Filsafat Islam : Terikatlah, maka kau bebas.
Filsafat konvensinal adalah sebuah ilmu dimana orang-orang mencari Tuhannya dengan cara memahami dunia. Sedangkan filsafat Islam adalah orang-orang yang ingin memahami dunia berlandaskan Tuhan yang telah mereka temukan.
Kalimat diatas aku sadur dari sumber yang sudah aku lupa dimana aku baca (maaf). Untuk judul, itu kata-kataku sendiri, dan ini yang sedang ingin aku pertanggungjawabkan.
Sejujurnya aku menuliskan ini karena membaca tulisan orang lain, dia cerita tentang semacam rasa frustasi karena dia (laki-laki) ingin berteman biasa dengan perempuan, sayang dunia seperti tak mau menerima niat sederhananya itu. Apa sih susahnya berteman antara laki-laki dan perempuan tanpa adanya percintaan?
Benakku ketika membaca tulisannya adalah: Oh my God, I know that feel. its so tiring.
Itu melelahkan memahami etika tak tertulis tak terpatahkan di atas dunia. Melelahkan ‘ingin jadi diri sendiri’ dengan sederet logika yang bagi manusia lain itu tak masuk akal. Melelahkan ingin menjelaskan kepada orang apa yang sebenarnya niat dibalik tiap sikap. Melelahkan…
Yup. Secara rinci, aku tak pernah benar-benar memikirkan tentang pertemanan laki-perempuan, tapi aku punya sederet logika lain yang ingin aku perjuangkan. Sampai suatu hari ada yang bilang..
“YOU CAN NOT CHANGE THE WORLD.”
Aku tahu tentang ‘kebaikan kecil bisa mengubah dunia’, tapi yang sedang kita bicarakan adalah sistem dunia yang tak terelakkan dan memang tak bisa diubah. Tapi manusia yang terus menuhankan logika akan lupa pencipta dunia ini siapa.
Ah, aku teringat ada semacam foto dengan tulisan “ egg is not a chicken, cocoon is not a butterfly, embryo is not Human.” So it’s okey if you want to clear your womb from ‘something’, that we not called it human.
See? Suatu saat nanti kau bahkan bisa (dan telah ada orang) yang menghalalkan aborsi hanya karena logika, bukan lagi terpaksa.
Logika juga bisa menjadi tuhan saat dia tak mengingatkanmu pada Tuhanmu. Apa lagi perkara sistem dunia yang kita sering mengira kitalah yang menciptakannya. Padahal tidak. Pada akhirnya kurasa kau butuh sekitar seribu tahun pengalaman-observasi bahwa tiap hukum dan ajaran Islam lah yang bisa menjadi oksigen untuk menjalani sistem dunia ini.
Seperti saat kau bilang, ‘aku ingin berhenti mencintai dan dicintai, aku ingin hidup sendiri’, akhirnya kau menyadari kau tak bisa. ‘Kalau begitu aku ingin mencintai dan memberi, tanpa mau balas dicintai’, tidak, kau tak bisa. Atau seperti kenyataan bahwa cinta orang tua itu penting, seberapapun kau hendak mengingkarinya, tidak, kau tak bisa ingkari. Saat kau bilang “aku ingin belajar tanpa guru”, tidak, kau tak bisa…
Maka terikatlah kau dengan Islam, dengan hukumnya, dengan ridha dari Tuhan, dengan segala kelapangan hatimu hingga Tuhan akan perlihatkan, betapa sesuainya antar sistem dunia yang Dia ciptakan dengan aturan yang Dia gariskan…
PS: Aku suka dengan orang yang logikanya kuat, biasanya orang seperti ini bisa ngobrol lama denganku. Aku suka cara mereka memandang dunia menjadi lebih sederhana. Sering kali orang kritis dan banyak inovasi lahir dari orang pecinta logika–mereka mempelajari dunia dan pola kejadian berulang hingga bisa menemukan jalan keluar masalah. Meski setelah aku tahu logika pada akhirnya bagian dari nafsu (ketika kau mengira logika adalah segalanya dan menganggap loikamu tak terbantahkan), aku tetap menghargai para ‘logikawan’. Tapi jelas, sekarang aku tertarik dengan logika-islam. :)
















