Stranger at a Bus Stop (6/7)
Begitu sapaku ketika bertemu dengan dia lagi di halte. Oh iya, setelah melewati beberapa percakapan acak dan aneh, akhirnya aku sudah tau siapa namanya.
Lelaki aneh yang selalu duduk sendiri di halte karena ingin mencari bagaimana rasanya dulu berharap. Impresi pertama ku ke dia adalah aneh. Setelah kenal pun tetap aneh. Namun aku akui dia adalah teman ngobrol yang baik, lumayan setidaknya membuat waktu menunggu di halte menjadi tidak semembosankan itu.
Seperti biasa, aku akan duduk di sebelahnya lalu kami akan diam sampai salah satu dari kami memulai topik acak untuk membuka percakapan.
"Kata lo, mending halte apa stasiun?"
Oh kali ini dia yang memulai.
"Hmm sama aja sih… sama-sama penuh dengan orang yang pergi dan yang tiba"
“Betul juga.. kalau gitu mending jadi yang pergi atau yang tiba?”
“Tergantung tempat tujuan?”
“Hmm ya kalau misal tempat itu adalah tempat gue pulang berarti mending jadi yang tiba tapi kalau tempat itu adalah tempat yang ingin gue jauhi berarti mending jadi yang pergi”
“Berarti tiba itu pulang dan pergi itu menjauh?”
“Iya bisa dibilang kaya gitu. Kalau lo sendiri?”
“Mending jadi yang pergi”
“Karena udah ga ada tujuan gue untuk pulang”
“Tapi emang lo mau menjauh?”
Lalu hening. Tidak ada suara berat yang menjawab pertanyaanku. Hanya suara angin dan hiruk pikuk kendaraan menjadi latar belakang suara dalam percakapan ini. Tumben. Begitu pikirku. Apa pertanyaan itu terlalu sulit sampai dia membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menjawab atau dia yang tidak ingin menjawab?
Begitu jawabnya. Satu kata yang aku rasa banyak maksud di dalamnya, tapi jujur aku tidak paham dengan jawaban dia.
“Sekarang? Hmm… kalau gue pergi, lo gimana?”
Sebentar. Kenapa malah jadi pertanyaan seperti ini yang terlontar? Dan kenapa juga aku harus merasa sakit dengan pertanyaan itu?
“Kenapa gue deh Dan? hahaha”
“Gapapa.. pengen tau aja”
“Hmmm kita emang lagi di halte sih Dan.. Jadi kalau lo mau pergi, itu adalah hal yang wajar. Gue juga bentar lagi pergi nih hahaha karena bis gue bentar lagi dateng”
‘Pergi yang kita maksud disini sama kan ya Dan?’ Entah kenapa pertanyaan kecil itu muncul di benakku saat menjawab pertanyaan Dani tadi.
“Ah iya bentar lagi ya bis lo dateng… ga kerasa ya”
“Jum’at besok gue pulang kantor tepat waktu deh, jadi kita bisa ngobrol lebih banyak di sini”
Dia cuman terkekeh sebagai respon dari pernyataanku tadi. ‘Masih ada kata Jum’at besok kan Dan?’, batinku. Kenapa rasanya hati ini semakin sakit seiring percakapan ini berjalan. Bukankah ini sama saja dengan topik acak yang biasa aku dan Dani bicarakan?
“Berarti pertanyaan gue yang tadi… lo gapapa ya?”
Bohong. Kenapa rasanya gue baru saja melakukan kebohongan yang besar. Tapi seharusnya memang tidak apa-apa karena kita akan bertemu lagi Jum’at besok, ‘ya kan Dan?’
“Baguslah kalau lo gapapa. Gue gamau lo nanti merasakan apa yang dulu gue rasain di halte ini. Eh, bis lo udah dateng tuh”
“Emang apa yang lo dulu rasain?”
Hari itu untuk pertama kalinya selama aku mengenal Dani, aku merasa sedih dan tidak ingin menaiki bis pulang. Hari itu untuk pertama kalinya, hatiku merasa sakit setelah menyudahi percakapan dengan Dani. Hari itu untuk pertama kalinya, aku berdoa agar tetap ada Jum’at besok antara aku dan Dani.
‘Kita akan bertemu lagi Jum’at besok kan, Dan?’