tepat hari ke-12 puasa Ramadhan dan pertama kali nya aku menginjakkan kaki di pulau Borneo.
ketika itu aku berdiri di depan pintu dermaga, sambil ku melihat kanan kiri mencoba memahami kesibukan orang-orang yang sibuk dengan barang bawaan, dari arah yang agak jauh ku mencoba menerobos pandanganku, terlihat bapak-bapak dan anak-anak yang merapikan jaring ikan. aku masih tetap berdiri diam dan memegang ganggang koper, memastikan barang bawaan kami aman di tanganku. Mas ku masih saja bertelepon dengan usaha mengeraskan suaranya untuk mengalahkan suara abang-abang angkot yang saling berteriak menawarkan tumpangan.
“Dek, kamu di sini dulu, jangan kemana2.”
masihku mencoba menebos pandanganku dari bilik tiang-tiang yang disandari oleh orang-orang yang mencoba berteduh. aku melihat sebuah kapal dari jauh, besar dan mengeluarkan asap dari cerobong panjang menjulang ke atas. kapal yang berhasil menarik perhatianku, sedikit ku berani melangkah mendekat untuk membuktikan pandangankan bahwa itu benar kapal yang sangat istimewa bagi ku.
“Non, Non ke Penajam? speed kosong!” tawar abang-abang yang mengagetkanku dan menyadarkanku, dimana mas ku? aku mulai panik. pandangan ini tak lagi tertuju pada kapal-kapal melainkan menyusuri wajah-wajah manusia di keramaian itu, di mana mas ku? beberapa kali orang-orang lewat dan bersenggolan dengan ku, tanganku tak seimbang membawa koper, aku merasa kesusahan tuk menarik koper karena latar jalanan yang tak rata. ku berusaha mengangkat tapi terasa berat. ku hela napas panjang, meredakan kepanikanku, mencoba fokus walaupun kepala masih merasa pusing dan waktu buka puasa tinggal 3 jam lagi. “Ya Allah, mas ku dimana?”. ku coba membenahi ransel yang ku gendong karena ku mulai merasa pagal dan masih tetap ku menelusuri wajah-wajah manusia.
“Yaa Allah mas ngageti wae, tak kiro sopo.”
“Kok suwi men ra bali-bali, gek jaket e yoo di copot kan tak kiro wong liyo!”
“Sumuk. Ayoo, nanti kita ketinggalan kapal.”
“iyalah, masag nyebrang naik angkot.”
“kapal itu mas?” (ku menunjuk kapal yang memiliki cerobong asap panjang)
“hahahah itu kapal bor, buat kerja bukan buat tumpangan”
Masyaallah senangnya aku, dari Solo ke Jogja naik kereta, dari Jogja ke Balikpapan naik pesawat, dari Balikpapan ke Penajam naik kapal. lengkap sudah transportasi yang ku tumpangi hari ini.
masih ada dalam tanda tanya dalam benakku, apakah ini pelabuhan Semayang, kenapa ramai sekali? pelabuhan Semayang ini merupakan pelabuhan barang maupun penumpang yang ingin singgah ke kota-kota bagian barat Indonesia, seperti Jakarta atau Surabaya.
“mas, ini namanya pelabuhan Semayang yaa?”
“yah bukan yaa, tapi kok rame?”
“Lain, ini pelabuhan Kariangau. Semayang tu masih jauh, 1 jam an dari sini. yaa rame lah, namanya juga tempat umum.”
ku masuki dermaga, melangkah di atas latar papan-papan yang terbuat dari kayu. berjalan di belakang mas ku dan sesekali sedikit melambat dari nya. pandanganku masih merasa takjup dengan potret teluk Balikpapan, kapal-kapal para nelayan yang berbaris rapi, saling bersenggolan karena gelombang air laut, anak-anak yang membantu bapaknya merapikan jaring dan bersiap untuk melaut, bapak-bapak yang sibuk menghitung uang di atas kapal sambil menghisap batang rokok, dan para calon penumpang kapal seperti halnya aku, membawa tas, dan barang bawaan laiinya. angin laut yang sesekali membuat mataku pedih dan memejam.
sampailah aku di ujung dermaga, mulai menaiki kapal Fery, menaiki tangga mengikuti mas ku dan orang lainnya..
Bismillah, ku beranjak meninggalkan pelabuhan Kariangau menuju pelabuhan Penajam. Tanganku mendingin, merasa gelisah, mungkin karena jam buka puasa segera tiba.