Ha to?
Hidup adalah seru, jika tidak dihabiskan dengan diam-diam mengeluh lalu "misuh" pada kenyataan. Maka, belajar bersyukur.

if i look back, i am lost
todays bird

Product Placement
No title available
taylor price
KIROKAZE
I'd rather be in outer space 🛸

roma★
Game of Thrones Daily

pixel skylines
h

titsay
Today's Document
🩵 avery cochrane 🩵
tumblr dot com
Sade Olutola
hello vonnie

Andulka
NASA
𓃗

seen from Canada
seen from China
seen from Canada
seen from United States

seen from Canada
seen from United States

seen from India
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Australia
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Vietnam
seen from United States
@alfokurniawan
Ha to?
Hidup adalah seru, jika tidak dihabiskan dengan diam-diam mengeluh lalu "misuh" pada kenyataan. Maka, belajar bersyukur.
Satu adalah genap.
Hari ini.
Aku tidak tahu bagaimana akhirnya nanti. Yang aku tahu aku menikmati hidup di hari ini, menikmati wangi kopi ini, dan kamu. Kamu yang selalu paham maksudku tanpa perlu kujelaskan. Kamu yang menggenggam tanganku hari ini. Kamu yang tertawa lucu hari ini. Kamu. Doaku sederhana, tetaplah kamu menjadi kamu yang hari ini. Untuk hari ini, besok, dan besoknya lagi dan besok besoknya lagi dan seterusnya sampai lupa bahwa hari ini adalah hasil dari hari yang telah kita lalui. Dan selalu bersyukur. Untukmu: Anastasia Dwi Puspitasari
Bunga.
Bunga. Aku menanam bunga di halaman rumahku. Cantik. Setiap hari kurawat dan kujaga. Aku sangat suka bunga itu. Ini pertama kali aku memelihara bunga. Aku masih belajar merawat agar sehat, dengan caraku sendiri. Namun pernah suatu saat aku lupa menyiram, bunga hampir layu. Aku panik. Aku beri tambahan pupuk dan air agar bunga ku tumbuh kembali. Dan benar, bungaku kembali sehat. Berseri dan bertambah besar. Aku bahagia. Kini ku bagi waktu ku untuk fokus pada sang bunga. Fokus dan lebih serius. Setiap sore banyak kupu-kupu bermain dengannya. Lucu. Aku selalu berjuang agar bungaku itu tetap tumbuh dan berkembang. Entah bagaimana caranya. Karna aku tahu hanya bunga itulah yang bisa membuat halaman rumahku berwarna. Nyaman sekali. Hingga suatu saat, bungaku tiba-tiba hampir mati karena layu. Bukan karena aku lupa merawat. Padahal aku selalu bersemangat dalam menyiram dan memberi pupuk. Secara logika, cara itu dapat membuatnya tumbuh subur. Tetapi ini beda. Bungaku malah layu. Panik. Bagaimana bisa pikirku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Apa yang salah? Ingin memberi pupuk dan menyiramnya lagi tetapi takut tambah layu. Ingin membiarkannya tetapi takut mati. Dilema. Entah. Aku pasrah. Yang ku tahu, aku masih ingin melihat warna-warni cantiknya. Aku belum siap ditinggalkan harumnya. Aku sangat suka bunga itu, segalanya bagiku. Kata penjual bunga, itu adalah bunga langka. Bingung. Aku sudah berjuang semampuku. Aku hanya bisa berdoa, semoga bunga itu tumbuh kembali. Aku berharap. Atau semoga kupu-kupu yang telah menghisap madunya dapat membuatnya berbenih di lain tempat. Tumbuh di lain tempat. Aku harap. Agar bunga langka itu mempunyai tempat terbaik disana. Walau aku tak bisa menikmati. Hanya bisa melihat. Semoga sederhana. Aku tetap bersyukur telah pernah sempat memilikinya, walau hanya sekejap. Aku harap bunga tidak mati.
Kucing itu lincah ya?
Aku melihat kucing, penasaran. Kucing ada di seberang sungai. Dengan hati-hati, aku menyapa. Kata buku, cakarnya tajam. Tapi aku tidak takut. Taringku juga tajam, pikirku. Setelah terbiasa, akhirnya aku bercerita ini-itu bersama kucing. Aku masih di seberang sungai. Aku belum berani kesana. Arus sungai terlalu deras. Tapi aku suka, dia lucu. Itu pagi. Malam hari kucing menghilang. Lama. Aku mencari. Empat jam kemudian baru ketemu, dia datang sendiri dengan tubuh penuh lumpur. Habis bermain dengan seekor kucing lainnya, katanya. Aku lega. Aku tak tanya dengan siapa, tapi sepertinya menyenangkan. Kita bercerita lagi sampai larut malam, seru. Sebelum ngantuk aku berkata kalau besok aku mau kesana sebelum arus sungai mulai deras. Lalu kucing tertidur. Besoknya, aku terlambat bangun dan arus sungai sudah mulai deras lagi. Dia gelisah dan marah menunggu. Aku malu. Akhirnya tidak jadi bertemu. Siang hari kucing menghilang lagi. Belum sempat kutanya dia sudah pergi. Aku bingung. Bahkan sekarangpun aku sampai lupa bahwa aku sebenarnya adalah anjing.
Ayo sini.
Rindu. Aku ingin membicarakan rindu. Apa itu? Entah. Aku lupa. Sudah lama tak merasakannya. Yang ku tahu, mungkin aku sedang rindu kepada rasa rindu. Sepertinya seru. Kemana kamu? Sini. Atau haruskah aku bertemu pada kesan apik lalu pura-pura pergi? Agar rindu datang. Candu? Bukan. Rindu. Apa itu? Sepertinya tadi aku sudah bertanya. Ah sudahlah, mungkin nanti. Tunggu.
Begitu juga.
Saat sedang makan aku pernah tersedak sampai batuk bahkan hampir sesak, saat itu juga aku berhenti makan, minum sebentar, lalu melanjutkan makan lagi dengan lebih tenang. Begitu juga saat ku terjatuh.
Maaf, sedang sibuk.
Kau terlalu sibuk berpikir dan merancang praduga tentang arti hidupmu sendiri, wahai manusia. Hingga lelah lalu cemberut. Bahkan kini kau menjadi lupa untuk menikmatinya. Wahai manusia, bercerminlah. Disana ada seorang yang mengajakmu tertawa bersama, atau sekedar mengingatkan pentingnya minum segelas air di pagi hari.
Asu ah.
Kau terlalu bernafsu dengan ribuan resolusi yang telah kau bangun sendiri di rumahmu yang tak berpondasi demi menyambut tahun yang baru. Baru karna kau anggap belum menjalani, padahal sejatinya sama saja. Menggebu-gebu, padahal antiklimaks. Wagu! Menggebor-geborkan dirimu sendiri seolah-olah besok kau sukses. Hebat. Modaro wae kowe isih wae nganggo ukara “mugi-mugi” padahal kowe dewe mung meneng tur ujug-ujug sambat. Sangar!
Bahkan manusia hanya terpaku kesibukan lalu mati.
Seekor ayam yang sedang nyantai di sore hari nan cerah.
Tenggelam.
Tetap tenang.
Berenang
Aku akan belajar berenang dengan seseorang. Di laut, dia memberi contoh cara berenang tetapi malah tenggelam. Aku mencoba menolong. Belum sempat kuraih tanganmu, aku justru yang tenggelam. Sadar, ternyata aku belum sempat belajar berenang.
Urip kudu gayeng, ra gayeng mati o.
Seorang dalam cermin
Mbulet adalah nglingkar. Nglingkar adalah satu. Satu adalah kalkulasi. Kalkusasi adalah esensi. Esensi adalah kita. Kita adalah sama. Sama adalah waktu. Waktu adalah mimpi. Mimpi adalah semu.
Mimpi Buruk
Aku sedang bahagia. Istri keduaku baru saja melahirkan anak yang ketiga. Aku dan istri pertamaku malah asik bertamasya dengan keempat anakku ke Eropa. Dua anak dari istri pertama, dua anak dari istri kedua. Rata. Adil. Memang, agar tak saling cemburu. Walaupun aku masih punya utang satu anak kepada istri pertamaku. Tenang saja, akan ku bayar utangku saat anak-anak tidur nanti. Aku memang kaya raya! Mungkin itu alasan mengapa aku punya dua istri yang paling cantik di negeri ini. Rencananya sih mau tambah tujuh lagi. Atau delapan. Agar kekayaanku bisa terbagi. Akulah penguasa di negeri ini! Siapa yang berani lawan aku? Tak ada! Istriku pun tak berani. Bahkan saat aku "bermain" dengan wanita 200juta di ruang tamu siang hari saat anak-anak sekolah pun mereka diam saja. Hahaha! Sangat menyenangkan. Orang-orang segan dan hormat denganku. Kenapa tidak? Tinggal menunjuk saja, mereka sudah mengambilkannya untukku. Asyik sekali! Aku senang dipanggil bos. Apalagi bos besar! Mereka benar, aku memang sombong. Aku bangga dengan kehidupanku. Tak peduli siapa kamu! Persetan dengan orang-orang kecil di negeri ini. Sampah! Aku benci. Aku bisa saja menghabisi mereka. Tapi malas. Lebih baik sibuk cari kuasa dan nama daripada itu, seperti yang dilakukan kebanyakan orang. Oiya aku hampir lupa. Sebenarnya aku sedang butuh bantuan. Bantuan seseorang untuk mencubit pipi ku. Hanya sekedar mencubit saja, tidak lebih. Agar aku bisa bangun dari tidurku.
Hujan
Hai hujan yang syahdu dengan airmu yang lugu menetes tak pandang bulu membasahi apapun termasuk api semangatku yang sempat membara menyala-nyala dan siap membakar bumi habis sudah. Yang tertinggal hanya kantuk berkepanjangan dan tak ada daya untuk melawan yang dengan terpaksa menyiksa kasurku karena dari semalam ada saja beban di tubuhnya. Aku hampir menyesal sudah merindumu. Sayangnya tidak jadi, karena kebetulan aku lupa menyiram padi untuk makan siang nanti.