In this cruwl world i just need a hug a very loooooong hug
EXPECTATIONS
Show & Tell
Cosmic Funnies

No title available
todays bird
I'd rather be in outer space 🛸

Origami Around
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

Discoholic 🪩
Mike Driver
Peter Solarz

izzy's playlists!

Kiana Khansmith

PR's Tumblrdome
Cosimo Galluzzi
trying on a metaphor
untitled

titsay
official daine visual archive
macklin celebrini has autism

seen from United Arab Emirates
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from United Arab Emirates
seen from United States
seen from Saudi Arabia
seen from United States

seen from Singapore
seen from United States

seen from Brazil

seen from Malaysia
seen from Singapore
seen from United States
seen from Paraguay
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
@duapuluhempat
In this cruwl world i just need a hug a very loooooong hug
Nak Surga asik kah? Ibuk sepi di sini. Kalau ada kalian mjngkin akan rame yaa. Ibuk bisa ajak kalian main main kesana kemari jalak kaki bareng kita biar ibuk bergerak
Waktu yang paling menenangkan itu adalah membersamai. Tidak membuat orang lain merasa berjuang sendirian, itu menenangkan.
Menghadirkan jiwa yang membersamai tubuh ketika menghadap kewajibannya, itu menenangkan.
Maka pergilah untuk selalu membersamai
—ibnufir
Aku percaya mereka membersamaiku, hingga saat aku terluka olehnya.
Sepertinya aku akan menyerah saja, kewalahanku membuat orang lain kewalahan juga nampaknya. Aku lelah menapaki duka yang meski perlahan mereda namun sulit memudar rasa sedihnya. Tangisnya sering buat aku sesak sekian waktu setiap harinya.
Aku rasa aku bukan apa-apa, aku kehilangan anakku dan kehilangan diriku. Aku lupa siapa aku, aku seperti puing-puing reruntuhan gedung tua yang kosong.
Aku rasa aku bukan apa-apa, aku berkali-kali dihantam banyak ekspektasi dari semua orang. Aku kewalahan.
Hari ini menyenangkan, mendengan suara ranting pohon beradu di hutan, suara burung bersautan dan suara angin yang bersauh menggema namun pelan. Berdebur seperti ombak sesekali,
Wangi rumput, wangi dedaunan, wangi kayu basah dan wangi kopi yang diseduh usai perjalanan. Di atap langit ciater, aku bertemu mereka dua perempuan kecil kembar berkelakar tertawa riang berlarian diatas daun-daun basah.
Tawanya memecah tangisku yang rindu Nala dan Niskala. Memapah lidahku merapalkan do'a-do'a yang mulai banyak terjeda untuk kedua anakku.
"hai aku kakak, dan yang itu adik" kata mereka memperkenalkan diri dan tiba-tiba duduk disampingku.
Aku kegirangan, ada rasa hangat dalam dada mereka mengoceh didepanku. Aku hanya tersenyum sambil membayangkan Nala dan Niskala kalau aku bawa jalan kaki di hutan atau gunung. Mereka pun pasti akan kegirangan seperti adik dan kaka.
Meski kadang aku merasa Tuhan tidak mendengarku, kali ini aku melihat Tuhan murah hati mengabulkan do'a kami "tolong hadirkan mereka dengan versi yang bisa kami lihat"
Berkali-kali Tuhan kabulkan, dan aku terlambat menyadarinya. Tiap-tiap dimanapun kapanpun sekalipun itu di hutan, mereka ada. Berlarian dengan riang gembira, bernyanyi, hingga mengeja plakat penunjuk jalan di hutan.
Terimakasih ya, Tuhan. Jika ada kehidupan kedua tolong jadikanlah Nala dan Niskala anakku kembali dengan tubuh yang bisa aku peluk erat, bisa aku ajak bercerita, bisa aku ajak berlarian dan bisa aku lihat mereka hingga dewasa.
Nala, Niskala. Ibuk rindu, maaf
Aku dari kerikil
Aku terbuat dari kerikil kerikil kecil yang menggumpal menjadi batuan besar yang keras, mungkin aku sedikit diselipi akar-akar pohon tua yang menelisil di rongga-rongga bebatuan, atau aku ditaburi rerumputan yang hijau pekat dan mengakar meteran ke bawah tanah. Hm aku tidak tau aku apa, rasanya aku mengeras saja. Tidak seperti batu apalagi baja, mungkin sedikit lembek namun da bagian yang amat keras.
Pandanganku lurus 20 meter ke depan, menerawang apakah ada manusia di bawah sana yang meratapi patah hati seperti aku? Atau adakah yang dukanya berlarut-larut melewati lamunan lebih dari seratus hari lamanya hingga kini? Katanya memang tidak ada waktu yang cukup untuk berduka, tapi nyatanya duka tidak pernah berakhir. Mmm sepertinya duka adalah sisi lembekku saat ini. Yaa kehilangna anak kembar yang diidam-idamkan selama ini menjadi lubang kecil yang menciptakan sisi lembek pada diriku. Tidak begitu besar namun nyaris kopong seluruhnya.
Aku mungkin sesekali terhibur, namun seringkali menghibur diri agar tidak nampak aku kewalahan menahan duka-dukaku. Karena orang lain tidak memiliki kewajiban untuk memaklumi semua tangisanku. Meskipun aku tau perasaanku valid dan aku ingin divalidasi, tapi mereka tidak perlu untuk terus menerus iba atau mengerti "kehilangan" ku.
Akupun berpikir, aku yakin dibawah sana ada banyak orang yang porsi syukurnya tidak pernah habis meski dihantam berkali-kali pilu. Aku terlalu berisik saat kewalahan, lupa sama sekali kalau Tuhan memberikan segala untuku. Kala itu aku akan malu. Tapi sekali lagi porsi syukurku belum sebanyak itu.
Angin dari atas gunung memang seperti ombak menenangkan, sekaligus mencipta kembali ingatan-ingatan yang ingin dilupakan atau harapan-harapan yang belum diwujudkan. Aku ingi lompat, pada hamparan pepohonan yang menggelar seperti permadani atau pada lautan awan yang nampak lembut dan empuk seperti kasur baru di rumahku.
Menapaki jalan-jalan di gunung memang melelahkan tapi sekali lagi aku jadi paham perjalanan. Mungkin gunung seperti aku terbuat dari kerikil kerikil kecil awalnya. tapi aku termasuk gunung yang tidak akan meledak, sudah non aktif.
Hahahaha
Aku masih berduka, kehilangan Nala dan Niskala.
Baru kali ini dibentak sampe susah nafas
Jurnal syukur mas adi hari ini
1. Bisa bangun pagi
2. Bisa bekerja
3. Bisa makan baso pasar cibogo
4. Bisa jalan kaki
5. Bisa bernafas
6. Diberikan kesehatan sama Allah
7. Diberikan rezeki sama Allah
8. Bisa ngisi bensin
9. Bisa minum kopi yang enak
10. Bisa makan enak
Dibelahan semesta yang lain, ada diriku yang tak perlu memendam tangisnya yang tertahan
Ialah ibu yang sunyinya ia urai sendirian
Ialah ibu yang bahagianya diam-diam ia rayakan
Ialah ibu yang tangisnya bulat-bulat ia telan
Ialah ibu yang lelahnya ia hembuskan
Ialah ibu yang sakitnya ia sering abaikan
Iya ialah ibu, yang masih mendekap erat isaknya meski lara hati ia padamkan
Yaa, ialah ibu yang meski anaknya tumbuh besar berlarian ia masih memerhatikan dari kejauhan.
Abainya acapkali hanya ungkapan khiasan
Nyatanya kasih sayangnya sering tak dinampakkan.
Ya ialah Ibu, yang perginya pun harus penuh kekhawatiran.
Di tempat lain di belahan semesta lain ada diriku yang lain yang tidak perlu lagi mengendap-ngendap untuk merindu
Bukan gagal, mungkin di mata Tuhan kamu justru akan mengalami banyak hal buruk jika kamu berhasil sekarang. Setiap orang punya waktunya masing-masing. Mungkin kamu perlu berjalan sedikit lebih jauh lagi.
Jeda
isi kepalaku beberapa kali terjeda, sesekali meratapi semesta. ada yang berangsur berubah katanya. nyatanya hanya mengikuti alur semesta. isi kepalaku berkali-kali terjeda, ingatan sedikit demi sedikit memuai namun bukan melewati kata. pada prasangka-prasangka di kepala yang tak usai jua.
kata mereka aku banyak bermuram durja, menurutku mereka tak paham menjeda kepala. diam tanpa banyak berkata-kata. aku perlu jeda dari hiruk pikuk isi kepala, menanggalkan ribuan bahasa membiarkan ribuan kata berlalu begitu saja. sepi, kepalaku tenang rasanya berhenti tahu segala yang tidak aku perlu. aku tidak perlu tahu yang bukan kebutuhanku.
... sering sekali gelisah datang tanpa aba-aba, merambat hingga aku yang besar ini merasa teramat kecil. Sampai-sampai aku lupa kalau aku tetaplah aku yang besar dan harus banyak sekali bersyukur hingga terkagum-kagum. Kali ini tidak imbang, aku rasa gelisah lebih banyak tapi tiap kali membanyaak gelisah itu, isi kepalaku seperti diputar kembali hal-hal yang mewajibkan aku untuk bersyukur. Suami yang sepulang ia kerja tidak pernah absen mengepel dan mencuci piring usai aku masak, mengingatkanku untuk selalu minum air putih yang banyak, memelukku ketika aku butuh untuk didekap, mengelus kepalaku saat aku lelah dan sesak. Baik sekali Allahku, sedemikian rupa nikmat untukku. Tapi aku malah gelisah perihal hal-hal yang tak tentu, kepalaku bianglala warna-warni tapi lama kelamaan pusing juga. Maaf ya diri, esok aku lupakan segala ekspektasi diri ini dan mengontrol kembali diri ini dalam pusaran. Terimakasih ya diri sudah hidup dengan baik, beribadah dengan kenikmatan, banyak berjalan kaki, yoga dan makan-makanan yang sehat dan bergizi. Maapkan diri ini yang mudah terlena, aku ingin kembali kepada diri yang semestinya. Mencintai diri dengan sebaik-baiknya, mengasihinya dengan banyak-banyak kebaikan. Maapkan aku terlalu keras dan banyak ngeyel. Aku mampu aku bisa lebih dari saat ini.
... i just want to be me, im mine. Not the other expectation.
... No need to heal my self, acepptence was great i guess.
... Selamat ulang tahun suamiku sayang, semoga kamu diberi keberlimpahan kesehatan rizki dan segala hal baik sepanjang usiamu, bahagia selalu dan bertumbuh jadi pribadi yang lebih baik setiap saatnya. Dan segala doa-doamu diaamiinkan sama Allah. Aamiin yaa robalalamiin