Karya: Achmad Zulkifli Altinus
Aku menemukan diriku jatuh cinta kembali padamu. Hal itu kusadari tepat ketika aku duduk kembali di bangku taman ini, sambil mendengarkan lagu berjudul Heaven yang dinyanyikan oleh Bryan Adams—salah satu penyanyi yang selalu membuatmu ingin menonton langsung konsernya. Aku kerap berpikir, barangkali Bryan Adams adalah kekasihmu yang utama dan aku ada di nomor kedua.
Beralih ke tempat ini, taman kota yang pernah menjadi saksi betapa pernah mekar cinta mengalahkan indahnya mekar bunga. Ya, cinta yang kumaksud adalah kita, sapasang kekasih yang bagai burung dan dahan pohon.
“Mengapa kau selalu menyamakan hubungan kita dengan burung dan dahan pohon? Jujur aku risih bila disamakan dengan burung, meski burung punya sepasang sayap untuk terbang bebas meraba langit, tetapi aku takut menjadi burung. Aku takut pada sangkar dan mata pemburu.”
Aku masih mengingat pertanyaanmu itu, selalu. Mungkin lebih tepatnya aku menghafalnya, juga dengan raut wajahmu yang polos dan lucu saat mengucapkannya. Aku tak pernah menjawab pertanyaan itu, selain dengan tertawa atau tersenyum. Namun, hal itu juga yang menjadi penyesalanku yang masih menggenang. Seandainya kau kembali melontarkan pertanyaan yang sama sekarang, tak perlu waktu bagiku untuk menjawabnya. Mengapa kau seperti burung, mengapa aku adalah dahan pohon. Kau adalah perempuan cerewet yang masuk mengunjungi hidupku setelah ibuku. Kau selalu ceria dan punya banyak kata-kata, sementara aku lebih menyenangi diam dan mendengarkan. Kau selalu mampu membuat aku tertawa; aku selalu paham apabila kau nelangsa. Itulah beberapa alasan mengapa aku senang bepikir bahwa kita umpama burung dan dahan pohon.
Masih di taman yang sama. Taman yang begitu pandai membasahi ingatan. Sudah jadi kebiasaan kita dulu, berdua menghabiskan waktu bercengkrama dan mempercakapkan penuh hal di taman ini. Kau tidak menyukai kafe, pusat perbelanjaan, dan tempat lain yang biasa digunakan muda-mudi memadu kasih, selain taman kota.
“Aku ingin angin, langit, pohon, bunga-bunga, hijau rumput, lampu taman, tenang kolam, dan deret bangku mengenang dan menjadi saksi atas cinta,” ungkap kau. “Aku ingin kita memiliki cinta seperti taman kota yang sengaja dibuat agar bisa merehatkan diri dari denyut hiruk-pikuk kota.”
Darimu, aku juga mulai menyukai taman kota. Kusimak luruh daun-daun dari ranting, desau tiup angin tenggara, tenang wajah kolam, lentik kaki kupu-kupu pada rekah kelopak-kelopak bunga, juga kesendirian yang berbisik pada hati yang tak lagi utuh.
“Jika suatu saat salah satu dari kita akan atau ingin berpisah karena suatu alasan, maka harus ada yang menuliskan tentang cinta kita ke dalam puisi, agar di dalamnya kita senantiasa abadi.” Ucap kau pada suatu waktu yang di telingaku bagai petir di siang hari. Namun, aku tahu kau mencoba mengujiku yang tidak begitu pandai memahami puisi dan segeralah kujawab dengan meminjam satu larik puisi dari penyair kesayanganmu,
“Yang fana adalah waktu, kita abadi.”
Kau pun tersenyum dan kita lanjutkan bercakap perihal lain. Waktu itu, aku belum meyakini bahwa firasat itu benar-benar ada. Aku selalu mengira firasat adalah omong kosong belaka yang selalu dilebih-lebihkan dalam tayangan film, sinetron, atau drama. Sampai saat dimana aku mulai percaya, ketika waktulah yang berbicara.
Beberapa minggu setelah itu kau mulai berubah. Pesan darimu lebih jarang muncul dan kau membalas pesanku dengan cara yang kupikir bukan dirimu—terasa asing. Sampai pada hari-hari berikutnya, tak kutemui lagi balasan dan pesan darimu. Kau tiba-tiba menghilang. Aku sempat teringat ucapanmu tempo dulu dan itu membuatku kecewa. Barangkali kau memang sengaja berucap seperti itu untuk mengisyaratkan ingin berpisah dariku.
Ingatlah, cinta adalah pohon yang juga bisa berbuah cemburu, kecewa, atau amarah.
Kutipan dari buku yang aku lupa penulisnya itu tiba-tiba terbesit di kepalaku. Aku kecewa. Sungguh kecewa, juga merasa kesal. Kutuliskan berpuluh pesan, meminta penjelasan dan keberadaanmu. Hasilnya tetap sama, tak ada balasan. Lantas aku coba mengunjungi rumahmu, barangkali terjadi sesuatu padamu sehingga membuatmu tak sempat bertukar pesan. Hasilnya pun tetap sama, kau tak ada.
“Apakah kau meniru matahari petang, terbenam dengan indah demi untuk mengatakan kau tak akan kembali lagi?”
Aku memenuhi hati dan pikiranku dengan pertanyaan, kekecewaan, dan kekesalan. Aku memendam semua itu hingga berhari-hari. Sampai pada akhir pekan, aku menemukan pesanku sudah kau baca, dan kau balas dengan amat sederhana,
“Aku merindukanmu & maaf karena tak memberi kabar. Datanglah dan temui aku, biar kau mendapat penjelasan.”
Lalu kau memberiku sebuah alamat. Alamat rumahmu yang baru. Aku bergegas ke sana dengan menyimpan beribu kata yang bagai awan penghujan—terlampau ingin sampai ke bumi—untuk kau dengarkan. Sesampai di alamat yang kau beri, penjelasan darimu sudah aku terima, bahkan tanpa perlu kata-kata. Bendera kuning yang terpasang di sana, beberapa orang yang seperti sedang malayat, dan beberapa raut wajah sedih dari kerabatmu yang kukenal, membuatku sungguh gelisah. Kegelisahaan itu semakin menjadi tatkala aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah dan melihat tubuh seseorang berbungkus kain tengah terbaring kaku di sana. Kubuka dan kulihat wajah yang di sana. Tanpa suatu isyarat, air mata mengalir dari sepasang mataku seperti anak sungai yang mencari muara. Wajahmu yang cantik telah memucat dan tergores senyum damai di bibirmu.
“Maaf, karena terlambat memberi tahumu, Mas. Sebenarnya yang membalas pesanmu belakangan adalah Aku.” Ucap adikmu yang sudah duduk di sampingku.
“Kakak memang sengaja merahasiakan penyakit kanker otaknya darimu, agar dia tidak membuatmu repot dan khawatir. Agar ia juga tidak merasa berat karena sudah meninggalkanmu, kekasihnya.”
Ungkapan itu semakin membuatku merasa sebagai manusia paling malang di muka bumi. Sekali lagi aku luput menyadari, bahwa alamat rumahmu yang baru ternyata bukanlah seperti yang aku duga. Rumahmu yang baru adalah tempat yang baka, adalah sisi Tuhan. Dalam tangis yang pecah, dalam perasaan yang gundah, aku masih sempat menerka-nerka kembali maksud dari larik puisi yang dulu kujadikan sebagai jawaban dari ucapanmu: yang fana adalah waktu, kita abadi.
Kemudian dari saku kemejanya, adikmu mengeluarkan secarik kertas putih dan memberikanya padaku. Kelak aku tahu, secarik kertas putih itu berisi puisi yang telah kau tulis selama berada di rumah sakit. Puisi yang mungkin kau tulis tidak hanya dengan tanganmu, tetapi juga seluruh hati dan jiwamu. Secarik kertas putih itu pula telah bersaksi bahwa bekas tetes air mata yang telah kering di lembar tubuhnya adalah bait puisi darimu yang tidak berhasil diwakilkan oleh kata-kata. Kau telah abadi dalam hati dan puisi.
Bilamana waktu menggoda rindumu, putarlah lagu Heaven
yang sering bersama kita dengarkan pada suatu pagi
agar kau rasakan aku turut lirih bernyanyi dalam hatimu:
Bilamana kesepian siang menghantuimu, kunjungilah aku
yang hidup bahagia dalam album foto kita
melihat kembali kebahagiaan yang membukakan
kelopak-kelopak bunga, memerdukan kicau burung
di reranting, dan meneduhkan sinar matahari
yang sengatnya memerahkan kulit
Bilamana tak kau temukan napasku sore itu,
barangkali aku tersesat dalam secangkir Cappucino favoritmu
yang lebih sering membuatmu lupa
kalau kita duduk berdua dalam kafe itu
Bilamana malam mengucilkanmu sendiri, ingatlah aku
yang menjelma bait-bait puisi
yang menemanimu senantiasaa
yang akan mengusap air matamu lewat getaran kata