Awan agak malu-malu menunjukkan warna abunya siang itu. Tidak biasanya suasana siang hari segalau ini, mendung. Mungkin mewakili keadaannya yang sendiri. Sejak pagi ia memang tidak berhasrat untuk mengajak kawan-kawannya.
Alah paling mereka sibuk. Sendiri aja, deh... pikirnya. Sebesar apa pun keinginannya untuk sendiri, ia tetap merasa kesepian. Mengapa di hari yang panjang ini tidak ada seorang pun kawan yang menyenangkan untuk barang diajak bercanda? Sepi, sepi itu sedih katanya. Ketika ia ingin sendiri, orang lain berbondong-bondong datang menghampirinya. Tapi, ketika ia ingin bersama dengan para sahabat, mereka semua pergi entah dengan urusannya masing-masing. Ah, hidup memang tak sekadar pertemanan.
Ia lapar. Dari kemarin terbayang-bayang semangkuk besar ramen di warung Jepang favoritnya. Siang itu ia paculah sepeda motornya kesana. Dua puluh menit kemudian ia sampai.
Jam-jam satu begini biasanya rame, nih...
Bahkan ia bingung harus memarkirkan motornya di mana. Untunglah seorang tukang parkir menunjukkan sebuah garasi untuk menyandarkan motor Hondanya itu. Kemudian ia berjalan masuk ke dalam warung. Ah, belum.. belum sampai masuk. Ia baru sampai di depan pintu, tapi seorang pramusaji yang mengenakan jilbab pink menghampirinya dengan sebuah daftar menu dan selembar kertas pesanan di tangannya.
“Mbak, mau nunggu sebentar nggak? Ini penuh soalnya,” kata pramusaji bertubuh mungil itu. Ia sejenak melirik jam. Sok sibuk.
“Aduh, masih lama nggak, Mbak?” tanyanya. Sebenarnya ia tidak sibuk, ia hanya sudah lapar. Sangat lapar.
“Ya, nggak tau juga. Tapi ini penuh, Mbak… tunggu sebentar, ya?” ucap pramusaji itu lagi.
“Iya, tapi masih lama nggak ya?” ia masih ragu. Ah, susahnya mengucapkan ‘Iya, saya tunggu.’ Mungkin memang hasrat orang kelaparan.
Kemudian, di sampingnya juga baru datang seorang pengunjung. Perempuan, berjilbab, dan sendirian.
“Mbaknya, nunggu sebentar juga, ya?” kata pramusaji kepada pengunjung yang baru datang itu.
“Oh, iya, Mbak. Atau mbaknya mau bareng aja? Sendiri juga, kan?” Tanya pengunjung itu padanya. Ya, ia memang sendirian. Kesepian.
“Emm… Iya, tapi nanti aku sama adikku,” jawabnya.
“Oh, ya udah. Tunggu aja sebentar,” sahut pengunjung itu.
Mereka pun duduk di sofa samping pintu. Siang itu warung Jepang memang penuh, apalagi ini hari Sabtu. Warung yang memiliki menu andalan ramen ini menjadi favoritnya karena memang murah dan rasanya luar biasa lezat. Banyak pelajar dan mahasiswa yang mengunjungi warung ramen ini. Sepuluh ribu rupiah untuk sebaskom ramen hangat itu memang pas di kantong kalangan tersebut. Dengan dekorasi yang juga ala Jepang, warung yang sebetulnya merupakan bangunan rumah ini tak pernah sepi. Meski ruangannya sempit dan pasti ramai, para pengunjung yang mengantri akan selalu bersabar menunggu di luar.
“Emang sering kesini, Mbak?” tanyanya kepada pengunjung yang sama-sama menunggu itu. Pengunjung itu mengangguk sembari tersenyum. Katanya, warung ini juga menjadi tempat makan favoritnya. Kalau sedang stress dan ingin makan, ia akan lari ke sini.
“Temen-temenku nggak ada yang mau diajak, pada nggak suka. Jadi, ya udah, deh sendirian, hehe..” ujar pengunjung yang bernama Ayu itu. Ah, ternyata nasibnya hampir sama dengannya. Tidak ada teman yang bisa diajak, jadi memutuskan untuk pergi sendiri saja. Hampir sama. Hampir sama.
Ayu, mahasiswi juga seperti ia, satu angkatan, asli Kalimantan Timur. Entah apakah Tuhan mendengarkan keluh kesahnya atau bagaimana, hari itu juga Tuhan mengirimkannya seorang teman. Teman baru. Tak terbacakan bagaimana hatinya yang begitu bahagia mendapatkan teman baru.
Seperti mendapatkan lensa baru, haha… pikirnya.
Sekitar lima belas menit kemudian, Ayu dipanggil masuk. Ayu mengajaknya juga, mengajak semeja. Akhirnya, mereka masuk juga ke warung, tinggal menunggu pesanan datang. Dan dimulailah pertemanan itu. Pertemanan untuk yang pertama kali dan ia harap tidak juga berakhir sampai nanti mereka kembali masing-masing memacu motor.
Klise awalnya. Tanya nama, mahasiswi di mana, angkatan berapa. Mengulang perbincangan tadi di depan. Kemudian lama-lama mereka saling bertukar kisah di masing-masing tempat tinggal, yang di sana dan di sini. Sedikit dan perlahan mulai memasuki perbincangan ke pengalaman pribadi, keluh kesah kuliah, keluh kesah menjadi mahasiswi rantau.
Ini tak pernah disangkanya. Hari itu ia baru benar-benar percaya setelah selama delapan belas tahun hidup bahwa Tuhan memang benar-benar Maha Adil. Bagaimana tidak? Kau tahu hari itu ia benar-benar sendiri, gundah gulana tak ada kawan yang bisa menemaninya berpulang di sini, bahkan hanya untuk makan sekali pun. Kemudian siang itu Tuhan mengirimkan seorang teman kepadanya. Teman baru, benar-benar baru dikenalnya, benar-benar baru bertemu. Betapa Tuhan itu Maha Baik, kawan. Kau harus percaya itu.
Hari itu pun Tuhan juga dengan sengaja membuka pikirannya. Tak berteman itu sepi, menyedihkan. Entahlah apa yang membuatnya tidak bisa percaya lagi kepada semua kawan-kawannya di kota kelahirannya ini. Ia merasa semuanya sudah sibuk sendiri sehingga mungkin tidak ada waktu sama sekali untuknya, maka dari itu ia menyerah dan membiarkan mereka tetap pada kesibukan masing-masing. Klise, ia tidak ingin mengganggu kesibukan itu. Tapi tetap saja ia tidak percaya kepada mereka bahwa mereka masih mengingatnya sebagai kawan. Lantas Tuhan murka dengan anak yang sombong ini. Yang membuatnya tak berkawan hari ini adalah ketidakpercayaannya kepada kawan, maka hari ini dikirimilah ia seorang kawan baru untuk membuatnya percaya, bahwa kawan baru ini harus dijaganya agar pertemanan itu tak berhenti sampai hari ini saja.
Memiliki teman adalah tanggung jawab. Menjadi teman adalah tanggung jawab. Akhirnya ia mengerti dan menyesali ketidakpercayaan itu. Sejak hari itu ia berusaha tersenyum setiap hari dan menyapa kawan-kawannya melalui media sosial dan pesan singkat.
Setidaknya aku menyapa mereka, tahu kabar mereka. Sesibuk apa pun aku dan mereka, aku harus tetap percaya bahwa mereka adalah teman-temanku dan membuat mereka percaya bahwa aku masih teman mereka. Aku janji tidak akan melupakan mereka. Ujarnya.
Ayu, seorang teman baru, anugerah terindah dari Tuhan siang itu.
Dua jam sudah mereka di sana. Berbincang banyak sembari menanti hujan reda. Lantas sudah waktunya berpisah. Ayu akan pulang ke rumahnya di Kalimantan malam ini. Sebelum berpisah, Ayu berkata, “Lain kali main, yuk… kemana gitu,” sambil tersenyum.
“Sipsip! Pasti, kalo pas aku di sini ya, hehe… Hati-hati di jalan, jangan lupa oleh-oleh,”
Sudah selesai pertemuan hari ini. Masing-masing mereka memacu motornya, saling melambaikan tangan. Dan terakhir ia berharap agar ia bisa berjumpa lagi dengan Ayu, teman baru.