Modern Parenting vs Tradisi
Hari ini bayiku ditindik. Karena aku dan suamiku ternyata lelah jg ngelawan budaya "anak perempuan harus ditindik biar cantik/ biar ada cirinya" cuma karena perkara tadinya kami ga akan tindik anak kami sampai dewasa.
Aku capek debat, meski mostly yg mendebat dan memaksa adalah: ibu2 komplek, dan ibu sendiri wkwk, yg lainnya yah ga peduli amat juga kayanya. Hm apa aku salah lingkungan? Wk
Jadi aku dan suamiku kompromi aja, meski kami sebenarnya mau menyusupkan metode parenting kami ke anak dgn tidak menindik dia, kalau suatu saat dia bertanya. Tapi yaudah, ga jadi 😊
.
Kami tadinya memutuskan ngga tindik karena kami mau menerapkan nilai yang kami yakini, bukan untuk "melawan tradisi" semata, tapi karena kami ingin anak kami tumbuh dengan pengalaman yang penuh kesadaran—bahkan dari hal kecil kayak tindik.
Kami bukan “nggak mau anaknya cantik”—tapi kami cuma pengen kasih dia hak untuk memilih sendiri nanti, tentang tubuhnya sendiri.
Tapi kenyataannya, hidup di tengah masyarakat yang 'nggak bisa diam melihat sesuatu yang beda' itu melelahkan. Yang beda sedikit dianggap nyeleneh, yang nggak ikut arus dikira salah jalan.
Yang terpenting, kami akan selalu ajarkan dia untuk kenal tubuhnya dan haknya sendiri. Kami yakin kami tetap bisa terus menyusupkan nilai-nilai itu dalam banyak hal lain—pilihan, kebebasan, kesadaran, cinta diri.
“Nanti kamu boleh pilih banyak hal sendiri ya, nak. Mama papa akan bantu kamu kenal dunia—dan juga kenal dirimu.”
.
Kami juga mau mengajari bahwa setiap tindakan itu harus selalu punya alasan. Supaya dia nggak gampang kebawa arus, khususnya pergaulan.
Kami inginnya membentuk anak jadi pribadi yang berpikir—dengan kesadaran, bukan sekadar ikut-ikutan. Kami mau tanamkan benih penting di hati anak kami: bahwa hidup itu harus dijalani dengan akal dan hati, bukan hanya karena 'semua orang juga begitu'.
Dan soal tindik, ini soal preferensi, bukan urgensi. Nggak ada satu pun bukti bahwa bayi perempuan jadi lebih bahagia atau lebih sehat atau lebih aman karena telinganya ditindik. Ini murni pilihan estetika "orang lain", yang sayangnya udah jadi standar sosial seolah-olah itu satu-satunya cara agar anak perempuan dianggap “lengkap”.
Kami sebenernya mencoba berpikir jauh ke depan, bahwa anak kami kelak akan menghadapi dunia yang penuh arus—dan kami ingin dia siap dengan pondasi kuat: berpikir, mempertanyakan, dan memutuskan.
Yang bikin sedih dan capek itu: "kenapa ya, hal yang seharusnya jadi pilihan pribadi malah terasa seperti "dosa sosial" kalau nggak dilakukan?". Kenapa begitu banyak orang lebih nyaman nge-judge daripada sekedar diam dan menghargai?
Yaudah, ini cuma alasan panjang lebar dan mendalam kenapa kami tadinya gamau tindik anak perempuan kami—yg orang lain ga akan tau itu. Sekian.











