Matamu mungkin terbuka untuk semua orang. Tapi mata orang menutup sebagian untukmu. Mereka tidak melihat apa yang sebenarnya.
Yasudah, mau apalagi. Biarkan saja. Tidak perlu memikirkan yang lain. Kalau diri hanya dipandang sebelah.
-narastithy
todays bird

Love Begins
ojovivo
No title available
EXPECTATIONS

roma★
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

shark vs the universe
Lint Roller? I Barely Know Her
official daine visual archive

pixel skylines
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
No title available
Mike Driver

No title available
Cosmic Funnies

bliss lane

No title available

Discoholic 🪩

❣ Chile in a Photography ❣

seen from Costa Rica

seen from Singapore

seen from Brazil

seen from Brazil

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Brazil
seen from Vietnam
seen from Japan

seen from United States
seen from Singapore

seen from Philippines

seen from United States
seen from Togo

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Philippines

seen from Türkiye

seen from Singapore
seen from Azerbaijan
@cerita-sore
Matamu mungkin terbuka untuk semua orang. Tapi mata orang menutup sebagian untukmu. Mereka tidak melihat apa yang sebenarnya.
Yasudah, mau apalagi. Biarkan saja. Tidak perlu memikirkan yang lain. Kalau diri hanya dipandang sebelah.
-narastithy
Menunggu
Malam ini, aku menunggu dibawah bintang bersama angin. Begitu juga dengan malam-malam sebelumnya. Kadang terhunyung oleh terpaannya. Tapi aku tetap tak bergeming, justru menikmatinya. Mungkin bintang-bintang itu ingin membisikkan sesuatu untukku melalui angin. Sesuatu tentang dirimu. Ohh, bukan.. atau mungkin itu kau yang mengirimkan pesan melalui angin? Aku harap begitu.
***
Pagi ini aku menunggumu dibawah terik sinar mentari. Begitu juga dengan pagi-pagi sebelumnya. Terkadang sengatannya begitu menyengat hingga ku basah bercucur keringat. Tapi aku tak mengeluh, justru menikmatinya. Mungkin sengatan ini ingin menghangatkanku dari dinginnya udara. Bagaikan sebuah pelukan. Ahh, atau mungkin itu kau, yang mengirimkan pelukanmu melalui hangatnya sengatan mentari? Aku harap begitu.
***
Sore ini, aku menunggumu dibawah warna emas langit senja. Warnanya halus, lembut, sangat mempesona. Terbentang dilangit bagaikan selimut yang ingin menggulung tubuhku. Sesaat ku merasa ini sempurna. Kemudian aku tak lagi menunggu karena kau tiba-tiba datang. Dan yang terasa adalah sangat sempurna. Tapi ada yang aneh. Kau berdiri begitu jauh dan matamu yang sayu mengisyaratkan sesuatu. Kau terpaku dan mulutmu seolah bergetar mengucapkan sesuatu, “Jangan menungguku. Jangan berharap lagi.”
Pandanganku kabur. Semacam ada awan hitam kini di depan mataku dan kau pun menghilang dibalik awan itu. Kini aku tau kenapa langit seolah seperti selimut. Ia ingin menyembunyikanku dari rasa ini. Menggulungku dalam selimut senja.
Jarak
"Sampai jumpa lagi," ucapmu pada akhirnya sambil memelukku cukup erat sebelum kau berbalik dan jalan membelakanginku. Yang pada akhirnya punggungmu hanya kusaksikan hilang ditengah orang orang yang juga menanti jam keberangkatannya.
Kini jarak hadir lagi diantara kita. Kembali membantu memupuk rindu sampai saatnya iya harus menyingkir.
Kini yang kutemui hanya sisa aroma tubuhmu. Yang kau tinggalkan bersama jaket yang kau pinjamkan padaku saat ku berkata dingin.
Aku tidak benci pada jarak. Jarak membuatku belajar. Belajar lebih mencintaimu.
Jarak juga mengajarkan ku untuk bersabar. Bersabar menunggu hingga akhirnya kau datang memberikan kecupan manis dikeningku.
Ah. Baru juga sesaat. Jarak sudah membuat rindu yang teramat dalam. Semoga kali ini jarak tidak membuatku menangis lagi.
-narastithy
Bintang dan Kamu
Desir angin pantai mulai terasa. Beradu dengan suara gulungan ombak yang menggulung. Warna senja di ufuk sana pun perlahan menghilang. Digantikan dengan keajaiban alam lainnya. Satu-satu benda indah di langit itu mulai membuka matanya. Kemudian berkedip-kedip, seolah bermain mata.
Kegelapan di langit yang kehilangan matahari kini gemerlap. Kita berdua duduk dibawahnya dan menikmatinya. Hanya bertumpu pada pasir dan bersandar pada angin. Memandangnya dalam diam. Mengaguminya, mungkin.
“Apa yang kamu suka dari bintang?” Tiba-tiba kau lontarkan pertanyaan itu. Mungkin karena kita membisu terlalu lama.
“Ummm, kamu tau kan gambar bintang? Dengan 5 titiknya?” Jawabku dengan berbalik bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari benda-benda dilangit itu.
“Hahaha.. Iya, aku tau. Tentu saja.”
“Itulah alasanku.”
Aku masih tak memindahkan pandanganku terhadap benda itu, tapi aku dapat merasakan kau mengalihkan pandanganmu kepadaku. Aku dapat merasakan sorot penasaran ketika aku mengatakan itu.
“Lima titik pada bintang itu seperti manusia. Satu titik diatas adalah kepala. Dua di kiri dan kanannya adalah tangan. Dan dua titik sisanya adalah kaki. Mungkin saat aku merasa sendiri dan melihat bintang, aku merasa ada yang menemani.”
Aku berhenti dalam kalimatku dan menyunggingkan sekilas senyum. Aku masih merasakan tatapanmu yang sepertinya melekat disisi kanan wajahku meskipun aku tetap tak melihat ke arahmu.
“Kamu tau? Meskipun di langit ada beberapa atau mungkin beribu bintang dan aku seperti mengamatinya secara menyeluruh. Tapi pada akhirnya pandanganku hanya jatuh ke satu bintang. Mungkin bintang itu………”
Aku kembali berhenti dalam kalimatku dan aku masih merasakan tatapanmu. Namun, kali ini aku mencari sorot matamu. Memandangnya. Membacanya. Memberi isyarat.
“Mungkin bintang itu Kamu"
-narastithy
Yakinku dulu ada ragumu
Yakinmu kini adalah raguku.
Yakin ingin menuju satu
Namun satu dibatas ragu.
Teruskan?
Atau sudahi?
Akankah Yakin menjadi satu?
Ataukan ragu memudarkan satu?
-narastithy
Sore
Sore itu cerah, tidak panas namun tidak mendung. Awan awan putih masih menggantung cantik diantara biru langit. Sore itu aku memilih untuk duduk di taman. Kupilih satu tempat yang paling nyaman, disebuah kursi panjang dibawah pohon yang rindang.
Hal paling asyik ketika kita duduk di taman adalah kita bisa menemukan banyak kisah. Sambil menikmati musik akustik yang sedari tadi menyelinap memenuhi ruang telinga dan segelas es lemon tea yang sengaja dibeli di ruko kecil sudut jalan, aku mulai mejelajah kisah.
Disudut sana, dibawah pohon rindang lainnya ada sepasang kekasih yang sedang candu. Sang wanita dengan nyaman menyandarkan kepalanya dibahu sang lelaki. Terkadang tersenyum malu, terkadang mereka bertatap syahdu. Ada pula seorang bapak muda yang sedang menemani anaknya yang baru bisa belajar berjalan. Sesekali terlihat panik ketika anaknya terjatuh. Bergegas membantu berdiri dan memberi semangat. Namun yang paling menarik adalah sepasang lansia yang sedang jalan santai diseputar taman. Mereka tidak mengumbar mesra seperti pasangan muda yang tadi. Namun mesranya lebih mesra. Setidaknya menurutku. Sang ibu duduk manis di atas kursi rodanya. Sang bapak dengan sabar mendorong kursi itu sambil bercerita menujuk objek yang diceritakan. Sesekali Ibu melihat ke arah bapak sambil tersenyum tulus. Sesekali bapak membelai rambut ibu yang terkibas angin. Sesekali bapak juga mengelus pundak ibu sambil memijatnya dengan lembut. Dan sesekali juga ibu mengelus tangan bapak yang diletakkan dipundaknya.
Tak sadar kutersenyum melihatnya. Namun kemudian aku berpikir. How lucky they are. Apakah mereka selalu begitu? Menatap mesra lewat mata yang mulai sayu dan dipenuhi garis tuanya. Tidak pernah adakah rasa bosan yang hadir setelah sekian tahun bersama, bertatap wajah setiap waktu? Betapa beruntungnya mereka yang bisa menemukan satu dengan yang lain. Terus menghadirkan sayang hingga mesra tak pernah hilang. Menahan bosan hingga dapat terus bergandeng tangan sampai kulit ditangan mulai melonggar. Selalu tulus memberikan senyum termanisnya. Dengan sabarnya menahan amarah ketika satu dengan lainnya membuat kesalahan. Yang dengan setianya selalu mengucap sayang dan mengecup manja diujung malam.
Tak sadar awan awan putih kini bertemu dengan langit oren. Senja akan hadir. Tandanya aku harus pulang. Lagian gelas plastik berisi lemon teaku kini hanya tersisa bongkahan es yang juga mulai mencair. Terima kasih sore, ditunggu kisah manis selanjutnya.
- narastithy
Send a number
1. What’s one animal you wish you could have as a pet but can’t?
2. Favorite thing to wear to sleep?
3. What song really gets you going?
4. Where do you usually eat your meals?
5. Favorite meal: breakfast, lunch, or dinner?
6. Most embarrassing habit?
7. Chocolate or fruity candy?
8. Soft or hard tacos?
9. Worst way to break up a fight?
10. Best thing to say in an elevator of strangers?
11. What color/design are your bedsheets?
12. Any hidden talents?
13. Favorite thing to drink out of (mug, glass, etc.)?
14. Socks or bare feet around the house?
15. Favorite board game?
16. Do you sleep with the fan on or off?
17. Heat on or keep it cold with lots of layers?
18. Do you sing in the shower?
19. Favorite song to belt out at the top of your lungs when you’re alone?
20. Last thing you cried about?
21. At what age did you first have alcohol?
22. Relationship status?
23. What’s the most amount of money you’ve spent on a single item of clothing?
24. What do you typically wear to formal events?
25. Favorite memory?
26. Gum or breath mints?
27. Favorite shoes?
28. If you could change one thing about yourself, what would it be?
29. What is the natural state of your hair?
30. Have you ever had braces?
31. Most dangerous thing you’ve ever done?
32. Most embarrassing thing your parents have caught you doing?
33. Last time you had an orgasm?
34. Celebrity crush(es)?
35. Windows or Mac?
36. How old were you when you learned to ride a bike?
37. Makeup or natural?
38. What color do you wear the most?
39. Favorite season?
40. Umbrella or rain coat?
41. Have you ever fallen out of a tree?
42. First car you ever owned?
43. What time do you usually go to bed?
44. Are you a competitive person?
45. Least favorite color?
46. First pet you’ve ever owned?
47. Sweet or salty?
48. Favorite pasta dish?
49. Favorite kind of chips?
50. Talk about something you’re passionate about.
51. What are some of your hobbies?
52. Caffeine? If so, what kind?
53. Favorite kind of pizza?
54. Fast food or sit-down restaurant?
55. Lots of acquaintances or a handful of close friends?
56. Something that ruins your appetite?
57. Favorite labels about you?
58. Are you a religious person?
59. Night out with a bunch of friends in public or night in with one friend having deep conversations?
60. What size shoe do you wear?
61. Favorite thing about yourself?
62. Have you ever told someone you loved them first?
63. Have you ever had sex on the first date?
64. Heroes or villains?
65. Favorite fruit?
66. Least favorite fruit?
67. Favorite vegetable?
68. Least favorite vegetable?
69. How many plates can you eat at a buffet?
70. Favorite dessert?
71. Do you play any sports?
72. Age you learned how to swim?
73. Tell a funny story.
74. What’s one interesting thing about your culture?
75. What’s one annoying thing about your culture?
76. What job would you be terrible at?
77. Would you rather watch a TV show or a movie?
78. What’s your favorite compliment to give?
79. What’s your favorite compliment to receive?
80. Has your opinion changed on something recently?
81. Do you always order the same thing at a restaurant or order something different each time?
82. What’s something you’ve always wanted to try but haven’t yet?
83. If you could learn to do anything right now, what would it be?
84. Favorite physical feature about yourself?
85. Least favorite physical feature about yourself?
86. What’s one amazing thing you did that nobody was around to see?
87. If you could change your height, would you?
88. What’s something you would rate 10/10?
89. Heels or flats?
90. What’s something you wish you had more knowledge about?
91. Would you want to be famous?
92. What’s something you would get arrested for?
93. What’s your spirit animal?
94. What’s the luckiest thing that’s ever happened to you?
95. Are you the type to have an organized mess, or no mess at all?
96. Do you tend to make decisions based on the past, present, or future?
97. Are you a planner or a more spontaneous person?
98. Thoughts on the oxford comma?
99. What do you hope never changes?
100. How would you celebrate your 100th birthday?
Wolf. White wolf
Daster for great sleep ever 👗👗
Buanyaaak
Home
Ganti gantilah
Males Haha
Of course i choose chocolate
Hard tacos.
Diem. gak mau tau
Why should i say something to stranger?
Red-orange-yellow kembang kembang 😁
Make you love me i think? Bahahha
Mug
Bare foot
Monopoli
On. Sumuk bro nek mati
Kemulan dong 😂
Of course. I good of singing in the shower
Right now? Tamia- officially missing you
Missing someone
Belom pernah bhaha
Taken broo
400k
Simple dress
A lot
Mint
Flat shoe. Sendal lebih asik sihh benernya
No thing
Black
Brace?
Tidur sambil nyetir. Untung sepi. Untung selamat. 😅😅
Crying for someone
Orgasm? Hmmm
Right now? Nikolaj Coster-Waldau
Both
Bike? 3 yo, i think
Natural with simple make up
Black, grey, white, red
Hujaaaan
Umbrella
Yap
Belum bisa beli sendiri. Doain yaaa
11 pm? No. 1 am 😁
Sometimes yaa
Grey
Cat
Yass, gurih gurih nagih
Creamy cheesy
Chiki2an. Gurih gurih nagih
DIY
Selimutan is the best hobby ever
Yes. Cappucino with double cream
Pizza yang mozanya banyak banyak.
Sit down restaurant
Close friend
Kalo pas galau haha
Me? Sweet like chocolate 😜
Trying
Night in with one friend and have a deep conversation
38 or 39
Kinda simple
Noo
What? Please noo
Tergantung yg ganteng siapa 😂
Anggur
Nangka
Broccoli
Daun adas 😂
Tergantung lapernya ihh
Cheese cake
Some exercise.
2 years old
I'm a funny story btw
Ghibah.. indonesia love ghibah
Buang sampah sembarang. Uugh
Deptcollector. Gak bisa marah soalnya 😅😅
Movie
Baik banget sih loooo..
Ahhh apa yaa.. bingung, nanti malah dipake buat gombal 😂😂
Yaps
Nah, tergantung mau apa makannya
Diving
Belajar bedah saraf otak. Biar kayak dr Shepard
Love my eyes. Well, people said that to me
Boobs. Can i get more bigger? Buahhaah
I always do amazing thing haha
50 i think
Gusti Allah
Flats
Psikologi, universe something creative
Nah, kadang famous sendiri ee 😜😜
Something unique
Owl
Being me
Organized
Semuanya, kan belajar dari pengalaman untuk masa depan
Kadang spontant, kadang terencana rapi tak bercelah
Oxford comma?
You to me
Bersyukur pakdee.
Yeayy done 😆😆
Cangkir kopimu telah tak mengepulkan asap. Gelas coklatku perlahan mulai melihatkan dasar. Namun kita tetep saja disini. Diam. Ada apa dengan kita?
- nara
Kanvas
Ada satu bagian yang entah kenapa sulit sekali untuk memulai. Menggerakkan apa yang ada di otak untuk melangkah kesebuah tindakan pasti. Dulu aku pikir gampang buat mengambil tindakan, ternyata aku salah. aku kapok dengan ke-sok-beranianu untuk sok tau dalam melakukan suatu hal. Tapi aku harus berani mengambil keputusan ini. Memang aku merasa tak yakin sama keputusan yang bakal aku ambil tapi aku gak mau kehilangan. aku takut kehilangan untuk lebih dalam lagi.
Berdoa dan mencoba memulainya. Memulai untuk melangkah lagi. Memulai dengan mencoret sebuah nama. Bukan mencoretnya agar nama itu masuk ke dalam daftar hitamku. Tapi mencoretnya dalam bentangan kanvas. Ya, atau mungkin bisa disebut melukis. Awalnya aku hanya memainkan kuas dengan cat hitam. Malah, cat itu hampir kering. Namun, kemudian pemilik nama itu memberiku cat miliknya. Tak hanya hitam. Melainkan beribu warna.
Kini kanvas milikku telah berlukis namanya. Dengan beribu warna cat yang telah dia berikan kepadaku. Dan sebagai tanda terima kasihku kepadanya, ku kirimkan kanvas milikku ini dan kanvas putih bersih untuknya. Ku selipkan juga sebuah catatan kecil disitu.
“Ini namamu dalam lukisan kanvasku. Yang kulukis dengan cat milikmu. Yang artinya kau adalah warnaku. Dan ini kanvas putih milik kita. Yang artinya kau harus melukis bersamaku"
- narastithy
"Bulan saja tak selama terang, terkadang dia kalah dengan awan sehingga dia tidak bisa bersinar. Dan malam pun hanya akan gelap, tanpa sinarnya. Meskipun dia tetap mencoba bersinar dibalik awan-awan itu, tapi tetap saja dia kalah. Kalau tidak hanya terlihat kabur, bisa jadi dia benar-benar gelap. Hilang."
Nangislah jika itu menjadi baik. Nangis lah jikalau itu membuatmu lega. Buat apa mencoba kuat kalau akhirnya kau remuk dibuatnya.
-nara
I’m Just Stuck in My Past
Aku melepasmu bukan karena aku bosan. Aku melepasmu pun bukan karena aku marah. Aku hanya melihatmu bukan sebagai kamu, tapi sebagai dia. Potongan-potongan cerita yang kau buat denganku, tak lain sama dengan yang kubuat dengannya. Aku menyadarinya kini. Bukan dirimu yang ada di pikiranku. Bukan dirimu yang ada di hatiku.
“Kenapa ?”
Kalimat itu yang kau tanyakan pada akhirnya. Ketika ku jelaskan semua pun tetapi kata mengapa yang keluar dari mulutmu.
Aku terdiam dan menunduk. Bingung bagaimana mau menjelaskannya kembali. Sementara kau melihatku dengan sorot mata yang begitu tajam, dalam dan tak percaya.
15 menit. Aku masih menunduk dan terdiam. Kau pun masih menatapku.
35 menit. Kita masih dalam posisi yang sama
1 jam telah berlalu. Tak ada perubahan. Akhirnya kau ikut menunduk dan kita berdua menunduk. Menunggu.
Aku tau kau resah dengan keheningan ini dan aku pun resah dengan kebisuan ini. Aku tak tau mau mengatakan apa, tapi aku mencoba untuk membuka mulut ini. Hanya untuk menghilangkan keresahan diantara kita.
“Aku mencintaimu bukan seperti kamu mencintaiku. Aku mencintaimu untuk membawaku kembali ke masa lalu. Aku tak bisa bertahan mencintaimu kalau itu bukan kamu yang kucintai. Maaf, aku belum bisa lari dari masa laluku.”
Aku tidak mengerti apa kau mengerti yang kuucapkan. Hanya saja setelah itu kita kembali terdiam
Stuck in the past
One day, one of my friend text me and she said that she afraid if she have to back like her past. With someone who make her live suck. Nightmare. Ya, sedih waktu baca chatnya. Saya tau (mungkin) seluruh cerita ttg hal ini. She tell me a lot of stories about it. Sejak sebuah kejadian, it's getting worse. Dan itu berakhir sampe skarang. Eits noo, itu masi berlangsung meskipun tak seburuk dulu. Orang itu masi aja ngehantui hidup temen saya ini.
Setelahnya saya jadi kepikiran. Why is so hard to escape from the past. Always come. Haunt. Mungkin banyak orang yang bilang jangan liat kebelakang, liat aja kedepan. Oke, kita gak perlu liat kebelakang kalau kita takut stuck dengan keadaan dimasa lalu kita. Saya setuju. Tapi bagaimana kalau masa lalu itu justru yang datang terus ke kita? Like a nightmare. Okelah, kalau itu masa lalu yg menyenangkan. Bisa buat ketawa. Atau apalah yang baik-baik dan bisa jadi motivasi. It's ok buat diinget-inget. Tapi bagaimana jika itu adalah buruk. Bad memory. Yang kalau diinget malah bikin sakit hati. Bahkan bisa gila. Mungkin. Satu hal yg pengen kita lakuin adalah ngelupain itu. Mungkin dengan mencoba gak inget-inget ttg hal tersebut. Tapi susah? Pasti. Atau mungkin dengan ngebuang semua yang ada hubungan dengan itu. Tapi tetep keinget? Bisa saja. Karna 1 hal, itu adalah memory. Ada dalam pikiran kita. Tersimpan di otak kita. Seperti data-data di dalam komputer. Tapi sayangnya gak bisa dihapus atau di format ulang biar hilang. Karna itu ada d memory otak kita. Biarpun nyelip kalo ada pemicunya kita tetep bisa keinget lagi.
Sofa
Memilih laki-laki itu sangat mirip dengan membeli sofa."
"Setiap orang menginginkan hal yang sama pada sebuah sofa."
"Kenyamanan dan keindahan. Sofa yang indah dilihat sekaligus nyaman di duduki. Kadang-kadang kau memilih sofa yang terlalu bergaya, yang tidak tahan menghadapi ujian wkatu. Pengerjaan yang sembrono membuat hidupnya singkat. Matahari, bayang-bayang, entah apa lagi, bisa memudarkan segera setelah semburan kegembiraan mula-mula."
"kadang-kadang kalau kau tidak meluangkan waktu dan usaha untuk menemukan sofa yang tepat, akhirnya aku akan membeli sofa yang salah. Bunga-bunga padahal kau ingin garis-garis, sutra padahal kau ingin mohair."
"lalu kau menemukan sofa bekas di trotoar. Kau bayar beberapa anak SMA tinggi ekar masing-masing sepuluh dolar untuk mengangkatnya, dan kau meminta sofa itu dilapisi ulang, dan sofa itu jadi sempurna. Sofa terbaik yang tidak pernah kau beli.
"Kadang-kadang, benda paling tidak berharga adalah benda yang tidak dihargai orang lain. Mungkin karena inilah kau tidak menemukan pria yang tepat untukmu. Kau mencari sofa yang sempurna."
"Padahal itu tidak ada kan?"
"Ah, tapi sebenerarnya ada. Kau hanya tergoda dengan sofa kulit merah dan tidak melihat konstruksi dalamnya, my dear. Sofa itu mungkin hanya perlu sedikit perbaikan. Aku tidak menyarankan sekedar kain penutup. Aku bicara soal proyek yang ada hubungan dengan pegas, kerangka, dan jantung dofa itu sendiri."
" Dia istimewa, kau tahu. Dia sofa yang telah dibuang, tak dihargai, yang ditemukan seseorang bermata tajam di trotoar, dibawa pulang, dan dibersihkan. Dengan sedikit tenaga, sefikit imajinasi, sedikit cinta, sofa itu bisa menampakkan sofa bed di dalamnya, kenyamanannya, kejutannya. Kesempurnaan untuk orang yang tepat. ..."
Dialog diatas merupakan dialog yang terdapat Mrs. Chandler dalam buku The Dog Walker. Mungkin banyak di luar sana, atau teman dekat kita, atau orang diseliling kita yang greget buat dapet pacar. Dan ada yang gampang dapet, dan ada pula yang susah dapetnya. Mungkin orang-orang yang susah ngedapetin jodohnya karena dia terlalu melihat kekesempurnaan targetnya. Emang kita perlu poin-poin ketika menentukannya, tapi bukan berarti menaruh tinggi titik poin itu pada ujung tiang kriteria kita sampe-sampe apa yang diri sendiri yang gak bisa ngegapainya.
Nah, pasti kita tau kan pertama yang menjadi dasar kita untuk menyukai seseorang,kita melihat penampilan seseorang. karena memang yang terlihat duluan itu. Gak mungkin kan kita tiba-tiba baru liat terus udah bisa nembus liat kelain-lainnya. hatinya, kelakuannya. pasti yang pertama itu penampilanya. bagaimana sisi luar si doi. Setelah ngerasa tertarik, kita mulai melakukan aksi-aksi buat narik perhatian si doi. Setelah itu baru deh kita tahu gimana sisi dalamnya si doi. Dan kemudian barulah kita menentukan apa dirinya merupakan sofa terbaik kita apa bukan. Akan tetapi, banyak orang-orang di luar sana yang hanya melihat sesorang dari luarnya saja. Yang hanya mencari penampilan saja yang kece, cihuy, ganteng, tampan, berwibawa, bersahaja, bermata biru, berbibir seksi, pokoknya wowlah. kemudian menjadikannya sasaran untuk dijadikan teman hati. Mungkin agar ikutan terlihat WOW, atau bisa saja biar menang gensi. Sayangnya, malah target sasaran ini bukanlah yang terbaik. Mungkin aja ketika dia udah menjadi milikmu dan kemudian kamu tahu sifat aslinya yang gak sesuai tampangnya seperti ternyata jari kakinya berlendir atau bahkan ternyata dia orang yang repot, kalo makan jumlah garem dimakanannya harus 100butir gak boleh kurang gak boleh lebih, atau mungkin dia gak bisa kalo kamu ngelakuin satu hal yang sangat penting seprti ngupil misalnya saat bareng ama dia. Nah kan jadi kamu sendiri yang repot. Sampe pada akhirnya selesailah hubungannya. Mungkin juga kita gak hanya ngeliat dari penampilannya doang. Mungkin ada yang sedikit melihat dari sisi dalamnya. Ketika kamu udah ngeliat sedikit sisi baik dari sifatnya, lalu kamu oke aja ngubah status dan akhir-akhirnya baru tahu kalo ternyata di doi punya sifat suka nyari-nyari sampah kalo lagi senggang dan akhirnya bikin kamu ilfil.
Nah, terkadang kita sedikit terburu-buru dan gak pengen lama-lama dengan status sendiri dan bosan dengan handphone yang seperti gak fungsi karena sepi dari telepon dan chat. Dan sebenernya ketika kita memutuskan untuk mencari seseorang yang ingin di jadikan pacar, pasti ketika kita bertanya ke orang lain kenapa kita memilih doi, kebanyakan bilang karena kita nyaman dengan seseorang itu. benar tidak? kata nyaman tersebutlah yang akan ada kalo saja semuanya bersabar untuk mendapatkan 'sofa' terbaiknya. Menurut saya, kita gak perlu cari pacar ganteng yang super tajir kalo ternyata dia gak bisa ngeliat kita ngupil di depan publik. kita gak perlu cari pacar super kece dan mempesona kalo ternyata dia gak tahan ama kita yang gak doyan mandi. kita gak perlu cari pacar yang super super seperti itu kalo akhirnya malah bikin kita merengut seperti tampang orang utan. hubunganmu akan lebih enak kalo dari awal kalian sudah merasa nyaman dengan si doi. Si doi yang gak marah kalo kamu ngupil dimana saja, tiap detik, di setiap jenis tempat, si doi yang gak bakal protes kalo kamu gak mandi sore, si doi yang gak protes kalo kamu kemana-mana cuma pake sendal jepit swallow, si doi yang gak malu kalo kamu suka ngelakuin hal aneh. si doi yang nyaman dengan keadaan kamu apa adanya. kamu nyaman dengan dirinya dan dia nyaman dengan dirimu.Maka akhirnya kamu mendapatkan kenyamanan dari SOFA-mu itu.
jadiiiii, apa kamu sudah mendapatkan sofamu?
Ngupil Itu ...
Ngupil itu macam rindu. Susah untuk ditahan maunya ketemu.
Ngupil itu kayak pacaran backstreet. Diem diem biar gak ada yg tau.
Ngupil itu seperti khilaf. Kadang gak sadar dilakuin.
Ngupil itu kayak lulus ujian masuk. Lega banget pas dapet.
Ngupil itu kayak bisa buang air abis sembelit. Plong gitu rasanya..
Ngupil itu kayak dapet air es di tengah padang pasir. Lega bangett...
Ngupil itu kayak lagi nyontek waktu ujian. Curi2 waktu ketika orang2 lagi gak ngeliatin.
Ngupil itu seperti pdkt sama orang yg susah ditebak. Bikin penasaran kalo gak dapet.
Ngupil itu seperti makan makanan yang enak trus mahal. Sayang kalo gak dihabisin.
Ngupil itu kayak ngelamun.gak sadar kalo lagi dilakuin.
Ngupil itu layaknya tidur, baca buku, nyemil, nonton tv. suka dilakuin diwaktu senggang.
Ngupil itu kayak nonton film yang banyak twistnya. bikin penasaran, gak mau stop kalo gak abis.
Ngupil itu kayak makan garem. Cobain aja deh... :D
Kadang kita terlalu sibuk mencari alasan dibalik perasaan kita.
"Kenapa sih kok begini? Kenapa kok begitu?"
Kadang juga kita terlalu sibuk mencari pembenaran mengenai perasaan kita.
"Nggak kok aku gak papa. Sebenernya tuh... "
Sering kali kita lebih memikirkan gimana orang lain kalau kita sedang sedih, marah, kecewa, gembira..
Tidak bisa kah kita hanya menikmatinya? Tanpa harus mencari atau membenarkan apa yg sebenarnya kita rasakan?
Senja
Sebut saja dia senja. Yang indahnya selalu ditunggu dan dirindukan.
Sebut saja dia senja. Yang menghadirkan syahdu ketika kau pelan pelan tenggelam dalam warnanya.
Sebut saja dia senja. Yang munculnya selalu membuatmu berdecak kagum.
Sebut saja dia senja. Dia yang hadir sekejap dengan segalanya namun pergi begitu cepat berganti malam.
Sebut saja dia senja.
Prologue
This blog tell about something that crossing on my mind or i see or i feel.
Kadang waktu lagi jalan sore trus ngeliat ini itu jadi nulis. Kadang waktu nonton drama korea trus kepikiran apa jadi nulis. Kadang waktu lagi duduk asik diteras sambil minum kopi atau teh sambil baca buku eh ada yang melintas jadi nulis. Kadang waktu lagi liat langit langit kamar yang udah gelap eh ada kenangan mampir jadi nulis.
Beberapa tulisan juga dicomot dari blog lama yang tak bisa aktif lagi dan berdebu. Atau dari tulisan di (D:\) drive laptop yang sayang klo tidak dilepas liarkan disini.
Not really about real thing that happen to my life. Just wanna write something troughs my perspective. So enjoy 😘😘