Menjadi Dewasa Kadang Tidak Menyenangkan
Sebulan terakhir, aku dekat dengan seorang perempuan. Dia temanku waktu SMP, tetapi kami memang tidak dekat, hanya rekan di OSIS. Aku meminta kontaknya ketika kuliah semester 3, sangat lama, bukan? Bahkan, selama SMA, kami seperti melupakan satu sama lain, terlebih karena beda sekolah.
Tetapi, kami baru bisa bertemu pada 2023, karena dia menyanggupi untuk kujemput setelah pulang bekerja. Diriku yang kelewat introvert dan lemah dalam hal asmara membuatku sulit berkomunikasi dengan dia. Untungnya, aku mulai membiasakan diri tidak menggunakan kata "Saya" setiap berbicara dengan dia.
Ketika mengungkapkan perasaan, aku pun dibantu dua sahabatku yang memang sudah memiliki pasangan, bahkan salah seorang di antaranya sudah menikah. Kini, aku bukan tipe laki-laki yang romantis seperti di masa sekolah.
Tetapi, yang membuatku terkejut adalah, sifat kaku yang ada dalam diriku musnah setiap bersama dia. Meskipun aku masih kesulitan untuk bisa berbicara lepas, setidaknya, dia bisa mengimbangiku. Dia tidak selalu harus diberi effort olehku, tapi secara otomatis, dia memberikan feedback kepadaku. Entah karena dia suka padaku, atau hanya moralitas belaka.
Semakin hari aku semakin menyayanginya. Tetapi, aku masih menjadi orang yang kaku, membosankan, dan cuek. Setidaknya, sifat cuek kuhilangkan untuk dia. Kerap kali kita makan berdua, membicarakan banyak hal. Mulai dari latar belakang, masa lalu, sampai prinsip hidup.
Selama 3,5 tahun menjomblo, rasanya sulit untukku untuk memulai lagi. Tetapi, aku ingin serius dengannya. Benar-benar ingin serius. Akan tetapi, budaya seperti mengharuskanku melamar dia jika memang niatku itu "serius".
Jujur, aku belum siap untuk itu. Aku memang bisa mengusahakannya, tetapi usiaku dan dia masih muda. Kami tentu masih punya mimpi masing-masing, aku ingin lulus S1 dan langsung mengambil S2, dan dia yang ingin segera memulai kuliah.
Terlebih, aku masih seorang laki-laki perintis bisnis teknologi yang penghasilannya, masih jutaan. Ya, lumayan sih, tapi egoku masih tinggi sebagai laki-laki muda, hobiku banyak. Dan aku belum bisa menghentikannya.
Aku selalu ingin memegang tangan dia lebih lama dan mengatakan cinta padanya. Namun, rasa takut selalu menyelimutiku. Penolakan, perubahan sikap, dan lain sebagainya langsung menggerogoti isi pikiranku. Tapi, rasanya juga akan pahit jika harus terjebak di friendzone.
Maka dari itu aku ingin membuktikan pada dia bahwa aku benar-benar ingin merajut hidup dengannya. Aku pernah mendengar kisah cinta Vincent dan Vivi, mereka pacaran 4 tahun di usia dewasa, gila nggak sih? Tetapi, lantas mereka menikah setelahnya.
Menjadi dewasa kadang tidak menyenangkan. Kita memang bisa serba mudah mendapatkan banyak hal, tetapi soal hati, rasanya banyak yang harus dipertimbangkan.
Membicarakan cinta di usia dewasa kadang bertabrakan dengan budaya, prinsip, sosial, dan ekonomi. Hal-hal yang tak pernah kita pikirkan sewaktu sekolah.
Menjadi dewasa kadang tidak menyenangkan. Selalu dihantui oleh persepsi orang bahwa menjadi romantis itu penuh omong kosong dan basa-basi.
Sayangnya, aku sudah terlanjur mencintainya.