Gunung Sindoro merupakan salah satu gunung tertinggi di Jawa Tengah. Dengan ketinggian 3153 mdpl, Gunung Sindoro telah menarik perhatian masyarakat Indonesia terutama penggiat alam bebas untuk mencicipi treck serta pemandangan yang disuguhkan. Demi mengisi waktu liburan akhir tahun 2015, ide pun muncul untuk menyusul teman yang sudah berada di Temanggung kemudian mendaki Gunung Sindoro. Perjalanan di mulai dari Jakarta seorang diri naik bus Sinar Jaya di Rawamangun. Perjalanan menuju Wonosobo terasa begitu lama akibat kemacetan yang terjadi saat akhir tahun. Setelah 18,5 jam perjalanan, sampailah di terminal Wonosobo. Perjalanan dilanjutkan menuju ke basecamp Kledung dari Gunung Sindoro. Tibalah waktu untuk memulai pendakian, semua perlengkapan yang tidak dibutuhkan dititipkan di basecamp kemudian memeriksa kembali bahan makanan yang harus dibawa apakah sudah cukup untuk asupan tim. Dalam pendakian kali ini, saya bersama Docae, Rika, serta Fadil. Tepat pukul 15.10 kami mulai menaikan carrier keatas motor karena kami akan memulai perjalanan dengan menaiki ojek hingga pos 1 (lumayan membantu, bisa menghemat tenaga serta mempersingkat waktu), untuk ini masing-masing orang hanya perlu membayar 15 Ribu saja. Perjalanan menuju pos 1 disuguhkan dengan pemandangan berupa ladang, sawah serta kebun teh penduduk. Hamparan warna hijau disekeliling kami. Jalan berbatu dan sesekali motornya berdecit seperti akan terpeleset. Setelah 10 menit berlalu, tibalah di pos 1 akhir perjalanan menggunakan ojek. Satu persatu mulai menaruh carrier di pundaknya masing-masing, berdoa and let's go. Kami langsung disambut treck yang agak menanjak, baru 15 menit berjalan hujan mulai turun membahasahi. Tanpa berpikir panjang, segera buka carrier ambil raincoat dan pakai. Perjalanan cukup berat karena trecknya terus menanjak tidak ada bonus track, ditambah lagi hujan turun semakin deras. Saya dan Fadil jalan di depan, sementara Docae dan Rika berjalan sesuai dengan ritme mereka. Tepat pukul 16.30 sampailah di pos 2, shelter sudah dipenuhi para pendaki yang sedang berteduh. Kami saling bertegur sapa sambil bongkar carrier dan mendirikan tenda secepatnya. Karena kami memutuskan ngecamp di pos 2 bukan di Pos 3. Setengah jam kemudian Docae dan Rika akhirnya tiba. Mereka dengan sigap mengeluarkan perlengakapan camp lainnya dan peralatan masak kemudian membantu menyiapkan camp. Saat camp sudah rapih saya dan Rika segera segera berganti semua pakaian yang basah dibadan karena hujan. Sekarang waktunya makan malam, time to cooking! Lantaran di gunung Sindoro jalur Kledung tidak ada air, maka makanan yang dipilih adalah yang tidak memerlukan banyak air. Untuk makan malam, kami mensiasatinya dengan membawa makanan yang sudah matang lho tapi bukan makanan instant pastinya. Cukup mudahkan. Perut sudah terasa kenyang, kami segera merapikan perlengkapan masak. Kemudian yang laki-laki memeriksa sekitar tenda untuk memastikan tenda kami aman, hal itu dilakukan karena Rika parno mendengar kabar saat itu di Gunung Sindoro mulai bermunculan babi hutan yang mau menyeruduk tenda para pendaki. Rika juga mengoleskan minyak kayu putih di tenda untuk menyarukan aroma makanan yang bisa mengundang babi datang. Kini semua sudah masuk tenda bersiap untuk tidur, sementara saya dan Fadil packing daypack masing-masing untuk persiapan summit attack tengah malam nanti. Beberapa perlengkapan yang dibawa, seperti senter, rain coat, sarung tangan, kacamata, tisu basah, air mineral, coklat, snack, dan yang tidak boleh ketinggalan juga camera. Semua sudah masuk daypack, setting alarm ,dan saya pun langsung ikut rebahan. Tenda sudah gelap. Pukul 20.00 Wib satu persatu mulai terlelap. *** Saya terbangun mendengar alunan musik Tjangkurileung dari white shoes and the couples company yang saya setting sebagai bunyi alarm. Okee sudah jam 23.50, it's time to summit guys! Rasanya begitu berat untuk mulai bergerak saat bangun tidur, namun target saya adalah puncak jadi tidak boleh buang-buang waktu. Summit ini saya hanya ditemani oleh Fadil, sementara Docae dan Rika menunggu di pos 2. Sekarang sudah siap dengan pakaian pergerakan, perut sudah diisi dengan minuman hangat, daypack pun sudah di pundak, senter sudah menyala, tongkat sudah digenggam, dan berdoa yaa jangan sampai lupa. Tepat pukul 00.00 kami mulai melangkah. Suasananya sangat sepi, tidak ada orang lain dan gelap. Hanya cahaya lampu senter yang menerangi pandangan kami. Treck yang dilalui semakin terjal menanjak dikelilingi semak belukar. Satu jam berlalu sampailah kami di pos 3, banyak pendaki yang bermalam disana karena itu merupakan satu-satunya tempat yang paling luas untuk buka camp di Gunung Sindoro. Istirahat sebentar sambil bercengkrama dengan para pendaki yang masih di luar tenda, disitu saya merasa terhibur akan pemandangan yang disuguhkan sangat indah. Tidak ingin membuang waktu terlalu lama, perjalanan dilanjutkan kembali dengan semangat membara, treck yang menghadang tidak kalah terjal lho dari sebelumnya. Kiri kanan jalan dipenuhi pohon lamtoro. Kemudian mulai memasuki kawasan batu tatah, dimana treck yang dilewati berupa batu-batuan besar. Terkadang untuk melaluinya perlu memanjat atau pun merangkak, karena sudut kemiringannya mencapai 90 derajat. Kini rasanya mulain ngos-ngosan, mulai merasa agak lelah. Namun targetnya belum sampai, jadi ayoo terus melangkah jangan menyerah, ayo pasti bisa. Seperti itulah saya menyemangati diri sendiri, sementara Fadil masih santai di belakang. Hari semakin pagi, kaki masih harus tetap melangkah karena perjalanan masih cukup panjang. Kami mulai memasuki hutan lamtoro lagi, kemudian memasuki kawasan padang edelweis. Sayang saat itu bukan waktunya bunga edelweiss mekar, jadi kami tidak bisa melihat kecantikan dari bunga abadi. Rasanya sudah berjalan sangat lama tetapi kenapa puncaknya belum kelihatan juga yaa. Kini langkah sudah mulai gontai, nafas tersengal-sengal, dan jantung berdegub kencang. Ingin menyerah saat itu juga, tapi sudah sampai sejauh ini apakah saya harus menyerah begitu saja? Apakah saya akan menyerah hanya karena lelah? Dengan kondisi seperti ini, saya pun meminta Fadil untuk jalan di depan. Sementara saya berjalan pelan di belakang. Berjalan di belakang tidak membuat saya semakin baik, tapi pikiran ini menjadi tidak karuan. Sempat ingin menunggu Fadil disitu dan memutuskan tidak ikut kepuncak, tapi itu perbuatan yang sangat sia-sia. Semuanya bergejolak di dalam pikiran ini. Pada akhirnya saya memutuskan untuk terus ke puncak, meskipun jalan dengan sangat lambat. Titik triangulasi kini sudah terlihat, dan semangat saya kembali membara. Alhamdulillah ya Allah, akhirnya sampai puncak. Pandangan ku langsung menjamah tiap sudut puncak Sindoro. Huaaaaaa........ It's so beautiful guys ! *** Dalam perjalanan kali ini, saya pun menyadari bahwa persiapan itu harus dilakukan dengan baik dan sematang mungkin meskipun hal tersebut sudah dilakukan berulang kali. Jadi tidak boleh sombong ya, dan jangan mudah menyerah terus maju pantang mundur, raih targetnya. Kalau gagal, berarti internal kita belum maksimal usahanya dan perlu banyak belajar dan mempersiapkan prosesnya lagi. Ini diluar hambatan exteral seperti badai atau bencana alam ya. Karena manusia diciptakan dengan banyak kelebihan. So, shouldn't be waste yes! Oleh : Desi Melinda