yang dulunya sebatas terucap, bisa Allah tampakkan dengan jalan-Nya. Apalagi jika doa tersebut senantiasa kita siram dengan amal kebaikan, mungkin menjelma menjadi pohon yang bermanfaat.
Maka, ya Allah, mohon ampuni kami.
gimana rasanya diremehin?
hal yang dulunya dilakukan dengan bangga, sekarang jadi merasa gak pede. merasa gak pantas berada di posisi ini, jadi serasa kembali kerdil. apa yang dilakukan terlihat kecil.
jadi, aku memang mesti ambil jeda. tapi akan diterima segala kritik dengan lapang, tapi biarkan diri ini berbenah lebih panjang.
kalau di hari itu juga perasaan sensitif ini harus diutarakan, takutnya malah menimbulkan kerenggangan. Mungkin akan disebut tak bersifat pro, tak jadi masalah. yang terpenting aku menerima dan butuh waktu untuk mencerna.
setelah bergelut dengan problem yang ada (denial-lalu menerima kritikan), biasanya aku akan memacu diriku. dari melakukan segalanya lebih cepat, lebih mandiri, hingga lebih lebih lainnya. sampai akhirnya aku kembali lagi untuk mempelajari hal yang tertinggal. tapi kabar baiknya, memang harus disentil dulu biar gerak dengan cepat dan belajar secepat kilat.
tentu saja, aku merasa berterima kasih dengan kritik atau petuah yang diberikan. terima kasih.
dan aku akan kembali dengan lebih gagah meskipun belum tau kapan waktunya :))
*semoga dapat dipahami ya hati
februari 2023