Tidak semua yang berakal dan mengaku pintar bisa memahami sesuatu yang telah ditetapkan Alquran dan sunnah.
Sebab pintar dan cerdas bukan tolok ukur seseorang mendapat hidayah.
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

#extradirty
Cosimo Galluzzi
wallacepolsom
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
ojovivo
trying on a metaphor
occasionally subtle
will byers stan first human second
Today's Document

⁂
taylor price
No title available
No title available
Claire Keane
Peter Solarz

No title available

blake kathryn

oozey mess
One Nice Bug Per Day
seen from Morocco

seen from T1
seen from Mexico
seen from Netherlands

seen from United States

seen from Germany
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from India

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from T1

seen from United States

seen from United States
@dellaamin
Tidak semua yang berakal dan mengaku pintar bisa memahami sesuatu yang telah ditetapkan Alquran dan sunnah.
Sebab pintar dan cerdas bukan tolok ukur seseorang mendapat hidayah.
Masa depan yang saat ini kita khawatirkan dan gelisahkan itu akan sampai, akan ada saatnya kita tiba di masa itu. Tapi, bagaimana keadaan di masa itu akan sangat bergantung pada kita saat ini dan bagaimana kita menjalani prosesnya sampai di masa itu.
Karena saya percaya, hari itu akan tiba. Perkara kita akan mendapatkan apa yang kita tuju atau tidak, itu bukan dalam kendaliku. Kita pasti akan menemui takdir tersebut. Tapi saya ingin, ketika nanti saya bertemu dengan takdir tersebut, mendapatkan yang kumau atau tidak. Saya akan tetap bahagia, tidak menyesali langkah-langkahku sebelumnya. Karena hasil apapun yang akan kudapatkan, saya tahu itu yang terbaik.
- Mengutip dari mas gun
Support System.
Sebagaimana dalam QS. At-Taghabun: 14,
“Wahai orang-orang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.”
Dalam tafsirnya, ayat tersebut berisi penjelasan Allah Subhanahu Wata’ala bahwa ada di antara mereka menjadi musuh bagi suami dan orang tuanya yang mencegah dari berbuat baik dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala, menghalangi mereka dari beramal saleh yang berguna bagi akhirat dan juga menjerumuskan kepada perbuatan maksiat atau perbuatan haram yang dilarang oleh agama.
Dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, ayat tersebut diturunkan di kota Madinah sehubungan dengan kejadian yang dialami oleh ‘Auf bin Malik al-Asyja'i radhiyallahu ‘anhu.
Seorang pria yang memiliki istri dan seorang anak, di mana apabila ‘Auf hendak pergi berperang, maka keluarganya menangis sambil berkata kepadanya, “Kepada siapa engkau titipkan kami?” Maka hati ‘Auf menjadi iba kemudian dirinya mengurungkan untuk pergi berperang. (Al-Jami’li Ahkam Alquran, Tafsir Qurthubi, jilid 18)
Sebagaimana dalam QS. Al-Anfal: 28,
“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.”
Dalam tafsirnya, ayat tersebut berisi peringatan Allah Subhanahu Wata’ala terhadap kaum Muslimin bahwa Allah Subhanahu Wata’ala menganugerahkan harta benda dan anak-anak sebagai ujian bagi mereka itu apakah harta benda dan anak-anak itu menambah ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wata’ala, mensyukuri nikmat-Nya serta melaksanakan hak dan kewajiban sebagaimana yang telah ditentukan oleh Allah Subhanahu Wata’ala.
Istri dan anak merupakan cobaan bagi suami, terkadang seorang suami sibuk mengurus semua hal itu, dengan melalaikan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata’ala khususnya apabila istri bukan wanita salihah hingga istri menyibukkan dirinya dan suaminya pada kebatilan.
Seorang pria hendaknya berusaha mendapatkan istri yang salihah yang dapat mendukungnya dalam urusan dunia dan agamanya, sesungguhnya dunia adalah kenikmatan sementara dan sebaik-baiknya kenikmatan dunia adalah wanita yang salihah.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salihah.” (HR. Muslim)
Pribadi yang lurus tahu bagaimana mendidik istri dan anak-anaknya dengan pendidikan yang baik yang dapat membahagiakan hatinya namun tidak sedikit kaum pria yang tidak tahu bagaimana pendidikan yang baik dan bahkan mengabaikannya kemudian sebagai akibatnya mereka mengalami kegagalan dan kerugian dan hal tersebut banyak menyita waktu, pemikiran dan kesedihan serta kepasrahannya kepada cinta istri, sekalipun harus mengorbankan agamanya, hingga hilangnya makna, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.”
Dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah,
“Jika hati seorang pria tertambat pada seorang wanita walaupun wanita itu adalah halal baginya (istrinya), maka hati pria itu akan menjadi tawanan bagi wanita itu, saat itu wanita menguasai diri suami dan dapat berbuat sekehendaknya, sementara pada hakikatnya pria adalah tuannya, karena pria itu adalah suaminya.” (Al-Fatawa, Ibnu Taimiyah, jilid 10)
Kebucinan meski telah halal baginya dapat membuat seorang suami menghalalkan berbagai cara untuk membahagiakan keluarganya; dengan cara korupsi, mencuri, dsb. Rupanya salah satu hal yang mendorong suami berbuat demikian adalah istrinya. Naudzubillah min dzalik.
“Istri adalah orang yang mampu membuat seorang laki-laki berhenti dalam berdakwah. Istri jugalah orang yang mampu membuat laki-laki terus istikamah dan terus semangat dalam berdakwah. Maka, pastikan kita memilih istri yang tepat, yang senantiasa membawa kita berkembang.” - Choqi Isyraqi حَفِظَهُ اللهُ
Berlaku sebaliknya :)
Seyogianya kesadaran untuk membekali diri dengan ilmu ketika sebelum menikah adalah keniscayaan bagi keduanya; agar calon suami mampu mendidik istri dengan baik dan calon istri mampu mendukung suami bukan malah menjerumuskan dan kemauan untuk senantiasa belajar harus dimiliki oleh keduanya setelah menikah sekalipun.
Dan, jadikan QS. At-Tahrim: 6 sebagai fondasimu dalam berumah tangga.
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Disadur dari buku 31 Sebab Lemahnya Iman (Husain Muhammad Syamir حَفِظَهُ اللهُ, Darul Haq); bab 11 (Sibuk dengan Anak dan Istri) dengan penambahan.
Diriwayatkan dari Abu Udzainah Ash-Shadafi radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sebaik-baik wanita di antara kalian adalah yang sangat sayang (cinta) kepada suami; yang memiliki banyak anak; tidak kasar; membantu suami dalam kebaikan; ketika mereka bertakwa kepada Allah Subhanahu Wata’ala.” (HR. Baihaqi dalam As-Sunan 7: 82, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1849)
Salah satu kriteria wanita terbaik adalah الْمُوَاسِيَةُ.
Siapakah dia? Dialah wanita yang hobinya membantu suami dalam kebaikan dan selalu berusaha berdiri di sisi suaminya; menghadapi segala masalah bersama-sama.
Istri para ulama terdahulu ketika melepas suami berangkat beraktivitas mengatakan,
“Berangkatlah suamiku, kami sabar dengan perihnya himpitan dunia. Namun kami tidak akan sabar dengan pedihnya siksa pada hari kiamat. Jangan bawa pulang harta kecuali yang halal, walau itu sedikit.”
Suami tenang; walaupun sedikit yang penting halal. Demikian istri zaman terdahulu. Hanya menuntut yang halal.
Oleh karena itu, dia akan berdiri di samping suaminya agar suaminya berada di atas kebenaran dan ketaatan. Dia pun mendukung suami agar mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan, tidak egois.
Dibanding menuntut hak; dia lebih fokus pada kewajiban dan bukan sebatas kewajiban melainkan berpikir, “Apa yang bisa membuat suaminya bahagia?”
Dia tidak mau waktu suaminya habis untuk mengurusi dirinya. Meski ini mengorbankan dirinya namun tidak masalah. Semoga Allah Subhanahu Wata’ala menolongnya.
Dan, wanita-wanita terbaik tidak mungkin tidak ditolong oleh Allah Subhanahu Wata’ala; diberi-Nya keberkahan, pahala besar. Allah Subhanahu Wata’ala tidak akan zalim.
Sebagaimana dalam QS. Hud: 115,
“Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Kriteria di atas tidak akan bermanfaat atau tidak akan mengangkat derajat seorang wanita jika orientasinya hanya dunia, cinta kepada suami sebatas cinta wanita kepada laki-laki, dan akan bermanfaat jika orientasinya dalam rangka mencari rida Allah Subhanahu Wata’ala serta upaya meraih ketakwaan.
Jadi, hubungan suami istri bukan hanya hablumminannas melainkan hablumminallah, mendekatkan diri pada-Nya, mencari rida-Nya dan untuk mewujudkan ketakwaan.
Ini tentang dia dan Allah Subhanahu Wata’ala, sehingga wanita terbaik tidak peduli manakala direspon secara positif/negatif oleh suami. Dia sudah melakukan semuanya namun suaminya bersikap dingin/kaku, dirinya tetap bermain di level tersebut sebab mencari rida-Nya bukan rida suami semata.
Inilah penghambaan di dalam rumah tangga, bagaimana meraih ketakwaan.
Disarikan dari petuturan Ust. Muhammad Nuzul Dzikri حَفِظَهُ اللهُ.
Yang sedang Life Crisis kemudian baca dzikir2 pagi petang, di "Sayyidul Istighfar" kita akan menemukan keutamaan jika membacanya dengan yakin kita termasuk penghuni surga.
Tak apa tentang kekhawatiran atau ketidakpastianmu di masa mendatang.
Tak apa jika saat ini masih terjebak situasi tak disukai.
Jangan merasa tidak memiliki tujuan hidup.
Esok kita adalah penghuni surga.
Jadikan itu energi untuk meraihnya.
Mari bertahan !
Probolinggo, 28 Mei 2022
“Diantara karunia terbesar Allah untuk hambaNya adalah : benarnya pemahaman, itu adalah cahaya yang dipercikkan Allah di hati seorang hamba. Dengannya ia bisa membedakan antara yang benar dan yang rusak, yang haq dan yang bhatil, serta petunjuk dan kesesatan". Ibnu Qayyim”
—
@almonajjid - Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, pengasuh web IslamQA.
13/6/2016
Jadi keinget perkataan Rasulullah : Kalau bukan karena Allah niscaya kita tidak akan mendapatkan hidayah dan niscaya kita tidak bisa bershodaqoh & niscaya kita tidak akan bisa melakukan shalat
Orang-orang bilang, temanmu akan berubah seiring usia, mengikuti keadaan.
Cepat ataupun lambat, mau tidak mau manusia pasti akan mengalami fase perubahan seiring dengan bertambahnya usia mereka. Termasuk juga dengan kita dan sahabat-sahabat kita. Entah itu menikah, pindah kerja, pindah kota, punya anak, atau tentang prinsip yang mereka jalani.
Kita akan dituntut untuk mengubah sikap dan perilaku kita sesuai dengan keadaan yang kita hadapi dan hal tersebut yang tidak jarang membuat kita jadi terlibat lebih asing satu sama lain disaat bertemu.
Diumur 29 ini, semakin bertambahnya umur, circle saya semakin sedikit.
Dari tahun ke tahun, ada fase perlahan memberi jarak dalam hubungan pertemanan dan persahabatan. Bisa jadi dengan seiring berjalannya waktu, definisi tentang sahabat mulai bergeser.
Entah kalian ada di bagian bumi yang mana, semoga Allah menjaga kalian.
Probolinggo, 16 Mei 2022
I miss you
Rasanya hampir seminggu tidak pulang
Don't waste your time. Stop liatin hidup orang di instagram, stop liatin youtube video ga berguna, stop post foto / story di sosmed bukain sehari 10x liat siapa yang like. This is a toxic habit. Boleh aja sih kalau anda beneran kaya & memang bertujuan pamer.
“Nak, hidayah Allah itu sejatinya sudah bertebaran dimana-mana.
Sedekat pendengaran kita, bahkan di depan mata kita.
Jika tidak mampu melihatnya,
itu karena hati terhalang dari merasakannya.”
- Quraners (Ayah Penuh Waktu)
ملتقانا غداً “Until we meet again.”
Probolinggo, 16 April 2022
Usia, Pencapaian dan Pencarian
Bukan sebuah jaminan seseorang yang semakin bertambah usianya akan semakin matang dan dewasa cara berpikirnya, bukan jaminan pula ia akan baik dalam menentukan skala prioritasnya. Akan tetapi, semakin seseorang dewasa terkadang akan semakin banyak kekhawatirannya, dari mulai kapan menikah, punya anak, rumah dan kendaraan, atau mungkin kekhawatiran soal pencapaian lainnya.
Setidaknya, cobalah menepi dan menyendiri, sebentar saja. Berbicara dengan diri sendiri dan apa yang hari ini benar-benar kamu butuhkan dan apa yang hanya sekedar keinginan atau lapar mata.
Ada seseorang yang usianya beranjak mendekati 30 tahun, kekhawatirannya adalah soal jodoh yang sampai detik ini belum juga datang. Ada pula seseorang yang mungkin usianya 20 sampai 25 tahun yang mengkhawatirkan soal rezeki dan tempat tinggal. Bukan, bukan untuk membandingkan dengan orang lain, kok.
Hanya saja, kadang kita lupa bahwa setiap orang ada kekhawatirannya masing-masing, setiap usia juga ada gemuruhnya masing-masing, dan itulah yang sebenarnya sedang menjadi ujian untuknya. Apapun kekhawatiranmu hari ini, jika ia memang ditakdirkan untukmu maka ia akan tetap datang padamu. Yang menjadikan berbeda adalah bagaimana caramu mendapatkannya saja, melalui yang baik dan berkah, atau yang cepat tapi tidak ada ketenangan dan keberkahan.
Berapapun usiamu, jangan sampai tidak menaikkan pencapaian soal kedekatan dengan Allah. Kekhawatiranmu sebenarnya salah satu tanda ada jarak antara kamu dan Allah, entah dari seringnya kamu lalai atau berlebihan mengharap pada manusia. Semakin kamu dekat dan yakin dengan Allah, maka kekhawatiranmu pasti akan semakin mengecil, gelisahmu juga akan semakin hilang.
Usiamu hari ini berapa? Dan bagaimana pencapaianmu soal ibadah? Kalau soal dunia aku tidak bertanya, sebab prioritas dan hidup kita pasti berbeda :)
Selangor, 17 Desember 2021 (Menunggu selesai karantina)
@jndmmsyhd
Untukmu yang Sendiri
Jangan sedih dan merasa insecure jika hari ini tidak ada yang benar-benar tahu soal deritamu, bebanmu dan bahkan jerih payahmu. Kamu tahu kenapa? Sebab ada orang-orang yang Allah dewasakan dengan kesendirian, ia jatuh dan bangun dengan sendirian, tanpa teman dan tanpa keluarga. Syukuri saja bahwa ternyata Allah masih membantumu, menghidupkan dan menemani setiap langkah dan keputusanmu.
Kamu tidak akan pernah bisa memilih akan dilahirkan dari keluarga apa, bagaimana orang tuanya, seperti apa lingkungan dan kehidupannya. Tapi kamu bisa memilih untuk meratapi nasib atau bangun dan berjalan merubah hidup, meski sendirian? Iya, meski sendirian. Jika ada teman atau keluarga yang membersamai, maka bersyukurlah, jika tidak ada maka tetaplah bersyukur. Tidak perlu dibanding-bandingkan, sebab setiap kita ada ujiannya masing-masing.
Kuatkan saja hatimu bahwa ujian itu akan ada selesainya, karena air laut pun tidak selalu pasang, bukan? Ada masanya ia surut. Seperti hujan yang tidak selamanya deras, ada waktunya berhenti dan mempersilahkan kita untuk melanjutkan kehidupan dan perjalanan, iya kan?
Jangan pernah merasa sendirian, ramaikan saja hatimu dengan doa dan rasa bahwa Allah selalu ada. Tidak akan pernah Dia meninggalkan dan menelantarkan, dekatkan lagi hubunganmu dengan-Nya, agar harimu selalu penuh dengan syukur dan tenang. Ada masanya kok kamu bahagia, kapan? Tunggu saja, ya :)
Merayakan kesendirian.
@jndmmsyhd
Perasaan Tertinggal.
Sekali lagi, kamu tidak boleh merasa tertinggal hanya karena kamu belum memiliki apa yang telah dicapai oleh teman-teman seusiamu. Sebab, setiap orang memiliki kecepatannya sendiri. Setiap orang memiliki takdirnya yang berbeda-beda.
Kamu tidak boleh merasa rendah bila saat ini kamu belum juga menikah, kamu belum juga memiliki buah hati, kamu belum juga memiliki lainnya. Tidak ada yang harus dilakukan bila kamu belum jua sampai pada titik itu. Bukankah setiap orang memiliki prioritas yang berbeda. Maka sudah sepatutnya kamu pun tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri. Mengapa tertinggal untuk ukuran dunia.
Tidak ada yang lebih cepat dan lebih lambat untuk ukuran dunia wahai diri. Tidak ada standart yang sama untuk setiap orang dalam urusan dunia. Sebab ini hanya dunia, tempat persinggahan sementara. Yang perlu kamu persiapkan adalah bekalmu menuju akhirat. Sudah sejauh apa dirimu menyiapkannya.
Dunia ini tak bernilai di sisi Allaah. Sebab itulah dunia seperti penjara bagi seorang mukmin. Melelahkan. Maka ambila secukupnya pada ukuran duniamu saat ini. Bila Allaah menghendaki kelebihan harta padamu, maka itu sudah menjadi bagian dari rezekimu. Bila Allaah menghendaki menikah diusia muda, maka itu bagian dari takdirmu. Dan pada hal lainnya untuk ukuran dunia.
Jangan bersedih wahai diri, dunia tak pernah lari darimu. Yang perlu kau tangisi adalah kedudukan mu di akhirat nanti. Apakah ia menjadi yang selamat atau sebaliknya..:"
Maka, mulai hari ini. Kamu tidak boleh merasa rendah bila kamu belum jua menikah. Kamu tidak boleh larut dalam kesedihan bila belum jua hamil dan memiliki keturunan. Kamu tidak boleh merasa tertinggal bila belum jua mencapai impianmu.
Yang perlu kamu lakukan adalah terus berikhtiar, berdoa dan bertawakal penuh kepada Allaah. Sebab tidak ada yang mustahil bagi Allaah untuk mengabulkan pintamu. Mudah baginya mewujudkan pintamu. Teruslah meminta wahai diri, meminta untuk selalu dikuatkan dalam menjalani setiap fase kehidupan ini.
Segala sesuatu yang bukan karena pamrih duniawi. Namun, pamrih akhirat, itulah yg akan awet dan berkelanjutan.
Ini menunjukkan pentingnya menjaga niat, menjaga hati, mengoreksi niat dan mengoreksi hati.
Niat letaknya di hati. Maka, satu hal yang perlu kita ingat bahwasanya parameter penilaian di dunia berdasarkan lahiriah (apa yang nampak), yaitu dengan lisan dan perbuatan
Sedangkan di akhirat, penilaian itu dengan melihat niat.
Allah berfirman dalam surat Al 'Aadiyaat ayat 10
"Dan dinampakkan apa yang ada di dalam dada."
Allah juga berfirman dalam surat Ath Thaariq ayat 9
"Pada hari (kiamat) dinampakkan segala rahasia (niat)."
- ustadz Aris Munandar
staying single is better than marrying the wrong person.
I totally agree with this, especially with few people who are on deen