Kehilangan
Dan Dia yang telah menyatukan tawa dengan hidup, dan menghubungkan tangis dengan mati.
Peter Solarz

blake kathryn
TVSTRANGERTHINGS
Lint Roller? I Barely Know Her
NASA
Sade Olutola

JBB: An Artblog!

Andulka
todays bird
hello vonnie
Mike Driver

Origami Around
No title available

ellievsbear
dirt enthusiast
Keni
noise dept.
Three Goblin Art
Not today Justin

No title available
seen from Netherlands

seen from T1

seen from T1
seen from United States

seen from United States
seen from Brazil
seen from United States

seen from United States
seen from Germany

seen from Türkiye

seen from Malaysia

seen from Singapore

seen from Syria
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Indonesia
seen from India
seen from Canada
@randiology
Kehilangan
Dan Dia yang telah menyatukan tawa dengan hidup, dan menghubungkan tangis dengan mati.
Pandemi: suatu media beradaptasi
Di Indonesia pandemi ini sudah memasuki bulan ketiga. Entah bulan ke berapa bila kasus inisial diketahui.
Saat awal-awal masa ini, semua orang gagap dalam bertindak dan mengambil kebijakan. Pemerintah, institusi non pemerintah, institusi pendidikan, industri dan lain-lain. Karena ini adalah pertama kalinya kita mengalami masa seperti ini. Tidak ada contoh yang bisa ditiru, sehingga semuanya serba dinamis, dan membutuhkan kemampuan adaptasi manusia yang baik dengan perubahan-perubahan itu.
Semua protes dengan peraturan dan perubahan yang dirasakan tidak adil bagi sebagian golongan. Lalu seiring berjalannya waktu, peraturan itu diubah untuk bisa kembali memaksa manusianya patuh dengan alasan menurunkan risiko transmisi. Dan sekali lagi, manusianya yang dipaksa untuk mengikuti dan beradaptasi.
Tidak lepas bagi tenaga medis di rumah sakit.
Rasa parno, was-was, khawatir saat wabah ini melanda, bahkan sejak 3 bulan setelahnya belum hilang. Rasa takut menjadi pembawa virus bagi keluarga di rumah menjadi alasan paling kuat ansietas tersebut. Tak jarang, rasional dan logika menjadi tertinggal dan tidak diikutsertakan dalam berkata atau bertindak. Lebih banyak emosi.
Bukan mau kami pandemi ini terjadi. Dan memang sudah pilihan kami untuk memutuskan menjadi tenaga medis saat itu. Maka saat pandemi ini terjadi, kami siap untuk mengelolanya. We’re not the frontliners yang disebut-sebut itu. Kami hanya orang yang memang berada di bidang tersebut, namun kini menjadi sorotan karena semua fokus kepada wabah ini.
Bulan ini tampak satu fenomena baru lagi, di mana lebih banyak sahabat kami yang terkonfirmasi positif tanpa gejala. Sehingga memang benar kekhawatiran sebelumnya bahwa kami adalah pembawa virus yang potensial. Tapi proses penapisan berkala belum mampu laksana dengan baik. Ya kembali lagi, kita semua masih dalam proses adaptasi, mungkin gilirannya belum sampai ke kita. Mungkin saat ini kita masih menunggu aturan itu berubah lagi. Mungkin nasib keluarga kita masih harus menunggu proses adaptasi berikutnya.
Inilah dunia yang kuratif, bukan preventif.
Dalam 3 bulan ini, seharusnya banyak pelajaran yang bisa diambil untuk dijadikan dasar dalam mengambil kebijakan dengan mengedepankan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
Tetap bertahan sejawat dokter, kakak perawat, ahli gizi, laborat, apoteker, cleaning service, satpam dan bapak ibu yang rela bekerja di zona merah, semoga dengan ikhlas. Semoga kalian dan keluarga tetap sehat dalan lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa.
It’s not about how hard you fall, but how fast you get back up.
Jakarta, di tengah zona merah, 4 Mei 2020.
Halo Tuhanku,
Kenapa ada orang jahat di bumi?
Kenapa tidak semua orang saja dibuat baik?
Bukankah kalau semua orang dibuat jadi baik maka kita manusia ini akan hidup rukun dan selalu tersenyum?
Tidak ada tangis atau sakit hati. Tidak ada perasaan cemas, was was dan khawatir.
Kalau semua orang dibuat jadi baik, maka ke surga semua kita pindah nanti.
Tidak mungkin kepenuhan kan?
Lalu kenapa harus ada orang jahat di bumi?
Be Good
Life is an option. Whether you can be good or you can be bad. When it gives you problems, throw a smile at it. You can always be a good person.
When I have a hundred reasons to cry, I'll find one reason to smile.
Cerita tentang Bapak
Dia tua, tapi tak setua itu. Dia yang dulu gagah, kini bersisa tulang. Bagaimana aku melihat dia berubah jadi lemah dan lesu. Sekarang terbaring dan butuh sandaran. Dia kuat, tapi tak sekuat itu. Dulu berkuasa, kini berserah. Berserah tapi belum menyerah. Kami yang dulu terluka, kini terus berdoa. Bagaimana rembulan bisa masih terang? Saat gelap sudah terlalu pekat. Bila nafas sudah di ujung, barulah sadar kuasa Tuhan teramat akbar.
Doa Orang Baik
Jika bisa jadi orang baik, kenapa harus jadi orang jahat. Kami diminta jadi orang baik, tapi kami dijahati. Kami bukan Nabi yang diludahi malah membalas dengan doa baik. Saat ini air mata menggantung di ujung kelopak, menolak untuk jatuh, menolak untuk ditahan.
Kau bisa patahkan kakiku, patahkan tanganku, rebut senyumku, hitamkan putihnya hatiku. Tapi tidak mimpi-mimpiku.
Manusia Kuat, Tulus.
Memiliki adalah perasaan yang membahayakan, karena ia memiliki efek lupa akan adanya ancaman kehilangan.
-
Ada ragu yang memeluk diam-diam dalam senyap, hanya setipis helai namun mengikat kuat. Ke mana dia yang seumur hidup dicinta. Mengapa berparas sedih dia yang ditinggal. Telah runtuh tembok kokoh beratap jerami. Apa yang bisa diperbuat sungguh apa. Kami bercerita dalam diam. Saling tahu hal-hal yang tidak terucap. Menangis satu sama lain, saling menyeka air mata yang lain. Memberi bahu bukan menopang dagu. Kita sama-sama berpura-pura tidak tahu tentang dia yang kita sama-sama tahu. And life goes on. With a tugged boulder. Yes, it hurts, and I'm sad. And when I'm sad, I sleep.
_
Perjalanan sesingkat sehari semalam kemarin menyajikan lukisan hidup yang sangat tertata rapi. Memang benar hidup hanya ada hitam dan putih, tidak ada kesempatan bagi abu-abu untuk berdiri. Tempat meminta pertolongan hanya kepada Sang pengatur takdir, bukan mereka yang di bawah sana.
Dia yang menyatukan, dan pula yang memisahkan. Dan pula yang memutuskan semuanya terjadi di saat yang sama. Selalu ada alasan baik yang kadang akal orang berjalan tidak kena pikir.
Selamanya kita hanya berniat dan berencana. Selamanya kita hanya mampu bersenang dan mengeluh.
Be, and it is.
Yang Hebat
Manusia biasa itu sulit bersyukur. Yang mudah bersyukur pasti manusia luar biasa.
Rumah
Sudah seberapa jauh aku pergi? Rumah terasa sangat jauh di belakang. Tempat ini terasa begitu asing. Terasa begitu melelahkan.
Rasa ingin sekali untuk kembali ke rumah, jadi anak kesayangan Ibu, jadi anak kecil yang tak tahu seperti apa rasanya bertanggung jawab. Ketika pagi datang, sudah disiapkan sarapan nasi goreng dan telur mata sapi dengan segelas teh hangat. Menghabiskan waktu siang di rumah, bermain dengan sahabat karib hingga adzan Maghrib bergema. Lalu pulang ke rumah kembali menyantap masakan enak Ibu. Dan akhirnya terlelap tidur di kamar sendiri, tahu aku akan selalu aman karena Ibu pun tertidur di kamar sebelah.
Sudah terlalu jauh aku pergi. Rumah terasa sangat jauh di belakang.
Tidak mungkin untuk berputar arah, karena ini jalan satu arah. Mau tidak mau aku harus jadi besar. Suka tidak suka aku harus bertanggung jawab. Aku yang harus bisa berhadapan dengan 1000 wajah orang bermuka dua. Melawan panas yang menghitamkan. Mencari bumbu-bumbu dan resep baru untuk nasi goreng buatanku sendiri.
Jadi aku yang harus bisa membangun rumah sendiri, untuk mereka yang memanggilku keluarganya.
Yes I’m far away from home, but I know it leads me to a new and more comfortable home.
It’s time to let go. It’s time to wake up.
Life is a creation. So is happiness. Happiness is created, not searched or found. Create our own happiness.
I don't need the world. I only need you. To me, you are my world.
The great aim of every human being is to understand the meaning of total love. Love is not to be found in someone else, but in ourselves; we simply awaken it. But in order to do that, we need the other person. The universe only makes sense when we have someone to share our feelings with.
Paulo Coelho