(مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا)
{Whoever seeks honour, then all honour belongs to Allah}
[َQuran - Fatir 35:10].
h
sheepfilms
cherry valley forever
Interview Vampire Daily

pixel skylines
occasionally subtle
Not today Justin

No title available
No title available
One Nice Bug Per Day
Sweet Seals For You, Always

Product Placement

tannertan36

shark vs the universe

❣ Chile in a Photography ❣
d e v o n
Game of Thrones Daily
Doug Jones
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
taylor price
seen from T1
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Kuwait

seen from Canada
seen from Ukraine
seen from Saudi Arabia
seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States

seen from Bangladesh
seen from Chile
seen from Brazil

seen from Brazil

seen from Costa Rica

seen from Canada

seen from United States
seen from Canada

seen from Malaysia
@mencaritenang
(مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا)
{Whoever seeks honour, then all honour belongs to Allah}
[َQuran - Fatir 35:10].
Aku datang kepada-Mu
bukan membawa bunga-bunga indah.
Aku membawa keranjang tua
berisi takut, malu, dan kesalahan.
Beberapa isinya hampir busuk,
beberapa ingin kusembunyikan.
Tapi aku tahu,
tidak ada tempat yang lebih aman
untuk membawa semuanya
selain kepada-Mu.
Bersabarlah. Tidak ada hamba yang Allah uji sendirian; selalu ada rahmat yang berjalan diam-diam bersamanya.
Dunia tidak pernah menjanjikan keabadian.
Namun anehnya, di tempat yang sementara ini kita menaruh harapan yang terlalu besar.
Kita menangis ketika kehilangan, seolah yang pergi memang ditakdirkan untuk selamanya bersama kita.
Kita kecewa ketika keadaan berubah, seolah dunia pernah berjanji akan selalu sesuai keinginan kita.
Padahal sejak awal, Dunia hanya persinggahan.
Tidak ada yang benar-benar menetap.
Maka jangan terlalu dalam mencintai dunia yang bahkan tidak mampu mempertahankan dirinya sendiri.
Cintailah secukupnya, genggamlah seperlunya.
Karena setiap yang ada di dunia sedang berjalan menuju perpisahannya masing-masing.
Dan pada akhirnya, yang akan tersisa bukan apa yang kita miliki, melainkan apa yang kita bawa menghadap Allah.
Sebab dunia bukan tempat tinggal, Ia hanya ruang tunggu sebelum pulang.
tentang tabur tuai
Allah Swt. dengan tegas bilang: tidak ada balasan kebaikan selain kebaikan pula. Allah juga bilang: setiap perbuatan manusia pasti ada ganjarannya. seharusnya, kalimat-kalimat ini cukup untuk membuat kita berpikir seribu kali sebelum berkata, sebelum bersikap, sebelum bertindak--bahkan sebelum berpikir. seharusnya, kita hati-hati.
jangan perlakukan orang lain dengan cara yang kita tidak ingin diperlakukan. perhatikan caramu bicara, melirik atau menatap, bahkan memposisikan badan. adakah yang berpotensi menyakiti?
jangan mengambil yang bukan hak kita apalagi menzhalimi hak orang lain. kalau sesuatu yang kamu punya diambil / direbut orang lain, kamu mau?
jangan mendoakan keburukan bagi orang lain. bagaimana kalau malaikat mengaminkan agar doa itu justru kembali kepadamu? kepada keluargamu?
jangan membicarakan keburukan orang lain. ingat kamu hanya beda dosa. mudah sekali bagi Allah untuk menjerumuskan kamu ke sana juga.
jangan mencela keputusan hidup orang lain. kamu nggak pernah tau apa yang ada di bawah permukaan. belum tentu kamu bisa mengambil keputusan yang lebih bijak kalau kamu ada di posisinya.
jangan iri dengan hidup orang lain. mungkin kamu menginginkan kebahagiaannya, tapi percayalah kamu tidak menginginkan penderitaannya.
jangan manipulatif: menyakiti orang lain dan malah teriak-teriak kalau yang disakiti membela diri. apalagi menggunakan ketidakbenaran untuk menyerang. bereskan luka pengasuhanmu supaya kamu nggak meneruskannya kepada siapa-siapa.
jangan menyalahkan orang lain atas perbuatanmu, ketidakmampuanmu, atau ketidakbahagiaanmu. pada satu titik, ketenangan hidupmu adalah tanggung jawabmu sendiri. selanjutnya tetap begitu.
jangan suka mengolok-olok. ingat Allah Maha Memuliakan, tetapi juga Maha Menghinakan. jangan menertawakan orang lain kalau kamu tidak mau ditertawakan malaikat.
jangan merasa lebih baik apalagi mulia dari orang lain. kamu tidak tau taubatnya. barangkali Allah lebih menyayanginya. lagipula, mudah sekali bagi Allah untuk membuka aibmu di hadapan seluruh dunia.
jangan menyimpan dendam. yang pelan-pelan mati karena dendam itu kamu, bukan orang lain yang kamu dengki terhadapnya. belajar memaafkan. mulai dari dirimu sendiri mungkin?
urusan sama manusia rumitnya berkali-kali lipat. bisa jadi suatu hari kamu menyesal, tetapi akibat yang kamu perbuat masih tertinggal pada orang lain. bisa jadi suatu hari kamu meminta maaf, tetapi belum tentu dia memaafkan.
balasan atas perbuatan kita itu bukan soal akan atau tidak, tetapi soal kapan. tetapi ingatlah, Allah Maha Pemaaf dan rahmat Allah tiada terhingga. mumpung masih ada waktu, minta maaflah. kalau malu, mintalah maaf melalui Allah. minta Allah menyembuhkan siapa saja yang pernah kamu lukai. minta Allah melembutkan hatinya untuk memaafkanmu.
semoga rahmat Allah melingkupi kita.
sunyi yang utuh
ada orang-orang yang—kita tahu mereka punya akun medsos—tapi hidupnya hampir tidak terlihat di timeline
tidak ada update karier. foto liburan, atau cerita pencapaian
tapi kalau kamu duduk ngobrol dengan mereka di dunia nyata, kamu akan melihat sesuatu yang jarang muncul di media sosial
wajah yang tidak terlalu lelah, tawa yang tidak dibuat-buat dan hidup yang berjalan pelan tapi utuh
mereka tidak sedang menyembunyikan kebahagiaan, namun mereka tahu bahwa beberapa kebahagiaan akan kehilangan maknanya jika terlalu banyak penonton
Selamat jalan, Abi!
Halo, Tumblr! Lama tidak bersua di sini ya :)
Banyak mungkin yang mengenal Abi disini—meskipun hanya sebatas pesan-pesan yang beliau sampaikan lalu saya bagikan melalui tulisan. Terlepas dari itu, saya rasa tetap perlu mengabarkan disini juga bahwa, Abi akhirnya Allah 'jemput' Ahad lalu—setelah lebih kurang 3 tahun berjuang melawan penyakit yang beliau alami. Sebuah perjalanan panjang dan nggak mudah, baik untu Abi maupun kami yang ditinggalkan.
Sedih betul rasanya kehilangan figur Ayah yang lembut, pintar, tulus, dan peduli ke siapapun. Tidak heran banyak yang begitu kehilangan. Tamu dari berbagai daerah, lapis golongan, dan yang belasan bahkan puluhan tahun tidak bertemu, menyempatkan untuk hadir, hanya untuk mengantarkan di saat-saat terakhirnya.
Setiap orang yang bertamu, pasti memiliki kesan yang begitu membekas dalam perjalanan menuju baik hidup mereka. Satu per satu saya menyimak bagaimana mereka mengenal sosok Abi kami—ustadz yang seru diajak diskusi apapun, bijak dalam menyikapi keadaan, bersemangat dalam kebaikan, tidak segan minta maaf duluan, dsb. Tentu berderai air mata ini mendengarnya.
Saya, atau kami menjadi saksi betul betapa Abi kami adalah orang yang bahkan mementingkan orang lain di atas dirinya. Bahkan beberapa menit sebelum sakaratul maut, Abi entah ada energi dari mana berjalan keluar kamar, duduk di dekat perpustakaan, lalu bertanya:
"Sekarang jam berapa?" tanya Abi dengan suara lirih sembari menunjuk jam dinding.
"Jam 10 bi." jawab Umi yang terus setia mendampingi.
"Sekarang jam berapa?" Abi kembali bertanya.
"Jam 10 bi." jawab Umi.
Begitu sampai 3 kali. Kemudian Abi kembali ke tempat tidurnya. Sehari setelahnya Umi baru tersadar bahwa itu adalah kebiasaan Abi tiap kali menunggu jam untuk mengisi di tempat selanjutnya. Umi bilang, Abi orangnya selalu ontime—jangan sampai jamaahnya menunggu, justru sebaliknya beliau yang menunggu agar tidak terlambat untuk mengisi di tempat selanjutnya.
Betapa tidak menangis saya mendengar cerita itu, bahkan disaat-saat terakhirnya masih ia sempatkan untuk memikirkan orang-orang yang begitu ia cintai. Saya tahu betul Abi rindu sekali bisa berdakwah kembali. Barangkali dakwah sudah melebur dalam dirinya—bayangkan saja dulu sebelum sakit lebih kurang 5 tempat setiap hari beliau berkhidmat untuk membina umat. Iya setiap hari. Sayapun juga bingung bagaimana bagi waktunya.
Kepergiannya begitu indah. Tenang dan insyaallah Abi mampu mengucapkan lafadz Lā ilāha illallāh kata Umi yang terus membimbingnya saat itu. Wajahnya terlihat bersih, dan segar, seperti tidak sakit padahal di malamnya wajahnya pucat dan Abi mengeluh luar biasa. Seolah kerinduannya akan berjumpa dengan Rabb-nya sudah tidak tertahan rasa sakit lagi.
Sedih sekali sebetulnya, namun melihatnya kesakitan juga saya tidak mampu lagi. Puluhan tahun saya mengenalnya dari kesaksian orang lain, baru ketika beliau sakit kami membongkar 'barier kecanggungan' di antara Ayah dan Anak lelakinya, dan mulai bercerita banyak hal secara empat mata.
Pesan-pesan hidup yang beliau titipkan, kisah-kisah yang selalu membakar semangat tiap kali futur, solusi dengan pendekatan sirahnya, dsb.—suatu saat akan saya bagikan satu persatu disini, semoga menjadi amal jariyah baginya. Setelah semua energi ini kembali.
Bagi saya beliau adalah Ayah yang penuh perencanaan dan manajemen diri yang baik. Baik itu untuk dirinya, maupun ke anak-anaknya. Abi selalu punya treatment berbeda kepada tiap-tiap diri kami. Selalu membimbing, hampir tidak pernah menuntut, namun begitu bijak menyikapi ketika kami berjumpa dengan kegagalan atau kesalahan.
Selamat jalan Abi, kami bersaksi bahwa Abi adalah Ayah yang baik, bertanggung jawab hingga akhir amanah Abi, semoga Allah berikan tempat terbaik disisi-Nya.
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.
Jika kamu sudah memutuskan pilihan untuk menjalani sesuatu, dan kamu sudah mengukur konsekuensi baik buruknya, serta memiliki komitmen penuh dalam menjalaninya, sembari tetap merawat kesadaran bahwa segala sesuatu menuntut pertanggungjawaban pada-Nya, maka penilaian orang, seburuk apapun itu bukan menjadi soal. Tetap jalankan. Wakafa billahi syahida.
Ujian
Di pekan ini, berturut-turut mendapat kabar ujian sakit dari orang-orang di lingkaran terdekat, penyakit yang bisa dibilang selama ini hanya sekedar tahu karena pernah muncul di timeline media sosial dari orang yang ingin berbagi informasi tentang penyakit itu atau dari grup kantor tempat ku bekerja, karena lingkup kerja ku di dunia kesehatan. Lalu, mendapati juga kabar kepergian prajurit TNI yang bertugas di lebanon, yang dimana salah satunya adalah sahabat dari sahabat ku sendiri.
Kaget, ketika mendapati kabar seorang teman mengalami stroke hemoragik pasca melahirkan, ia mengalami kelumpuhan total pada tubuh nya, hanya isyarat mata saja yang bisa ia tampilkan kepada orang di sekitar nya. Hanya bisa berbaring, tanpa bisa berbuat apa-apa, untuk sekedar memasukkan makanan pun di bantu oleh bantuan alat medis. Seorang yang kesehariannya selalu energik, ceria, yang sebelumnya begitu sehat, tiba-tiba di uji dengan sakit nya.
Lagi - lagi di waktu yang berdekatan, seorang rekan kerja senior meminta doa untuk kesembuhan istri nya, yang ternyata di vonis tumor otak dimana harus segera dilakukan tindak operasi. Pasca operasi, kondisi nya masih belum sepenuh nya pulih, belum kembali ke ruang ranap pasien. Beliau sendiri tidak menyangka istrinya harus mengalami sakit ini, keluhan sakit kepala belakangan dikira hanya sebuah reaksi dari tekanan darah tinggi. Istrinya yang begitu cekatan, ceria, mungkin semua orang yang mengenal nya pun akan kaget, dan bertanya-tanya kenapa bisa.
Kita semua juga pasti tau berita tentang kepergian prajurit TNI yang sedang bertugas di lebanon, dan ternyata salah satu nya adalah sahabat dari sahabat ku sendiri. Di usia yang sama dengan ku, tidak terbayang bagaimana perasaan keluarga nya saat ini, terutama istrinya yang selalu berharap kepulangan suaminya pasca menjalani tugas dalam keadaan utuh seperti saat ia pergi pamit bertugas. Bagaimana perasaan istrinya ketika notifikasi pesan di hp nya berisikan ucapan duka atas kepergian suaminya selama-lamanya di dunia. Bagaimana perasaannya, ketika mulai detik ini ia harus dihadapkan pada kenyataan bahwa ia akan membesarkan kedua anak nya tanpa suami yang dicintai nya.
Ujian setiap orang memang berbeda-beda ya :") di tengah kebahagian yang sedang di rasa, di tengah hangat kehidupan keluarga, di antara rasa yang penuh warna, tanpa kita duga, Allah hadirkan sesuatu yang kita tidak suka. Kita mungkin tidak menerima pada awal nya, kita mungkin sedih atas kondisi ini semua. Namun satu hal yang perlu kita tau, bahwa Allah tidak akan memberi kita ujian untuk menyakiti kita, justru dengan ujian Nya, mungkin jadi jalan untuk kita semakin dekat pada Nya. Mungkin dengan ujian Nya, menjadi kan kita semakin ingat bahwa kenikmatan yang kita terima di dunia ini memang bersifat sementara. Mungkin dengan ujian Nya, menjadi jalan bagi orang yang mencintai diri kita untuk mengingat Nya dan lebih mencintai Nya. Tidak ada yang menyakitkan, semua ujian diberikan pada kita sudah sesuai takaran Nya, kita hanya perlu berlapang diri, menerima ketetapan Nya.
Siapapun yang sedang diuji, semoga Allah senantiasa meluaskan hati, memberikan ketenangan pada diri, mengetuk hati untuk selalu berbaik sangka pada Nya yang tau segala kebaikan untuk diri nya bahkan melebihi diri nya sendiri.
Bandung, 04 April 2026
Yang Tidak Selesai di Kepala Saya
Barangkali seperti dapur yang api kompornya tak pernah benar-benar padam.
Di sana, ia menjadi juru masak bagi pikirannya sendiri.
Ia menaruh segalanya ke dalam satu panci—kekhawatiran, harapan, rencana, juga sisa-sisa hal kecil yang tak kunjung usai. Diaduknya pelan, dengan harap yang sederhana: semoga rasanya cukup, tak terlalu pahit, tak pula hambar.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Semakin lama dimasak, semakin sulit dibedakan mana rasa asli, mana yang sudah berubah.
Yang manis bisa tiba-tiba getir, yang sederhana mendadak terasa berat.
Ia mencoba menakar, menambah ini, mengurangi itu, seolah semuanya bisa dikendalikan hanya dengan sedikit penyesuaian. Padahal, ada hal-hal yang sejak awal memang tak bisa ia masak menjadi baik-baik saja.
Ada yang terlalu lama ia biarkan di atas api, hingga gosong tanpa ia sadari.
Ada yang sebenarnya cukup dipanaskan sebentar, tapi ia terus mengaduknya seakan takut kehilangan.
Dan di tengah kepulan itu, ia lupa satu hal sederhana.. bahwa tak semua harus dimasak hari ini.
Bahwa ada yang cukup disimpan, ada yang memang belum waktunya diolah, dan ada yang justru akan lebih baik jika tak dipaksakan menjadi apa-apa.
Hingga akhirnya, ia mematikan api itu.
Bukan karena semua sudah matang, melainkan karena ia mulai memahami batasnya sendiri.
Ia duduk di hadapan dapur yang perlahan mendingin, membiarkan aroma yang tersisa menguap tanpa perlu ia kejar.
Dan dari sana ia belajar, bahwa hidup bukan tentang memastikan semuanya terasa pas, melainkan tentang tahu kapan harus berhenti mengaduk hal-hal yang hanya akan semakin keruh jika terus dipaksakan.
Di sisa hangat yang pelan-pelan hilang itu, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia dapatkan saat sibuk memasak ketenangan… yang tak dibuat-buat.
Kapasitas
Hati yang tidak diluaskan dengan sabar, akan menyempit karena kekhawatiran. Setiap jengkal takdir yang menjadi bagian dari episode hidup kita sejatinya untuk memaksimalkan kapasitas. Maka jika kita mau mengaku, sejatinya sabar itu bukan opsi, tapi solusi. Menjalani hidup yang tidak pernah sesuai ekspetasi tentu tak mudah, itulah kenapa menjadi penting memiliki seni untuk menemukan titik sabarnya masing-masing.
Semoga tidak pernah lupa. Kita selalu punya doa, Allah yang punya cara. Doa yang diulang dengan sabar, dinanti dengan tenang. Menjalani hidup yang singkat ini perlu strategi untuk memaksimalkan amal sebanyak-banyaknya. Biar membesar kapasitas kita, meninggikan value sebagai hamba yang pantas masuk surga.
Jika kamu ingin menguji karakter seseorang, hormati dia. Jika dia memiliki karakter yang bagus, dia akan lebih menghormatimu, namun jika dia memiliki karakter buruk, dia akan merasa dirinya paling baik dari semuanya."
Ali bin Abi Thalib
memohon doa yang sama
bagaimana rasanya memohon doa yang sama selama sebulan penuh? bagaimana rasanya memohon doa yang sama selama setahun? sepuluh tahun? seumur hidup?
hingga kamu sadar. yang lebih penting bukanlah bilamana doamu dijawab iya sekarang. yang lebih penting adalah undangan Allah untukmu berdoa.
bagimu, memohon doa yang sama tidak masalah. yang penting Allah tetap mengundangmu untuk berdoa.
Rare white Aurora Borealis seen over Tromso, Norway
Februari ‘F’ nya apa ?
Fa inna ma‘al-‘usri yusrā
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
"fabiayyi ala irobbikuma tukadziban”
Fa idhaa faraghta fanshab.
Wa ilaa rabbika farghab.
(bisaa....biar move on)
Falyatawakkalil mu'minun..
"Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal."
Menemukan kedamaian dalam janji-janji Nya..
Fashbir shabran jamiilaa
Jadi WNI yang apa apa sulit, sabarnya harus elit 🤣
Fa alhamaha fujuraha wataqwaha
.... dibaca depan pemerintah biar dapet hidayah.
“Fafirruuuu ilallaah…”
“Maka segeralah kembali kepada Allaah… “
QS. Adz-Dzaariyaat: 50
bagaimana caramu?
mereka bertanya bagaimana caramu bertahan. bagaimana caramu menavigasi hidupmu. bagaimana caramu membuat keputusan ketika tidak ada pilihan yang enak. bagaimana caramu mengemas kembali, menata lagi.
jawabanmu satu: kamu membiarkan dirimu sembuh. lebih tepatnya, kamu memutuskan untuk sembuh.
kamu membuka hatimu lebar-lebar. kamu meyakini bahwa Allah-lah yang menghendaki setiap kejadian. bahwa Allah menyayangimu dengan cara-Nya. bahwa Allah tidak pernah meninggalkanmu.
kamu belajar untuk menerima kebaikan dan ketulusan. tanpa berprasangka, tanpa curiga, tanpa ada tapi-tapinya. kamu belajar untuk memaafkan berulang-ulang. bukan memaafkan orang lain atau sesuatu lain, melainkan dirimu sendiri. kamu memaafkan dirimu setiap hari.
kamu belajar tertawa untuk gurauan yang mungkin tidak sepenuhnya lucu. kamu belajar membuat lelucon. kamu belajar meromantisasi hal-hal sederhana di kehidupan sehari-harimu: hangatnya matahari, wangi selimut yang baru dicuci, ketuk ketik keyboard ketika kamu menulis, lembutnya sajadah yang menampung air matamu.
kamu belajar mensyukuri setiap karunia. kamu belajar melihat, menilai, dan menerima segalanya seapa-adanya. kamu belajar tidak tergesa-gesa. kamu belajar menikmati setiap gerakan, sentuhan, tarikan napas, langkah.
kamu belajar hidup lagi.
nggak jago matematika
Teman saya kasih satu jokes:
"Orang itu mah nggak jago matematika.” “Tahu dari mana, Bang?” “Dia nggak pernah itung-itungan.”
Lucu, tapi kena.
Di zaman ketika semua hal diukur—uang, waktu, tenaga, perhatian—orang yang tidak menghitung justru terlihat aneh.
Hari ini hidup seolah-olah neraca. Setiap kebaikan harus kembali dalam bentuk yang setara.
Orang dermawan bukan tidak bisa berhitung. Mereka cuma memilih tidak menjadikan hidup sebagai timbangan. Mereka memberi bukan dari kelebihan, tapi dari keyakinan bahwa kekurangan tidak selalu berarti kalah.
Makanya meski kadang mereka terlihat kalah di angka, tapi anehnya hidup mereka penuh nilai.