Diawali dari kehidupan sebagai maba, yang masih butuh penyesuaian di sana sini untuk melepas status siswa menjadi mahasiswa. Awalnya susah. Tempat tinggal baru, kebudayaan baru. Tugas ospek dan kegiatan ospek yang wow. Tiga hari yang super hectic. Berkenalan dan bertukar nomor HP jadi hal yang mainstream. Ospek fakultas menjadi yang paling berkesan dibandingkan dengan ospek universitas ataupun ospek jurusan. Sampe satu kelompok punya basecamp buat ngerjain tugas dan hari kedua pada ngga tidur dan ngga mandi demi ngga telat biar dapet predikat kelompok terbaik (walopun pada akhirnya gagal). Tapi momen ospek bakal selalu terkenang, karena di situlah kita ketemu temen-temen kuliah pertama kita. Dan jadi solid banget buat beberapa bulan ke depannya sampe kita nemuin temen-temen sejurusan.
Perkuliahan. Sangat berbeda dari sekolah. Tugas yang menumpuk, tugas yang susah dan aneh, nilai yang terkadang juga tergantung sama dosen, dosen yang macem-macem karakternya, jam kuliah malem, presentasi, praktikum 0 SKS, kuis, UTS dan UAS. Sukses banget bikin hidup jungkir balik. Begadang udah jadi kebiasaan ditemenin sama kopi, laptop dan kertas folio bergaris. Masuk di semester tua, mulai mempersiapkan magang dan skripsi. Rasanya masih ngga rela buat meninggalkan kehidupan semester menengah karena beratnya beban semester tua. But we don’t have any choice, except to accept this. Finally dapet tempat magang di KAP. Ternyata kerja itu berat. Sebulan di sana itu membetah-betahkan diri. Dan aku juga agak ngga fokus magang karena waktu itu aku tengah mengerjakan sebuah proker yang cukup besar di fakultas. Setelah sebulan magang, aku fokus terhadap proker dan meninggalkan sejenak laporan magang dan proposal skripsi. Sampai pada akhirnya prokerku selesai, dan aku mulai menyelesaikan laporan magang. Dan di bulan Januari aku baru memulai skripsiku. Puji Tuhan aku mendapat pembimbing yang baik dan selalu menyempatkan waktu untuk bimbingan. Sehingga skripsiku bisa selesai dalam waktu empat bulan. Sidang kompre aku lewati dengan sakit typhus. Tapi Tuhan ngga akan memberikan pencobaan yang melebihi batas kekuatan kita. Sidang kompre lancar, revisiannya yang seret. Butuh waktu lama untuk menyelesaikan revisian skripsi sampe baru bisa daftar yudisium di detik-detik akhir.
BEM. Organisasi yang aku putuskan untuk aku ikutin selama menjadi mahasiswa. Organisasi yang banyak banget ngajarin aku tentang kehidupan. Dan kalo aku boleh bilang, kehidupan di organisasi ini yang bikin kuliahku jadi berwarna banget. Aku ketemu orang-orang yang inspiring, that makes me to do so. Setumpuk proker yang aku ikutin bikin aku belajar kerja tim. Menghadapi orang-orang yang bermacam karakter. Belajar menjadi pemimpin yang baik. Belajar berpolitik. Belajar menjalani kehidupan dengan optimis namun realistis. Belajar manajemen waktu karena harus menyeimbangkan akademik dan organisasi. Ketemu channel baru. Mengasah kemampuan berkomunikasi. Becoming deadliners. Pergi pagi pulang pagi. Jadi kura-kura, kuliah-rapat kuliah-rapat. Ngurusin orang lain sampe lupa ngurusin diri sendiri. Belajar making decision dan risk assessment. Belajar menjadi dewasa dengan bertanggung jawab atas semua perbuatan yang sudah kita putuskan. Ngga menyombongkan diri karena kita dididik bahwa ilmu yang kita punya ngga berarti apa-apa kalau belum bisa kita manfaatkan untuk bangsa dan orang-orang di sekitar kita. Semuanya aku dapet di sini. Walopun tiap hari stress dengan beban pekerjaan yang ada, tapi aku bahagia di sini. Aku ketemu temen-temen yang bisa jadi keluarga, yang selalu bisa diandalkan. Berjuang bareng-bareng untuk fakultas yang lebih baik, menjadikan pressure untuk mempersolid tim. Aku banyak mengalami proses dan ujian hidup di sini, dan karenanya, aku jadi orang yang seperti sekarang. Mandiri, rasional, tough dan hard worker.
PMK. Organisasi kerohanian yang juga aku ikutin. Seneng bertemu teman-teman yang seiman, dengerin Firman Tuhan bareng-bareng dan pelayanan. Banyak hal yang ngga aku dapet di gereja tapi aku temuin di sini. Tapi untuk kehidupan organisasinya sih ngga bisa dibandingin sama BEM ya. Di sini aku belajar untuk lebih tulus lagi dalam mengerjakan apapun dihidup ini. Kalau dari awal kita setengah-setengah, mending ngga usah sama skali. Karena seterusnya bisa jadi kita ngga enjoy dan tersiksa sendiri. Bisa juga malah menjadi batu sandungan buat orang lain.
Love life? Ya aku bertemu dua orang yang cukup menarik hati selama di kampus. Tapi sayang semuanya harus berakhir dengan pertemanan. Tapi setidaknya dengan bertemu mereka, aku juga belajar banyak. On the first man, aku belajar jadi orang yang tenang, karena dulu dia yang selalu menenangkan aku di tengah hectic nya proker. Setelah aku ditinggal, mau ngga mau aku harus berdiri di kaki sendiri. Tetep jadi orang yang tenang walaupun ngga ada yang mengingatkan. Selain itu karena aku orangnya overthinking, dia juga yang selalu mengingatkanku untuk make things simple. Dan sepertinya sebelumnya, setelah aku ditinggalkan aku berusaha make things simple on my own. Kita kenal waktu aku masi maba dan dia udah lulus. Setelah itu kita deket dua tahun setelah kita kenal. Dan di tahun itu pula kedekatan kita diakhiri. Kemudian tahun depannya dia memutuskan untuk menikah. It’s my first time, ngerasain ditinggal nikah. Lagian ngga bakal bisa dibawa kemana-mana juga hubungannya karena kita ngga seiman. Then, the second man, ngga terlalu berkesan seperti yang pertama sih. Lebih ke cinlok. Dan belum ngapa-ngapain, dianya udah jadian sama cewek lain. Masi masuk fase sepik-sepik, udah harus diakhiri aja. Awalnya karena baper sih, dia mirip seseorang di masa lalu. Terus karena seiman, aku doain dan aku berniat mau ngedeketin. Tapi ya gagal karena dia udah jadian duluan sama cewe lain. Ngga seiman pula cewenya, pengen aku doain biar cepet putus aja, hha. Dan susahnya adalah kita lagi ada proker bareng. Awalnya males banget buat ketemu, tapi karena masalah kerjaan ya mau ngga mau harus profesional. Sampe akhirnya pun aku udah ngga ada feeling apa-apa lagi.
That’s my resume during becoming a student in last 4 years. I’m counting my days to graduation day now. It’s been a long journey. Thanks God for this amazing years. I thank You I could been here, that was a big grace. I’m not going to regret every single moment that I’ve been through. I learned so much here. Memang ada momen-momen dimana aku kecewa sama Tuhan, kenapa aku harus ada di jurusan ini, kenapa aku tidak bisa menjabat posisi yang aku inginkan dan harus terjebak pada posisi lain. Tapi sampai pada akhirnya aku mengerti bahwa rencana Tuhan lebih baik dari rencana kita. Aku mendapatkan semua yang aku impikan selama aku menjadi mahasiswa. JalanNya memang tidak terselami, selama aku menapakinya bener-bener ngga mengerti. Dan ketika semuanya selesai, baru aku paham dan amaze sama semuanya. Beriman itu emang ngga gampang, tapi berusahalah tetap percaya bahwa semuanya akan indah pada waktunya. Selamat berjuang untuk kawan-kawan mahasiswa! Jangan sia-siakan waktu kuliah kalian, jangan hanya belajar di kelas, lakukan sebanyak mungkin yang kalian bisa, push yourself beyond your limit, is the only way to know yourself. High risk, high return! God bless you, reader :)