ADK Asbun : 1. Ingin Terkenal
Suatu hari, ada celutukan yang entah bercanda atau serius terlontar padaku. Dia mengatakan bahwa ketika aku maba dan ikut semacam training anggota baru, aku sangat ingin dikenal. Karena aku bertanya sampai maju ke depan. Jika celutukan itu candaan, aku rasa itu tidak pantas. Untuk apa bercanda dengan dusta ? Agama telah jelas melarangnya.
Aku hanya tertawa saja, karena aku lambat dalam mencerna. Bahkan ketika aku dihina pun, mungkin aku akan ikut tertawa. Demi membahagiakan penghina. Demi suasana aman-nyaman untuk semua.
Setelah aku ingat-ingat, iya aku memang pernah memanfaatkan kesempatan bertanya jika memang membutuhkan jawaban dari narasumber terpercaya. Tapi, aku tak terpikir cara agar diri terlihat aktif dan ingin dikenal. Dan ternyata orang lainlah yang memikirkannya, kemudian menuduhkan dengan mudahnya. Padahal yang menyuruh maju ke depan adalah kakak kelas.
Aku tak habis pikir. Kenapa kita yang berada di satu barisan, bukannya saling menguatkan rekan sebarisan, malah gemar sekali membuat tuduhan keji. Tentu saja tuduhan keji tidak akan berimbas baik untuk segala arah.
Apa faedahnya membuat tuduhan keji kepada rekan ? Merasa lebih tinggi ? Lalu ? Apakah dengan begitu barisan ini akan kian kokoh ?
Apa pula guna diadakan training untuk anggota baru, diberi materi, diadakan diskusi dengan narasumber terpilih, jika peserta hanya melongo tanpa menyerap segalanya.
Padahal bisa jadi, training anggota yang menurut sebagian orang biasa saja, menurut orang lain itu kesempatan luar biasa. Dari yang awalnya sering tertuduh sesat karena belajar dari buku, dari yang awalnya sering dituduh bid'ah karena pencarian, dari yang awalnya terseok mencari secercah cahaya, kemudian mendapat kesempatan emas untuk melahap ilmu langsung di depan mata. Malah dikata-katai sedemikian rupa.
Tidak semua anak manusia dilahirkan dari keluarga berada (secara finansial maupun agama), tidak semua mendapat akses mudah untuk belajar, tidak semua anak manusia seberuntung anak manusia lain, jalan anak manusia semuanya berbeda.
Itu hanyalah satu contoh kasus, bagaimana kondisi ~(mantan)~ ADK di kampus. Kepada rekannya sendiri saja tidak pernah melihat dan memperhatikan lebih dalam. Kampus Islami ? Kampus Madani ? Bermimpi memang kadangkala nyaman, terlampau nyaman.
Lalu, untuk apa ada tulisan ini ?
Adalah bisa menjadi pelajaran bagi pembaca, agar kata-kata yang terlontar sebaiknya dipikir pakai otak dan pakai rasa hati. Menggunakan otak dan hati adalah salah satu tanda syukur kita telah dikaruniai olehNya. Dan agar lebih memahami kondisi sekitar. Asal mangap memang mudah, efeknya tak selalu indah.
Bukan yang penting program kerja tercapai, ada yang lebih dari itu.
Betapa susah memahami dan menghargai orang lain atas segala tindak dan pilihannya. Semoga kita selamat dari lisan-lisan jahat.
🙂
(10 Februari 2018, 2:57 am, ditulis dengan penuh kesedihan)











