Tuhan dituding memberi takdir yang keji, seakan manusia tak pernah ikut menciptakan tragedinya sendiri. Saat doa tak berujung pada yang diingini, langit dituduh tak peduli. Manusia begitu cepat menggugat Sang Pencipta, seolah hidup memang berutang kebahagiaan tanpa jeda dan luka tanpa makna.
Mereka meminta hujan, lalu mengeluh saat jalanan menjadi becek. Meminta kekuatan, tapi marah ketika diuji. Meminta perubahan, namun membenci proses yang menyakitkan. Anehnya, yang salah selalu Tuhan, sementara keserakahan, ego, dan pilihan-pilihan buruknya sendiri dibiarkan lolos dari pengadilan.
Barangkali yang keji bukan takdirnya, melainkan hati yang hanya pandai bersyukur saat diberi, lalu berubah menjadi hakim ketika kehilangan. Tuhan tetap dipersalahkan atas segala duka, padahal sering kali manusialah yang menanam duri, lalu menangis saat kakinya sendiri berdarah.
Written by Aftansa














