Ini bukan tentang validasi eksternal. Karena itu cuma kado, bukan fondasi.
Ini tentang validasi internal. Validasi yang datangnya dari diri sendiri. Self-validation. Fondasi yang bikin kita nggak gampang goyah waktu dihantam dunia. Yang bikin kita bisa berdiri tegak meskipun dunia bilang, “Kamu nggak layak.”
Self-validation diperlukan di saat-saat tertentu, seperti sehabis disakiti, gagal, goyah, merasa dihakimi, takut, dan merasa nggak cukup. Itu adalah momen-momen penting dan kita memang perlu pause buat self-validate. Buat bilang ke diri sendiri, “Aku boleh kok merasa (sedih, gagal, kecewa, dll).”
Kalau kamu belum tahu, self-validation itu bukan cuma “keren-kerenan” di quotes Instagram. Itu tuh semacam perisai psikologis, terutama di momen-momen rentan. Biar kita nggak gampang kebawa omongan orang, biar kita bisa stabilkan diri dulu, sebelum melangkah lagi.
Tapi kelihatannya, di luar sana, banyak sekali orang-orang yang denial. Mereka sering kali bersembunyi di balik kalimat-kalimat yang di dalamnya penuh perasaan yang belum sempat diakui, seperti:
“Aku harus kuat, aku harus kuat.”
“Nggak apa-apa kok, aku udah biasa.”
“Udah lah, santai aja, nggak usah lebay.”
“Gue gapapa, kok. Gue nggak butuh apa-apa.”
“Ah, udah ah, jangan drama.”
“Gue udah kebal sama sakit kayak gini.”
Mereka mengira kalau mereka “keras” pada perasaan sendiri, itu artinya mereka kuat. Padahal, justru itulah yang bikin mereka lebih rapuh—karena denial bukan kekuatan, tapi ilusi belaka.
Alasan kenapa mereka denial, banyak. Mungkin...
Takut kelihatan lemah karena budaya tinggalnya bilang, “Kalau kamu ngakuin kamu sakit hati, berarti kamu kalah.” Mungkin mereka nggak mengerti caranya ngakuin perasaan, karena tumbuh tanpa diajarkan bagaimana caranya bilang ke diri sendiri, “Aku lagi sedih, dan itu wajar.” Mungkin mereka takut “terjebak” di rasa sakit, karena mengira, “Kalau aku buka luka ini, nanti nggak selesai-selesai.”
Padahal yang terjadi malah sebaliknya. Luka yang diabaikan justru semakin dalam. Perasaan yang diabaikan nggak pernah hilang; cuma mengumpet. Semakin lama, semakin menumpuk. Sampai akhirnya… meledak seperti bom waktu.
Mereka mengira kalau pintu rumah dikunci rapat, berarti rumahnya aman. Padahal, yang nggak mereka sadar adalah: rumahnya gelap, pengap, dan lama-lama bikin dia sesak napas sendiri.
Atau seperti menyimpan sampah di kolong kasur—nggak keliatan, tapi baunya tetep ada.
Dan ya, sooner or later, sampah itu bakal busuk.
Pun perasaan, kalau diabaikan, tubuh dan hati kita yang bakal ngerasain akibatnya. Entah muncul dalam bentuk cemas, amarah, atau tiba-tiba nangis padahal nggak ngerti kenapa.
Makanya, yang denial itu sebenernya bukan hebat—mereka cuma nunda. Nunda apa yang seharusnya mereka akui, biar lega. Sayangnya kelegaan itu nggak datang dari lari, tapi dari menghadapi. Dari keberanian buat akui dan bilang, “Ya, aku merasakan ini dan ini valid. Dan aku siap buat hadapi.”
Jadi yah teman-teman, jangan terlalu keras sama diri sendiri. Karena di dunia yang sering mengajari kita untuk ‘jadi kuat’ dengan menahan semua, yang sesungguhnya bikin kita tetap utuh itu bukan menahan, tapi mengakui.