Aku melihat seorang perempuan pagi ini di halte yang biasa kutunggu untuk menanti bus. Dia datang sebelum aku sampai di halte itu. Saat aku menaiki bus dia tetap berdiri disitu. Tidak ada yang aneh sebenarnya, hanya saja perempuan itu tidak duduk padahal bangku halte kosong. Atau mungkin dia tidak ingin rok nya basah karena hujan jika duduk di bangku halte. Tapi kulihat bangku itu sedikit pun tidak basah. Dia memakai payung yang membuat wajahnya tertutupi. Aku jadi tidak tahu siapa perempuan itu.
Kemarin aku lupa tidak membawa payung. Jadilah sekujur tubuhku basah kuyup sesampainya di kantor. Aku pikir gara-gara itu seharian aku mendapatkan kesialan. Presentasiku untuk program akhir tahun ditolak mentah-mentah oleh bosku. Saat makan siang aku tidak mendapat jatah, ini adalah hal yang paling mustahil terjadi. Tapi nyatanya terjadi padaku yang sepertinya sedang terkena kutukan. Tidak hanya itu aku pun melihat pacarku sedang bergandengan tangan dengan seorang perempuan. Jadi kupastikan payung sudah masuk ke tas kerjaku.
Aku melihat lagi perempuan dengan payung yang sama seperti kemarin. Payung berwarna kuning. Aku pandang ke langit tidak ada hujan setetes pun bahkan gerimis. Perempuan itu berdiri di tempat yang sama. Aku hampir menyapanya tapi bus yang akan kunaiki sudah datang. Kuurungkan niat untuk menyapanya. Aku naik ke bus, dia masih tetap berdiri di situ. Aku duduk di jendela yang menghadp perempuan itu. Aku mencoba melihat wajahnya tapi tidak terlihat. Hanya bibirnya yang marun terlihat menggantung di wajahnya yang putih.
Seharian aku di kantor tidak ada hal yang istimewa. Semua berjalan dengan lancar. Aku berhasil menyelesaikan deadline hari ini. Bos mempertimbangkan kembali presentasiku yang ditolaknya kemarin. Sedangkan pacarku tiba-tiba datang menjemputku saat makan siang. Awalnya aku tidak mau tapi dia memaksa dan menjelaskan kesalahpahaman saat aku menanyakan perempuan yang ia gandeng kemarin.
"Dia anak kakak tertuaku, namanya Ana," dia menjelaskan dengan tenang. Aku melihat ke matanya tidak ada keraguan. Matanya mantap menatapku tanpa ada rasa menutup-nutupi sesuatu. Saat aku masuk ke mobilnya di dalam sudah ada perempuan yang ia sebut namanya tadi, Ana.
"Hai Ela, senang berjumpa denganmu," sergahnya begitu aku masuk mobil. Tangannya menjulurkan meminta salaman.
Aku menerima tangannya sambil berbasa-basi. "Oh hai, kamu Ana?". Selanjutnya obrolan kami hanyalah sebuah omong kosong yang tidak begitu menyamankan. Pacarku sesekali melirik kepadaku dan tersenyum. Aku tahu mata itu dia mengatakan dengan pandangannya. "Bagus, teruskan ngobrolnya El".
Kami masuk ke sebuah restoran tidak jauh dari kantorku. Seperti biasa aku dan pacarku duduk berhadapan. Ana dengan cekatan mengambil kursi dan menaruhnya disamping pacarku. Aku memesan makanan untukku dan pacarku, lalu Ana mengernyitkan dahinya. "Kenapa kau memesan makanan banyak sekali?" tanyanya dengan nada lebih tinggi dari biasanya.
"Oh tidak, aku memesankan makanan untuk pacarku juga," jawabku sambil tersenyum gamang.
"Kenapa kalian begitu dekat. Padahal hanya sebatas hubungan pacar. Biar aku yang memesankan makanan untuknya," telunjuknya sambil menunjuk pacarku. Sedangkan pacarku diam saja sambil mengangguk meminta persetujuan padaku. Oh bukan persetujuan lebih kepada perintah.
"Oh tentu saja, selama dia menyukainya," aku terbiasa memanggil pacarku dengan sebutan pacaran di depan siapa pun. Namun kali ini aku niatkan menyebutnya dia. Karena aku merasa Ana cemburu.
Makan siang berjalan dengan lancar. Ana kembali menurunkan nada bicaranya. Dia terlihat lebih santai. Aku pun begitu. Aku tidak terlalu ambil pusing dengan kelakuan Ana. Lagi pula Ana terlihat masih muda, pantas kalau emosinya masih naik turun. Setelah menghabiskan makanannya Ana meminta ijin ke toilet. Saat ia tidak terjangkau pandanganku, pacarku menggamit tanganku.
"Maafkan aku tidak menceritakan soal Ana sejak lama," katanya. Tentu saja aku mengatakan tidak apa-apa. Ini bukanlah masalah besar.
"Ana bukanlah gadis biasa. Orang tuanya bercerai ketika ia masih kecil. Dia tinggal dengan orang tuaku di Bandung. Dia sangat dekat dengan orang tuaku bahkan dia memanggilnya ayah dan ibu bukan nini dan aki," Pacarku menghela nafas. "Begitupun denganku. Dia sangat dekat denganku. Beberapa kali dia datang ke Jakarta untuk menemuiku, tapi bodohnya aku tidak berterus terang dan mengenalkan padamu."
"Gadis malang, Ana patut mendapatkan kasih sayang darimu. Lalu masalahnya apa?" tanyaku.
"Masalahnya adalah dia tidak terlalu senang dengan perempuan yang dekat denganku. Begitupun denganmu. Butuh lebih dari setahun aku mengenalkan sosokmu pada Ana sehingga pada akhirnya dia mau menerimamu sebagai pacarku, tapi..." belum sampai pacarku berkata Ana sudah datang. Ia pun langsung memotong dan melepas genggamannya.
Aku melihat ke Ana. Gadis itu memang terlihat berbeda. Tapi aku sangat mafhum dengan keadaannya. Sedikit pun aku tidak merasa cemburu dengannya. "Biarlah Ana membiasakan diri denganku terlebih dahulu," batinku sambil tersenyum kepada Ana.
"Nanti aku yang mengantarmu pulang. Aku menjemputmu jam 5 lebih mungkin. Kamu tunggu sebentar di kantor ya," kata pacarku saat mengantarku kembali ke kantor.
"Aku akan ikut. Menyenangkan jika bisa ikut mengantar Ela pulang," kata Ana.
"Oh tentu saja. Aku pun akan senang kau mau mengantarku pulang An," aku tersenyum padanya. "Dah Ana sampai bertemu nanti, aku akan senang menunggumu," aku melambai pada Ana dan mengatakan aku mencintamu pada pacarku lewat mata. Dan kurasa dia membalasnya.
Gerimis sudah terbiasa menemani langkahku saat pagi. Orang-orang di halte berpakaian sama tebalnya denganku dan memakai payung, tentu saja. Aku mengingat kemarin sore pacarku mengatakan akan menjemputku pagi ini. Tapi tentu saja Ana tidak suka dengan ide pacarku.
"Tapi bukankah setiap pagi kau selalu pergi berjalan-jalan An?" tanya pacarku padanya.
"Aku hanya tidak ingin kau pergi berdua saja dengan Ela," katanya tanpa ampun.
"Aku tidak apa, kau pergilah bekerja saja. Aku sudah biasa berangkat dengan bus," aku tersenyum pada pacarku dan memberikan sinyal kalau aku benar baik-baik saja.
Diantara orang-orang yang saling menyapa dan bercengkerama ada seorang yang berdiri disitu. Tertegun. Masih di tempat yang sama. Dan ternyata orang yang sama walaupun aku tidak tahu siap orangnya. Kakinya terlihat bergetar mungkin karena udah dingin yang menyergapnya. Bus akhirnya datang. Aku masuk ke dalam bus duduk di tempat biasa. Agar bisa menjangkau wajah perempuan itu.
Bus melaju dengan pelan, dengan hati-hati aku memandangi perempuan itu. Tetap saja dia tidak terlihat. Tapi ketika bus melaju cukup jauh perempuan itu terlihat meninggalkan tempatnya. Dia melangkah menjauhi halte. Baru kali ini aku lihat perempuan itu beranjak dari tempatnya.
"Hai, maaf aku meneleponmu pagi-pagi begini," aku menelepon pacarku.
"Tentu saja tidak apa, tapi ada apa El?"
"Aku mengira ada seseorang yang menguntitku. Dia seorang perempuan yang selalu berdiri setiap pagi di halte bus dekat indekosku,"
"Sejak kapan dia ada disitu?"
"Kenapa kamu berpikiran dia penguntit?"
Aku menghela nafas, "Aku sudah lama melihatnya berdiri disitu, sejak hujan mulai turun. Dia tidak pernah menaiki bus. Dia selalu berdiri dan hanya berdiri disitu. Tapi hari ini aku tahu setelah bus yang aku tumpangi melaju dia kembali. Dia menjauhi bus ini. Dia berjalan.... Dia berjalan ke indekosku," aku mulai bergetar.
"El, tenangkan dirimu. Pikirkan saja dia bukan penguntit. Dia hanya kebetulan saja pergi kali ini. Nanti aku akan menjemputmu untuk memastikan kau baik-baik saja sampai di indekosmu,"
"Baiklah, terimakasih. Tan aku mencintaimu,"
"Tentu saja El, aku juga mencintaimu".
Senja mulai membenamkan diri. Aku masih menunggu pacarku di kantor. Gerimis yang tadinya begitu tenang diganggu gemuruh yang memaksa hujan turun dengan lebat. Aku lihat mobil pacarku.
"Apa Ana baik-baik saja kamu mengantarku pulang?"
"Ana tidak ada di rumah," aku kaget mendengarkan kalimat itu. Tapi pacarku tetap memasang wajah tenangnya. Dia lalu mengegas mobilnya.
"Apa itu hal yang biasa?"
"Tidak. Ana selalu pulang tepat waktu. Dia takut dengan malam."
"Kalau begitu ayo kita cari Ana,"
"Tidak. Sebaiknya aku mengantarmu pulang lalu mencari Ana. Ana tidak akan suka melihat kita berdua," dia membelai rambut sambil menatapku. Dia meminta persetujuan.
"Betul. Kalau begitu kamu berhati-hatilah. Jangan pulang sampai kamu bertemu Ana. Oiya apa kamu sudah menghubungi Ana?"
"Handphonenya ada di rumah. Dia tidak pernah lupa membawa handphonenya. Pasti ada sesuatu yang dia rencanakan". Aku menatapnya dia begitu khawatir. Begitulah.
Hujan masih turun dengan deras. Aku pamit masuk indekos. "Kamu tidak apa akan basah kuyup?" tanyanya begitu tahu aku tidak membawa payung.
"Jangan khawatir, setelah ini aku langsung mandi dan memakai baju hangat," dia tersenyum geli mendengar kalimatku.
Saat mencari kunci di tas, aku melihat jendela ruang tengah yang terbuka. "Ya ampun apa aku meninggalkannya terbuka begitu saja?" ujarku membatin. Tapi aku tidak pernah membuka jendela itu. Aku mengintip ke dalam rumah lewat jendela itu membiarkan tubuhku basah kayup. Astaga! Aku melihat Ana dari belakang sedang menghadap pintu kamarku. Aku berlari ke jalan berteriak memanggil pacarku.
"Nathan.... Nathan....!" padahal masih kulihat mobilnya tapi sudah kuduga hal ini hanya membuang energi saja. Aku langsung meneleponnya selagi membuka pintu. Tapi tidak ada jawaban. Aku kirim pesan dia mengabarkan Ana ada di indekosku.
Aku membuka pintu dengan segera. Menghampiri Ana yang berada di ruang tengah. Aku mendapatinya sedang menungguku. Tatapannya tajam sangat berbeda dengan sebelumnya saat aku bertemu dengannya.
"Kamu mengambil Nathanku," katanya setengah berbisik tapi pandangannya menancap padaku. "Kamu mengambil Nathanku seenaknya saja,"
"An, ada apa? Kita bicarakan baik-baik saja, oke?" aku hampir mendekatinya sampai dia mengeluarkan belati itu.
"Jangan mendekat!" dia berteriak sambil mendekatkan belati di lehernya.
"An, ini bisa kita bicarakan dengan baik-baik. Oke, aku akan menurut asal aku meletakkan belati itu,"
"Aku akan mati karena tanganku, tapi pikirkan El. Kamulah yang sebenarnya membunuhku. Kamu bisa hidup bahagia dengan Nathan, tapi tidak dengan masa lalumu. Kamu akan terus terbayangi-bayangi aku. Aaaaaaa.....!"
"Ana.... Tolong An," aku mendekatinya yang serta merta berlumuran darah. Aku membopong Ana dan menutupkan lehernya dengan jaketku. Ana masih memegang belati itu, dia hampir saja menusukkannya pada dadaku. Tapi dirinya sudah tak berdaya lagi. "Ana... Nathan... Nathan... tolong aku Nathan..." aku menangis, pun sampai aku tak berdaya.