Semoga kamu bahagia akupun juga 😊
hello vonnie
Xuebing Du
Peter Solarz
I'd rather be in outer space 🛸
No title available
i don't do bad sauce passes
Sade Olutola
cherry valley forever

izzy's playlists!

oozey mess
sheepfilms
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

JBB: An Artblog!
Cosmic Funnies
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
dirt enthusiast
$LAYYYTER

No title available
NASA
TVSTRANGERTHINGS

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States
seen from Dominican Republic

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye

seen from Canada
seen from Ecuador

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Italy
seen from Brazil
seen from South Africa

seen from United States
seen from Türkiye
seen from Australia
@kejoraaaa
Semoga kamu bahagia akupun juga 😊
Masih single bukan berarti belum bisa move on dari Masa Lalu loh ya.
Jangan dikira saat kamu datang kembali dengan menyuguhkan segala pahit-manis kenangan yang pernah dilalui aku bakal luluh kembali~
Tidak.
Aku sudah banyak belajar dari segala pahit-manis, bahagia-kecewa yang dilaluin, dan aku sadar banyak banget toxic relationship yang gak baik buat mental helath diri sendiri.
Jadi kalau aku jawab ala kadarnya kehadiran mu itu berarti aku sudah sembuh dari semuanya, merasa biasa tanpa ada rasa tersisa ☺️
Datanglah sekedar menyapa tanpa kembali menorehkan duka lara, dari aku yang pernah kau buat kecewa ☺️
Jogja, 13 September 2020
KEDEWASAAN EMOSI
Salah satu topik yang agak jarang diangkat di Indonesia adalah kedewasaan emosi (emotionally mature).
Yang saya lihat, kebanyakan orang di Indonesia beranggapan bahwa kedewasaan emosi ini akan berjalan seiring dengan umur.
Padahal, berdasarkan pengalaman diri sendiri, kalau nggak sering-sering dikulik, kita jarang sadar bahwa secara emosi, kita kurang dewasa.
Setidaknya, ada 20 tanda kedewasaan emosi seseorang, diantaranya adalah:
1. Sadar bahwa kebanyakan perilaku buruk dari orang lain itu akarnya adalah dari ketakutan dan kecemasan – bukan kejahatan atau kebodohan.
2. Sadar bahwa orang gak bisa baca pikiran kita sehingga akhirnya kita tau bahwa kita harus bisa mengartikulasikan intensi dan perasaan kita dengan menggunakan kata-kata yang jelas dan tenang. Dan, gak menyalahkan orang kalau mereka gak ngerti maksudnya kita apa.
3. Sadar bahwa kadang-kadang kita bisa salah – dan bisa minta maaf.
4. Belajar untuk lebih percaya diri, bukan karena menyadari bahwa kita hebat, tapi karena akhirnya kita tau kalau bahwa semua orang sebodoh, setakut, dan se-lost kita.
5. Akhirnya bisa memaafkan orang tua kita karena akhirnya kita sadar bahwa mereka gak bermaksud untuk membuat hidup kita sulit – tapi mereka juga bertarung dengan masalah pribadi mereka sendiri.
6. Sadar bahwa hal-hal kecil seperti jam tidur, gula darah, stress – berpengaruh besar pada mood kita. Jadi, kita bisa mengatur waktu untuk mendiskusikan hal-hal penting sama orang waktu orang tersebut sudah dalam kondisi nyaman, kenyang, gak buru-buru dan gak mabuk
7. Gak ngambek. Ketika orang menyakiti kita, kita akan (mencoba) menjelaskan kenapa kita marah, dan kita memaafkan orang tersebut.
8. Belajar bahwa gak ada yang sempurna. Gak ada pekerjaan yang sempurna, hidup yang sempurna, dan pasangan yang sempurna. Akhirnya, kita mengapresiasi apa yang 'good enough'.
9. Belajar untuk jadi sedikit lebih pesimis dalam mengharapkan sesuatu - sehingga kita bisa lebih kalem, sabar, dan pemaaf.
10. Sadar bahwa semua orang punya kelemahan di karakter mereka – yang sebenarnya terhubung dengan kelebihan mereka. Misalnya, ada yang berantakan, tapi sebenernya mereka visioner dan creative (jadi seimbang) – sehingga sebenernya, orang yang sempurna itu gak ada.
11. Lebih susah jatuh cinta (wadaw). Karena kalau pas kita muda, kita gampang naksir orang. Tapi sekarang, kita sadar bahwa seberapa kerennya orang itu, kalau dilihat dari dekat, ya sebenernya ngeselin juga 😂 sehingga akhirnya kita belajar untuk setia sama yang udah ada.
12. Akhirnya kita sadar bahwa sebenernya diri kita ini gak semenyenangkan dan semudah itu untuk hidup bareng
13. Kita belajar untuk memaafkan diri sendiri – untuk segala kesalahan dan kebodohan kita. Kita belajar untuk jadi teman baik untuk diri sendiri.
14. Kita belajar bahwa menjadi dewasa itu adalah dengan berdamai dengan sisi kita yang kekanak-kanakan dan keras kepala yang akan selalu ada.
15. Akhirnya bisa mengurangi ekspektasi berlebihan untuk menggapai kebahagiaan yang gak realistis – dan lebih bisa untuk merayakan hal-hal kecil. Jadi lebih ke arah: bahagia itu sederhana.
16. Gak sepeduli itu sama apa kata orang dan gak akan berusaha sekuat itu untuk menyenangkan semua orang. Ujung-ujungnya, bakal ada satu dua orang kok yang menerima kita seutuhnya. Kita akan melupakan ketenaran dan akhirnya bersandar pada cinta.
17. Bisa menerima masukan.
18. Bisa mendapatkan pandangan baru untuk menyelesaikan masalah diri sendiri, misalnya dengan jalan-jalan di taman.
19. Bisa menyadari bahwa masa lalu kita mempengaruhi respons kita terhadap masalah di masa sekarang, misalnya dari trauma masa kecil. Kalau bisa menyadari ini, kita bisa menahan diri untuk gak merespon dengan gegabah.
20. Sadar bahwa ketika kita memulai persahabatan, sebenernya orang lain gak begitu tertarik sama cerita bahagia kita – tapi malah kesulitan kita. Karena manusia itu pada intinya kesepian, dan ingin merasa ada teman di dunia yang sulit ini.
Written by @jill_bobby
Referensi: https://youtu.be/k-J9BVBjK3o
KEDEWASAAN EMOSI
Salah satu topik yang agak jarang diangkat di Indonesia adalah kedewasaan emosi (emotionally mature).
Yang saya lihat, kebanyakan orang di Indonesia beranggapan bahwa kedewasaan emosi ini akan berjalan seiring dengan umur.
Padahal, berdasarkan pengalaman diri sendiri, kalau nggak sering-sering dikulik, kita jarang sadar bahwa secara emosi, kita kurang dewasa.
Setidaknya, ada 20 tanda kedewasaan emosi seseorang, diantaranya adalah:
1. Sadar bahwa kebanyakan perilaku buruk dari orang lain itu akarnya adalah dari ketakutan dan kecemasan – bukan kejahatan atau kebodohan.
2. Sadar bahwa orang gak bisa baca pikiran kita sehingga akhirnya kita tau bahwa kita harus bisa mengartikulasikan intensi dan perasaan kita dengan menggunakan kata-kata yang jelas dan tenang. Dan, gak menyalahkan orang kalau mereka gak ngerti maksudnya kita apa.
3. Sadar bahwa kadang-kadang kita bisa salah – dan bisa minta maaf.
4. Belajar untuk lebih percaya diri, bukan karena menyadari bahwa kita hebat, tapi karena akhirnya kita tau kalau bahwa semua orang sebodoh, setakut, dan se-lost kita.
5. Akhirnya bisa memaafkan orang tua kita karena akhirnya kita sadar bahwa mereka gak bermaksud untuk membuat hidup kita sulit – tapi mereka juga bertarung dengan masalah pribadi mereka sendiri.
6. Sadar bahwa hal-hal kecil seperti jam tidur, gula darah, stress – berpengaruh besar pada mood kita. Jadi, kita bisa mengatur waktu untuk mendiskusikan hal-hal penting sama orang waktu orang tersebut sudah dalam kondisi nyaman, kenyang, gak buru-buru dan gak mabuk
7. Gak ngambek. Ketika orang menyakiti kita, kita akan (mencoba) menjelaskan kenapa kita marah, dan kita memaafkan orang tersebut.
8. Belajar bahwa gak ada yang sempurna. Gak ada pekerjaan yang sempurna, hidup yang sempurna, dan pasangan yang sempurna. Akhirnya, kita mengapresiasi apa yang 'good enough'.
9. Belajar untuk jadi sedikit lebih pesimis dalam mengharapkan sesuatu - sehingga kita bisa lebih kalem, sabar, dan pemaaf.
10. Sadar bahwa semua orang punya kelemahan di karakter mereka – yang sebenarnya terhubung dengan kelebihan mereka. Misalnya, ada yang berantakan, tapi sebenernya mereka visioner dan creative (jadi seimbang) – sehingga sebenernya, orang yang sempurna itu gak ada.
11. Lebih susah jatuh cinta (wadaw). Karena kalau pas kita muda, kita gampang naksir orang. Tapi sekarang, kita sadar bahwa seberapa kerennya orang itu, kalau dilihat dari dekat, ya sebenernya ngeselin juga 😂 sehingga akhirnya kita belajar untuk setia sama yang udah ada.
12. Akhirnya kita sadar bahwa sebenernya diri kita ini gak semenyenangkan dan semudah itu untuk hidup bareng
13. Kita belajar untuk memaafkan diri sendiri – untuk segala kesalahan dan kebodohan kita. Kita belajar untuk jadi teman baik untuk diri sendiri.
14. Kita belajar bahwa menjadi dewasa itu adalah dengan berdamai dengan sisi kita yang kekanak-kanakan dan keras kepala yang akan selalu ada.
15. Akhirnya bisa mengurangi ekspektasi berlebihan untuk menggapai kebahagiaan yang gak realistis – dan lebih bisa untuk merayakan hal-hal kecil. Jadi lebih ke arah: bahagia itu sederhana.
16. Gak sepeduli itu sama apa kata orang dan gak akan berusaha sekuat itu untuk menyenangkan semua orang. Ujung-ujungnya, bakal ada satu dua orang kok yang menerima kita seutuhnya. Kita akan melupakan ketenaran dan akhirnya bersandar pada cinta.
17. Bisa menerima masukan.
18. Bisa mendapatkan pandangan baru untuk menyelesaikan masalah diri sendiri, misalnya dengan jalan-jalan di taman.
19. Bisa menyadari bahwa masa lalu kita mempengaruhi respons kita terhadap masalah di masa sekarang, misalnya dari trauma masa kecil. Kalau bisa menyadari ini, kita bisa menahan diri untuk gak merespon dengan gegabah.
20. Sadar bahwa ketika kita memulai persahabatan, sebenernya orang lain gak begitu tertarik sama cerita bahagia kita – tapi malah kesulitan kita. Karena manusia itu pada intinya kesepian, dan ingin merasa ada teman di dunia yang sulit ini.
Written by @jill_bobby
Referensi: https://youtu.be/k-J9BVBjK3o
Mas,
Mas, kalau nanti perempuanmu ini meminta pendapatmu tentang pilihan-pilihannya, tapi pendapatmu tidak menjadi keputusannya, ketahuilah, pada dasarnya sejak awal ia sudah menetapkan pilihannya, dan bertanya padamu adalah caranya meminta validasi dan dukunganmu untuk segala pilihannya.
Mas, kalau nanti kaudapati perempuanmu ini menangis, peluk saja. Kau tentu saja boleh bertanya, Mas. Tapi tolong tahan pertanyaanmu sampai ia lebih tenang. Saat menangis, perempuanmu ini hanya butuh ditemani.
Mas, kalau nanti perempuanmu ini cerewet sekali, bercerita tentang banyak hal yang ia alami atau sekadar imajinasinya, dengarkan saja, masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri pun tak apa, Mas. Ia hanya perlu mengeluarkan tiga ribu kata per hari demi menjaga kewarasan dirinya.
Mas, kalau nanti kautemukan tulisan-tulisan milik perempuanmu ini, perihal patah dan sedih, tidak perlu risau. Belum tentu ia menulis tentangmu. Ia hanya pandai memosisikan diri menjadi orang lain. Tapi kau juga harus tahu, Mas, kau adalah subjek terbanyak untuk tulisannya. Kau subjek favoritnya.
Mas, kalau nanti perempuanmu ini terlihat kekanak-kanakkan, sungguh hanya padamu ia begitu. Ia perempuan mandiri dan tangguh tapi di hadapanmu hampir semua pertahanannya dilepaskan. Ia percaya padamu seperti ia percaya ayahnya.
Mengagumi dari Dekat
Mengagumi dari jauh itu mudah. Betapa sering kita menjadi simpati kepada seseorang, lalu kemudian rasa simpati itu naik menjadi kekaguman terhadapnya, hanya karena kita memerhatikannya dari jauh: membaca tulisan-tulisannya di sosial media, mengetahui beritanya dari media massa, membaca buku-bukunya yang dibicarakan banyak orang, mendengar cerita tentangnya dari orang lain, atau apa saja. Separuh informasi tentang segala yang baik tentangnya entah bagaimana bisa mendongkrak simpati hingga meninggi, melejitkan kekaguman yang menyeruak dari dasar-dasar hati.
Mengagumi dari jauh itu mudah. Kita tidak perlu repot-repot menerima kekurangan seseorang, menoleransi kesalahannya, atau bahkan memaafkan segala tingkah yang dilakukannya, yang barangkali melukai kita. Mengapa? Tentu saja, karena kita tidak mengetahuinya. Tak sampai kepada kita tentang apa yang menjadi kekurangannya. Tak terjangkau oleh kita kabar tentang kesalahannya. Tak pula terjamah oleh pandangan kita tentang semua tingkah lakunya. Semua serba terbatas, dan dalam keterbatasan itu, mengagumi terasa tidak butuh banyak upaya.
Mengagumi dari jauh itu, kukatakan sekali lagi, mudah. Jauh lebih mudah dari pada harus mengagumi dari dekat. Sebab, kenyataan selalu menampakkan diri dari jarak terdekat dan bukan jarak terjauh. Seperti melihat gunung dari kejauhan, yang kita lihat hanyalah keindahan. Kita tak dapat melihat ranting patah yang mengotori jalannya, tanah terjal yang turun naik di sepanjangnya, atau bahkan bangkai-bangkai hewan yang tergeletak disana.
Mengagumi dari jauh itu mudah, yang sulit adalah mengagumi dari dekat. Betapa tidak, sebab segala sesuatu yang dilihat lebih dekat akan lebih menampakkan apa yang sebenarnya, yang mungkin sulit untuk kita terima.
Saat dilihat dari dekat, seseorang yang kita kagumi itu boleh jadi tak seperti apa yang kita ketahui sebelumnya: banyak benang kusut memenuhi isi kepalanya, matanya sering sembab tersebab tangisnya, dan boleh jadi, luka yang ia punya pun masih begitu merah dan menganga. Tidak hanya itu, dari dekat, barangkali kita pun harus menyaksikan sikap dinginnya, marahnya, egoisnya, keras kepalanya, dan semua deretan perilaku yang mungkin tak pernah kita harapkan untuk terlihat dari dirinya. Siapkah?
“Jadi, bagaimana jika aku tidak sebaik itu? Bagaimana jika aku pun bahkan seringkali merasa tak pantas untuk berbuat baik kepada orang lain tersebab keburukanku?” kemudian, pertanyaan paling jujur itu pun terlontar, mengalir begitu saja.
___
Picture: Pinterest
Saat hati mulai ikhlas melepas kepergian, kamu justru "kembali" seolah memberi harapan.
Tulisan : Pekerjaan Kita
Pekerjaan itu sejatinya tidak diukur pada seberapa besar angka yang dihasilkan, tapi pada manfaat, nilai, dan keberkahan apa yang bisa didapat dan timbul dari pekerjaan itu. Sesuatu yang mungkin tidak menarik untuk kita bahas. Andai semua orang mengejar gaji ratusan juta per bulan, kita mungkin akan kehilangan guru-guru di sekolah. Kita kehilangan pengajar di pelosok-pelosok daerah. Kita kehilangan tenaga-tenaga medis yang bekerja untuk kesehatan orang lain tapi mengabaikan kesehatan dirinya sendiri.
Kita juga akan kehilangan orang-orang yang mewakafkan dirinya pada jalan dakwah, yang mengajarkan nilai-nilai agama di kampung-kampung. Juga kepada anak-anak kita di tengah ambisi para orang tua yang ingin anak-anaknya menjadi penghafal diusia belia.
Pekerjaan itu, andai kita benar-benar memahami apa yang timbul darinya. Ukuran kita tidak lagi uang, saat kita bekerja bukan karena butuh uangnya. Tapi kita tahu, kita bekerja karena kita ingin menjadi bermanfaat.
Semoga nanti kita semua sampai ditahap itu. Saat kita bekerja bukan karena tuntutan kebutuhan hidup, bukan karena tekanan sosial dan keluarga, bukan karena kita ingin memiliki harta sebanyak-banyaknya. Tapi karena kita tahu, ada pahala yang besar dari pekerjaan yang akan kita tekuni sejak hari ini sampai tua nanti. ©kurniawangunadi | 6 Februari 2020
Aku Tidak Baik-baik Saja
Bohong besar jika mengingatmu aku baik-baik saja
Sedangkan sosok mu masih terus bergelayutan di lubuk hati yang terdalam
Hari-hari kita kini mulai berubah, yang tadinya setiap pagi selalu ada notif ucapan doa dan semangat, tapi kini? -nothing, i don't get it again-
Yogyakarta, 23 Januari 2020
Remuk Redam
Hai apa kabar hati?
Rasanya aku jarang menyapamu lagi setelah kubiarkan luka yang menganga itu menjadi kering sendiri.
Rasanya begitu jahat mengabaikan bagian kecil dalam tubuh ini.
Bagaimana sakit mu?
Sudahkah kering nya luka itu benar² sembuh?
Atau malah kering yang ternyata menimbulkan infeksi?
Ahh aku terlalu tanya banyak hal, harusnya aku lebih paham padamu, lebih menjaga mu, dan merawatmu hingga benar² sembuh.
Remuk redam, 16 Januari 2020
Warna-Warni Wajah Depresi
Menurutmu, mungkinkah depresi tersembunyi pada wajah yang berseri-seri? Mungkinkah tangis pecah di balik senyum yang merekah? Mungkinkah luka bersarang di dada mereka yang kita kira bahagia?
Dulu, kupikir tidak mungkin. Kukira, depresi hanya ada pada mereka yang murung, mengunci diri di kamar, tidak mau makan (atau terus menerus makan), enggan tersenyum, bergerak lamban, tidak bisa tidur (atau terus menerus tidur), atau memilih warna-warna gelap pada pakaian yang mereka kenakan. Namun ternyata, kini tak selamanya demikian.
Tak selamanya yang tersenyum itu benar tersenyum, yang tertawa itu benar tertawa, dan yang bahagia itu benar bahagia. Di balik semua ciri bahagia dan hidup yang sepertinya baik-baik saja itu, tanpa kita ketahui, mungkin ada hati yang sedang terluka, ada diri yang sedang berjuang menghalau pikiran-pikiran negatifnya, ada jiwa yang meronta memohon pertolongan dan keringanan ujian dari-Nya, juga mungkin … ada raga yang sekuat tenaga diajaknya untuk berdiri, menegakkan diri, lalu tetap berjalan menjalani hari-hari.
Bagaimana jika ternyata semua itu sedang terjadi pada orang-orang terdekat kita, yang kita syukuri keberadaannya juga kita sayangi apa adanya? Bagaimana jika diam-diam mereka tak berani menceritakannya kepada kita karena sebab apa saja yang mereka punya? Bagaimana jika ternyata … kita tidak cukup peka untuk menangkapnya sebab kita sudah sejak lama tidak menyapa perasaannya?
Teman, nyatanya depresi memiliki wajah yang warna-warni. Seringkali ia tersembunyi hingga sulit untuk kita kenali. Karenanya, jangan lupa untuk tetap menyapa dengan baik orang-orang yang kita sayangi: tanya kabarnya, sapa perasaannya, dengar ceritanya. Pun jika kamu yang mengalaminya, tidak perlu sungkan untuk membaginya meski hanya dengan satu orang yang kamu percaya.
Siapapun yang sedang melewati hari-hari yang berat, semoga Allah melapangkan.
Pic: @mocharetha
--2019--
Coba rapalkan satu persatu hal baik dan buruk yang pernah dilaluin,
Oyaa jangan lupa makasih dulu, sma siapa? Sama org² disekeliling yang bersedia menjadi rumah untuk keluh kesah kedua setelah-Nya, terimakasih atas doa sekaligus support system terbaik yg diberikan.
Terimakasih juga wahai diri sudah luar biasa menemani setiap tempaan hidup yang membuat diri ini terus bertumbuh walau tak luput dr rapuh.
Stress, disapointed, underestimated, rejected, hated by someone, broken heart (wkwk), gapapa gapapa.. calm, i was just fine insyaAllah 😅
Rapalkan saja semua jangan ragu sambil bersyukur tentunya, masih diberi kesehatan, berkumpul dengan keluarga, travelling disambi nyekripsi, have a new friend, wisuda n lulus tepat waktu walau nyambi kerja, demisioner organisasi dengan husnul khotimah (insyaAllah), dan masih banyak lagi~
--2020?--
Tinggal menghitung hari, dan kapalmu akan kembali berlayar. Teruslah tumbuh jangan takut terjatuh. Bersiaplah untuk melanjutkan perjalanan dan menemukan banyak kejutan. Jangan sungkan ingetin yaa kalau aku mulai lengah tak tentu arah 🙂
Yogyakarta, 26 Desember 2019
Gengsi Bukan Solusi
Buat apa gengsi kalau akhirnya yang tersakiti diri sendiri?
Perempuan yang mampu jujur atas perasaannya gak akan turun kok harga dirinya.
Kamu akan lebih bijak mengolah hati dan menempatkan perasaan yg pada tempatnya.
Kalau ternyata dia hanya datang untuk menjadi sahabat, setidaknya hatimu tak akan berekspetasi lebih dari itu dan hatimu tak akan terkunci pada ketidakjelasan yg semu.
Perihal nanti dia akan tetap menjadi sahabat atau naik level menjadi sahabat sehidup semati, setidaknya sekarang kamu sudah sedikit lega, tak ada pertanyaan ttg "aku kamu anggap apa?", Atau pernyataan "ah dia cuma php", dan tak ada yg namanya "penyesalan karena perasaan yg terpendam".
Untukmu, jika kelak sudah menemukan sahabat sehidup semati aku akan tetap menjadi sahabat mu dalam segala kondisi.
Yogyakarta, 17 Desember 2019
Membuka hati kemudian menuai pilu kembali, apakah cinta bertepuk sebelah tangan sesakit ini?
Sumber: kejoraaaa
Aku ini hanya pecandu karya mu yang tak mungkin mendapatkan hatimu
Kejoraaaa
Karena Garis Finish Kita Tak Sama
Tidak semua sepeda yang melaju mengincar garis finish yang sama. Karena ada yang rela mengayuh berkilo-kilometer jauhnya hanya untuk menemui seseorang di balik garis finish itu.
Ketika seseorang berhenti saat kamu masih asik melaju, bukan berarti dia tertinggal karena bisa jadi tujuannya memang di situ. Ketika kamu mencapai garis finish dan puas dengan capaianmu itu, belum tentu itu garis finish terakhir, karena bisa jadi banyak orang yang akan melampauimu.
Tak perlu memaksakan ukuran kebahagiaan kita pada orang lain. Karena jika dipaksakan, sombong jadinya.
Saat kita menyombongkan sesuatu, belum tentu orang lain juga akan melihatnya sebagai sesuatu yang berharga. Belum tentu semua orang menginginkannya.
Saat kita menyombongkan sesuatu, barangkali kita sedang ditertawakan oleh orang yang lebih dulu dan lebih banyak memiliki apa yang kita sombongkan itu.
Saat kita menyombongkan sesuatu, barangkali kita sedang dikasihani oleh orang yang punya garis finish berbeda. Dikasihani, kok ada yang segitu sombongnya untuk hal yang bagi mereka bukan apa-apa.
Silakan kejar saja apa yang menjadi tujuanmu. Silakan nikmati proses dan hasilnya sepuasmu. Tapi jangan paksakan semua orang untuk punya garis finish yang sama dengan garis finish milikmu itu.
Taufik Aulia
Benar adanya, orang yang paling sering membuatmu tertawa terbahak akhirnya membuatmu menangis tersedak 😔
Kejoraaaa