Saya pernah sakit panas dingin dan sakit perut karena keasyikan menulis. Saya mulai menulis dari setelah Isya' sampai jam 2 malam. Ya.. 6 jam persis saya berada di depan laptop, dengan ditemani secangkir kopi dan tanpa camilan.
Di jam 11 malam sebenarnya perut saya rasanya sudah merasa gusar dan butuh diisi ulang sesegera mungkin. Tetapi saya malah keasyikan menulis, dan merasa bodo amat dengan tubuh saya yang mulai ngedrop itu.
Pukul 1 malam, perut saya sudah mulai terasa sakit, sayapun harus segera mencari makan. Maka, berangkatlah saya menuju penjual tahu tek langganan saya dengan mengendarai sepeda motor.
Dari kejauhan sepertinya sudah tak ada lagi gerobaknya, tapi saya tak percaya begitu saja, mungkin saja pengelihatan saya yang salah.
20 meter, 15, 10 meter, benar saja, pak lek penjual tahu teknya sudah tak lagi berada ditempat, alias sudah kukut. Saya harus mencari alternatif lain.
Putar balik ke perempatan!!.
Yha.. alternatif itu tetap tahu tek dekat masjid tempat saya menulis di malam itu. walaupun harganya agak mahal dari langganan saya dan rasanya kurang mantull, tetapi tak mengapa, dari pada malam itu saya kena mag, kan repot jadinya.
Seusai membeli, saya langsung menyantapnya dengan penuh nafsu yang menggebu. Dan setelah itu, saya berangkat tidur.
Entah kenapa pada malam itu perut saya masih saja terasa sakit karena terlambat makan dan tiba-tiba suhu tubuh saya berubah drastis. Tubuh saya sangat menggigil, panas-dingin. Otomatis saya tak bisa tidur, dan harus menahan rasa dingin yang menusuk itu.
Saya berpikir, mungkin dingin ini dihasilkan dari kipas angin yang menyala, saya pun segera mematikannya dan kembali tidur, masa bodoh dengan kawan-kawan saya yang sedari tadi nyenyak dalam tidurnya.
...dingin itu tetap saja menusuk tulang dan tubuh yang semakin ringkih ini. Sialan!, padahal, semua kipas angin sudah kumatikan semua.
Mau tak mau, saya harus menahannya sekuat mungkin. Hingga akhirnya..
"Bangun.. bangunn.. bangun..
Aayo baangun.." Sembari menepuk-nepukkan tangannya.
Saya tau suara khas itu, suara bapak tua yang sudah lama kami kenal. Belio selalu membangunkan kami, tepat sebelum adzan shubuh berkumandang.
"Ya Allah.. cepat sekaali waktu berlalu, lihainya waktu menipu. Kenapa tadi aku tidak tidur di lantai dua saja sih?!!" Batin saya, sembari mengusap-usap wajah yang berminyak.
Dengan sedikit agak kesal tentunya. Tetapi tak mengapa, setidaknya ini pertanda bahwa pak tua masih peduli terhadap kami, yang terkadang susah bangun jika sudah tidur terlalu larut.
Saya pun mengambil air wudhu, dan ketika air menyentuh tangan. Rasanya sungguh diluar dugaan, air itu sangat dingin, tidak seperti biasanya. Dingin air itu seperti air pegunungan. Saya hampir tak kuasa menahannya. Mungkin ini karena tubuh saya yang terlampau mengigil. Air yang tadinya biasa saja, berubah menjadi sangat dingin.
Seusai wudhu, qomat dikumandangkan.
Di raka'at pertama, sebenarnya saya sudah tak kuat, seperti mau roboh saja bandan ini. Kaki saya tak lagi punya kekuatan untuk menopang tubuh ini.
Dari pada pingsan ditengah-tengah jama'ah, dan menjadi pusat perhatian, saya memutuskan untuk keluar dari barisan. Dan langsung menuju kamar lantai dua.
Di sana, saya langsung mencari selimut, sarung atau apalah yang bisa menghangatkan tubuh ini. Sebab, tas saya yang berisikan sarung dan hand phone tertinggal di bawah. Saya pun menemukan jaket hitam tebal, entah milik siapa, yang penting bagaimana caranya saya bisa melalui masa-masa kritis ini.
Jaket itu pun langsung saya pakai, kemudian saya berbaring untuk meredakan rasa mengigil yang semakin parah.
Sebenarnya, saya suka dengan hawa dingin, dari pada panas. Saya lebih tahan dingin dari pada panas. Tapi, tidak dengan ini. Dimana hampir seluruh tubuh saya mengigil kedinginan, terutama bagian kaki dan tangan. Dan diperparah dengan permukaan tubuh bagian kening dan leher yang ternyata panas..!!
Duhh.. gustii, saakit kog dobel-dobel ginii..
Panas iya, dingin iya. Lengkap sudah penderitaan.
Ngapunten Gusti, kulo pun sambat dumateng urip niki..
Sembari, mengemuli diri saya dengan jaket. Saya mencoba untuk sholat shubuh dengan berbaring, sebelum itu tentu saya harus bertayamum, sebagai syarat sahnya shalat.
Dan kemudian saya mencoba kembali memejamkan mata untuk tidur dengan nyenyak, walau badan ini masih mengigil.
Saya pun bisa tertidur, dan bangun di jam delapan pagi. Keringat bercucuran, saya tak lagi merasakan sakit, ya.. walau perut masih perih sedikit, tapi tak mengapa. setidaknya, rasa mengigil itu sudah pergi.
Dari sini saya menyadari bahwa, apapun yang kita kerjakan dengan hati dan dengan perasaan gembira, maka rasa sakit, nyeri, dan kantuk tidak akan terasa sama sekali. Sebab, sudah jelas, kita mengerjakan itu dengan gembira.
Sampai pada akhirnya, tubuh ini down dan harus diistirahatkan dalam tempo yang lumayan panjang.[*]