Perih sekali rasa ini, aku ditikam tanya yang menggunung. Aku tertantang untuk menuntaskannya tapi semakin larut aku dalam mencari jawabnnya, semakin aku terlempar ke dalam tumpukan jerami penuh kehinaan.
Sesaat aku melihat diriku. Sepertinya tubuhku telah lama dilumuri oleh kebusukan yang menjijikkan hingga cinta kini berlari dan enggan bersamaku. Jika mungkin dulu aku dicinta, kini mungkin aku pengemis yang memohon untuk dicintai.
Aku telah terjebak dalam jeruji kenyataan, hingga saat aku merasa ditinggalkan aku begitu tersiksa dan kesepian. Jika benar aku ditinggalkan, mungkin aku tak lagi dapat menerima cinta lagi juga pun sangat enggan mencarinya.
Sesaat dalam segala perih dengan sayatan itu, dengan lumuran darah di sekujur tubuhku. Aku membayangkan diriku terlempar jauh, menghilang tanpa seorangpun menemukanku. Seperti dijemput mati, jika mungkin itu adalah hukuman yang layak bagiku. Maka itu sama juga dengan dilupakan.
Dilupakan. Ironi yang membunuh, aku meringis dengan tangis dan menggigil membayangkan seseorang melupakanku sedang aku tanpa jeda selalu mengingatnya.
Terlupakan adalah kenyataan bahwa aku tak lagi berharga baginya, membuatku terus tersiksa. Karenanya tanpa henti, tanya menghujam deras tepat di jantungku. Bagaimana bisa lupa itu menjadi mungkin sedang bagiku tak pernah mungkin.