A dance on knife's edge
Of course Sarkas and Katavor get my best on every drawing of them
seen from Netherlands
seen from United States

seen from Germany

seen from Australia
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from Austria
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from Spain

seen from United Kingdom
seen from China
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Sweden

seen from South Korea
seen from China
seen from United States
seen from United Arab Emirates
A dance on knife's edge
Of course Sarkas and Katavor get my best on every drawing of them
"Singgasana"
Diam-diam ia menelisik ke dalam sukma yang telah lama bersemayam pada kursi kosong ini. Kekuasaannya hanya sebatas pandang yang tampak saja. Tak pernah terdengar olehnya jeritan-jeritan banyak orang yang tersungkur memohon di bawah kakinya.
Decaknya bising, menghina berbisik-bisik, menikmati liurnya sendiri yang mungkin manis sehabis meraup hak orang-orang. Menghirup udara di tempat tertinggi, memicingkan mata pada mereka yang terhimpit di antara kerumunan tuk menatap ke arah ia bersama singgasananya, di atas sana.
Aku, adalah bangku kosong itu, yang berkata lewat sajak-sajaknya yang pilu. Di perebutkan hanya untuk beradu lugu. Kapan yang menduduki aku berhenti bergurau? Mereka begitu kacau.
-Rahl, 16225
POV sebuah keluarga zaman now, setelah makan malam. Benar-benar potret keluarga samaWA..
Sama-sama main WA 🥺🥹
tji leng shi, selepas hujan deras, 0207-2025 7.30pm
Jaman sekarang jatuh cinta diribetkan dengan banyaknya pertimbangan. Padahal ya kalau jatuh ya jatuh saja. Ah, tapi kita kan bisa memilih pada siapa untuk jatuh cinta, jadi tidak bisa sembarangan?
- Sastrasa
FANA VISUAL
Perempuan muda yang di dunia nyata sulit diajak bicara.
Serba tidak tahu atau kasarnya, kurang cerdas. Beruntungnya dia ahli berdandan. Dalam satu tahun karirnya di Instagram sebagai Instagrammers, followers-nya langsung mencapai 50ribu. Karena apa?
Karena ia sesuai dengan definisi ideal perempuan cantik. Dagu lancip, kulit putih bersih, senyum manis menggoda. Orang tidak peduli mereka sering typo atau salah menggunakan istilah bahasa asing di bagian caption fotonya. Yang penting enak dilihat, maka followers berbaris-baris.
Satu lagi perempuan yang tidak terlalu cantik, dia juga gemar berdandan. Dia bahkan sudah bertahun-tahun sharing tips dan trik make up melalui blog pribadinya, atau beauty blogger istilah kerennya. Mem-posting jenis foto yang sama dengan si perempuan pertama, sudah dua tahun followers-nya belum juga mencapai 10ribu. Lima ribu pun sepertiganya online shop.
Ironis.
Percaya tidak percaya, kisah itu nyata. Instagram membuat banyak orang jadi merasa punya tekanan visual alias secara visual jadi tertekan!
Bagaimana lagi, jangankan penampilan jasmani, makanan pun sebisa mungkin harus dihias agar Instagram menjadi worthy. Bubur bayi yang hambar pun jadi tidak membosankan dengan taplak meja warna-warni, sendok lucu, dan buah-buahan pun dibentuk sedemikian rupa agar menyerupai bentuk binatang.
Urusan travelling pun tidak jauh berbeda, yang dipikirkan pertama adalah “spot mana yang bagus untuk difoto?” Jepret sana jepret sini, yang penting ada langit biru! Tidak lupa bawa buku ke pantai padahal membaca saja malas, karena kebanyakan buku di pantai itu bukan untuk dibaca tapi untuk jadi properti. Untuk apa? Ya, untuk Instagram! Apa lagi kalau bukan untuk caption ‘vitamin sea.’
Belum lagi tren #minimalismscene. Kenapa orang-orang itu sering menemukan tembok lucu?
Tagar yang kemudian membuat kecewa, sebab setelah melihat sekeliling diri sendiri, kantor, rumah, tongkrongan, hampir semua temboknya kotor, lusuh, dan tidak enak dipandang. Di mana orang temukan tembok lucu berkelir warna-warni untuk background foto #ootd?
Pasti ada yang salah dengan lingkungan! Artinya butuh liburan untuk mencari tembok objek foto! Kota tua bisa sepertinya ya?
Kafe-kafe pun tidak mau ketinggalan.
Mereka menghias interior dengan segala pernak-pernik yang layak difoto dan masuk Instagram. Dengan dinding penuh kutipan soal makanan dan sofa warna-warni. Sialnya, kafe-kafe itu kenapa seringnya remang-remang? Apa yang diharapkan orang-orang dari interior yang lucu bila ketika difoto orang butuh lighting tambahan. Tolong, aku tidak masalah makan terang benderang seperti lampu minimarket yang 24 jam. Hentikan pemakaian lampu kuning di kafe karena itu membuat foto jadi gelap. Editnya sulit! Butuh aplikasi berbayar!
Begitu pula rumah.
Semua orang jadi tertekan ingin ikut pula menghias rumah. Kamar yang sebelumnya adalah area paling pribadi kemudian dipaksa agar bisa lebih sharing-able. Fungsi rumah pun bergeser, bukan lagi hanya tempat tinggal, tapi tempat untuk menilai kepribadian orang lain.
Dari rumah serba hitam putih sampai rumah warna-warni. Rumah yang bagus memberi inspirasi, yang kurang bagus jadi dikasihani, “Rumah seperti itu kok difoto?” Tidak perlu lagi menunggu wawancara majalah desain interior, cukup bermodalkan satu akun dengan tagar berbaris tentang hunian nyaman.
Dan yang paling memuakkan, uang tabungan pun mendadak punya sasaran baru: Membeli kamera.
Dengan lensa fix yang membuat objek belakang jadi tidak fokus. Semakin “bokeh” alias semakin blur itu kau buat background, semacam jadi jaminan semakin banyak likes yang akan diterima. Kameranya harus punya wifi agar setiap selesai jepret, bisa langsung masuk ke handphone dan terbagikan pada dunia.
Kamera dengan lensa fix membantu ini semua, tinggal simpan objek di teras pagi-pagi dengan background taman depan rumah, voila! Minimal pasti dapat bokeh lah! Bokeh is my life!
Ya, karena tanpa foto yang bagus, objek bagus pun belum tentu jadi menarik. Contoh saja foto makanan, dengan angle yang tepat, makanan yang seharusnya membuat ngiler jadi biasa saja. Make up yang packagingnya menarik jadi tidak membuat orang ingin membeli karena meja putih terganggu noise. Ilustrasi yang seharusnya bagus jadi biasa saja karena diambil dalam kondisi ruangan gelap. Maka editing pun harus mahir, rajin lah tanya para selebgram “Editnya pake aplikasi apa kak?”
Demi likes. Demi followers yang lebih banyak. Demi pujian dari orang lain yang bahkan kadang belum pernah bertatap muka.
Saya pernah berusaha memetakan, walaupun hanya analisis gembel.
Orang yang seperti apa yang demikian serius di Instagram? Maksudnya yang sampai memikirkan grid, memikirkan color scheme, memikirkan setelah upload foto ini akan upload foto apa.
Apa yang di dunia nyata juga senang bersolek?
Tidak juga, banyak perempuan yang justru malah hobi foto masakan di Instagram. Masakan yang dulu cukup menuai pujian suami kini harus juga difoto dulu sebelum dimakan. Yang ini jujur membuat iri, karena masak pun saya tidak pernah.
Apa kurang pengakuan dari lingkungan?
Rasanya tidak juga, banyak yang di kantor bahagia dan tidak kurang apresiasi, tapi tetap terobsesi dengan feed Instagram. Apa yang kesepian? Tidak juga ya, banyak yang fotonya seperti tidak kesepian. Cafe-hopping bersama teman-teman atau liburan bersama keluarga.
Instagram seperti jalan keluar, dunia yang berbeda. Manusia selalu haus pujian.
Bagaimana nasib orang-orang yang kurang cantik? Yang jarang travelling? Yang di rumah terus seharian? Apa tidak boleh main Instagram? Yang jarang ke kafe? Boleh saja, tapi jangan harapkan followers cepat bertambah atau likes mengalir setiap kali. Pengakuan semu tapi membahagiakan bukan?
Terdengar menyedihkan. Sebuah media sosial menjadi patokan kehidupan.
Lihatlah, seberapa banyak dari kita yang kemudian terinspirasi liburan ke suatu tempat semudah alasan “Karena liat dia upload di Instagram bagus deh.” Belum lagi urusan online shop, seberapa banyak dari kita lebih percaya pada online shop yang fotonya tampak profesional dibanding online shop yang foto seadanya?
Tapi hidup tidak boleh melulu negatif.
Biarlah orang lain haus likes dan haus pujian. Kita harus tetap positif dan percaya bahwa dunia tidak seseram penghamba likes di Instagram. Karena sebetulnya banyak juga yang tidak peduli. Tidak peduli followers sedikit, tidak peduli foto noisy, tidak peduli grid feed yang rapi. Yang penting upload sajalah.
Instagram gue, ya suka-suka gue.
Ini adalah golongan orang yang tidak peduli followers-nya terganggu karena dia mengunggah ribuan kali foto yang tidak aestethic. Kadang fotonya foto bayi, blur, dan tidak jelas sedang melakukan apa. Sehari 10 kali. Anak sedang tidur, anak sedang mandi, anak sedang makan, dengan caption anakku ganteng sekali. Yaiyalah anak sendiri, menurut situ? Tidak suka? Kalau tidak suka ya unfollow saja lah. Gampang.
Dari saya yang sedih karena sering tertekan secara visual di Instagram.
8 Cara Agar Skripsimu Tak Pernah Selesai
Kalau kamu mahasiswa tingkat akhir dan sedang berproses dengan skripsi, ini adalah tips agar skripsimu tak pernah selesai. Langsung saja.
Jadilah Perfeksionis Skripsi itu tidak harus sempurna. Agar sulit selesai, lakukanlah sebaliknya. Sempurnakanlah skripsimu. Kerjakan seperti para saintis peraih nobel mengerjakan. Jangan konsultasikan sebelum segalanya sempurna. Perhatikan hingga kesesuaian halaman daftar isi, jarak spasi, format daftar pustaka, kerapian lampiran, serta keindahan grafik dan ilustrasi.
Jangan Temui Dosbing Dosen pembimbing adalah kunci. Ketika kamu konsultasi maka kesalahanmu akan dikoreksi. Kamu akan tahu bagaimana pekerjaan yang benar (atau paling tidak, pekerjaan yang bisa di-ACC). Merekalah penentu kita bisa atau tidak untuk menghadapi ujian skripsi. Maka agar kamu tidak bisa menyelesaikan skripsi, jangan sekali-kali temui dosen. Pasang foto ekspresi dosenmu yang killer di kamar kos. Kalau ada dosen yang justru kalem, editlah agar menyeramkan, kemudian pasang. Munculkan sugesti ketakutan bahkan dengan senyuman dosen yang begitu kalem. Jangan lupa hapus kontaknya dari smartphone-mu.
Tidurlah Setiap Pagi Selain Sabtu dan Minggu, pagi adalah saat ketika dosen-dosen berangkat. Pastikan di jam yang sama ketika mereka berangkat kamu dalam keadaan siap tidur. Atur waktu agar setiap malam kamu begadang dan buat check list segala keperluan untuk tidur sehingga di pagi hari segala perlengkapan telah lengkap untuk bocan di kos. Bangunlah sampai kira-kira menjelang siang, dosen sebagian sudah pulang. Dan kamu aman, punya alasan yang kuat untuk menunda lagi ke kampus.
Jangan Pulang Pulang ke rumah akan mempertemukanmu dengan orang tua. Di saat itu pula rasa bersalah pada mereka akan muncul. Segala pengorbanan mereka akan terpampang di depan matamu. Jadi jangan pulang ke rumah. Hindari tempat itu. Dan kita juga tahu, bukan kecerdasan, keluasan wawasan atau idealisme gagasan yang membuat kita lulus, melainkan semangat mengerjakan. Semangat adalah penggerak utama agar kamu segera pendadaran. Rumah adalah tempat charge semangat. Maka sekali lagi, hindari tempat itu.
Bekerjalah Waktumu terlalu luang untuk mengerjakan skripsi? Berarti kamu perlu alasan lain agar kamu tidak mengerjakan skripsi. Carilah pekerjaan. Ngelesi saja tidak cukup. Carilah pekerjaan full time. Maka hari-harimu akan jauh dari skripsi dan dari kabar-kabar kelulusan teman-temanmu atau bahkan adik tingkatmu.
Mainkan Game-game Terbaru Ketika teman-temanmu konsultasi-revisi berkali-kali, carilah info tentang game yang sedang hits. PUBG, Hago, dan sebagainya. Bergabunglah dalam grup dan pelajari trik-trik agar kamu bisa menjadi pro dalam bermain. Kalau kamu tidak punya smartphone yang cukup mumpuni, menabunglah. Buat apa kamu kerja full time tapi tidak punya uang beli smartphone high-end untuk nge-game.
Hindari Microsoft Word Skripsi dikerjakan menggunakan Microsoft Word, LibreOffice Writer, dsb. Hindari membukanya setiap hari. Jika kamu perlu membuka file, gantilah dengan notepad. Maka kamu tidak akan diingatkan pada Recent document bila kamu pernah membuka file skripsi. Mungkin kamu akan teringat pada serial number atau crack games. Dan itu justru hal yang bagus bukan? Kamu akan cepat menjadi gamer pro.
Kerjakan Segala Hal Selain skripsi pastinya. Kalau kamu masih punya waktu luang setelah bekerja, tidur, dan bermain game, carilah kesibukan lain. Di kampus ada banyak kegiatan UKM, cari dan datangi. Bantulah panitia yang selalu kekurangan orang itu. Jangan buat prioritas, lakukan apapun yang bisa dilakukan. Menjadi moderator, angkat meja, menata kursi, atau membagi snack, itu cukup menghabiskan waktumu. Kalau perlu daftarkan dirimu ke pondok tahfidz dengan target hafal 30 juz dalam waktu 40 hari. Kamu akan mendapatkan tempat pelarian terbaik di mana kamu menjadi sulit dicegah untuk pergi ke sana. Sekaligus kamu juga semakin bimbang sebenarnya mana yang baik dan mana yang buruk.
Itu saja petuah kali ini. Kalau mentalmu kuat untuk mengendalikan diri, kamu akan berhasil meninggalkan skripsimu seutuhnya.
Kau pandai mengambil momentum dalam kesempitan. Munafik penuh intrik!
Sisa Sisa
Hanya deretan kata dan barisan lagu yang tersisa dari kisah ini. Rasa cinta sudah menjadi khayalan yang sulit dibedakan antara sadar atau melayang