Setelah berpikir tentang apa yang membuat hal-hal yang berurusan dengan "kita" jadi rumit, aku dapat salah satu jawabanya.
Sebab, yang lain adalah tamu. Terhadap jiwa yang lain aku bertamu. Segera mengganti pakaian dan menutup rapat helai rambut ketika mereka mengetuk pintu, menyuguhkan minuman dan makanan yang ada, dan menemani mengobrol tanpa lupa tersenyum. Ketika mereka akan pulang, mengantar mereka hingga pagar.
Lalu buka semua pakaian luar dan kembali menyanyi keras-keras. Kembali jadi pemilik rumah tanpa orang luar.
Sedangkan kamu, ya rumah.
Tidak ada yang "memaksa" untuk selalu menemani mengobrol, menawarkan makanan atau pun menuangkan minum. Tapi yang lebih penting di rumah lebih berwarna dari senyum atau tawa tipis yang basi. Tidak ada batas perasaan dan ekspresi di rumah. Kadang ada air mata, senyum kecut, lelah, ataupun bete.
Yang pasti, pulang ke rumah inginnya melepas rasa lelah dari luar, dan istirahat dengan nyaman, lalu berekspresi tanpa basa-basi.
Rumah, ruang paling intim dimana aku bebas jadi diri sendiri dan menerapkan peraturan yang tidak bisa dilakukan di luar.
Walau begitu di rumah juga banyak urusan dan kadang bikin pusing juga. Tapi baiklah, sebab rumah yang aman adalah yang dihuni, dirawat setiap hari, dan segera diperbaiki ketika menemukan masalah. Listrik mati, pipa air bocor, gas habis. Itu bisa ditemukan di rumah kecil atau besar, di kota ataupun desa. Semua bisa diperbaiki selama kita ada energi. :)
Pada jiwamu aku pulang ke rumah, yang isinya tidak selalu tentang senang-senang. Tapi semoga Allah beri kita energi. Apapun masalahnya selalu solutif dan kembali bahagia.
Berapa lama pun aku pergi aku selalu rindu pulang, dan seberapa sibuk pun mengurus rumah, aku selalu betah di rumah :)