Dulu, ketika saya membahas feminisme di kelompok kajian, teman-teman saya masih belum ngeh tentang apa itu feminisme dan dampaknya pada cara berpikir dan cara kita menempatkan perempuan di ruang publik. Hari ini, feminisme mendapat tempat yang baik di ruang publik hingga banyak sekali orang yang membelanya. Dunia berkembang. Manusia mengembangkan moral value yang menurut mereka bisa membantu untuk survive di zaman yang mereka lalui.
Pekan ini, saya iseng mendatangi diskusi tentang Sapiens-nya Harari. Sudah terbayang pesertanya akan seperti apa. Jangan kebayang saya jadi pembicaranya. Saya tidak capable sama sekali untuk memandu bedah buku wkwk. Saya hanya menjadi penonton sembari menikmati candaan teman saya yang selalu mengingat saya setiap menemukan bacaan tentang bumi datar.
Diskusi ini membawa ingatan saya pada 9 tahun lalu.
Ada seorang teman yang menanyakan kepada saya sebuah pertanyaan. Pertanyaan tersebut persis sama dengan apa yang ditanyakan pembicara dalam diskusi ini kepada saya. Sembilan tahun lalu, dialognya kurang lebih seperti ini:
“Apa menurut kamu Al Qur’an itu penting?”
“Iya. Bagi saya Al Qur’an itu penting”
Teman saya yang lain nyeletuk
“Kamu tidak punya cukup keberanian buat unpack agama kamu”
“Kenapa saya perlu unpacking agama saya? Kita diskusi tentang sains kan di sini? Bukan tentang bagaimana iman saya kan?”
“Tapi kamu nggak bisa jadi saintis yang baik kalau masih membawa agama dalam sains. Sebab sains harusnya bebas nilai”
“Ok well. Kita punya perbedaan dalam men-sifati sains di sini. Tapi saya sepakat bahwa akal dan hasil pengamatan itu sumber ilmu atau knowledge”
“Oh nggak bisa. Kamu pasti kemana-mana bakal bawa dalil. Lagipula logika agama itu selalu kontradiktif sama sains. Suatu saat, kamu pasti bakal nemuin itu. Karena sains mengancam keberadaan Tuhan dalam pikiranmu”
“Kamu tuh sebenernya mau ngobrolin apa sih? Wkwk. Mau cerita tentang sains tapi malah jadinya judging keyakinan saya. Udah mulai aja. Nanti kalau ada yang kontradiktif, saya ga bakal rese. Agama saya, biar saya yang nyari”
“Serius? Nggak bakal kesinggung?”
Suatu hari teman saya bertanya lagi
“Pernah nggak sih kamu terganggu dengan pandangan agama kamu ketika harus membaca fisika teori?”
“Termasuk ketika Hawking bilang bahwa alam semesta adalah hasil interaksi antara energi, materi dan ruang? Termasuk ketika hitungan waktu dari satu planet berbeda dengan planet lain?”
“Bagian mana yang menurut kamu bertentangan dengan agama saya?”
“Karena agama kamu bilang bahwa universe itu diciptakan. Dan ibadah dalam agama kamu sangat terikat waktu. Bagaimana kalau nanti manusia sudah sampai di ruang angkasa dan hitungan waktunya beda”
“Yang pertama, Hawking meneliti tentang universe bukan untuk bergenit ria dengan believe nya manusia. Andaipun ingredients nya alam semesta itu memang energy, space sama matter, bagian mana yang menjadi negasi atas keberadaan Tuhan? Yang kedua, Islam membuka ruang diskusi tentang bagaimana waktu sholat andaikata saya kelak tinggal di planet lain yang hitungan waktunya beda. Jadi nggak masalah kalau waktu memang relatif”
“Hhaaa….Kenapa kamu nggak berusaha ber-argumen untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada?”
“Saya kan cuma jawab pertanyaan kamu. Ga pa pa dong kalau saya nanya detailnya, bagian mana yang me-negasi-kan adanya Tuhan?”
“Hawking berteori bahwa Space, Energi dan Matter membentuk universe. Prosesnya terjadi take for granted. Tanpa sebab apapun”
“Di titik tertentu ketika indera dan teknologi kita tidak bisa menjangkau, kita mencukupkan diri dengan hipotesa. Terjadinya alam yang (bisa saja) take for granted itu teori yang masih bisa difalsifikasi. Sementara keberadaan Tuhan yang menciptakan matter, energy dan space tadi beserta sepaket aturannya, itu juga teori. Hanya saja, kamu milih sependapat sama Hawking dan saya memilih meyakinin apa yang saya yakini”
“Tapi keyakinan kamu kan ga bisa difalsifikasi”
“Sekarang, mana ada orang yang berani menentang kepercayaan ummat islam?”
“Bukan itu yang saya maksud. Misal Hawking bilang Al Qur’an salah, pasti ummat islam marah”
“Itu perkara pilihan sikap orang aja. Bukan hal teologis”
“Kalau suatu saat cara kerja alam semesta terungkap, kamu berani menyalahkan agama kamu sendiri nggak?”
“Terungkapnya bagaimana universe bekerja itu tidak menegasikan keberadaan Tuhan”
“Tadinya saya nyangka kamu itu ngambil pendapat Immanuel Kant bahwa semua hal punya penciptanya. Kalau kita tidak bisa melihat pencipta, kita bisa melihat jejaknya dari ciptaannya. Tapi kamu kekeuh pada logika bahwa terungkpanya bagaimana universe bekerja tidak cukup me-negasi-kan keberadaan Tuhan. I agree to disagree. Karena kita sama-sama berasumsi dan yakin pada asumsi masing-masing”
“Saya sudah sering bertemu dengan pertanyaan semacam ini. Argumen yang katamu milik Immanuel Kant tidak saya ambil karena logikanya tidak konsisten. Dalam keyakinan saya, ada sesuatu yang tidak diciptakan”
Sembilan Tahun lalu, saya sering sekali berdiskusi tentang hal-hal teologis seperti ini. Sekarang, saya mencukupkan diri dari berdebat perkara itu. Karena memang banyak hal lain yang perlu dikerjakan. Hanya saja, ketika saya membaca Sapiens dan berdiskusi tentang itu, saya seperti kembali ke masa lalu. Bedanya, hari ini, ruang untuk berdiskusi tentang sesuatu yang liberal lebih terbuka. Banyak juga muslim yang speak up dengan stance nya sebagai liberal dan menghapus wahyu sebagai sumber ilmu dalam sains.
Teman saya pernah bertanya:
“Apakah ketika manusia bisa menjadi spesies yang immortal, agama masih dibutuhkan? Ketika negara sudah ideal, semua hak asasi bisa terpenuhi dan semua bencana alam sudah dimitigasi, dimana ruang kita untuk bertawakkal”
Persepsi manusia tentang agama itu bermacam-macam. Ada yang menganggap agama itu ruang untuk menenangkan diri ketika menghadapi ketidakpastian. Sementara bagi saya, agama adalah tentang iman. Apapun yang terjadi, betapa banyakpun hal gaib yang terungkap dan terbaca oleh manusia, saya percaya bahwa Allah ada. Allah yang memberi izin kepada kita untuk mengembangkan teknologi, undang-undang dan lain sebagainya sebagai ikhtiar untuk memenuhi amanah sebagai khalifah di muka bumi. Allah juga mengizinkan kita untuk mengakses hal-hal yang dulunya gaib namun menjadi tidak gaib lagi seiring dengan perkembangan teknologi.
Jadi ketika ada pertanyaan yang jauh seperti tadi, saya cuma menjawab
“Wallahu a’lam. Iman itu masalah keyakinan dan hidayah. Kita nggak tau andai kita hidup di masa itu, persepsi kita terhadap dunia bakal seperti apa. Tapi saya masih berharap untuk bisa hidup sebagai manusia yang baik di mata Tuhan”
Pertanyaan teman saya tadi terasa di awang-awang. Namun sekarang, ketika Revolusi Teknologi Informasi bertemu dengan Revolusi Bioteknologi, akan banyak pertanyaan yang dulu masih terasa di awang-awang, tapi hari ini bakal terasa dekat.
Pekan lalu, ketika saya membahas feminisme lagi, adek-adek yang saya ajak diskusi masih meraba-raba seperti apa feminisme yang sebenernya.
“Seriously, kamu ga tau feminisme dek?”
Saya menyimpulkan bahwa lingkungan yang homogen akan memperlambat pertemuan kita dengan isme yang aneh-aneh. Tapi bukan tidak mungkin kalau setelah lulus kuliah, kita akan bertemu dengan lingkungan yang heterogen.
Di kampus punya kelompok halaqoh. Pas kerja, ke kafe bareng temen buat diskusi buku God Delusion nya Dawkins lalu bingung sendiri karena semua terasa mind blowing.
Selain kita (muslim yang percaya bahwa Islam itu syumul), di luar sana ada begitu banyak orang yang mengembangkan pendekatan sendiri untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat. Sebut saja Humanisme, Liberalisme, Feminisme, atau Komunisme
Kita menyebut ini sebagai isme yang tidak sempurna karena semua adalah karangan manusia. Sementara bagi kita sendiri, Islam itu sempurna karena Allah yang menciptakan.
Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana jika pemahaman kita yang tidak sempurna terhadap Islam ini justeru membuat agama terasa seperti momok?sementara isme yang ada di luar itu terasa memberi solusi dan angin segar?
Gap antara pengetahuan kita tentang agama dan pengetahuan kita tentang sains terkadang membuat kita menjadi manusia dengan pribadi yang terpisah. Ketika menjadi saintis, kita lepas sudut pandang sebagai muslim. Ketika kita sholat, kita lepas semua ingatan kita pada disiplin ilmu.
Kita sekuler secara tidak sadar.
Maka ketika splitnya sudah kebablas, kita bisa menjadi orang yang sangat taat beragama tapi di sisi lain menganggap bahwa sains atau perkembangan isme di luar islam akan mengganggu eksistensi kita sebagai muslim.
Padahal mestinya tidak seperti itu. Adanya isme di luar islam, jika kita pahami dari sisi historisnya, tentu akan memperkaya sudut pandang kita akan masalah real yang terjadi pada ummat. Pun ketika diskursus tentang keraguan atas kehalalan vaksin ramai mengemuka, mestinya bisa mempercepat ikhtiar kita untuk mencari opsi lain agar kita bisa menghindari wabah. Bukan malah ramai dan terjebak pada hoax yang tidak-tidak mengenai vaksin. Atau setidaknya kita benar-benar mencari bagaimana perkembangan penelitian vaksin yang sebenarnya melalu jurnal yang tersedia. Tanpa harus menutupi insecure nya kita dengan cara mengambil semua informasi yang mendukung opini kita tanpa memverifikasi nilai kebenarannya.
Adanya Islam bukan untuk menjadi tukang pukul bagi pendekatan-pendekatan (isme-isme) lain yang ditawarkan manusia sebagai solusi permasalahan di muka bumi. Adanya islam harusnya bisa menawarkan harapan bahwa ketika solusi lain sudah tidak masuk akal, kita bisa kembali berpulang pada Islam dengan segala disiplin ilmunya yang khas.
Inilah yang membuat saya beranggapan bahwa counter opini tentang feminisme bukanlah isu yang perlu diprioritaskan. Kita bisa membahas kekurangan isme-isme ini di mimbar akademik. Hal yang perlu kita lakukan hari ini adalah mengenali disiplin-disiplin ilmu yang berkembang di era keemasan islam. Agar kita bisa mengevaluasi, disiplin ilmu apa yang tidak ada pada peradaban kita hari ini.
Dalam buku filsafat ilmu yang diterbitkan INSIST, kita dapat menemukan bagaimana perkembangan disiplin ilmu Islam dalam sejarah. Berawal dari hafalan tentang Al Qur’an dan pencatatan hadis. Kemudian berkembanglah ilmu mustholah hadis untuk memverifikasi tingkatan hadis. Setelah itu banyak ulama yang belajar tentang bagaimana budaya Quraisy, sastra dan bahasa yang berkembang agar bisa memahami Al Qur’an dan Hadis dengan lebih baik. Lalu berkembang pula disiplin ilmu fiqih yang core ilmunya adalah metodologi ilmiah tentang bagaimana mengambil dalil dari Al Qur’an, Hadis dan sumber hukum lainnya sehingga menghasilkan suatu sikap terhadap suatu perkara. Disiplin ilmu ini harusnya juga berkembang dan mudah diakses pada masa kita.
Tapi hari ini, kita sendiri berpasrah pada ulama tanpa sama sekali berusaha menggugat keawaman. Pertanyaan kita tentang sebuah perkara hanya sebatas:
“Perkara ini hukumnya seperti apa kalo dalam islam?”
lalu kita hanya melihat jawaban akhirnya bahwa perkara ini halal, haram, makruh, mubah atau sunnah. Tanpa perlu merasa belajar bagaimana semua disimpulkan?
Kita sendiri berpasrah pada rasa aman
“Aku ga berani mengkritik karena aku ga faham”
tanpa perlu merasa penting belajar lebih dalam. Iya, kita bebankan semua pada ulama. Kita tanyakan semua masalah di semua bidang pada satu dua ulama. Sehingga jika ulama ini mengeluarkan penyikapan yang keliru, kita tertawa dan islamnya yang kita hina.
Di kehidupan kita sehari-hari, kita tidak berani mempertanyakan urusan finance pada orang kimia. Tapi untuk urusan agama, kita mempertanyakan semua pada satu ustadz tanpa merasa perlu memeriksa background ustadz ini apa.
Pada akhirnya, akses kita pada ilmu-ilmu Islam semakin sulit karena disiplin ilmu tersebut terasa tidak dibutuhkan sehingga tidak tergali lagi.
Dalam tulisan ini, saya tidak sedang mempromosikan ide tentang Khilafah atau ide tentang Al Quran yang harus menjadi undang-undang formal. Sejatinya, tanpa pemahaman yang baik, undang-undang hanya akan menjadi alat politik. Sejarah mencatat bahwa hal-hal demikian banyak terjadi di era Umayyah dan Abbasiyah. Dimana Al Qur’an diambil secara parsial, dijadikan undang-undang lalu digunakan untuk memukul lawan politik.
Tulisan ini hanyalah upaya saya untuk mengingatkan diri, agar ketika saya mulai jenuh dengan diskusi-diskusi keagamaan hari ini yang jumud dan mandheg pada perkara politik, saya harus belajar kembali tentang bagaimana disiplin ilmu islam seharusnya berkembang. Tidak mudah memulai diskursus ini. Mengingat sumber ilmunya sebenarnya sudah ada tapi bertebaran, dan masih terasa eksklusif sekali untuk diakses. Sementara kita yang tidak familiar kadang bingung, darimana seharusnya kita belajar tentang Islam.
Semoga gugatan ini menciptakan kegelisahan bagi kita untuk berpikir dan saling berbagi.