Bulan depan adalah wedding anniversary bapak dan mamak yang ke tiga puluh lima. Alhamdulillah, hadza min fadli Rabbi. Melihat mereka menua bersama hingga kini, menjadikanku banyak belajar, kami sama-sama menyadari bukan keluarga yang sempurna, namun dari mereka aku belajar banyak tentang kehidupan.
Salah satu hal yang aku syukuri. Alhamdulillah, sejak kecil hingga dewasa belum pernah sekalipun bapak memukul mamak, tidak pernah terjadi kekerasan di keluarga kami. Bahkan kepada kamipun tidak pernah ada kekerasan fisik.
Bapak tegas, disiplin sedangkan mamak halus, dan tertata. Aku mungkin tidak tahu berapa ribu kali mereka saling memaafkan. Ya saling memaafkan, dulu aku mengira keluargaku bukanlah keluarga ideal, serba kekurangan ini dan itu. Tapi nyatanya dewasa ini aku baru memahaminya, bahwa bapak adalah orang tua yang jujur, ia tidak pernah berbohong pada kami. Bila tidak ada uang bapak akan bilang sejujurnya, bila ada bapak juga akan mengatakannya.
Dulu aku selalu sebal jika aku minta sesuatu bapak selalu bilang "nanti kalau ada uang". Tapi ternyata aku tau sekarang, bahwa bapak tidak akan mengabulkan sekedar keinginan namun kebutuhan. Suatu waktu selepas bekerja bapak pulang membawa sepatu baru karena tau sepatuku jebol, meskipun aku belum sempat meminta, cuman pernah melihatku terjatuh saat seleksi lomba lari karena sepatu sudah licin.
Mamakku adalah ibu siaga, ibu penyabar, ibu yang selalu mendukung mimpi anaknya tanpa tapi. Bahkan sampai dewasa ini, mamak tidak sekalipun meminta uang pada anaknya meskipun kondisi sesulit apapun.
Hingga aku usia dua puluhan, belum pernah sekalipun keluarga kami berwisata bersama, karena itu belum masuk dalam budget keluarga kami. Bapak lebih mementingkan sekolah dan kebutuhan rumah, juga kehidupan bermasyarakat. Sebagai gantinya bapak beli televisi sebagai hiburan satu-satunya di keluarga kami kala itu.
Lagi-lagi tentang memaafkan, bapak yang keras, tetap luluh jika kami bermusyawarah. Namun kami selalu diberikan konsekuensi atas pilihan kami. Bahkan pekerjaan rumah, tidak ada budaya patriarki sama sekali. Bapak tetap membantu mamak, baik masak, maupun mencuci dan sebaliknya mamak juga begitu.
Lagi dan lagi aku selalu mendapatkan pengingat, bahwa pernikahan bukan dibangun atas cinta semata. Namun kesiapan untuk tumbuh bersama, saling menerima dan memaafkan bila kemudian tak sepaham.
Bahkan aku melihat mereka tetap romantis dengan caranya, semarah-marahnya mamak, beliau tetap menyediakan makan untuk bapak. Begitupun bapak, bila mamak kelelahan bapak tak akan mengusik istirahatnya. Juga tak jarang gantian menyelesaikan pekerjaannya. Sekali lagi bapak mamak bukan manusia yang sempurna. Tapi oleh merekalah kami ditempa untuk senantiasa merasa cukup dan juga tidak pernah menyalahkan takdir.
Baarakallah Fiikum Pak Mak 🤍 Semoga anak-anakmu mampu melanjutkan kebaikan yang telah engkau semai.
Jum'at, 6 Agustus 2026 | Ditulis seusai menyantap makanan yang dibawa bapak dari pengajian.