Semoga selalu diberikan rasa cukup, kesadaran, dan kemampuan untuk menyelesaikan segala sesuatunya dengan cara yang paling baik—tanpa harus merasa kekurangan pada diri sendiri lagi.
Teruntuk aku, menangkan!
00.57 // Surabaya, 9 Mei 2022
trying on a metaphor

roma★
Stranger Things
will byers stan first human second
tumblr dot com
DEAR READER
Monterey Bay Aquarium

if i look back, i am lost

Origami Around
sheepfilms
I'd rather be in outer space 🛸

oozey mess

JVL
taylor price
almost home

祝日 / Permanent Vacation

tannertan36

shark vs the universe
Misplaced Lens Cap
Mike Driver

seen from United States
seen from Spain

seen from Sweden

seen from Germany
seen from Austria

seen from T1

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from Paraguay

seen from Canada
seen from Philippines

seen from Singapore
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia
@kepanikanbeng
Semoga selalu diberikan rasa cukup, kesadaran, dan kemampuan untuk menyelesaikan segala sesuatunya dengan cara yang paling baik—tanpa harus merasa kekurangan pada diri sendiri lagi.
Teruntuk aku, menangkan!
00.57 // Surabaya, 9 Mei 2022
The Paradox: Choosing the One Already Written
Kalau berpegang pada keyakinan bahwa semua sudah tercatat dalam Lauhul Mahfuz, maka keberhasilan dan kegagalan sebuah hubungan—atau apapun dalam hidup—mungkin sudah ditetapkan. Kita memang melakukan ikhtiar (menjaga, komunikasi, memilih), tetapi tindakan ikhtiar kita itu sendiri bisa jadi merupakan bagian dari takdir yang sudah dituliskan.
Jadi, mungkin bukan kita yang sepenuhnya memilih, tetapi kita sedang menjalani takdir untuk berusaha.
Kita bertemu orang yang "tertulis" itu bukan hanya untuk berpisah jika kita lelah; bisa jadi, kekurangan pada orang tersebut justru "diciptakan" untuk memicu pertumbuhan dan kedewasaan kita. Begitu pun kita, yang tak sempurna, ditakdirkan untuk menjadi bagian penting dalam perjalanan pertumbuhan orang lain.
Namun, esensi ini tidak hanya tentang jodoh. Apapun konteksnya (pekerjaan, studi, hobi, atau duka), pesannya adalah penerimaan tanpa kepasifan.
Kita belajar untuk menerima bahwa ada garis besar yang tidak bisa kita ubah, seperti hasil akhir atau peristiwa-peristiwa di luar kendali manusia. Namun, di saat yang sama, kita tetap memegang kendali penuh atas kualitas karakter kita dalam menjalani garis tersebut.
Ini berarti, meskipun situasi atau pasangan kita tidak sempurna, dialah yang paling tepat (tertulis) untuk membantu kita tumbuh, selama itu tidak melampaui batas kewajaran. Jika sudah menyentuh aspek yang merusak seperti KDRT atau gaslighting, kita wajib melangkah pergi, karena pertumbuhan sejati tidak pernah menuntut kita untuk hancur.
Pada akhirnya, kita bukan sekadar penonton dari nasib kita sendiri. Kita adalah aktor yang memegang kendali atas kualitas peran yang kita mainkan.
Note: Fate writes the script, but we choose how to play the role.
Gpp kan?
Ga sengaja nemu kalimat kurang lebih seperti ini dan ada tambahan sedikit dari aku.
To all perempuan cantik dan mandiri, please take note. main yang jauh dulu, kerja sampai capek dulu, nikmatin, temuin diri kamu sendiri sampai akhirnya kamu bakal temuin yg setara. Sampai kamu temuin yang mau menerima, mau berjuang bareng. Stop mikir nikah kalau lagi capek, stop mikir berhenti kalau lagi berat bgt. Stop mikir kalau kami tidak pantas untuk siapa-siapa, semua harus dilewati sampai selesai. Ga nikah di dunia ga bikin kamu mati, tapi nikah dengan orang yang salah bakal bikin dirimu mau mati.
Tetap doa minta jodoh yg terbaik sama Allah, kalau ga dikabulkan ya di ganti kebaikan di akherat nanti. Stop mikirin omongan orang-orang, kamu tua, ga laku, susah punya anak, teman kamu ini dan itu.
Hiduplah dengan bahagia, Allah sudah kuatkan sampai detik ini, jadi kamu harus sampai finish.
in a world full of clubs and parties, you‘ll find me watching a sunset thinking about life.
Or in bed.
Jangan menghakimi hidup yang tidak kamu jalani.
Sebab kamu tidak berjalan dengan kakiku, tidak memakai sepatu hidupku, tidak memikul luka, beban, dan keputusan yang kutanggung.
Maka jika tak sungguh memahami, jangan berisik menilai seolah paling tahu.
Sebab sering kali yang paling mudah menghakimi, adalah yang paling sedikit mengerti.
~ YollaOlla
Terinspirasi dari satu kalimat singkat nan tajam milik @nabastalarunika:
“Selagi aku tidak berjalan dengan kakimu, tolong jangan berisik dengan kehidupanku ya.”
Kita tidak bisa menyenangkan hati semua orang. Begitu pun sebaliknya, orang lain tidak bisa selalu menyenangkan hati kita.
Nggak perlu baper dengan kata dan sikap orang. Kita bukan aktor utama dalam hidup mereka. Sebagaimana mereka pun bukan aktor utama di hidup kita.
Kita tetap harus belajar mencintai hati kita sendiri. Jika hati ibarat rumah, maka tak semua orang yang kita kenal harus dipersilakan masuk. Dan yang pernah singgah pun, tak perlu kita tahan saat ingin pergi.
Ya Allah, cukupkanlah hatiku dengan apa-apa yang telah Engkau karuniakan padaku, serta berikanlah aku teman-teman akrab yang shalihah. Aamiin.
Catatan dari East of Eden.
Kalimat ini membuatku berhenti sejenak
"And now that you don't have to be perfect, you can be good."
Selama ini aku terlalu sibuk memastikan segalanya terlihat 'selesai'. Aku sering merasa kalau satu kesalahan kecil saja sudah cukup untuk menghapus semua nilai yang aku bangun.
Segalanya terasa lebih ringan saat aku berhenti mengejar standar yang tidak masuk akal. Steinbeck menyebutnya Timshel—sebuah pilihan. Bagiku, itu adalah pilihan untuk berhenti mempersulit diri sendiri.
Menerima diri sebagai sosok yang tidak pernah benar-benar 'selesai' jauh lebih melegakan; sebuah bentuk syukur atas keterbatasan yang memang sudah semestinya ada.
Ya Allah, jika apa yang aku inginkan baik bagiku, mudahkan dan kuatkan langkahku dalam meraihnya. Dan berikan hasil terbaik menurut-Mu.
Sementara jika yang aku minta buruk bagiku, jauhkanlah hal itu dan lapangkan hatiku serta gantikan dengan yang lebih baik...
it is okay to not be okay. it is okay to struggle. it is okay to have bad days. it is okay to complain. it is okay to feel angry. it is okay to cry. it is okay to be pessimistic. it is okay to have negative feelings.
aku masih sama, hanya saja lebih tenang, aku tidak berubah, aku hanya berhenti menjadi versi yang mengerti segalanya, yang pergi pergilah, yang salah paham silahkan menilai buruk, biarkan itu urusan mereka, aku tidak marah, hanya memilih tenang, karna damai lebih menyelamatkan dari pada sibuk menjelaskan.
Autopilotkan dirimu.
Kalau terlalu terasa berat, istirahat dan cobalah lepaskan sesuatu yang mengikatmu dengan kekhawatiran.
Kembalikan semuanya kepada yang memberimu hidup. Kamu terbatas, sedangkan Dia, tidak.
Lately, I feel like I've lost some of my empathy. Maybe because I've already made it through it. And now this quote hits differently:
Nobody talks about the stage of grief where you can't even talk about it to anyone anymore because everyone expects you to be getting over it but it still runs through your mind everyday.
That stage is real, even if it doesn't get named much.
People tend to talk about grief like it follows a neat path (like the Kübler-Ross model). In reality, it's messier and way less visible. At the beginning, everyone can see it. They ask about it, help you carry it, and sit with you while you struggle under it. The weight is obvious. But over time, people stop noticing. To them, it looks like you've adjusted. They assume the weight must be gone.
The outside world has moved on, while inside, nothing has truly settled. It gets heavy when the world goes quiet, as if your grief has an expiration date. So you end up carrying it quietly. You don't want to burden others or repeat yourself. And the grief becomes more internal and integrated into your life in a deeper way.
But you still need "somewhere" for it to go. Keeping it completely contained tends to make it louder over time, not quieter. That "somewhere" doesn't have to be the same kind of support you needed early on. It could be one person who understands this isn't something you just finished. Writing it out, even if no one reads it. Or even just acknowledging it to yourself instead of trying to push it down.
— Giza, living with the soft ruins of what once overwhelmed her
“Don’t feel bad for knowing you deserve more.”
— Unknown
it’s okay to miss people you know you can’t let back in. at some point, they were your world. those feelings don’t just disappear. the important part is remembering it wasn’t perfect and that it wasn’t good for you.
Sabar bukanlah sekadar diam membatu, melainkan gerakan batin untuk tetap berjalan meski kaki terasa kaku.
Engkau melihat duka datang tanpa permisi, seolah langit lupa caranya memberi pelangi. Namun lihatlah...
Tuhanmu adalah Sang Maha Pembalas yang paling dermawan.
Dia takkan membiarkan ruang hatimu kosong terlalu lama oleh sedu sedan. Setiap rindu yang kau simpan dalam sabar, sedang Dia pintal menjadi pertemuan yang lebih mekar.
Lanjutkan saja langkahmu, walau pelan dan kecil.
Sebab pelipur lara itu sedang berjalan menuju arahmu, membawa obat bagi setiap goresan yang kau terima di medan ujian.
Sederhana saja: Jika malamnya sangat gelap, itu tandanya fajar sudah sangat dekat. 😊🫰
@clichemistry
p.s untuk mu, untuk ku, untuk kita. Iya tau sabar itu berat, tapi bukankah sangat jelas nilai pertukaran yang Allah janjikan. Jangan lupakan, bagaimana Allah menghadiahkan Isra Mi'raj kepada Rasulullah. Yuk bisa yuk...
Yang halal mungkin datangnya pelan, yang haram sering terasa instan.
Namun yang halal menghadirkan keberkahan dan kelapangan, sedangkan yang haram meninggalkan luka dan kesempitan.
Berpikirlah jauh ke depan.. karena yang dijaga dengan benar, tak akan benar-benar merugikan.
#HalalItuIndah #PelanTapiPasti #BerprosesDenganBenar #RefleksiHati #MenjagaDiri #JalanYangBaik #YollaOllaWrites
“Sometimes you end up losing yourself trying to hold onto someone who never cared about losing you. Know when to let go.”
— Unknown