-Rahasia Pembinaan Terbaik-
Beberapa waktu lalu, ada pertanyaan menarik yang membuatku jadi ingin berbagi; terkait pembinaan. Bagaimana kita menjaga hubungan dengan orang2 di sekitar kita (khususnya dalam organisasi)?
Qadarullah, aku pernah diamanahi sebagai korwat (koordinator akhwat) di sebuah organisasi dan komunitas sosial. Tugasnya menjaga internal, mengayomi, membina, mendidik, dan yang paling penting; aku bertanggung jawab atas moral adik-adikku. Aku ingin berbagi pelajaran tentang apa yang aku dapatkan selama itu;
Disclaimernya adalah; aku anak sastra. Aku hobi membaca, menulis dan berdiskusi. Aku ekstrovert 94%. Caraku mengekspresikan rasa peduli adalah dengan kata-kata dan tindakan.
Nah, salah satu rahasia pembinaanku selama ini adalah: dengan tidak adanya perbedaan gap/kesenjangan/power/status sosial.
Aku mengilmui ini dari sebuah teori di kelas cultural studies. Symbolic Violence namanya, dari temuan Pierre Bourdieu - seorang sosiologis, antropologis dan antropologis Perancis. Singkatnya, symbolic violence adalah kekerasan simbolik, yaitu kekerasan nonfisik yang terwujud dari perbedaan power (kekuatan/kelas sosial) dalam sekelompok orang. Contoh kecilnya adalah ketika kita merasa tidak nyaman berada di lingkungan yang kita rasa levelnya berada diatas kita. Baik itu dalam bidang intelektual, sosial, fisik, finansial, atau apapun itu.
Nah, salah satu rahasia besar pembinaan versiku adalah tidak adanya perbedaan status sosial. Singkatnya, ga beda-bedain orang dan semuanya sama. Perbedaan capital (kemampuan dan kepemilikan) yg dimiliki setiap orang bisa beda2, itulah yg menciptakan habitus (kebiasaan yg berasal dari ilmu dan pengalaman yg didapat) yg berbeda. Ini teori sederhananya.
Singkatnya, the more capital you have, the more powerful you are. Semakin tinggi kapitalmu, semakin kamu kuat (posisinya). Makanya orang2 yg tidak bisa memenuhi suatu level dalam circle, akan merasa teralienasi dan ga nyaman. Itu menciptakan kelas-kelas. Superior dan inferior. Yang inferior lama2 bisa pergi karena kurang nyaman. Jadi intinya, jaga semuanya jadi 1 kelas. Ajak ngobrol semua. Jangan dibeda-bedain meskipun pada dasarnya mereka emang beda. Dari personality, keahlian sampai ke jabatan/status sosial. Perlakukan sama, baik dari kamu sendiri maupun orang lain ke sekitarnya. Apalagi kalau kamu orang yg punya jabatan tinggi disitu, kamu didengar dan dihargai, manfaatkan itu sebaik-baiknya untuk bisa merekatkan semuanya. Jangan pilih-pilih memberikan perhatian lebih. Banyak orang punya intuisi yang bagus, jadi jangan main-main dengan perasaan orang lain dan tuluslah terhadap orang lain, terutama dirimu sendiri.
Ada satu lagi pertanyaan menarik dari seseorang yang berprinsip; "Kalau ada staff (organisasi) yang kerjanya ga bener, ya tinggal ganti aja."
"Seberapa penting sih bonding itu? Why can't just be professional?"
Tulisanku dibawah ini adalah jawabanku padanya, dengan sedikit adaptasi tentunya.
"Mubazir aja kalo hubungan hasil kerja bareng setahun trus hilang gitu aja kalau udah demis.
Aku bahkan gamau yg ngasih semua perasaan emosiku ke mereka kalo lagi kesel, paling kalo ada yg ga sesuai hati gitu tak nasehatin pake emot :') dan aku sering recehin di grup maupun chat personal.
Rasanya kayak gapapa mereka tau ambyarku, disamping tau valuesku. Kayak gitu malah lebih genuine daripada kabid wakabid yg keliatan baik terus tapi suka nyuruh2 doang ga ngertiin kondisi psikologis/kesibukan anak2nya.
Jadi aku gamau terlalu keras sama adek2ku. Kalo ada yg ga sesuai, gak yg tak confront secara judgemental gitu. Tapi ditanyain dulu. Baru kalau ada orang yang kita tahu ternyata kurang bertanggungjawab dan santun, baru ditegasin. Namun kuncinya tetap ukhuwah diatas segalanya. Jangan sampe yg ga aktif dijulidin, disuudzonin dll. Kita gatau yg terjadi di belakang mereka. Selama mereka udah percaya ke kita dan kita bisa percaya ke mereka. Proker yang beratpun akan jadi ringan.
Jadi eman-eman aja kalo hubungan rusak cuma gara-gara organisasi. Toh aku udah bersyukur banget mereka mau bantuin aku disini, titipan Allah yg harus aku jaga. Karena sekalinya ada yg sakit hati atau merasa ga nyaman, pasti mereka bakal pergi atau ghosting. Mungkin bakal beda treatmentnya nanti kalo aku jadi leader di professional work yang digaji, tapi tetep aja. Keterikatan emosional dengan anggota kita itu penting, juga sampai menciptakan sifat saling percaya. Itu ga sebentar dan butuh integritas yang tinggi.
Disamping itu, kalo mau liat dari perspektif biologis gender, memang perempuan itu fitrahnya ngebina, caring, nurturing dan fokus ke internal. Beda sama cowo yg harus leading, sheltering, dan lebih bisa fleksibel kalau ke eksternal.
Makanya ga heran, wakil/sekjen/hal pembinaan kultural biasanya perempun lebih jago. Karena pembinaan tu pasti gabisa jauh2 dari sifat keibuan, yang penyayang, lembut tapi juga bisa tegas, dan suka sacrificing atau mengorbankan diri buat anak2nya. Terakhir, bukti kalo mereka udah terikat emosionalnya sama kita, adalah mereka mau cerita hal-hal pribadi mereka ke kita, atau mereka ga sungkan buat nunjukkin sisi ambyarnya ke kita.
Boleh banget kalo ada yg mau ngajak ngobrol terkait pembinaan, HRD, atau yang lain ya. Bisa dm ke sini atau ke instagram @lusianafery. Terima kasih.