HAPPY BIRTHDAY MIAAAA 🎁🎁🎁 Created by: me
No title available

titsay
Three Goblin Art
No title available

@theartofmadeline
Cosmic Funnies
Jules of Nature
TVSTRANGERTHINGS
Xuebing Du
tumblr dot com
styofa doing anything
$LAYYYTER
Show & Tell

if i look back, i am lost

JVL
Mike Driver
d e v o n
No title available
trying on a metaphor

blake kathryn

seen from United States
seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Brazil
seen from United States
seen from Saudi Arabia
seen from Türkiye

seen from Australia

seen from Singapore
seen from Malaysia

seen from Spain
seen from United States

seen from United States
seen from Iraq

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
seen from Singapore
seen from United States
@arumwikarti
HAPPY BIRTHDAY MIAAAA 🎁🎁🎁 Created by: me
Menantinya buatku penat Diam-diam aku banyak mengumpat Memaki kesalahan yang buatku sepat Kalau boleh diam-diam ku ingin merindumu Kamu yang tak pernah juga sepaham denganku Aku serasa hina jika menganggap tak ada apa Sedang sapamu kian menjelma Hadirmu selalu berkabar Padahal aku telah menyumbat telinga dengan berjuta asa Kini hampir setahun ruang-ruang hampa merengek, memintamu kembali Sedangkan aku takkan sudi, lagi aku takkan mampu Aku dulu tak pernah paham isi kepalamu Bahkan kebaikan pun ku anggap penjahat Senyummu buatku muak. Aku dulu begitu dibutakan benci Hingga sederhana menjadi begitu rumit Maafkan aku. Tapi, sudikah kamu sekiranya pergi dari gerilyamu yang senang berlari liar di mimpiku? (Juli, 2016)
Kadang-kadang kau pikir mudah mencintai semua orang daripada melupakan 'satu orang'. Jika ada orang yang terlanjur menyentuh inti jantungmu, mereka yang datang kemudian hanya menyentuh kemungkinan.
Aan Mansyur
Yakinlah ada yang menantimu selepas banyak kesabaran, yang akan membuatmu terpana hingga lupa pedihnya rasa sakit.
Ali bin Abi Thalib
Hujan
Hai, hujan! Ke mana kamu pergi? Teduhmu juga pergi, tak pernah lagi ku rasa. Aku bebas! Seperti tak lagi memikirkan, kapan kamu akan datang? Seperti tak lagi memikirkan, apakah aku bisa terus mengiringimu? Sesekali ku tengok detik lalu Saat kau mulai membasahi ruang hati yang terlanjur gersang. Sesekali ku intip, di mana rintikmu kini berada? Hai hujan, Sulit rasanya mengakui kenyataan. Katanya mendung akan tergantikan dengan cerah, Apa itu benar? Aku ragu. Karena aku sudah terbiasa bernafas dengan mendungmu. Kenapa mereka setuju dengan keputusanku untuk tidak lagi mengiringimu? Kata mereka, matahari 'kan datang menemuiku? Kapan? Apa benar hujan? Ah, hujan, Biasanya kamu yang paling pandai menjawab kebimbanganku. Aku rindu harum bau hujan kala senja tiba, Aku rindu rintik-rintikmu di atas jemari tanganku. (Maret, 2016)
Assalamu'alaikum teman-teman dimanapun anda berada.
TEMAN-TEMAN PUNYA BUKU BACAAN BEKAS? Tapi masih layak baca?
Dari pada disimpan begitu aja di gudang atau dijual ke tukang loak lebih baik DI DONASIKAN untuk anak-anak peserta P2AIA Banjaran Hilir, Majalengka, Jawa Barat
Bagaimana CARA DONASINYA? SIMPEL BANGET ga perlu ribet Klik disini Http://kask.us/idLzP
Catatan: - Buku yang dibutuhkan: Buku untuk anak-anak usia TK-SMP (Buku pelajaran, buku bacaan edukatif, komik edukatif, ensiklopedi, dsb) - Kami juga membutuhkan Al-Quran - Menerima dalam jumlah besar (Misalnya: kolektif satu angkatan atau satu kampus mau menyumbang buku, sangat dipersilakan hehe..)
Info lebih lanjut: 081322143148 (Mas Gelar)
Hatur Nuhun Wassalamualaikum Wr. Wb.
@gelarsramdhani -founder P2AIA
Cc: @curhatmamat, @hujanmimpi, @gincumerah, @jagungrebus, @jalansaja, @karenapuisiituindah, @tumbloggerkita, @about-lastparadise, @aksarannyta, @kellanaputra, @narasibulanmerah, @celotehtakbersuara
Mohon bantuannya kakak-kakak sekalian. Terima kasih.
Monggooooo….
Mungkin kita kerap kali mengeluh atas apa yang Tuhan berikan kepada kita atas apa yang menimpa hidup kita. Lalu... pernahkah kalian melihat ke belakang, ke dalam celah kecil kehidupan yang tidak pernah terjamah? Cobalah sejenak berhenti berlari dan tidak berprasangka pada Tuhan Mensyukuri nikmat yang telah Tuhan berikan pada kita. Bayangkan! Jika kalian hidup sendirian, dalam ruangan Menghabiskan waktu kalian sendiri dari fajar hingga senja Bayangkan! Jika kalian hidup tanpa sanak keluarga yang menemani. Di tempat terpencil yang jauh dari kehidupan. Mungkin mereka putus asa Sesuatu telah mengubur segala harapan dan cita-cita Menggores luka kelam di masa lalu Kehidupan mereka mungkin tidak sesempurna kehidupan kalian Diasingkan oleh keluarga sendiri dan mungkin saat ini mereka sudah lupa bagaimana wajah keluarga mereka. Sudikah kalian meluangkan waktu untuk sekedar menemani mereka, mendengarkan cerita, dan bersenda gurau dengan mereka? Mengubah putus menjadi asa. Mengobati luka. Sudikah kalian sejenak untuk berhenti berlari untuk sekadar menggandeng mereka dan berlari bersamaan? Bukankah mereka memiliki hak yang sama dengan kita? Mereka hanya ingin didenga Mereka hanya butuh teman. Bukan untuk dicaci maki. Tribute to people had suffered from leprosy
Semua Sama, Semu Semua.
Di sosial media, kau banyak bicara. Di dunia nyata, kau tak banyak bahasa.
Di sosial media, kau tahu banyak. Di dunia nyata, kau tak ada otak.
Di sosial media, kau sungguh bijak. Di dunia nyata, kau sangat kanak-kanak. Di sosial media, kau kritis. Di dunia nyata, kau tak ada aksi dan apatis. Di sosial media, kau anak seni. Di dunia nyata, kau hanya berani mimpi. Di sosial media, kau bicara cinta. Di dunia nyata, kau tak ada nyali untuk usaha. Di sosial media, kau ini tergolong “attention seeker”. Dan kau hanya manusia caper. Di sosial media, kau hanya butuh “like and share”. Ah kau ini, sungguh peler!
Jakarta, 10 Februari 2015
Di dunia maya kauterlihat seperti penghuni surga. Di dunia nyata kautak beda dengan penghuni neraka.
Penulis & Pencerita : Andhika http://andhikahadipratama.tumblr.com/ Twitter : @andhikahadip Pulang Akhirnya aku kembali pada sebuah kerinduan. Pada sebua h penantian yang setiap kali membuatku terjaga lebih lama. Pada setiap harapan yang membuatku menunggu tanpa batas waktu. Apakah kau tak ingin pulang lebih awal? Apa kau tak ingin lagi mencintaiku lebih kekal? Jika di luar sana, langkah kakimu tertahan oleh hati yang membuatmu berhenti, dan lenganmu tergenggam oleh janji yang berharap sehidup-semati. Pastikan itu hanya sementara. Pulanglah. Mungkin, aku bisa menunggumu lebih lama lagi, tapi khawatirku membatasinya. Pikiran buruk terus merengek-rengek di dalam kepalaku, dan semua terdengar brengsek bagiku. Aku takut, semua yang mengaku mengenalku telah menjejaliku dengan kata sabar, hingga mereka mengaku kalau mereka benar. Tapi akhirnya aku sadar, jika semua hanya inginku tak melupakanmu; tak melupakan yang sebenarnya tak ingin pulang.
Kangen posting di soundcloud lagi
Saya hanya takut dengan 2 hal: satu, Tuhan saya, dua, orangtua saya, udah itu saja, yang lain saya tidak takut. - Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah
One Day Trip: Kelor, Onrust, Cipir Islands
Mau cerita jalan-jalan waktu hari Minggu, 3 Januari 2016.
Sebenarnya jalan-jalan ke ketiga pulau ini hanya untuk melepas kerinduan saya akan pemandangan Pantai. Pantai selalu membuat saya seperti selalu ingin kembali menikmati semilir angin dan deburan ombak yang menari-nari (kalimat hiperbola atau lebay sih lebih tepatnya =‘D )
Niat awalnya sempat terbesit ingin ada trip ke salah satu air terjun di Bogor bersama komunitas Backpacker di Fakultas, tapi saya kemudian merekomendasikan untuk mencoba one day trip ke ketiga pulau ini saja, dengan estimasi biaya tak lebih dari Rp 150.000. Akhirnya cukup banyak yang setuju (yang setuju semuanya perempuan), kemudian teman saya memutuskan mengadakan open trip untuk umum. Berarti ini adalah open trip kedua atau yang pertama komunitas adakan untuk umum, setelah waktu itu kami juga sempat mencoba open trip ke Goa Buniayu (sayangnya saya tidak bisa ikut).
Sampailah pada hari H pelaksanaan jalan-jalan. Saya sudah tidak sabar! Ada kurang lebih 15 orang yang ikut perjalanan. Empat orang diantaranya adalah sekeluarga, sisanya merupakan teman-teman satu Fakultas. Kami berangkat agak siang karena mengalami sedikit kendala. Kami tiba di Pelabuhan Muara Kamal sekitar pukul 10.00 WIB, ini kali pertama saya singgah di Muara Kamal, biasanya selalu pergi dari Muara Angke. Menaiki kapal menuju pulau Kelor, tidak membutuhkan waktu yang lama (kurang lebih 30 menit) untuk dapat sampai di pulau ini, biasanya saya hanya melihat Pulau ini dari kejauhan (kemudian saya dadah-dadah).
Pulau kecil tak berpenghuni ini memiliki pasir putih dan pemandangan yang indah. Salah satu aktor favorit saya (#ea favorit banget?), Rio Dewanto dan istri, melangsungkan akad nikah dan resepsi di Pulau ini. Kebayang sih serunya kayak gimana nikah di Pulau yang sarat akan nilai sejarahnya, sayang cuma bisa ngebayangin aja, calonnya belum ada, hehehe. Nah, saya sempat masuk ke salah satu benteng tua dengan batu bata yang sudah sedikit patah-patah. Bernasis ria dengan teman-teman. For further information about this historic place, please search by yourself on Mr. Google :"
Setelah puas narsisnya, perjalanan kami berlanjut menuju pulau Onrust, tak jauh dari pulau Kelor. Pulau Onrust hanya memiliki pasir putih yang 'seiprit' saja, pulau ini pure hanya merupakan pulau bersejarah yang dimiliki ibukota. Di sana terdapat museum dan makam bangsa Belanda yang gede-gede banget makamnya, semacam pemakaman Cina gitu. Konon dahulu pulau ini merupakan pulau yang tidak pernah istirahat, namanya Onrust berasal dari 'Unrest'. Pulau tempat karantina jemaah haji, terdapat pula Rumah Sakit dan barak untuk jemaah. Pulau yang sering beralihfungsi dari tempat karantina jemaah haji hingga tempat pembantaian narapidana warga pribumi kasus sosial-politik. Dahulu juga pernah ada wabah penyakit pes (berasal dari tikus) sehingga banyak warga negara Belanda yang meninggal dan dikuburkan di sana, beberapa ada yang digali kembali dan dibawa ke Negara asal. Makanya di sana ada lubang penangkaran tikus. Banyak cerita misteri di dalam pulau ini. Jujur saat saya berjalan-jalan di pulau ini seperti diajak kembali ke beberapa tahun silam, pulau ini seperti bercerita, seperti ada yang ingin disampaikan, namun bisu (mulai deh lagak sok puitisnya). Tapi saya merasakan aura-aura kesedihannya sih, ini beneran!
Di pulau ini kami beristirahat, shalat, dan makan. Kalau sudah masuk siang hari, memang terasa sangat panas. Sedia sunblock, tissue/sapu tangan bapucuk ampat, dan kipas sebagai jurus andalan.
Setelah itu, kami langsung menuju ke pulau Cipir. Di pulau ini hanya terdapat bangunan-bangunan zaman dahulu. Saya dan teman-teman tidak terlalu tertarik untuk berputar-putar di pulau ini. Saat kami berjalan sedikit di pulau ini, teman saya mengajak untuk pergi ke puncak menara air, ya atau apalah itu namanya, agak sedikit takut sih saat menaiki tangga menuju puncak. Setelah sampai, wuih, enggak bakal nyesel! Saya bisa melihat pemandangan pulau Kelor dan pulau Onrust dari atas. Indah sekali! Di sana ada jembatan besar yang kelihatannya sih baru jadi. Tapi saya tidak begitu tertarik. Buat pacaran malam Mingguan di sana kayaknya asik deh, wkwkwk (apaan sih rum).
Kalau dihitung biaya total kotornya sih termasuk carter mobil dari Stasiun Kota - Pelabuhan Muara Kamal pulang-pergi, tanpa makan siang (karena saya bawa bekal) adalah Rp 107.000.
Thanks for reading!
Sincerely,
Arum
Kehilangan Rasa
Aku kehilangan rasa, Menapakan kaki di lantai saja.. Rasanya semu
Ada yang hilang. Entah apa.
Aku kehilangan rasa, Berdiri di tengah keramaian saja.. Rasanya seperti berdiri di padang pasir Sepi
Jiwaku hilang separuh. Entah kenapa.
Aku kehilangan rasa, Berharap bermimpi lebih lama Berharap malam lebih panjang Berharap tak ‘kan ada siang
Aku memaki diri. Memaku. Menanti. Bertanya-tanya, Kenapa menyiksa diri?
Aku kehilangan rasa, Semua terasa berbeda.
(Januari, 2016)
Senfei 😋 . Resep ⏩( https://www.goethe.de/ins/id/en/sta/jak.html ) . Percayalah. Lidah gue lidah asia, bukan lidah Eropa.
”If I'm to fall Would you be there to applaud Or would you hide behind them all?
'Cause if I am to go In my heart you'd grow And that's where you belong”
Jakarta Biennale 2015, "Maju Kena, Mundur Kena: Bertindak Sekarang"
Hoi, mau review pameran seru buat didatengin pas liburan/weekend. Nama acaranya Jakarta Biennale, emang itu apaan sih? Ya, buat anak kota macam saya hiburan di Jakarta emang nggak bakal jauh dari yang namanya mall atau wisata kuliner di mall hahaha, ya mentok-mentok kalau mau liburan ke alam paling puncak, syukur-syukur masih bisa snorkelling-an di pulau Seribu (ah. Jadi pengen snorkelling). Hehe, OOT!
Sayangnya acara ini 'hanya' ada hingga 17 Januari 2016 nanti. Kebiasaan saya kalau lagi sibuk pengennya liburan, giliran liburan pasti nyari sesuatu biar disibuk-sibukin. Namanya juga manusia ya anyway. Huuf. Awalnya iseng cari-cari kegiatan di Twitter, dan tanpa disengaja ada thread tentang pameran seni rupa ini di salah satu akun Twitter. Berlanjut kepo ke web acara yang bersangkutan. Maklum kebetulan saya cukup nyeni buat dateng keacara beginian, begitu kata saya PD dalam hati. Cuma masalahnya bingung mau ngajak siapa, maklum jomblo elegan, jadi bingung mau ngajak yang mana *huuu digebukin massa* padahal mah emang ngga tau mau ngajak siapa
Acara pameran ini gratis dan menurut saya cukup menghibur serta bisa dinikmati semua kalangan, waktu saya dateng ke sana ada dedek-dedek emesh berseragam putih abu-abu.
Saya kemudian mengajak beberapa teman saya pergi ke pameran. Iya, teman. Teman SMA. Bukan-bukan nggak ada mantan kok, engga ada. Nah, kite-kite berangkat tanggal 24 Desember bertepatan dengan cuti bersama karena hari itu adalah Maulid Nabi. Apes bukan main, waktu kita sampai Gudang Sarinah, tempat acara berlangsung ternyata acaranya tutup. Dan yang paling bikin saya kayak orang tolol adalah saya lupa stalking pagi seperti ritual biasanya. Alhasil sia-sia pergi ke pameran itu dengan semangat 45. Akhirnya saya dan teman-teman SMA memutuskan untuk pergi ke... Mall Taman Anggrek. Hahaha, ya, mall lagi-mall lagi. Dan mau tau ke sana kita cuma ngapain? CUMA MAKAN UDON! Mi Jepang yang ukurannya gede banget dan harganya juga lumayan bisa beli mi ayam KUTEK (deket kampus 3-4 porsi). Worth it sih, tapi ya padahal di Depok juga ada sama persis kaya ini dan baru buka. Hmm... Tapi sebenernya ada alasan kocak kenapa kita mau ke sini, ngga kocak-kocak banget sih, tapi kocak. Jadi kita mau ke MTA gegara ini, ada salju tiap 2 jam sekali! Wkwkwk (lucu gak? Lucu gak?) namanya juga cewek, beginian aja kayaknya antusias banget gituloh. Kita hampir setengah jam lebih muter-muter mall itu cuma buat nyari tempat makan yang pewe (asik). Dan akhirnya..... Bisa merasakan salju turun di Jakarta *krik* Waktu itu karena lagi suasana Natal dan Tahun Baru masehi di MTA juga ada pameran boneka puppet goyang-goyang. Tapi ini bukan wayang loh ya, ini teddy bear gitu, terus ada rusa-rusanya goyang-goyang gitu *bukan joget* lucu deh.
Akhirnya kita pulang.
4 Januari 2016 Akhirnya kesampean juga nih dateng ke sini, seneng, meskipun yang ikutan nggak lebih banyak dari pada waktu tanggal 24 kemarin. Tapi cukuplah buat seru-seruan bareng, membayar rasa penasaran saya selama berminggu-minggu ini.
Jakarta Biennale ini kata teman sejawat saya di kampus *asik, sejawat?!!* Awanya diadakan di Senayan, teman saya sempat membeli beberapa barang unik seharga 30ribuan, totebag Arie Dagink. Oya, kata teman saya juga sih, acara ini diinisiasi oleh Arie Dagink dan sudah diadakan beberapa tahun belakangan (maaf, kalau salah info. Info lebih lanjut bisa dilihat di jakartabiennale.net)
Saya dan teman-teman naik Bus transJakarta dari halte Garuda depan Tamini square sampai halte Pancoran Tugu, tapi saya lupa ya itu berapa tiketnya soalnya pakai kartu e-money bayarnya.
Sesampainya di sana kami registrasi terlebih dahulu, and then, wuiiiiih, saya dan teman-teman excited sekali untuk meng-explore pameran ini. Kamera handphone pun mulai menjadi andalan.
Ada satu instalasi pameran yang cukup bikin saya duduk cukup lama mantengin video, instalasi tentang suku Aborigin di Australia atau di USA ya saya lupa, hehe. Saya nangkepnya sih emang kaya ada diskriminasi terhadap suku itu di Negara tersebut, padahal hampir semua warganya bilang kalau Negara mereka aman. Tapi mindset mereka terhadap suku tersebut kaya udah melekat gitu, mindset jelek lebih tepatnya. Duh, emang paling demen nih yang diskriminasi-diskriminasi beginian, kaya nyambung gitu. Dan masih banyak video-video lain yang menarik yang mau saya tonton, tapi teman-teman saya sudah keburu lanjut muter, jadi nggak enak gimana gitu kalau keasikan sendiri.
Teman-teman saya sudah keluar lebih dulu daripada saya. Setelah itu kami cari makan di kantin Gudang Sarinah, eits, namanya bukan kantin coy, namanya Cafetaria. Haha gaya banget, kaya bule a la-a la gitu. Saya beli mi bakso 10ribu + es kelapa muda campur gula merah 5 ribu.
Selanjutnya kami masih foto-foto narsis dulu di depan Gudang Sarinah baru akhirnya kami memutuskan untuk pulang memakai jasa GrabCar sampai Tamini Square Rp 42.500/4 orang hehehe (biasa anak urban).
Sekian review tentang acara Jakarta Biennale, dateng aja deh, suer ngga bakal nyesel!
Thanks for reading, xoxo
Ku biarkan kau tetap menjadi bintang
Pernah aku begitu iri ke pada langit perihal betapa beruntungnya ia memilikimu. Dia memelukmu dengan erat hingga membuat siapapun tak mampu menjangkaumu.
Pernah aku begitu benci ke pada langit. Dia sungguh arogan, dia memiliki segalanya namun mengapa ia tak mau melepaskanmu untukku saja. Sedang ia tahu, aku tak punya apa-apa selain mimpi untuk memilikimu.
Pernah aku begitu cemburu ke pada bulan. Dia temanmu bukan? dia leluasa menemuimu. Hingga orang-orang bilang kalian memang ditakdirkan untuk saling melengkapi. Mengapa tak aku saja yang menjadi temanmu?
Pernah aku begitu murka ke pada malam. Bisa-bisanya ia membuatmu begitu bersinar saat sunyi benar-benar mengencaniku. Lalu membawamu pergi saat matahari datang dari ufuk timur. Malam benar-benar membuatku kalang kabut karenamu.
Pernah aku tak tahu malu, meminta pada Tuhan menjadikanmu sebagai orang biasa sepertiku. Agar tak ada lagi perbedaan diantara kita. Akan ku buat kau menjadi raja di rumah kita, dan aku menjadi ratunya. Akan ku bawa kau mengelilingi bumi walau nyatanya kau telah tahu seperti apa rupa bumi, karena aku tak sanggup membawamu mengelilingi alam semesta.
Sungguh akan ku buat kau selalu bahagia meski nyatanya aku tak mengerti definisi bahagia dalam hidupmu itu bagaimana.
Hingga di titik ini aku menyadari, bahwa aku terlalu angkuh. Niatku menggebu-gebu memilikimu, dan membahagiakanmu, sedang telah ku ketahui bahwa Tuhan tidak menggariskanmu untuk ku rengkuh. Dia mempertemukan kita mungkin agar aku belajar bagaimana menyikapi perasaan dengan baik.
Ku biarkan kau tetap menjadi bintang.
Agar ku sadari bahwa ada sesuatu yang harus ku ikhlaskan menjadi kebahagiaan orang lain. Dan agar masih dapat ku lihat senyummu saat sunyi merengkuhku di tengah dinginnya malam. Biarkanlah aku tetap menggilaimu seperti ini, sampai nanti ku temui dia yang mampu membuat detak jantungku mengencang dan memalingkan perasaanku darimu.
© Syarifah Aini (2015)
Bila meninggalkanku bisa membuatmu merasa baik-baik saja, maka pergilah. Pergilah sejauh yang kamu bisa.
Jadi, pergilah. Rasa, kepercayaan, dan segala penghormatan yang pernah kubangun demi kamu, biar perlahan runtuh sendiri menimpa tubuhku. Mengubur jasadku dengan kemegahan yang hanya berakhir menjadi puing dan debu.
Jadi, pergilah. Apa gunanya mempertahankan kebersamaan yang kamu anggap sebagai kesia-siaan? Meski kamu tahu, kesia-siaan justru akan tinggal di aku bila tanpa kamu. Tapi kamu tahu, lapangnya dadaku akhirnya tak bisa lelah memaafkan semua hal yang keliru.
Jadi, pergilah. Biar aku tanggung seluruh pilu kehilangan, yang seringkali terasa terlalu besar untuk badan. Cintaku telah berada di tapal batas; semoga kamu selalu aman dari nyerinya disia-siakan.
(via elsasyefira)
😊😊