Selamat lebaran,
Jangan lupa, Al Aqsha masih dalam penjajahan
Stranger Things
Game of Thrones Daily

roma★
Show & Tell

oozey mess
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
ojovivo

Andulka
tumblr dot com
No title available

No title available

Discoholic 🪩
Claire Keane
we're not kids anymore.
AnasAbdin

JVL
art blog(derogatory)
Misplaced Lens Cap
Monterey Bay Aquarium

pixel skylines
seen from Spain

seen from United Kingdom
seen from Singapore
seen from Türkiye
seen from United States

seen from Germany

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from Austria
seen from Germany

seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Brazil
@ramskysstuff
Selamat lebaran,
Jangan lupa, Al Aqsha masih dalam penjajahan
Aku mulai memahami bahwa hati ini memiliki lapisan-lapisan rahasia yang tak boleh dihuni oleh sembarang jiwa. Aku harus jujur pada diriku sendiri bahwa ada lebam di jiwaku yang tertinggal karena aku pernah begitu ceroboh; membiarkan tangan yang salah menyentuh lukaku, dan mengizinkan lisan yang tak bergetar oleh takut kepada Allah menjadi tempatku menumpahkan rahasia. Aku menyadari bahwa tidak semua yang menyapa adalah teman, tidak semua yang bersinggungan adalah kolega, dan sungguh, sangat sedikit jiwa yang benar-benar pantas menyandang gelar sahabat.
Kini aku belajar untuk lebih teliti memasang pagar di sekeliling jiwaku. Aku tidak lagi merasa bersalah saat harus menyaring siapa saja yang boleh melangkah masuk ke ruang terdalam hidupku. Bagiku, ini bukan tentang kesombongan atau menutup diri, melainkan tentang menjaga amanah Tuhan atas diri yang seringkali rapuh ini. Aku telah menyaksikan bagaimana prinsip yang kubangun bertahun-tahun bisa runtuh hanya dalam semalam, hanya karena aku salah meletakkan kepercayaan kepada mereka yang belum selesai dengan egonya sendiri.
Aku mencoba membingkai ulang arti sebuah pertemuan; bahwa setiap orang memiliki "maqam" atau kedudukannya masing-masing dalam garis takdirku. Ada yang Allah hadirkan hanya sebagai kenalan untuk menggugurkan kewajiban salam, ada yang sebagai teman untuk berbagi tawa di permukaan, namun sahabat sejati adalah ia yang kehadirannya membuatku lebih mencintai Rabb-ku. Aku percaya bahwa sahabat adalah cermin iman; jika aku salah memilih tempat curhat, aku tidak hanya merusak duniaku, tapi juga sedang mempertaruhkan akhiratku. Bagiku, lebih baik memiliki satu jiwa yang mampu membawaku bersujud, daripada seribu kawan yang hanya membuatku semakin jauh dari jalan pulang.
@clichemistry
Semua dibungkus kata “demi kebaikan bersama”.
Mereka bicara stabilitas,
kita menghitung sisa uang dan nafas.
mereka nyaman di balik meja,
kita menyesuaikan hidup agar tidak ambruk.
Marah bukan berlebihan,
ini reaksi wajar dari rakyat yang terus diberi kabar buruk setiap harinya.
karena jika kabar baik tak pernah datang,
barangkali yang rusak bukan rakyatnya.
melainkan cara mereka memerintah.
Written by Aftansa
Kamu Tidak Harus Menang di Semua Situasi untuk Tetap Bertumbuh
Saat hidup terasa seperti tidak memihak, ingat satu hal: itu bukan akhir cerita. Bisa jadi, itu justru tanda bahwa kita sedang diarahkan untuk naik level—lebih dewasa, lebih sadar, dan lebih selektif dalam merespons hidup.
Ada masa di mana diam adalah bentuk keberanian. Bukan karena menyerah, tapi karena memilih untuk tidak lagi memberi energi pada hal-hal yang tidak memberi nilai. Berdamai dengan rasa sakit tanpa terus bereaksi adalah skill emosional yang mahal, dan tidak semua orang memilikinya.
Kita tidak ditugaskan untuk menyenangkan semua orang. Bahkan niat baik pun bisa disalahpahami. Maka, tidak apa-apa jika memilih untuk melepaskan, menutup beberapa pintu, dan membuka ruang baru yang lebih sehat.
Kalau tidak dilibatkan, jangan memaksa masuk. Kalau tidak diminta, jangan memikul beban yang bukan milikmu. Fokus saja pada hidupmu sendiri: tanggung jawabmu, tujuanmu, dan hal-hal yang membuatmu tumbuh.
Percaya saja, yang memang ditakdirkan untukmu tidak akan salah alamat. Ia akan datang bukan dalam bentuk drama, tapi dalam ketenangan.
Ada satu fasa dalam ibadah, kita banyak bercakap dengan Allah. Dan ada satu fasa yang lebih sunyi..bukan kerana tiada harap, tapi kerana percaya.
Doa yang dulu panjang bukan salah dan doa yang kini ringkas juga bukan bererti menyerah.
Kadang-kadang doa dipendekkan bukan sebab kita kurang mahu, tetapi sebab kita sudah letakkan selebihnya di tangan yang paling aman.
“Allahumma hasibni hisaban yassira” itu adalah doa orang yang sedar dunia ini sementara, dan yang benar-benar menenangkan bukan apa yang kita dapat,tetapi bagaimana kita dipanggil pulang.
Tentang masa depan yang kita risaukan? Tak salah rasanya kalau kita belajar menata hati untuk kekal tenang, teruskan berdoa usaha dan tawakal…. because what if doa kita terlalu memaksa padahal we’re not even meant to be part of the future we’re worrying about?
Maka tugas kita bukan meramal, tapi hidup dengan sebaik-baiknya hari ini. Menjaga solat walaupun hati penat…Berbuat baik walaupun tak dipuji dan terus berdoa walaupun ayatnya tinggal satu baris.
Dan yang paling penting? orang yang menyerah tak akan ulang doa yang sama… orang yang menyerah akan diam.
Tapi kita… kita masih mengetuk, walaupun perlahan, masih berharap…walaupun tak memaksa.
Itu bukan kalah sayang, itu tawakal yang sudah berakar. Teruskan, ya? Sebab kadang-kadang Allah tak ubah takdir kita… tapi Dia ubah cara hati kita berdiri di dalamnya.
Ramai sekali orang bicara tentang resolusi, tentang target angka-angka yang harus ditembus tahun ini. Tidak salah memang. Tapi bukankah kita sering lupa pada resolusi yang paling purba? Yaitu memperbaiki adab yang mulai terkikis. Apa gunanya pencapaian melangit jika kaki kita menginjak kepala orang lain saat mendakinya? Lelah mengejar dunia itu wajar, tapi kehilangan nurani demi dunia itu bencana. It's okay melambat sedikit, asal arah kiblatnya tidak bergeser.
Aku mulai memahami bahwa hati ini memiliki lapisan-lapisan rahasia yang tak boleh dihuni oleh sembarang jiwa. Aku harus jujur pada diriku sendiri bahwa ada lebam di jiwaku yang tertinggal karena aku pernah begitu ceroboh; membiarkan tangan yang salah menyentuh lukaku, dan mengizinkan lisan yang tak bergetar oleh takut kepada Allah menjadi tempatku menumpahkan rahasia. Aku menyadari bahwa tidak semua yang menyapa adalah teman, tidak semua yang bersinggungan adalah kolega, dan sungguh, sangat sedikit jiwa yang benar-benar pantas menyandang gelar sahabat.
Kini aku belajar untuk lebih teliti memasang pagar di sekeliling jiwaku. Aku tidak lagi merasa bersalah saat harus menyaring siapa saja yang boleh melangkah masuk ke ruang terdalam hidupku. Bagiku, ini bukan tentang kesombongan atau menutup diri, melainkan tentang menjaga amanah Tuhan atas diri yang seringkali rapuh ini. Aku telah menyaksikan bagaimana prinsip yang kubangun bertahun-tahun bisa runtuh hanya dalam semalam, hanya karena aku salah meletakkan kepercayaan kepada mereka yang belum selesai dengan egonya sendiri.
Aku mencoba membingkai ulang arti sebuah pertemuan; bahwa setiap orang memiliki "maqam" atau kedudukannya masing-masing dalam garis takdirku. Ada yang Allah hadirkan hanya sebagai kenalan untuk menggugurkan kewajiban salam, ada yang sebagai teman untuk berbagi tawa di permukaan, namun sahabat sejati adalah ia yang kehadirannya membuatku lebih mencintai Rabb-ku. Aku percaya bahwa sahabat adalah cermin iman; jika aku salah memilih tempat curhat, aku tidak hanya merusak duniaku, tapi juga sedang mempertaruhkan akhiratku. Bagiku, lebih baik memiliki satu jiwa yang mampu membawaku bersujud, daripada seribu kawan yang hanya membuatku semakin jauh dari jalan pulang.
@clichemistry
Sepanjang hari aku termenung sendiri, menyusuri lorong-lorong sunyi yang hanya aku yang menapaknya.
Aku pernah ingin memiliki seseorang teman, peneman jiwa, orang yang mengerti setiap bisik hati.
Namun anehnya, hidupku terasa utuh dalam kesendirian yang tidak menuntut, tidak mengambil, dan tidak meninggalkan.
Kesepian ini lain daripada sunyi biasa. Ia lembut seperti angin yang menyisir wajah, tenang seperti laut yang tidak pernah marah, diam tapi penuh pengertian.
Aku belajar, kadang aku tak perlu dicintai untuk merasa lengkap. Kadang cukup dengan diriku sendiri, dengan hati yang bebas, dan jiwa yang bernafas tanpa syarat.
Di sinilah kedamaian itu, di ruang yang tidak diisi orang lain, tetapi diisi oleh aku sendiri… utuh, tenang, dan tidak terganggu.
Kalau kau tanya aku, apakah aku kesepian? Aku pasti akan tersenyum… bukan….bukan kesepian… hanya aku yang sedang berdiam dalam pelukan diriku sendiri.
Setelah sekian lama aku, mengabaikan aku.
Tips Senior : Usahakan setiap minggu bertemu atau berbincang dengan setidaknya satu orang, baik orang baru maupun kawan lama yang sudah lama tidak saling sapa. Selain menjaga kesehatan mental, hal ini dapat menambah wawasan, menciptakan peluang dan melatih empati sesama manusia apabila mampu memposisikan sebagai pendengar yang baik. Bisa jadi, orang yang hari ini kamu ajak bicara adalah sosok yang kelak mencarimu untuk masuk surga bersama.
Ada beberapa bagian dari takdir yang kita butuh waktu untuk mencerna hikmah apa yang hendak Ia sampaikan kepada kita
Aku punya kekuatan untuk survive, dan aku pasti mampu melewati setiap tantangan yang datang. Aku memilih untuk mengubah sudut pandang dan mencari sisi baik di setiap situasi, bahkan yang sulit sekalipun. Masa depanku adalah hasil dari pilihan-pilihan positif yang aku buat hari ini. Aku pantas bahagia, dan hidupku harus bermakna. Keyakinan pada diriku adalah kompas utamaku, dan aku tahu aku sedang berjuang untuk mencapai versi terbaik dari diriku.
Seringkali kita gagal membedakan antara "berhenti" dan "berserah".
Keduanya terlihat sama dari luar: tangan yang terkulai, bahu yang turun, dan langkah yang terhenti sejenak.
Namun, di balik diamnya tubuh itu, riuh di dalam dada bunyinya berbeda.
Menyerah kepada keadaan itu dingin dan gelap.
Ia datang seperti kabut tebal yang menyusup perlahan, membutakan matamu dari jalan keluar, hingga kau percaya bahwa tembok buntu di depanmu adalah akhir dari segalanya.
Ia memaksamu menjadi kerdil, membuatmu merasa bahwa dunialah raksasa yang tak mungkin dikalahkan.
Di titik itu, kau meletakkan pedangmu karena merasa dirimu tidak berharga.
Sementara menyerah kepada Allah… ah, itu rasanya seperti pulang.
Ia bukan tentang berhenti bergerak.
Ia adalah tentang berhenti memaksa.
Ia seperti perahu kecil di tengah samudra yang berhenti mendayung melawan badai, bukan untuk membiarkan dirinya tenggelam, melainkan untuk membiarkan angin Sang Pencipta yang mengambil alih kemudi.
Saat engkau menyerah kepada keadaan, hatimu menyempit, sesak, dipenuhi tanya "kenapa harus aku?"
Kau menjadi tawanan dari rasa kecewa.
Namun saat engkau menyerah kepada Allah, dadamu meluas seolah seluruh langit muat di dalamnya.
Kau meletakkan beban berat itu di lantai sujud, dan berkata dengan lirih: "Tuhanku, dayaku hanya sampai di sini. Maka selanjutnya, biarlah Kuasa-Mu yang bekerja."
Di sanalah letak keajaibannya.
Menyerah kepada Allah tidak membuatmu lemah; ia justru memberimu kekuatan yang tidak masuk akal.
Kekuatan untuk tersenyum saat dunia sedang menangis.
Kekuatan untuk tetap berjalan walau kakimu gemetar.
Sebab engkau tahu, kau tidak sedang berjalan sendirian.
Maka, jika hari ini bahumu terasa berat, periksalah hatimu.
Kepada siapa engkau sedang menyerah?
Jika kepada keadaan, bangkitlah dan lawan.
Tapi jika kepada Allah, sujudlah dan tenangkan jiwamu.
Karena menyerah kepada-Nya, adalah satu-satunya cara untuk menang melawan dunia.
@clichemistry
Keindahan sejati adalah kualitas yang muncul dari cara segala sesuatu bekerja dengan baik, bukan sekadar penampilan luarnya.
Dalam kehidupan nyata, kita melihat ini di mana-mana:
sebuah lukisan terlihat indah karena penempatan elemennya yang sempurna dan pemilihan warnanya yang terencana;
bunga mekar karena itu adalah cara cerdas mereka untuk bertahan hidup dan berkembang biak;
dan gunung berdiri kokoh sebagai bukti proses alam yang terjadi selama jutaan tahun.
Ketika kita melihat perhiasan yang elegan, itu adalah hasil dari pengerjaan yang teliti dalam menangkap dan memantulkan cahaya.
Bahkan hangatnya api unggun adalah reaksi kimia sederhana yang secara sosial menjadi pusat kita berkumpul dan berbagi cerita.
Oleh karena itu, setiap hal memiliki pesonanya karena memiliki nilai yang penting dan peran yang unik. Keindahan sesungguhnya bukan hanya tentang apa yang bisa kita lihat di permukaan, tetapi tentang memahami cerita dan tujuan yang ada di baliknya.
Bahwa segala sesuatu di alam semesta diciptakan oleh Allah SWT dengan ukuran, tujuan, dan kesempurnaan tertentu, dan tidak ada yang sia-sia.
Kadang jalannya nggak langsung lurus, tapi harus muter-muter dulu, balik lagi, belok kanan kiri lalu nyasar, baru deh endingnya, “Lho? Udah sampai aja nih”, jadi sabar aja ya, dijalani aja sampai ketemu endingnya.
Aku menukar percakapan dengan-Mu dengan obsesi pada kendali dan akhir cerita. Kini hatiku seperti rumah ibadah yang terkunci, lampunya ada, tapi jarang dinyalakan. Aku rajin menghitung ikhtiar, tapi lalai merawat hati, menjadikan sujud sebatas ritual, bukan dialog. Padahal di sela napas paling sunyi, aku ingin berkata: Tuhan, ajari aku membaca arah-Mu.
Setiap orang sedang berlari ke stasiunnya masing-masing, jadi nikmati perjalanannya dan nikmati pertemuannya. Jika di tengah perjalanan berpapasan dan hilang dan timbul lagi, mereka hilang sementara karena ada sebagian mimpinya yang berbeda dengan jalurnya kita. Tapi, senang melihat masing-masing sibuk dengan mimpinya masing-masing :)
Dan akhirnya yang bisa satu gerbong sama-sama adalah yang sama-sama tujuannya dan sama-sama kemampuan harga beli tiketnya dan sama-sama waktunya. Karena kalau cuma sama tujuan, bisa aja kan yang satu beli eksekutif yang satu beli tiket krl. Atau sama-sama beli tiket eksekutif tapi yang satu beli jam 7 pagi yang satu lagi beli jam 7 malam.
Nggak semua perkembangan terlihat tumbuh ke atas. Bisa aja mengakar kuat ke dalam.
@milaalkhansah
Jadi keinget kata dedushka;
Sekarang ini kamu lagi usia semangat-semangatnya, tapi coba dibawa santai dulu. Masih muda gini, jangan cuma sibuk cari tepuk tangan atau buru-buru pengen kelihatan hebat.
Anggap aja ini waktu 'berkebun' kamu. Fokus aja tanam akar dalam-dalam. Benar-benar kuatkan fondasi ilmu, karakter, dan disiplinmu. Kenapa? Karena pohon yang akarnya tipis itu gampang tumbang. Kalau kamu mau manfaatmu besar, ya fondasimu harus kuat. Manfaat paling baik itu selalu datang dari persiapan yang paling kokoh.