seorang laki-laki memiliki dua pilihan pilihan untuk menjadi apa yang akan menjadi penentu saat ia akan menikah.
apakah ia akan menjadi seorang laki-laki yang MAPAN atau laki-laki yang SHOLEH?
mungkin saja untuk menjadi keduanya, namun tetap salah satunya yang akan menjadi pilihan dominan saat wanita mempertimbangkannya.
mari kita lihat dari pilihan pertama
LELAKI MAPAN
kriteria mapan akan sangat ambigu jika dihitung dari tingkat finansial seorang laki2. MAPAN adalah kemampuan seorang laki2 untuk mampu menghasilkan sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan dirinya. meskipun ia belum mampu memenuhi kebutuhan keluarganya, kemandirian dirinya saat ini sudah menjadikannya melepaskan beban dari orang lain.
LELAKI SHOLEH
kriteria kedua adalah menjadi laki2 sholeh. sholeh berarti baik/bagus. secara istilah, sholeh berarti perwujudan dari sifat dan pemahaman seorang laki2 terhadap pengetahuan agama. orang yang rajin sholat, puasa, dll namun ia tidak memahami amalan yang dilakukannya tidak bisa dikatakan sholeh karena amalannya hanya bersifat lahiriyah atau fisik saja.
lelaki sholeh berarti ia beribadah tidak hanya secara fisik. namun hati dan pikirannya juga ikut serta dan hasil dari ibadahnya tidak hanya berupa pahala semata namun membentuk pada diri dan sikapnya yang santun dan tenang. ia beribadah dengan benar dan mengetahui setiap amalan yang ia kerjakan sesuai dengan aturan dan petunjuk dari Allah dan RasulNya meskipun ia hanya melakukan satu amalan.
lantas, manakah yang akan dipilih seorang laki2 padahal umurnya terbatas. dan manakah yang menjadi kriteria laki2 yang baik untuk diterima oleh wanita saat ia hendak diajak menikah?
mari kita simak hadits berikut :
Rasulullah saw bersbda " Wahai para pemuda, barang siapa diantara kamu telah mampu, maka menikahlah, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barang siapa belum mampu maka berpuasalah, sebab ia akan dapat mengendalaikanmu ".
hadits diatas sangat jelas memberikan jawaban atas kedua pilihan diatas. sudah tau jawabannya?. oke, kita bahas perlahan-lahan.
"Wahai para pemuda, barang siapa diantara kamu telah mampu, maka menikahlah"
apakah yang menjadi syarat menikah? MAMPU. mampu dalam hal apa? dalam hal mampu memberikan nafkah baik secara lahir maupun batin. mungkin saja seorang laki-laki belum baligh sudah memiliki usaha atau harta yang dapat menghidupi dirinya dan keluarganya namun secara raga, ia belum mampu memenuhi nafkah batinnya. sehingga mampu disini ialah laki2 tersebut sudah memasuki usia baligh dan ia mampu menghidupi dirinya dan keluarganya.
"karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan"
mengapa diharuskan untuk segera menikah? karena laki2 sudah diberikan nikmat berupa nafsu dan syahwat yang apabila tidak ia jaga dan pelihara maka ia akan terjerumus dalam penjara nafsu dan syahwat yang bisa merusak keimanannya. padahal dasar dari kesholehan adalah keimanan yang kuat.
"Barang siapa belum mampu maka berpuasalah, sebab ia akan dapat mengendalaikanmu "
sekiranya ia merasa belum mampu baik secara lahir atau batin, maka dianjurkan untuk berpuasa. karena hanya perut yang kosong yang mampu meredam hawa nafsu dan syahwat yang muncul, saat seseorang merasa lapar, maka pikirannya hanya terfokus bagaimana bisa memenuhi keinginannya untuk makan bukan untuk syahwat.
kembali kepada dua pilihan diatas.
banyak laki2 yang terjebak dengan istilah MAPAN. menurutnya mapan itu jika ia mampu memenuhi kebutuhannya dan keluarganya seperti menyelesaikan kuliah adiknya atau mengumrohkan orangtuanya.
untuk MAPAN itu hanya butuh waktu sebentar namun untuk menjadi SHOLEH butuh waktu seumur hidup. hati2 jangan sampai seorang laki2 terjebak dan terbalik memahaminya. menurutnya sholeh itu mudah, asal sholat, puasa, sedekah dll itu sudah menjadikannya sholeh sedangkan mapan itu sulit, karena perlu punya ini itu, sudah ini itu.
bagi wanita, bila pria yang mendatangimu adalah seorang yang sholeh, maka cukupkan bagimu apa yang ia miliki selama ia mampu memenuhi kebutuhannya dan keluarganya seperlunya, namun jika ia belum sholeh, pastikan ia mapan dan memiliki visi misi untuk menjadi laki-laki yang sholeh karena kemapanannya akan menjadikan ia merasa percaya diri atas keluarganya dan tenang untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ilmu agamanya.
mari renungi sejenak dan luruskan niat.
apa yang biasa belum tentu benar, apa yang benar belum tentu biasa. maka biasakanlah yang benar bukan membenarkan yang biasa.