A person raised in love and another raised in survival, will never see the world the same way.
—M00wd
he wasn't even looking at me and he found me
$LAYYYTER

Kaledo Art
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

PR's Tumblrdome

@theartofmadeline
Jules of Nature

#extradirty
will byers stan first human second

shark vs the universe
One Nice Bug Per Day
art blog(derogatory)
macklin celebrini has autism
No title available
Three Goblin Art
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

izzy's playlists!

Discoholic 🪩
Cosimo Galluzzi
Game of Thrones Daily

seen from France
seen from Portugal
seen from United States

seen from Germany
seen from United States
seen from United States

seen from Germany
seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States

seen from Brazil

seen from Singapore
seen from Germany
seen from United Kingdom

seen from Türkiye

seen from South Africa
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Morocco
@memaknarasa
A person raised in love and another raised in survival, will never see the world the same way.
—M00wd
karena tiap hari structuring sesuatu pakai AI dan brainstorming pun pakai AI akhirnya kagok banget pas nulis sendiri. Di titik ini jadi paham pentingnya baca buku yang ditulis pelan dengan waktu yang lama. Soalnya yang nulis pasti udah merasakan banyak masalah, shifting banyak perspektif, belajar menyimpulkan banyak hal dengan pengalaman yang dia punya.
Manusia itu memang nggak sempurna wkwkwk. Tapi yang bikin kita kangen baca buku yang secara organik ditulis manusia tuh ada tekstur di setiap pengalaman yang mereka punya. Ngobrol bareng AI tentang kegagalan, hampir pasti responnya menenangkan. Dengan manusia? Sesuai dengan fase hidupnya. Ada yang kurang empati, ada yang nge-pukpuk, ada yang ngasih semangat, ada yaaaang terlalu positif dan terlalu optimiss wkwkwk. Dunia ternyata warnanya sebanyak itu.
Kamu tentu tau rasanya bedanya baca buku Mark Manson sama Haenim Sunim. Baca tafsirnya Ustadz Quraish Shihab, Ibnu Katsir atau Muhammad Assad. Berdialog tentang AI itu membuat kita bisa seketika merasa ahli. Tapi membaca buku yang benar-benar ditulis ahlinya membuat kita menemukan humbling momen lagi. Pengalaman yang sama, logika yang sama, belum tentu menghasilkan output berpikir yang sama. Karena ada kebijaksanaan yang bisa kita pelajari dari orang lain.
....
Embrace tulisan gue sekarang yang mulai pelan-pelan seperti AI till one day berasa organik lagi ~XD
Ketidakmungkinan dalam Kisah Nabi Musa dan Pengaturan Allah dalam Kisah Nabi Yusuf
Hari ini gue baca surat Thaha dan sampai pada doa Nabi Musa:
"Ya Rabb lapangkanlah dadaku, mudahkanlah untukku atas segala urusanku"
Lalu gue jadi bertafakkur pada kisah dua Nabi. Nabi Musa AS dan Nabi Yusuf AS. Kehidupan keduanya terabadikan dengan sangat indah dalam Al Qur'an dan tentu ada banyak hal yang bisa kita pelajari.
Salah satunya adalah bahwa kehidupan Nabi Musa AS itu dipenuhi banyak "ketidakmungkinan". Bahkan mukjizat yang diberikan oleh Allah ke beliau pun bertentangan dengan sunnatullah yang dipahami manusia. Laut terbelah, tongkat tiba-tiba jadi ular, makanan turun dari langit, dan banyak lagi.
Di antara segala ketidakmungkinan itu juga masih ada "ketidakmungkinan" lain. Beliau adalah bayi yang seharusnya dibunuh tapi akhirnya malah dirawat oleh Fir'aun. Beliau juga tidak mampu berbicara dengan fasih tapi lawannya Fir'aun yang sudah seperti tuhan bagi kaumnya. Menurut hitungan manusia, Nabi Musa AS tidak mungkin menang.
Maka dalam segala ketidakmungkinan itu, Allah juga memberi jalan dari arah yang tidak disangka-sangka. Maka kita melihat jejak-jejak doa nabi Musa AS adalah doa yang sangat pasrah dalam segala usaha beliau. Dan sesuai janji-Nya, Allah tidak pernah meninggalkan Nabi Musa AS.
Di sisi lain kita melihat Nabi Yusuf AS. Sepanjang hidup beliau diuji dengan kesulitan, kebencian sesama manusia, dan fitnah. Dibuang ke sumur, dijual sebagai budak, dipenjara, dan dilupakan.
Namun justru melalui semua itu, jiwa beliau ditempa. Hingga pada akhirnya beliau mampu menjalankan amanah dengan sangat baik sebagai petinggi kerajaan yang membantu Mesir melewati masa paceklik.
Maka ucapan beliau setelah melewati semua badai itu adalah:
"Sesungguhnya Rabbku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki."
Ada banyak jalan dari Allah untuk membentuk manusia dan membantu manusia menyelesaikan masalah. Kadang Allah menempa manusia seperti Dia menempa Nabi Yusuf AS dan Nabi Musa AS. Kadang Allah menyelesaikan masalah lewat arah yang tidak pernah kita sangka. Atau kadang Allah membantu kita dengan hidayah melalui logika sehingga kita bisa membuat keputusan-keputusan yang baik di saat-saat genting.
Cara Allah menyapa hidup kita bisa lewat sesuatu yang tampak luar biasa. Bisa juga melalui sunnatullah yang sudah sangat kita kenali. Bahkan kadang lewat kelapangan dada untuk terus melangkah satu hari lagi.
Maka di saat-saat sempit, ketika hati kita masih terasa lapang, syukurilah. Karena itu salah satu bentuk pertolongan Allah.
Lalu bermohonlah pertolongan-pertolongan yang lain. Jangan pernah berputus asa.
Karena Rabb yang mengurus kita adalah Rabb yang mengurus Nabi Musa AS dan Nabi Yusuf AS. Dia menemani hamba-Nya yang sedang berusaha. Dia juga tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang tetap bertawakkal dalam segala keluh kesahnya
Tidak pernah merasa memiliki, apalagi berkukuh menggengamnya.
Tidak,tidak pernah.
Hanya mencoba mengambil peran pada apa yang aku jalani.
Ambil, ambil saja.
Mungkin sedikit luka,
Sedikit kecewa.
Tak apa,
Aku sudah terbiasa membalutnya sendiri.
Tidak apa-apa.
ketidakadilan.
apa yang kamu harapkan dari dunia? keadilan? jangan harap. tidak ada keadilan di dunia ini. untuk itulah Allaah menciptakan akhirat agar orang-orang yang hari ini di dzalimi, yang hari ini haknya dicuri, haknya tidak diberi, Allaah akan balas di akhirat nanti.
jangan harap keadilan di dunia ini, apalagi jika kamu berharap keadilan itu akan ada pada manusia. tidak, jangan berharap. tidak ada manusia yang adil. akan selalu ada salah satu pihak yang merasa tidak diberi keadilan. demikianlah hakikat dunia, sayang. jangan pernah menaruh hatimu dengan utuh di dunia ini. kamu akan lelah.
jika hari ini kamu tidak mendapatkan keadilan, gajimu tidak dibayarkan, hakmu dirampas, barangmu diambil paksa, dan kamu dipaksa tunduk pada aturan yang penuh dengan kedzaliman. percayalah. Allaah tidak akan membiarkanmu merasakan itu di akhirat. sebab Allaah Maha Adil. Allaah tidak pernah dzalim, tidak pernah sekalipun.
maka sayang, bila pada hari ini kamu sudah berupaya meminta hakmu, berupaya meminta apa yang menjadi bagianmu dan kamu sudah memenuhi semua kewajiban mu. namun mereka mengambil apa yang bukan menjadi bagian dari mereka. percayalah, Allaah tidak akan tinggal diam akan hal itu. angkatlah tanganmu dan berdoalah. mintalah keadilan itu kepada Allaah. sebab tidak ada sekat dan tidak akan tertolak doa orang yang terdzalimi.
kala dunia tidak berpihak kepadamu, kamu merasa seluruh dunia ini tidak bersikap baik kepadamu. ingatlah, bahwasanya kamu tidak pernah berjalan sendirian. tidak benar-benar sendiri. Allaah selalu ada. kala dunia tidak ada yang percaya kepadamu sementara kamu mengatakan kejujuran dan seluruh dunia malah menuduhmu. percayalah, Allaah yang akan membelamu. pertolongan Allaah dekat untukmu. jika mereka merasa telah menggenggam dunia, maka kamu masih punya Allaah yang akan menolongmu, yang akan memenangkan mu.
kamu akan selalu menang, sebab yang menolongmu adalah Dzat yang Maha Besar. Dzat yang Maha Berdirisendiri, Allaah Ta'ala. Allah selalu ada untukmu, tidak akan pernah meninggalkanmu sendiri meski dalam kegelapan sekalipun. maka biasakan selalu untuk meminta pertolonganNya setiap waktu, setiap detik kala kamu dalam keadaan sedang tidak baik-baik saja maupun dalam keadaan semuanya baik-baik saja.
jangan berharap dunia ini akan adil untukmu, tapi selalu berharaplah bahwasanya Allaah akan selalu menolongmu jika kamu terus selalu meminta kepadaNya.
Attachment, Negosiasi, Integrasi
Dari sekian banyak konflik yang gue alami ketika berurusan dengan orang lain, gue jadi paham bahwa bekerja bersama orang lain itu memang akan mengekspose segala sisi buruk dalam diri kita wkwk. Sisi egoisnya, sisi tidak mau mendengarkan, kemelekatan, rasa takut yang nggak rasional dan banyak lagi. Makanya muamalah memang jadi salah satu jalur mengenal orang lain.
Ada hal menarik yang juga gue dapat dari konflik. Banyak konflik yang awalnya gue kira konflik antar manusia:
"Gue kok nggak nyaman ya sama dia? Sepertinya dia memang jahat"
"Gue kok nggak suka ya sama kritiknya dia? Sepertinya dia memang sengaja nyerang gue"
....lalu gue belajar memeriksa akar segala perasaan yang tidak nyaman. Turns out banyak konflik-konflik yang gue alami tuh dipicu ego dan kemelekatan (attachment) yang tidak sehat terhadap sesuatu.
Attachment jarang terlihat besar dan dramatis. Ia sering hadir dalam bentuk yang ketenangan dan ketekunan yang rasional. Kalau nggak tertrigger nggak kelihatan. Tapi begitu tertrigger, kita sadar bahwa ada banyak hal yang kita genggam terlalu berat. Entah itu ide, arah, peran, dan banyak hal yang lain. Ketika hal tersebut diusik oleh orang lain, kita ikut terasa terguncang.
Attachment yang sehat memberi kita energi. Ia membuat kita bisa konsisten dan disiplin menjalankan sesuatu. Tanpa attachment, kita mungkin tidak punya daya juang. Tetapi attachment juga membawa beban. Ketika kita melekat terlalu dalam terhadap satu hal, maka perbedaan perspektif tentang hal tersebut jadi terasa ancaman. Bahkan koreksi dari orang lain seperti serangan. Dan kegagalan kecil bisa berkembang menjadi kekalahan pribadi yang traumatis.
Contoh konkretnya apa?
Gue ngedesain program sampai lembur malam-malam. Lalu ketika orang lain mengkritik, maka respon reflek pertama pasti membuktikan kualitas program kita. Meyakinkan biar program kita diterima. Bukan mendengarkan kritik dengan tenang.
Gue ga nyuruh meragukan diri sendiri atau sampai second guessing ya. Tapi ada bedanya orang yang mendengar untuk mendengar atau mendengar untuk menjawab ~XD Nah yang mendengar untuk menjawab ini seringkali akarnya attachment yang ga sadar. Yang bikin kita "orang ini nyerang ide baruku" sehingga kita menjadi bias dan tidak bisa memahami bahwa hal baru ya memang biasanya diragukan dulu. Apalagi kalo resourcenya dikit.
Pernah juga gue mengalami perasaan:
"Kok kalo gue achieve sesuatu, gue nggak dipuji ya? si xyz sering dipuji padahal ga setinggi gue. Si xyz vokal banget dan suaranya keras. Apa gue ngikutin dia aja biar didengerin"
kemudian perasaan tersebut berkembang:
"Apa gue iri ke xyz?"
Gue istighfar wkwkwk. Ini perasaan macam apaaa. Udah umur 35 baru mengalami perasaan semacam ini.
Negosiasi: Percakapan yang Tidak Terdengar
Suara hati kita seringkali memang suara yang paling jujur. Tapi kejujuran itu tidak sama dengan fakta wkwk. Memori manusia itu hasil rekonstruksi otak. Hampir bisa dipastikan bercampur dengan emosi. Itulah kenapa saat kita sebel sama orang, otak seringkali mengambil perspektif yang jelek-jelek tentang orang tersebut.
Again ini obrolan bukan buat meragukan diri sendiri yaaaa. Lebih mengajak untuk punya jeda saat nemu problem. Lanjutan suara hati gue yang tadi:
"Apakah Dea iri dengan xyz?"
"Apakah gue insecure sama xyz?"
..... atau gue sebenernya cuma jenuh dan merasa dunia gue terlalu kecil? gue sendiripun di posisi ga bisa mengendalikan respon orang lain terhadap sesuatu. Masak iya gue bilang ke semua orang:
"Eh kamu harus menghargai pencapaianku"
Gue pun meninggalkan percakapan ini sambil banyak istighfar. Sampai suatu hari gue sibuk kerjaan lain yang bikin gue happy dan gue lupa sama rasa nggak nyaman perkara achievement yang ga dipuji tadi.
Di titik ini gue jadi paham bahwa gue sebenernya nggak iri wkwk. Gue cuma terlalu menempelkan kampus ke identitas. Sejak itu, gue belajar bahwa kerjaan ya memang kerjaan aja. Bukan sesuatu yang perlu kita bawa sampai rumah, sampai hari libur, sampai memakan hidup kita. Biar dunia kita lebih luas.
Ini cuma contoh kasus sederhana aja. Di luar itu masih banyak lagi. Contohnya pas rapat di satu forum yang hirarkis. Mau serasional apapun argumen kita, arah respon forum akan selalu sama. Nggak akan mendengarkan kita. Gue yang dulu mikir:
"Apa gue perlu jadi orang yang kuat dulu ya?"
Sampai sekarang paham bahwa setiap tempat punya tipe pembicaraan sendiri dan punya porsi alokasi energi sendiri. Ga perlu terlalu attach dengan perdebatan. Alokasikan energi secukupnya saja.
Saat gue melewati banyak sekali gesekan, sebelum arguing keluar, ternyata ada banyak negosiasi di dalam yang perlu kita lewati. Negosiasi ini sunyi. Ia muncul dalam bentuk pertanyaan kecil: Apakah ini perlu dibela? Apakah ini tentang nilai atau tentang harga diri? Jika hasilnya tidak sesuai, apakah aku tetap utuh?
Negosiasi bukan tentang mengalah. Ia tentang memeriksa kemelekatan. Kadang kita sadar bahwa yang kita pertahankan bukan hal mendasar. Kadang kita justru semakin yakin bahwa ini memang prinsip.
Negosiasi membuat kita tidak langsung reaktif. Ia memberi jarak antara emosi dan tindakan. Tanpa negosiasi, attachment berubah menjadi impuls yang membuat kita selalu reaktif.
Integrasi: Melepas Tanpa Menghapus
Setelah proses negosiasi, biasanya ada proses integrasi. Kadang integrasi itu nampak seperti netral dan plin-plan. Atau mungkin tidak tegas wkwk. Saat muda, kita mungkin suka ketegasan. Tapi semakin berumur, ternyata yang kita butuhkan adalah keluasan sudut pandang dan kemampuan memegang kontradiksi dengan tenang.
Lantas integrasi itu apa?
Integrasi adalah kemampuan untuk tetap memegang nilai tanpa menggenggamnya terlalu keras.
Kita bisa berkata: “Aku tetap percaya ini penting.” Tapi di saat yang sama, kita bisa cukup sadar untuk mengambil sikap: “Aku tidak perlu memaksakan hasilnya.”
Integrasi membuat kita bisa menerima bahwa kita bisa benar, tanpa harus menang. Kita bisa kalah, tanpa kehilangan harga diri. Kita bisa terluka, tanpa menjadi pahit. Jangan sampai disalahpahami bahwa integrasi itu menghapus emosi. Tidak. Emosi tetap ada. Attachment tetap terasa. Tetapi ia tidak lagi mengendalikan keputusan. Karena proses negosiasi sebelumnya membantu kita memberi jarak antara emosi dan masalah sehingga ada proses regulasi di dalamnya
Ruang yang Lebih Luas
Ketika attachment dikenali dan negosiasi dilakukan dengan jujur, awalnya memang terasa sakit wkwk. Tapi setelah semua gejolak emosinya reda dan proses integrasi selesai, ruang batin menjadi lebih luas. Kita tidak lagi perlu membela semua hal. Kita tidak lagi merasa setiap perbedaan adalah ujian eksistensi. Dan dari ruang itu, kita bisa bergerak lebih ringan.
Mungkin kedewasaan bukan tentang tidak lagi melekat. Tetapi tentang mampu melihat keterikatan kita, bernegosiasi dengannya, lalu memilih hidup dengan tenang.
Dan di dalam ketenangan itu, kita tetap manusia biasa. Punya emosi, punya kehendak, dan punya keterikatan. Tapi tidak lagi dikendalikan.
Bagaimana kepala kecil itu dipenuhi gemuruh yang tak ada habisnya? Bagaimana hati mungil itu mampu menyimpan banyak getir? Coba ceritakan bagaimana bisa senyum itu menyembunyikan lebammu yang sebenarnya? Bolehkah aku menjadi tempat pulangmu kali ini? Aku ingin menjadi tempat amanmu.
@terusberanjak
Sangat berisik di kepala ini,sangat sesak di dada ini.
Tapi tidak pernah menemukan yang benar-benar bisa mendengar.
Tidak pernah menemukan yang benar-benar peduli dan mau mengerti. 😥
Jadi, aku simpan saja.
AYATUS SAKINAH
Pertolongan pertama yang Allah karuniakan pada orang-orang beriman saat sedang diuji bukanlah solusi, tapi ketenangan.
Alangkah indah anugerah ketenangan itu.
Ketika hati tenang, manusia bisa berpikir dengan jernih, akal bekerja, langkah tertata.
Ketika hati tenang, manusia lebih bisa mengendalikan nafsu amarahnya, tidak mudah tersulut emosi, tidak lekas merutuki hal-hal yang kurang sesuai dengan ekspektasi.
Ketika hati tenang, manusia tidak akan mudah putus asa dan kehilangan harapan, karena ketenangan adalah separuh dari solusi.
Pertolongan pertama yang Allah karuniakan pada orang-orang beriman saat sedang diuji bukanlah solusi, tapi ketenangan.
Ketenangan yang tentu bukan didapat dari obat penenang, bukan juga dari kesenangan-kesenangan dunia yang bersifat sementara. Tapi Ketenangan yang membuat hati tetap optimis, meski mata sesekali menangis. Ketenangan yang membuat hati melapang, kala berbagai ujian membuat dunia terasa menyempit.
Pertolongan pertama yang Allah karuniakan pada orang-orang beriman saat sedang diuji bukanlah solusi, tapi ketenangan.
Ketenangan yang Allah tanamkan langsung ke dalam hati hamba-hamba-Nya yang senantiasa menjadikan Allah yang pertama.
Pertolongan pertama yang Allah karuniakan pada orang-orang beriman saat sedang diuji bukanlah solusi, tapi ketenangan.
Menariknya, ketenangan itu Allah turunkan lewat berbagai washilah.
Ada ketenangan yang washilahnya do'a. Sebagaimana ketenangan yang kita rasakan tiap kali berada di kota Madinah yang penuh berkah, washilahnya adalah do'a Rasulullah.
Ada ketenangan yang washilahnya Al Qur'an. Sebagaimana ketenangan yang kita dapatkan tiap kali mentadabburi ayat-ayat sakinah (Al Baqarah ayat 248, At Taubah ayat 26 & 40, Al Fath ayat 4, 18 & 26).
Ada ketenangan yang washilahnya pasangan shalih/shalihah yang menyejukkan mata, yang tiap kali dipandang, hilang setengah dari kegelisahan. Sebagaimana ketenangan yang dihadirkan oleh ibunda kita Khadijah radhiyallahu 'anha, kala menyambut kepulangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang gelisah dan ketakutan sebakda menerima wahyu pertama.
Pertolongan pertama yang Allah karuniakan pada orang-orang beriman saat sedang diuji bukanlah solusi, tapi ketenangan.
Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang Allah karuniai ketenangan itu. Aamiin yaa Rabbal 'aalamiin.
Ukhtukum fillah,
@rizqan-kareema.
akan ada satu hari dimana dirimu enggan bahkan untuk sekadar melangkahkan kaki keluar kamar. rasanya hidup tidak adil, tidak pernah sekalipun berpihak kepadamu yang sudah jatuh bangun untuk tidak menyerah. hidup selalu memberikan pilihan untuk berputus asa, dan memberhentikan langkah.
namun harap dan baik sangkamu kepada Allaah mengalahkan itu semua. kamu masih percaya, bahwasanya kamu tidak akan dibiarkannya berjalan sendirian dengan rasa takut. hatimu akan dibuat tenang, sebagaimana keyakinanmu atas pertolongan Allaah akan datang untukmu.
tidak ada ceritanya langit akan mendung, gelap gulita dan hujan. akan ada hari setelahnya langit tampah biru dan cerah.tidak ada ceritanya akan berpuasa terus menerus. akan ada hari setelahnya yaitu lebaran untuk merayakan atas keadaan sulit yang dilalui selama berpuasa.
maka jika masa sulit itu datang kepadamu, pada hari ini, pada saat-saat seperti ini. dan tak ada seorangpun yang bisa menjangkau untuk menolongmu. sudahkah kamu meminta kepada Allaah untuk menolongmu?
jika masa sulit hari ini datang kepadamu bahkan dengan bertubi-tubi dan begitu menyesakkan. percayalah hari-hari sulit ini akan berlalu. hal-hal yang kamu lalui dengan begitu sulit dan menyesakkan, barangkali kelak akan kamu syukuri dengan berlipat-lipat. maka mintalah kepada Allaah dengan sabar dan sholat. sebab pertolongan Allaah akan datang kepadamu seiring rasa putus asamu terhadap makhluk.
jika satu hari sulit datang kepadamu, tak apa untuk menangis. tak apa untuk merasa kalah dan lelah. tak apa, sayang. tak apa.
Sedang lelah, hampir berputus asa.
Serasa simpul penguat terakhir ini akan terlepas.
Sangat sulit bertahan dalam diam ini, ingin rasanya meledak.
Ingin menangis sekuatnya.
Ya Rabb genggam hambaMu ini lebih erat.
Aku tahu sedang sangat jauh dariMu
Aku kehilangan khusyuk ku
Tahajud ku kian terlewat
Beranjak menghadapMu terasa berat
Berlama bersujud kepadaMu seperti gelisah
Tapi Yaa Rabb aku sedang berusaha kembali
Walau usaha ini sangat kecil dan seringkali tergelincir lebih dalam
Tarik aku, genggam aku lebih erat
Peluk aku lebih dalam
Sungguh aku tiada berdaya tanpaMu
Tiba-tiba menghangat.
Saling berpeluk,
Mendekap, seolah selamanya seperti itu
Dulu hingga kini
Saling menggenggam
Berjalan bersama, seirama
Tapi aku bingung
Aku bingung
Tidak pernah sehangat ini
Bukankah kita selama ini adalah serpihan dingin?
Tidak sedang menyangsikan harapan indah di depan sana
Aku pun miliki mimpi yang sama
Aku bingung
Sungguh bingung
Bukannya aku tidak usahakan
Bukan aku tidak inginkan
Kita jadi baik
Nanti di depan sana
Tapi, aku mohon
Pelan-pelan
Perlahan aku akan ikut berjalan bersama
Biarkan aku mengurai luka-luka ini
Pelan-pelan
Biar sendiri
Mari suarakan di platform apapun yang kita punya.
Penulis, karyawan, dan mahasiswa (pencari kerja di masa depan) harusnya peduli karena perubahan sistemik ini diperlukan bagi semua pembayar pajak.
Turun ke jalan atau bergerak dengan jari tangan itu pilihan.
Tapi mengedukasi orang-orang sekitar kita dan saling jaga ada keharusan.
Sampai tuntutan kita dikerjakan, suarakan!
Mari suarakan.
Percayalah, politik berdampak pada semua sisi kehidupan kita, bahkan yang terkecil sekalipun.
Menyenangkan dan memenuhi ekspektasi semua orang itu seperti jalan yang panjang, diakhiri dengan tanda bertuliskan: "Maaf, jalan buntu, silahkan berputar arah".
Yang mencintaimu tidak akan melihat cacatmu, dan yang membencimu tidak akan menilai kebaikanmu.
Sebagus apapun tampilanmu, tetap terlihat kurang dimata sebagian orang, setulus apapun bantuan dan pertolongan bahkan nasihat yang kamu berikan, akan tetap dipandang remeh oleh mereka yang sedari awal memang tidak suka denganmu.
Seberusaha apapun seorang anak memenuhi kemauan orang tuanya, terkadang tidak akan sempurna dan tetap dipandang kurang. Seorang ayah yang berusaha memenuhi keinginan semua anggota keluarganya, tetap bisa saja dilihat tidak maksimal tersebab ada saja kebutuhan baru dari mereka.
Jadilah dirimu sendiri, jangan memuaskan pandangan orang lain, sebab hal itu akan sangat mustahil kamu dapatkan, bahkan sampai kamu mati.
Berikan saja usaha yang terbaik, doa yang terbaik, perilaku dan sikap yang baik, dari situlah nanti akan tersaring, siapa yang menerima bagaimana pun keadaanmu, baik kurang atau pun lebihmu, baik cacat atau pun keunggulanmu.
— Jundi Imam Syuhada
Akan sangat melelahkan,
Seberapa pun upayamu memenuhi ekspektasi orang lain, tidak akan pernah cukup.
Berupayalah untuk kebaikanmu sendiri, di jalan Rabb-mu 💚
Bila Takdir Menyayangimu Lewat Cara yang Tak Kamu Pahami
Tak semua kehilangan itu benar-benar kehilangan. Dan tak semua yang ditunda adalah penolakan. Kadang, yang tenggelam bukan untuk dihancurkan — tapi untuk diselamatkan dari arah yang salah. Allah menenggelamkan kapal bukan karena ingin melihatmu terombang-ambing.
Tapi karena Dia tahu: Kapal itu, jika berlayar terlalu jauh, akan membawamu ke pelabuhan yang justru mencelakakanmu. Maka Dia tenggelamkan — bukan untuk menyakitimu, tapi agar kau kembali memeluk daratan-Nya.
Kadang, cara Allah melindungimu adalah dengan mematahkan keinginanmu. Kadang, cara-Nya menyelamatkanmu adalah dengan memisahkanmu dari sesuatu yang terus kamu perjuangkan.
Bahkan ketika kamu merasa, "Aku sudah cukup berdoa, sudah cukup baik, kenapa tetap tidak diberikan?" Maka jawabannya adalah: Karena Allah mencintaimu — dengan cinta yang tahu persis kapan waktu terbaik untuk memberi. Dan kadang… cinta itu datang dalam bentuk penolakan.
Semua yang Allah tetapkan — meski menyakitkan — tetaplah yang terbaik. Karena pilihan Allah untukmu, selalu lebih tahu, selalu lebih tepat, selalu lebih menyelamatkan, dibandingkan semua pilihanmu sendiri.
Selamat bercerita dengan doa, gapapa, semua akan baik-baik saja
@jndmmsyhd
Bercerita dalam do'a 💚
It's Okey, gak apa-apa.
Masih ada banyak hal lain yang bisa jadi bahan pertimbangan untuk mempertahankan harga 🤭😂
"Sudah aman, sudah terjamin"
Me: Apa jaminannya? Siapa yang jamin?
Hmm jangan pernah merasa aman tenang, sebab kita masih dalam perjalanan bahkan baru saja memulainya.
Akan ada banyak sekali rupa-rupa yang nanti akan ditemui dalam perjalanan ini.
Dan yang pasti akhir masih jauh di depan dan sungguh belum ada yang pasti.
Dan tidak ada yang bisa menjamin kepastian akan seperti apa akhirnya nanti.
So,jangan pernah berkecil hati dengan apa pun anggapan orang lain.
Mereka hanya melihat sedikit saja,permukaan yang tampak pun belum tentu terbaca utuh.
Dan teruntuk kamu yang sedang merasa di atas angin, merasa baik-baik saja, merasa aman terjaga.
Berhati-hatilah
__catatan randomku hari ini,catat aja dulu 💚
i’m tired. but not just “didn’t sleep” tired. soul tired. bone tired. like my body keeps going but nothing inside knows why.
Aku
Aku adalah akumulasi segala ketakutan itu, namun aku percaya Allah tidak akan pernah meninggalkanku 💌
Dan selalu meyakinkan diri akan ada saatnya nanti,belenggu gelap ini akan berganti cahaya yang menghangatkan dan bersamanya adalah rasa bahagia, nyaman juga ketenangan yang selama ini didamba. 💚