#042 kepada yang entah, kamu boleh menamai ini surat cinta.
Jauh sebelum aku mengagumi akhlak dan agamamu, aku sudah lebih dulu menanammu dalam doa-doa panjangku. Bukan sebagai nama, melainkan sebagai harap yang aku titipkan diam-diam pada-Nya. Di malam-malam sunyi, kala dunia sedang lelapnya tertidur, mungkin hanya lamgit yang tahu betapa aku ingin dipertemukan dengan seseorang yang hatinya selalu pulang kepada Tuhan.
Aku kerap melalui malam yang terasa panjang ketika bersimpuh. Memungut harapan yang berserakan di lantai doa. Merangkai ulang percaya yang hampir pecah berkali-kali karena kecewa. Dari sana aku belajar menunggu, dan melapangkan hati dengan menerima bahwa takdir Allah punya musimnya sendiri.
Aku tidak pernah meminta yang paling indah di mata manusia. Hanya seseorang yang ketika mendekat, membuat imanku juga bertumbuh. Seseorang yang akhlaknya teduh seperti hujan pertama setelah kemarau panjang, yang lisannya lembut seperti rumah, dan yang keberadaannya membuat aku percaya bahwa cinta bisa menjadi jalan menuju surga.
Maka jika suatu hari Allah menuliskan kita dalam satu kalimat yang sama, mungkin aku akan terdiam seperti laut yang akhirnya bertemu muara. Bahwa akhirnya aku mengerti: mengapa beberapa kehilangan harus terjadi, mengapa beberapa nama harus pergi, dan mengapa beberapa do'a harus menunggu begitu lama untuk dikabulkan?
Aku akan percaya bahwa kamu adalah jawaban yang sengaja disimpan paling akhir. Barangkali agar aku mampu memahami cara Allah merawat hatiku agar tidak salah mengetuk pintu.
Dan ketika aku mengenalmu nanti, izinkan aku jatuh lebih dalam dari sekedar kagum. Dengan penuh bertanya, dari doa siapa kamu tumbuh seindah itu? Dari tangan ibu seperti apa hatimu dirawat? Dari cara ayah seperti apa kamu belajar melihat dunia dan mencintai sekitar?
Aku ingin melihatmu sampai ke akar. Ke tempat di mana luka pernah tinggal, ke ruang-ruang sunyi tempat sabar dibesarkan, ke bagian paling manusia dari dirimu yang tidak semua orang berani tunjukkan. Aku ingin tahu bagaimana caramu bertahan saat dunia sedang bising, aku ingin tahu bagaimana caramu tetap percaya ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana.
Aku ingin mencintaimu bahkan ke bagian terdalam yang bahkan tak bisa dijangkau oleh kata-kata.
Aku ingin mencintaimu seperti seseorang yang akhirnya menemukan rumah setelah lama tersesat. Tidak terburu-buru, tidak penuh keraguan, hanya yakin dan tenang.
Semoga selalu dalam penjagaan Allah; kamu, yang aku masih bingung bagaimana harus menyebutmu. 🤍
—Aku, sebelum pertemuan kita.













