"Setiap perpisahan itu menyakitkan, jika kita tidak mengingat akan takdir."
Begitu kira-kira ungkapan Ibu. Ia berusaha menenangkanku saat luka mulai terasa perih. Yang ternyata tanpa diduga semakin hari semakin terasa sayatannya.
Jujur, percakapan malam itu dengan Ibu membuat diri tercengang. Tak kusangka ungkapan Ibu yang sederhana dan satu kalimat itu, begitu menyakitkan.
Setelah kurenungi lagi, benar kalimatnya. Sebaik apapun perpisahan dikemas, sebaik apapun selamat tinggal dirangkai, atau bahkan tanpa kejelasan sama sekali, perpisahan tetaplah perpisahan. Pastilah ada luka yang ditinggalkan.
Tetapi kali ini, aku akan menanggapinya berbeda. Aku akan lebih dewasa. Dengan menyadari, bahwa takdirlah yang membawa kita menjadi seperti ini. Sekeras apapun kita berjuang untuk tetap di jalan yang sama, menyamakan langkah agar tetap seirama, perpisahan tetap memenangkan perjalanan ini jika memang itu takdirnya.
Aku? Dan aku harus bisa menerimanya, agar tak merasa luka lagi, agar tak merasa sedih lagi, agar bisa tertawa lagi, agar tak mempertanyakan lagi mengapa akhirnya seperti ini. Sebab tidak ada yang bisa melawan takdir sekeras apapun kita mencobanya.
Yang tak ditakdirkan untukmu akan selalu menemukan cara untuk pergi.
Aku akan mencoba mengikhlaskan setiap perjalanan ini. Dimulai dari waktu yang lama yang dihabiskan, sesuatu berharga yang telah lama kutawarkan, cinta tulus yang kuberi, serta raga yang senantiasa hadir dalam masa yang tiada batasnya. Karena akan bagaimana? Sebab saat takdir yang berbicara, semua hilang kekuatannya.
Telah kumaafkan, kuucapkan terima kasih atas segala pengorbanan. Tidak ada yang benar dan salah. Tidak usah pula saling menyalahkan.
Ingatlah bahwa sejatinya, takdirlah yang membawa kita dititik ini.
















