Hai! Apakah kau masih mengingatku?

@theartofmadeline
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Lint Roller? I Barely Know Her

Origami Around

pixel skylines
Claire Keane

No title available
RMH
TVSTRANGERTHINGS
taylor price
h

★
$LAYYYTER
KIROKAZE
dirt enthusiast

ellievsbear
NASA
I'd rather be in outer space 🛸
he wasn't even looking at me and he found me

Discoholic 🪩

seen from Brazil
seen from United States
seen from Malaysia
seen from Germany

seen from United Kingdom
seen from Croatia

seen from United States
seen from Bangladesh
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Lithuania
@seiseiryu
Hai! Apakah kau masih mengingatku?
Ketika Dia Memelukmu
Ada rasa takut, cemas, tapi sekaligus bahagia juga tenang.. Hanya dari sepintas cahaya yang masuk ke sanubari Tak lebih dari satu detik Kehangatannya memancar Sang guru berkata, "Dia masih memelukmu, nak" Ku pikir itu tanda cinta Sebuah pelukan hangat dan singkat Namun melekat tiada karat Ku tilik lagi ke dalam dada Oh, rupanya perih itu masih ada.. Tapi tangan-Nya semakin kuat merengkuh dan berkata, "...janganlah kekafiran mereka membuatmu (Muhammad) bersedih hati..." Ku tegarkan lagi si gumpalan bernama hati Agar wujudnya tak terlalu lembek atau terlampau keras Tetes-tetes air mata perlahan mengobati luka Dan meleburkan pelukan-Nya di sana.. 20 Maret 2016 Lagadar sehangat susu coklat
Sejak awal aku sudah siap untuk mengucapkan selamat tinggal. Selalu dan selamanya
Crude Play/ Ogasawara Aki, “The Liar and His Lover”
Potongan lirik yang menyentuh hati. Ketika sang kakak mengeluhkan lirik ini, jawabanku: “Bukankah begitu? Bukankah sejak awal kita harus selalu siap mengucapkan kata itu? Belum tentu jodoh kita di surga adalah orang yang menjadi jodoh kita di dunia.”
Gimana kalau Allah ga suka doa kita?~
Sempet terfikir gimana Allah ga suka doa kita. Setiap kita berdoa yang diingat doa cem begini: “Ya Allah, luluhkan hati doi”. “Ya Allah, persatukan aku dan dia”. “Ya Allah, biarkan aku ketemu walau hanya sekali”.
Salah ga sih doa yang kita panjatkan itu? Semuanya untuk makhluk. Sampai lupa siapa sebenarnya Cinta diatas Cinta.
Kadang terbesit, Allah Maha Tahu segala yang kita inginkan. Tapi gimana caranya biar kita dapat tanpa melupakan kita minta sama siapa.
Pernah ada yang mengatakan begini, “Ya kalau mau dapet doi, deketin yang nyiptain Cinta ke doi”.
“Mintalah dengan cara yang baik. Mintalah kepada yang memberikan. Pujilah dan dekati Sang Maha yang Mengabulkan doa”.
Sukai apa yang Allah suka. Jauhi apa yang Allah benci. Begitu dengan ikhtiar doa dan harapan kita. Dengan cara itu kita menghindari dari doa yang bisa jadi Allah ga suka.
“Ya Allah berilah aku, rasa cinta kepadaMu dan mencintai orang yang mendatangkan rasa cinta kepadaMu”. HR. Tirmidzi
Bicara soal cinta.. Sampai lupa siapa yang (mestinya) dicinta.. :'( Mengapa akhir-akhir ini banyak membahas soal cinta? Apa Dia cemburu pada makhluk lemah ini? Ah, sungguh ku tak pantas dicemburui.. Karena hati ini belum sungguh-sungguh mencintai.. :'( Astaghfirullah..
Seandainya...
Seandainya orang tuamu meninggal, apa yang akan kau lakukan?
Malam itu, 11 Januari 2016 selepas isya… Aku tertawa puas menonton Gwang Soo dan kawan-kawannya di acara variety show Running Man. Ah, acara itu selalu sukses membuatku membuka mulut lebar-lebar. Aksi mereka selalu konyol. Aku suka.
Sambil menonton, ku balas satu-satu chat yang masuk ke telepon genggamku. Rasanya sudah lama sekali aku tidak mendengar dering khas Line itu. Maklum, sepekan lalu aku kehabisan kuota internet. Di saat yang sama, uang di dompetku semakin menipis. Terpaksa, ku bobol juga tabunganku untuk membeli kuota. Eh, sampai di toko pulsa, tulisan pertama yang aku lihat adalah “Harta, tahta, kuota. Apalah arti harta dan tahta tanpa kuota.” (aku lupa redaksionalnya, tapi kira-kira begitu). Intinya.. Itu sangat menyindir mengingat kuota menempati prioritas ketiga dalam hidupku setelah makan dan main game. (*plak!* prioritas macam apa ini!? Haha)
Alright.. Back to topic.. Jadi.. Pada sore harinya, ibuku menelepon.. Tumben sih.. Lalu hanya bertanya, “kapan pulang?” Selesai ku jawab, singkat saja perbincangan kami. Sebelumnya, aku memang sudah berwacana akan pulang ke rumah. Hanya, entah rasanya kaki ini berat sekali ke sana. Sekitar tiga jam setelahnya, telepon genggamku kembali berdering. Kali ini adikku yang menyapa dengan isak tangis. Dia bilang, “Teh.. Mama jatuh, kepalanya berdarah banyak. Sekarang dibawa ke rumah sakit sama papa.”
*jreng* *jreng*
Untuk dua detik aku terkejut. Hal yang terbayang olehku adalah seperti adegan di sinetron. Terlintas di pikiranku bahwa ibuku jatuh dari tangga lalu kepalanya menghantam salah satu anak tangga dengan keras lalu kepalanya bocor dan tak sadarkan diri. Ketika dilarikan ke rumah sakit, dia sudah meninggal. Tapi syukurlah adikku bilang ibuku dibawa ke rumah sakit dalam keadaan sadar.
Malam itu juga sebenarnya ku hendak segera pulang. Tapi.. Kakak tingkatku bilang sebaiknya ku pulang esok pagi saja. Khawatir aku celaka karena pulang malam dengan pikiran yang tidak-tidak. Baiklah, aku turuti. Ayahku juga pasti berpikir begitu. Dia sering berpesan agar aku tak keluyuran malam-malam. Terakhir aku keluar malam, aku celaka. (dasar bandel.. Wkwk).
Ku habiskan malam dengan menonton kembali Running Man. Setidaknya itu akan mengalihkan perhatianku agar tak terlalu khawatir. Esoknya, ku pacu sepeda motorku ke jalanan yang macet di hari Senin.
Aku berangkat dari Jatinangor pukul 07.00 WIB lalu baru sampai di rumah pukul 10.00 WIB. Waktu tempuhnya lebih lama daripada yang biasa aku jalani. Penyebabnya: macet. Sesekali aku menepi dan menunggu jalanan lengang. Sambil membalas chat dari kawan-kawanku, pikiran ini melayang kembali.. Jika ternyata ibuku benar-benar meninggal, apa yang akan ku lakukan?
Pikiran pertama: ikhlaskan dan jalani hidup seperti biasa. Aku harus menyelesaikan studiku dengan uang tabungan yang tersisa dan menggantikan papa sebagai tulang punggung. Entah bagaimana caranya.
Pikiran kedua: ikhlaskan dan selesaikan studiku sambil kerja sambilan. Entah sebagai apa. Upahnya, ku bagi dua untuk biaya hidup adikku.
Pikiran ketiga: ikhlaskan dan selesaikan studi dengan biaya bantuan dari paman atau bibiku. Konsekuensinya, aku harus “membalas budi” kepada mereka dan banyak lagi pikiran-pikiran lainnya.
Ya, pikiran-pikiran itu mewarnai perjalananku. Setibanya di depan rumah, ternyata ibuku sedang berbincang dengan tetangga. Syukurlah. Tampaknya dia baik-baik saja. Namun… Kematian itu pasti. Entah dia menghampiriku lebih dulu atau orang tuaku. Bagaimana jika dia menghampiri kami secara bersamaan? Apa yang akan kita lakukan? Lebih tepatnya, apa yang sudah kita siapkan?
Seandainya detik ini juga kematian menghampiri wali hidup kita atau diri kita atau orang-orang yang kita cintai, apa yang mau kita tinggalkan? Apa yang harus kita lakukan? Apa rencanamu jika Dia menunda kematianmu dengan mengambil kematian orang-orang yang kau kasihi? Aku juga tidak tahu. Berencana pasti. Terlaksana atau tidak, itu urusan nanti. Ketika kematian datang tanpa peringatan, satu yang pasti, menabunglah amal baik untuk hidup abadi nanti.
Seandainya saat itu kematian datang padaku, mungkin aku masuk daftar penghuni surga yang ditunda penempatannya…
Ya Allah.. Kami harap kau ridha memasukkan kami ke surga-Mu.
Namamu Dandelion
Oh kiranya ku tahu namamu Dandelion.. Tak akan ku biarkan kau berhamburan terhempas angin.. Atau tersentuh serangga-serangga usil yang beterbangan di taman ini.. Oh kiranya ku tahu namamu Dandelion.. Cukup saja ku tengok dari bawah cantik indahmu tanpa perlu dekat-dekat tangkaimu.. Melindungimu dari akar.. Meski diiringi banyak kelakar.. Oh kiranya ku tahu.. Kau begitu rapuh dengan sentuhan.. Dengan bisikan.. Dengan kasih sayang.. Namun tak ada yang menjagamu.. Padahal ulat ini selalu bersedia kau panggil, tapi dia tampaknya terlalu sibuk menggigil... Ketakutan tak tahu cara untuk punya sayap.. Oh kiranya ku tahu namamu Dandelion.. Betapa bodoh ku menyangka kau setegar bunga matahari Atau sehebat mawar berduri yang tak mudah tumbang oleh jemari Oh kiranya ku tahu.. Sebenarnya sudah tahu.. Hanya pura-pura tak tahu.. Cukup diam membisu.. Agar kau tahu.. Kalau aku tak tahu Biar kau tak perlu malu.. Berkisah tentang masa lalu.. Meski Dia Maha Tahu.. Kau juga tahu.. Namamu Dandelion.. ========================================= Salam semendung awan dari Si ulat sirsak yang buta
Surat Si Ulat Buta
Sudah lebih dari satu pekan, perenungan ini terus memaksaku bergerak. Sungguh aku merasa seperti ulat gemuk yang kerjanya hanya makan, makan, dan makan. Bahkan aku ragu aku bisa bergerak, apalagi berlari, melejit, atau terbang seperti yang lain. Mereka sudah menjadi kupu-kupu indah yang bebas beterbangan kemana-mana. Aku? Masih saja di atas ranting pohon ini. Hanya mampu menengadahkan wajah dari bawah sambil melakukan kebiasaanku: makan. Metamorfosis yang aku harapkan baru sebatas pikiran. Belum jadi niat, apalagi aksi. Well.. Itu sangat mengganggu sebenarnya, tapi entah mengapa rasanya aku tak (belum) menemukan motivasi untuk membalut diri ke dalam kepompong dan berubah. Allah.. Dia yang seharusnya cukup membuatku untuk bermetamorfosis. Tapi entah.. Rasanya hampa. Mungkin (pasti) ada yang salah denganku. Allah.. Aku hanya makhluk buta yang tak mampu menatap ke arah-Mu. Tapi aku yakin Kau selalu menuntunku lewat makhluk ciptaan-Mu. Hanya.. Rasanya Kau perlu menamparku lebih keras agar kesadaranku kembali.. Mampukah aku berhijrah (lagi)? Mendaki ke bukit selanjutnya terlalu berat untuk seekor ulat sirsak sepertiku. Namun apalah yang tak mungkin bila bersama-Mu. Allah.. Aku tak ingin lupa rasanya berhijrah. Aku tak ingin lupa semua perasaan bahagia, terharu, takut, dan apapun yang ku rasakan saat itu. Cita rasa itu tak ingin aku lupakan.. Tapi sekarang sulit juga untuk aku ingat.. Allah.. Aku butuh tangan-tangan-Mu untuk membantu pikiranku menjadi niat yang bisa kuperbuat. Bagaimana jika sekarang aku jadikan pikiran ini sebagai niatku? Semoga Kau sudi menuntun jalanku.. Salam penuh harap.. Si ulat sirsak yang buta. Bismillah...
Goodbye Sweet Girl..
Goodbye sweet girl.. Yah itulah yang terbersit di kepalaku sejak lama. Tak perlu lagi bersikap manis atau bertingkah manja di depan orang-orang. Siapapun itu. Sudah jelas mata orang-orang memandang antagonis sosok ini. Si tukang rusuh, si tampang jutek, atau si mata menyedihkan. Haha.. Apalah itu, terserah. Memang sudah sepantasnya bibir ini terkatup. Mata pun seharusnya tertutup. Juga telinga yang mestinya tersumbat dari hiruk-pikuk manusia. Tapi sayangnya itu pasti tak bisa karena inilah hidup. Ada gelap, ada terang. Well.. Goodbye sweet girl... Maaf karena jiwa ini tak sanggup terus-menerus berdusta. Lelah? Pasti. Sudah saja luapkan semuanya. Biarkan saja orang-orang memandangnya apa. Sungguh mustahil berharap semua orang akan percaya. Setidaknya sisi gelap ini menegaskan kalau kalian punya cahaya. Biarlah.. Goodbye sweet girl... Entahlah sang rindu akan datang atau tidak. Tapi sudah saatnya kita berpisah.. Ku harap kau semakin bercayaha..
Kemarau
Hujan belum turun Hanya mendung yang setia mengiringi langkahku Aku berjalan ke tepi Sambil mengusap titik-titik air di pipi Aku rindu hangat pagimu.. Juga hembusan angin soremu.. Meski kadang merasa tersiksa dengan terik siangmu, tetap saja aku suka Tapi inilah akhir.. Kemarau tak lagi jadi harapanku Siklus musim tak bisa menahanmu lebih lama lagi.. Kemarau pergi dengan rembulannya.. Tak lupa sang angin berpesan: kemarau tak akan ingkar.. Tapi gemuruh mulai bersuara Tanda hujan kan segera turun Aku tetap berjalan, semakin menepi Dari kejauhan dia tampak.. Pohon raksasa dengan aroma manis buahnya Begitu memesona.. Aku duduk di bawah rindangnya, begitu tenang dan damai.. Untuk sesaat aku lupa rasanya jatuh cinta atau mungkin selamanya lupa.. Biarlah.. Terlalu sakit untuk jatuh Lebih baik ku bangun pijakan pertama menuju pucuk Entah benar entah salah Kemarau memang bukan pilihan yang biasa disuka Tapi tak mengapa.. Aku akan menunggu siklus musim mempertemukan kita kembali Dengan atau tanpa cinta..
Tak perlu lah aku mencintaimu dengan cara yang manis. Membangunkanmu dengan suara lembut, menyajikanmu segelas teh hangat, atau merangkul tanganmu ke mana saja kau pergi. Tak perlu lah aku menyayangimu dengan cara yang sama. Ketika orang lain berlomba-lomba mengejarmu, aku lebih suka menunggu. Bagiku, berlari adalah sesuatu yang melelahkan. Bukan tak mau berusaha, tapi hanya menjaga. Rasanya gelembung-gelembung doa belum cukup untuk melindungimu. Tak apa, aku tak marah.. Hanya sungguh kecewa.. Jadi.. Sudah tak perlu lah.. Tak perlu.. :)
Alasan Tuhan menjauhkanmu dariku adalah antara dua hal: Dia ingin menjauhkan fitnah di antara kita atau Dia merasa kita tak pantas bersama
My opinion
Berdoa dan mohon ampun pada Allah
#BKIFikomUnpad #BelajarMenebarManfaat
Hujan yang Menginspirasi
Sabtu 4 April 2015 Aku ingin berbagi kisah tentang hujan. Beberapa hari terakhir aku sering bertemu hujan. Terkadang ia membuatku kuyup sampai tempat tujuan. Aku rasa manusiawi ketika aku merasa rugi karena hujan turun membasahi bumi ketika aku berada di luar. Tetapi, kembali lagi ku ingat firman Tuhan bahwa air hujan itu adalah karunia yang Dia turunkan sebagai berkah. Ah, ya.. Kekesalanku kembali mereda. Aku relakan pulang berbasah-basahan dengan jutaan butir berkah di badanku kemarin. “Allahumma shoyyiban nafii’an,” kataku dalam hati sambil melajukan motorku menuju rumah. Di sepanjang perjalanan, aku mulai bosan. Jalanan desa yang remang-remang, basah, dan berlubang memanduku agar tetap fokus berkendara. Namun, tetap saja aku bosan. Mulailah ku bergumam tak jelas. Aku kembali mengingat-ingat melodi yang melintas di pikiranku beberapa waktu lalu, mencoba melengkapinya dengan untaian kata menjadi lagu. “Voila!” teriak hatiku girang. Sambil menerjang hujan ringan di jalan, mulutku melagukan kata-kata. Sebuah lagu cinta bagi orang yang sudah menemukan pelengkap agamanya. Rasanya ingin lagu itu ku nyanyikan bersama pria yang akan mendampingiku sampai surga. Namun, dia belum datang. Tak apa, biarlah lagu ini ku persembahkan untuk saudara-saudariku yang sudah mengikat janji suci dengan jodohnya. Inilah lagu sederhana yang ku lantunkan saat hujan. Dialah Allah yang menurunkan hujan yang menginspirasiku. :)
~Simfoni Cinta~
Hai kau sayangku.. Dengarkanlah laguku.. Lagu cintaku, untuk kamu Duhai kekasihku..
Pujaan hati.. Terimalah cintaku.. Yang tak sempurna, tanpa kamu Duhai kau cintaku..
:Bridge: Bersama.. Melangkah.. Melantunkan doa.. Seiring.. Suara.. Nyanyian jiwa..
:Reff: Hadirmu di sini.. Bagaikan melodi.. Berpadu irama cinta, menuju nirwana.. Kuasa Sang Pencipta.. Menyatukan kita.. Dalam simfoni, cintaku padamu..
:intro melodi:
Pelengkap jiwa.. Jangan ragukan aku.. Ku kan setia, membimbingmu Hingga akhir waktu..
Raja hatiku.. Dengarkan nuraniku.. Yang slalu berdoa untukmu Dalam suka duka..
:Bridge: Bersama.. Melangkah.. Melantunkan doa.. Seiring.. Irama.. Nyanyian jiwa..
:Reff: Hadirmu di sini.. Bagaikan melodi.. Berpadu irama cinta, menuju nirwana..
Kuasa Sang Pencipta.. Menyatukan kita.. Dalam simfoni, cintaku padamu..
*back to reff*
Dalam simfoni cinta.. Indah kita..
:) Enjoy!
N.B: yang mau denger lagunya, silakan japri. Haha.. (akhwat only)
x
Menikah itu Membimbing atau Dibimbing?
Senin, 9 Maret 2015
Nikah. Satu kata yang sakral maknanya hingga mampu mengguncangkan ‘arsy Sang Pencipta. Saking beratnya perjanjian yang terkandung dalam makna kata itu, Allah menghadiahi siapapun yang berhasil mengikat janji itu dengan memenuhi separuh dari agamanya.
Entah mengapa akhir-akhir ini rasanya banyak sekali perbincangan terkait nikah yang sampai di telingaku. Itu bukan pertanda esok lusa aku akan segera menikah karena bisa jadi ajal datang sebelum aku sempat mengikat janji untuk menikahi seseorang.
Namun, percakapan-percakapan yang keluar dari kawan-kawanku itu menggodaku untuk berpikir: apa yang akan aku lakukan ketika aku sudah menikah?
Percakapan itupun sampai pada titik kriteria calon pendamping hidup yang diinginkan. Wajar bila kebanyakan perempuan menyisipkan kriteria “mampu membimbing istri dan keluarganya (ke surga, of course)”. Sampai di sini, semua tampak normal.
Kemudian aku mulai berpikir seandainya Allah menakdirkan aku menikah dengan seseorang yang jauh dari Islam atau seorang mualaf. Menurutmu, apakah dengan kondisinya yang seperti itu dia mampu untuk membimbingku ke surga Allah? Maybe yes, maybe no.
Pertanyaan itulah yang membuatku kembali berpikir apakah menikah itu membimbing atau dibimbing? Sebagai perempuan, aku memilih untuk dibimbing, tapi sebagai seseorang yang sedang menyelami Islam lebih dalam daripada kebanyakan orang, aku punya kewajiban untuk membimbing orang-orang yang mau mengenal Rabb-nya.
Kebanyakan kawanku yang berkecimpung di dunia dakwah, ingin memiliki pasangan yang juga berkecimpung di dunia yang sama dengannya. Kebanyakan memilih orang-orang yang sudah “jadi” sebagai pendamping hidupnya. Itu pilihan yang bagus, mengingat si suami dan si istri punya visi dan pola pikir yang selaras. Ketika itu terjadi, harapan membangun keluarga yang islami pun jadi lebih mudah. Kelak anak-anak bahkan keluarga besar mereka senantiasa memiliki kesamaan visi sebagai pejuang Islam dan akhirnya membentuk komunitas sosial yang tak sungkan lagi mengaplikasikan nilai-nilai islam dalam kehidupannya sehari-hari.
Namun entah mengapa pilihanku justru jatuh pada seorang yang bukan aktivis dakwah dan khususnya mualaf. Entah mengapa sejak hijrahku, aku ingin sekali menikah dengan seorang mualaf. Hal yang terpikirkan olehku soal pilihan ini adalah aku ingin orang yang selama ini berada di luar komunitasku (sebagai aktivis dakwah) merasakan pula kesempatan bermanfaat (dan berpahala) lebih banyak sebagai aktivis dakwah sepertiku.
Aku tahu pilihanku tak lazim. Aku menyadari pula pilihanku itu punya konsekuensi yang besar: aku mampu membimbingnya sampai dia bisa membimbing keluarga kami ke surga atau sebaliknya. Namun, itu kembali lagi pada pilihan masing-masing. Bagiku, pilihan ini bukan lelucon, tapi itu bukti kesungguhan diriku sebagai orang yang menikmati indahnya menyelami Islam (yang mungkin) lebih dahulu dari para mualaf itu.
Jadi, calon suamiku.. Bila kau belum mampu membimbingku, jangan khawatir.. Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk membimbingmu hingga aku yang akhirnya dibimbing olehmu. Jangan merasa harga dirimu jatuh ketika aku yang membimbingmu karena menikah adalah saling membimbing dan dibimbing.
Bukankah kewajiban seorang muslim bagi muslim yang lainnya adalah saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran? :)
May Allah unite us on earth and His jannah~
Sekarang, biarkan Sang Waktu mempertemukan kita dengan orang, waktu, dan cara yang tepat..
Menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa itu pilihan
Merapatkan Barisan
Sabtu, 28 Februari 2015
Sekarang kayaknya ngetren banget yah meme yg “di situ kadang saya merasa sedih”-nya ibu polwan? Kalau tentang skripsi atau jodoh atau kegalauan lumrah lainnya seakan sudah sewajarnya jadi bahan lawakan, tapi rasanya aku ingin kembali menggunakan konteks asli kisah ibu polwan itu sebelum jadi meme. Ini tentang ibadah yang sering kali dianggap lumrah, padahal kalau tidak sungguh-sungguh bisa jadi masalah. Setiap kali salat berjamaah di masjid, terutama yang di luar kampus tak jarang sang imam berkata kepada makmum: “harap diluruskan dan dirapatkan barisannya”. Kata-kata itu seolah hanya menjadi formalitas setiap salat berjamaah. Kenyataannya, barisan-barisan makmum tetap saja renggang, apalagi lurus. Padahal, keutamaan salat berjamaah terletak pada kerapian dan kerapatan barisan salatnya. Kata-kata tadi bukan sekadar anjuran loh.. Sepengetahuanku itu keharusan. Tidakkah kita ingat kisah Umar yang sampai mengeluarkan pedangnya hanya untuk merapikan barisan makmum agar lurus dan rapat? Tidakkah kita ingat bahwa syaitan akan dengan mudah mengganggu orang-orang mukmin melalui celah-celah salat kita yang renggang? Sayangnya, ingatan itu kebanyakan berakhir sebagai wawasan saja. Sedikit yang menerapkannya dalam kehidupan nyata. Pernyataan ibu polwan yang bilang “di situ kadang saya merasa sedih” rasanya cocok untuk dilontarkan kepada orang-orang yang sulit sekali merapatkan dan meluruskan barisan ketika salat. Bagaimana tidak? Ketika aku mendekati makmum sebelahku, dia menjauh. Ketika aku berusaha merapatkan kaki dan bahuku dengannya, setelah rukuk malah kembali lagi merenggang. Makin merasa sedih lagi ketika aku berada di dua makmum yang sama-sama tidak mau merapat. Sedih karena bila aku memilih merapat ke kanan, jarakku dengan makmum di sebelah kiri jadi makin renggang, begitu juga sebaliknya. Akhirnya, sisi kanan dan kiriku jadi berjarak.. Sebenarnya itu bukan “kadang saya merasa sedih lagi” tapi “di situ sering saya merasa sedih”. Entahlah apa yang membuat mereka enggan merapat. Aku harap karena ketidaktahuan saja agar tidak terhitung dosa. Namun, untuk orang sepertiku, aku tak tahu apa hukumnya. Biar saja Allah yang menghakimiku nanti. Di luar itu, aku jadi merenungkan satu hal: ukhuwwah. Kata itu sering kali aku dengar dalam komunitas aktivis dakwah sepertiku. Tak jarang, kata-kata itu menjadi senjata pamungkas untuk melawan egoku karena ukhuwwah adalah ikatan persaudaraan yang paling kuat di bumi ini. Jika ku tak mengenal makna dan nikmatnya ukhuwwah, niscaya aku hanya menjadi orang yang egois nan dingin. Kembali lagi ke topik utama soal renggangnya salat berjamaah. Kaitannya dengan ukhuwwah apa? Aku rasa ada. Pepatah bilang tak kenal maka tak sayang. Orang yang tak dikenal secara otomatis akan menjaga jarak. Namun, bukankah dalam hal ibadah kita tak bisa menawar? Hm.. Aku rasa, inilah salah satu tugasku sebagai sesama muslim: merekatkan ukhuwwah agar orang-orang tak berjarak ketika beribadah. Aku rasa, bila soal salat berjamaah saja umat muslim sudah benar, apalagi soal ketertiban lainnya. Aku yakin, ketika kita sudah merapatkan barisan, dunia ini akan menjadi lebih baik karena itulah Allah turunkan surat As-Shaf. Well, itu hanya pandanganku sih.. :)
ini keren. happiness project :)
Late post tapi tetap fresh..