Pilihlah warna tulisanmu dan jadilah pelangi bersamaku
Ramadhany Squad 3
seen from China

seen from Singapore
seen from United States

seen from United States

seen from China

seen from Singapore
seen from Russia

seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United Kingdom
seen from China
seen from China
seen from Canada

seen from Israel
seen from Poland

seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from China
Pilihlah warna tulisanmu dan jadilah pelangi bersamaku
Ramadhany Squad 3
Mulai dari Nol Lagi
Selamat Siang Pembaca!
Hari ini tuntas sudah rangkaian perjalanan saya mengikuti 30 Days Writing Challenge yang dimentori oleh Kak Rezky Firmansyah. Alhamdulillah.
Saya hanya ingin menyampaikan beberapa kesan dan pesan saya untuk program kepenulisan ini.
Jujur saya masih mengutamakan mood untuk menulis. Hal tersebut dapat nampak dari kebiasaan saya menyetor naskah tulisan. Terkadang saya dapat mengerjakannya tepat waktu. Terkadang saya mengerjakan 2 tulisan pada satu waktu, di waktu yang lain saya bahkan mengerjakan 3 tulisan pada satu waktu.
Mungkin guardian di Squad 3 saya sudah paham ritme saya. Saya sangat berterima kasih karena kak Guardian adalah wanita yang penyabar dan tidak memburu-buru saya. Saya merasa tidak tertekan dan selalu muncul semangat baru lagi untuk menulis meski harinya sudah terlambat hehe, Big thanks to mba Hanifah! Hope you read this :D
Selanjutnya pengalaman saya memilih topik dan gaya menulis sungguh unik. Di minggu pertama yang saya lakukan adalah mencoba berbagai jenis topik dan gaya kepenulisan. Membuat cerpen, cerbung, ceria horor, puisi, dan tulisan sains populer. Wah seminggu itu sungguh pencarian yang mengesankan.
Pada cerpen, saya dapati bahwa tidak bisa sembarang cerpen saya tulis, perlu ide besar supaya cerpen dapat memiliki makna meski hanya tulisan oendek.
Pada cerbung, saya dapati bahwa tidak bisa spontan menulis cerbung, kerangka alur jangka panjang supaya cerita tidak sembarang dibuat secara spontan, lagi-lagi demi makna yang ingin saya tampilkan.
Pada cerita horor, saya dapati bahwa saya seorang yang penakut haha. Mencari gambar pendukung tulisan yang horor membuat saya gelisah, akhirnya tulisan saya tidak saya lanjutkan karena terbayang-bayang kisah yang sudah ada di kepala T_Tv
Pada puisi, saya dapati bahwa saya sudah bosan menulis puisi ><. Entah mengapa di challenge kali ini imajinasi saya soal kata-kata puisi sedang mati, jadi hambar rasanya. Beberapa kali saya membuat semacam puisi dan prosa, akhirnya saya sadari bahwa pembawaaan saya tidak melow-melow sekali dan bahwa ada jiwa jenaka yang bergejolak ketika saya menulis hal-hal sendu. Jadi kali ini saya tidak jadi gadis indie perindu senja haha.
Nah!
Akhirnya!
Saya menemukan warna tulisan saya sendiri! Meski belum seutuhnya dan masih agak di permukaan, saya ternyata menyukai momen-momen lucu, ceria dan hikmah-able yang saya sendiri alami dalam hidup. Saya ingin menulis dengan jujur, menjadi diri saya sendiri. Seperti komentar kak Rezky pada tulisan saya ke 13-14 yang lalu, kak Rezky melihat bahwa saya dapat menyampaikan kalimat dengan mengalir.
Selanjutnya?
Yup, saya harus menentukan arah, ke mana aliran tulisan saya akan bermuara? #mantul
Doakan saya untuk segera mengalir ke arah yang lebih baik!
Terima kasih 30DWC Jilid 23!
Meski saya bukan fighter yang bersinar, saya sangat bangga bisa diberi kesempatan untuk menulis bersama fighter lainnya dan dimentori langsung dengan mentor-mentor inspiratif.
Selamat berproses lagi !
Yang Luput dari Mata
Selamat Pagi Pembaca!
Kali ini saya mencoba untuk menyampaikan sebuah opini tentang kondisi bumi saat ini. Apakah saya seorang ahli bumi? bukan! Apakah saya seorang Dewa Bumi? tentu saja, bukan juga. Saya hanyalah sesosok makhluk penghuni BUMI.
Ada satu sifat alamiah manusia sebagai makhluk penghuni bumi, yaitu bertahan hidup. Segala upaya dilakukan supaya bumi dan isinya memberikan dukungan bagi manusia untuk hidup sejahtera. Betul bukan?
Namun hal tersebut sekaligus menjadi bencana bila dilakukan tanpa memperhatikan makhluk hidup yang lain. Pernahkah lalat bisa memperjuangkan haknya memakan remah roti di meja makan kita? Tentunya lalat itu akan secara paksa kita usir karena “bagi kita” lalat hanyalah suatu gangguan yang perlu disingkirkan. Bahkan gajah dan pohon yang berukuran 5 kali lipat dari manusia saja dapat kita tundukkan.
Maka kita sadari bahwa kita diciptakan dengan memiliki kekuasaan yang besar terhadap bumi dan seluruh isinya. Tak perlu jauh mencari penjelasan tentang tujuan penciptaan kita. Mari kita simak ayat suci Al-Qur’an berikut:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Terjemah Arti: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
Dari ayat di atas kita akan sadar bahwa tugas kita adalah menjadi khalifah (wali / perwakilan) dari Tuhan untuk menjalankan berbagai tanggung jawab untuk menjaga bumi. Hal tersebut merupakan penjelasan paling mutlak mengapa kita sebagai makhluk hidup punya kemampuan istimewa yaitu berkuasa untuk mengatur bumi seisinya.
Maka sudah sepantasnya, kita tidak hanya memikirkan kesejahteraan kita sendiri tetapi juga makhluk hidup yang lain. Kita disebutkans ebagai khalifah di muka bumi, bukannya khalifah khusus untuk manusia kaanBahkan juga terhadap air, daratan dan udara, kita punya tanggung jawab untuk menjaga kesemuanya
Mengapa saat ini kita begitu sengsara dengan adanya Pandemi Covid-19?
Inilah yang terjadi bila kita mengingkari tugas kita di bumi. Pasti dan pasti, ada sesuatu yang kita luput dari tugas kita. Mungkin saja kita melukai air? hewan? atau tanaman? Semua sangat mungkin luput dari mata kita. Tanda kerusakannya sudah nampak, tinggal bagaimana upaya perbaikan yang dapat kita lakukan?
Mari sadar kembali tujuan penciptaan kita di bumi...
Referensi: https://tafsirweb.com/290-quran-surat-al-baqarah-ayat-30.html
Rumah yang sebenarnya?
Selamat pagi pembaca!
Terjadi dialog santai antara akal dan hati. Akal terus merasa risau dan tidak dapat berpikir tenang. Memang ada apa? Mari kita simak.
Akal: “Hat, Hat, Hatiii!”, ucap Akal sedikit berteriak.
Hati: “Hei Kal, ada apa? bisakah dirimu lebih tenang sedikit, aku sedang bersantai nih...” jawab Hati yang sedang rebahan.
Akal: “Iya maaf, kau kan tahu sendiri bila sedang pusing aku jadi sedikit tidak bisa mengontrol diri. Aku hendak bertanya wahai Hati...”
Hati: “Santai dulu Kal, Kau hendak bertanya apa?”
Akal: “Aku selalu risau bila tidak dapat pulang ke rumah, seperti saat ini. Aku risau karena tidak dapat bertemu dengan orang-orang yang aku cintai. Aku benci merasa sendiri, tidak menyenangkan sekali rasanya. Dipikiranku, aku bisa mati bila terus-terusan kesepian begini? Apa ada yang salah dengan diriku? Mengapa aku selalu merasa tidak tenang?”
Hati: “Ooh begitu. Masalah yang cukup rumit bila dipikirkan ya hehe.”
Akal: “Maksudmu? aku yang berakal ini seharusnya tidak berpikir begitu? mustahil aku begitu! Aku hanya ingin dapat ketenangan Hat.”
Hati: “Itu dia Akal. Kamu sudah punya jawabannya sendiri, ketenangan. Itu yang sedang kau hilangkan entah ke mana.”
Akal: “Beri tahu aku bagaimana caranya supaya ia kutemukan kembali Hat, tolong aku!”
Hati: “Mudah saja kawanku, ubah definisi rumahmu itu!”
Akal: “Maksudmu? rumah kan sebuah bangunan, berisi orang-orang yang kucintai dan kukenal sejak aku berada di dunia. Lalu kuubah jadi apa?”
Hati: “Wahai Akal, jangan bebani dirimu dengan pengertian itu. Bebaskan arti rumah untukmu, hilangkan bangunannya, sisakan sesuatu yang sebenarnya kau butuhkan dari rumah. Beri tahu aku yang kau butuhkan sebenarnya sekarang.”
Akal: ”Aku... butuh kehangatannya, perhatiannya, gelak tawa dan kadang rasa haru. Aku butuh sosok yang bisa aku sapa dan sayangi. Itu yang kuharapkan Hat.”
Hati: “Bagus. Lalu masihkah kau merindukan bangunannya?”
Akal: ”Tidak, aku butuh sosok penghuninya...”
Hati: “Nah, sosok itu apakah hanya ada di rumah? adakah sosok lain juga yang sebenarnya dapat memberikan hal yang sama?”
Akal: ”Aku masih punya sahabatku, bahkan aku lupa memasukkan Sang Penciptaku dalam pikiranku! Ya ampun!”
Hati: “Juara! Kawanku, rumah itu tidak sekaku pikiran awalmu. Rumah sungguh punya arti yang luas bila engkau tidak bersikeras membuat definisimu sendiri. Bila memang belum bisa pulang ke rumah asalmu. Sejujurnya kamu dapat selalu pulang, pada rumah-rumah hati yang selalu hadir di sekitarmu. Sesungguhnya rumah itu bukan kumpulan semen, atap dan keramik, tetapi apa kawanku?”
Akal: “Rumah adalah sosok, dan sebaik-baiknya rumah ada pada sosok Penciptaku...”
Hati: “ Selamat Akal! Kupastikan engkau akan jauh lebih tenang sekarang :)”
Akal pun pulang dengan menyunggingkan senyuman.
Idul Fitri Sebagai Solusi (bagian 1) Allaahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Laa illaha ilallahu Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahilhamdu Suasana Idul Fitri kali ini begitu istimewa dan berbeda. Mungkin ada sejuta cerita dari ujung Indonesia bagian timur hingga ujung Indonesia bagian Barat. Sebuah ketentuan, sebuah takdir Allah begitu besar perannya dalam setiap langkah yang kita jalani. Mungkin empat bulan yang lalu, diri ini masih sibuk merencanakan mudik ke mana nanti di hari lebaran. Mencari tiket, akomodasi agar mendapatkan harga terbaik untuk mudik pun dijalani. Namun, kun fayakun! Seluruh rencana menjadi berubah dalam seketika ketika Allah takdirkan skenario lainnya. Hampir tiga bulan sudah, Allah menetapkan hampir semua dari kita untuk bekerja dan belajar dari rumah. Sungguh, di hari idul fitri ini, ada begitu banyak hikmah yang terserak. Begitu banyak pesan-pesan yang dengan izin Allah, semoga mudah bagi akal seorang manusia untuk menangkapnya. Salah satunya, pesan-Nya untuk kembali memegang teguh pedoman-Nya sebagai solusi. Di hari di mana kita semua kembali ke fitrah, izinkan jiwa-jiwa ini untuk kembali memeluk fitrah keimanannya. Fitrah menjadi seorang hamba Allah yang bertakwa, bersyukur, dan sungguh, cinta untuk selalu ada di atas jalan lebaran. Ya Allah, seusai Ramadan ini, terimalah segala amalan kami. Tunjukkan kami untuk selalu ada di jalan kebenaran, mengikuti yang benar dan menjauhi yang sesat. #tulisanumma #rumah #30dwcjilid23 #day28 https://www.instagram.com/p/CAl2P1Bn21d/?igshid=j0h5cncq4ylt
I'VE FINISHED 30DWC #23 . . Oh iya saya ingin mengucapkan "TAQABALALLAH MINNA WA MINKUM TAQABALALLAH YA KARIEM SIAMANA WA SIAMAKUM. Semoga dipertemukan lagi dengan Ramadhan tahun esok. Semoga tetap tertular semangat ibadahnya di bulan Syawal dan seterusnya. . . Hari ini adalah hari terakhir saya bercerita di #30dwcjilid23. Kalau kita cemas jika nanti dipertemukan lagi dengan Ramadhan, barangkali saya juga merasakan demikian, takut kalau keistiqomahan menulisnya berkurang. Bahkan tidak konsisten seperti halnya ketika mengikuti challange. . . Saya hanya ingin berterima kasih. Kepada Allah yang sudah sangat membuat saya mampu menulis selama 30 hari. Dimampukan otak, tangan, mata, dan semua anggota tubuh yang sudah mau diajak bekerja sama dalam proses penyelesaian writing challange ini. . . Diberikan kesempatan belajar lebih menjadi narasumber dan moderator terkait kepenulisan. Ternyata benar ya, kita hanya perlu mencoba. Takut salah membuat kita belajar supaya tidak menjadi salah. Hehe. . . Terima kasih kepada guardian saya yang sudah menjadi alarm squad 4 @anisaanza. Seluruh teman-teman yang sudah cukup menghibur dan menyemangati satu sama lain @dinafayna @basyiirun @rosmaidasinurat @ffa_guchiten, Ka Sakdi, Ka Angela, Ka Rachman, dan pasangan pasutri ketjeh ka @usi_supinar dan ka @kamaludinkhoir. Hehe . . Terima kasih juga kepada para mentor-mentor yang luar biasa memberikan ilmu kepenulisannya @rezky_passionwriter dan Ka @rizkamamalia, serta dipertemukan ka @sarikusumaway dan Ka @spriscadewii. Semoga yang sudah diberikan membekas kepada kita dan menjadi paham untuk semua yang memberikan ilmunya. . . #30dwc30 #pejuang30dwc #pejuangdwcjilid23 #squad4 #skalaliabercerita (di Pasar Jati Mauk Tangerang) https://www.instagram.com/p/CAk3CkGDfzu/?igshid=1c14l923u34r
Jadi Peka Jangan “Pekok”
Selamat Pagi Pembaca!
Apakah nampak sangar judul tulisan saya kali ini? saya sedang tidak marah kok, apalagi kepada pembaca sekalian >.< hehehe
Tulisan saya yang satu ini sebenarnya ingin sekedar berbagi pengalaman soal menjadi orang yang peka. Sebelumnya, pembaca termasuk tim yang mana sih? tim peka? atau tim acuh tak acuh?
Kalau saya sendiri merupakan seseorang yang acuh tak acuh. Jadi bab kepekaan ini merupakan tugas belajar yang panjang dan tak ada habisnya bagi saya. Lalu, mengapa sih banyak orang meminta kita menjadi orang yang peka? sering ada slentingan seperti ini:
“Laki-laki tuh sama aja semuanya, ga PEKA!”
“Kamu tuh ga peka banget sih!”
“Aku tuh gabisa sama orang-orang yang ga peka..” T.T #kok mirip syinetron?
Nah! Maka dari itu saya mencoba mengejawantahkan apa sih yang sebenarnya orang-orang inginkan dari kepekaan kita kita kepada mereka.
EMPATI
Yap, hal yang saya tulis persis di atas ini merupakan salah satu hal yang diinginkan kepekaan kita. Empati seringkali disalah artikan dan disamakan dengan simpati. Mungkin pembaca juga sudah mengerti perbedaannya. Namun saya akan tetap menyampaikan perbedaan di antara keduanya. Empati ialah menempatkan diri kita sama dengan posisi seseorang yang sedang mengalami sebuah peristiwa, secara sederhana ekspresi perasaannya dapat diungkapkan dengan kata-kata “I feel you my friend..” sering kan ngomong begitu?
Sebaliknya, simpati ialah ikut berduka cita atau bersuka cita terhadap peristiwa orang lain, namun diri kita tidak bisa menempatkan diri sama dengan orang tersebut, alasannya karena kita belum punya pengalaman rasa seperti yang orang tersebut rasakan.
Secara keseluruhan bersimpati dan berempati adalah hal yang baik, dan amat sering perlu kita lakukan karena kita makhluk sosial.
Nah, apa hubungannya dengan peka?
Ya ada dong..
Kalau tidak peka, bagaimana caranya kita tahu apa yang terjadi dengan sekeliling kita? Kalau tidak peka, bagimana caranya kita mengekspresikan rasa simpati dan empati kita terhadap apa yang dialami teman atau orang lain? Kalau tidak peka, hati-hati nanti dibilang “pekok” loh hihi. Bisa jadi karena ketidakpekaanmu, kamu bahkan tidak bisa merasakan empati dan simpati dari orang lain untukmu. Hidup jadi hambar rasanya. Betul tim peka?
Saya sebagai tim acuh tak acuh juga sebenarnya tidak 100% menyalahkan ketidakpekaan seseorang. Karena kita perlu mengatur kadar kepekaan kita sesuai dengan kebutuhannya. Inilah tugas belajar yang paling menantang. Karena bila kadar kepekaan kita berlebihan, kita justru akan menjadi seseorang yang serba tidak tenang, sedikit-sedikit khawatir, bahkan lupa memperhatikan kebahagiaan diri sendiri, benar kan tim peka?
Sebaliknya, bila kadar kepekaan kita sangat kurang, kita akan sering menjumpai ketidak tenangan orang-orang di sekitar kita yang tertuju pada diri kita. Akan ada yang tiba-tiba terlihat kesal, malas bicara dengan kita, atau yang tiba-tiba merajuk dan bertanya kepada kita “kamu tau ga sih salahmu apa?”,waduh ini malah pengalaman pribadi saya berkali-kali huhu T_T.
Well, kalau kepekaan kita sudah “pas” kadarnya, kupastikan kita akan semakin pandai dalam hidup berdampingan dengan banyak orang, dari yang sifatnya A sampai Z. Interaksi akan jauh lebih fleksibel.
Coba tentukanlah takaran kepekaanmu dan padu padankan dengan beberapa situasi yang sering kamu alami! Lihatlah perubahan apa yang kamu rasakan.
Selamat tugas belajar :D
Belajar dari “Bapak” #3
Part terakhir
Selanjutnya, komunikasiku dengan bapak berlanjut. Sepertinya sejak bapak pulang ke rumah, aku sudah mengunjungi rumah bapak dua kali bersama beberapa teman dekatku. Sampai akhirnya terulang lagi, memang sudah jadi sifat dasar manusia,
bila merasa aman dia justru mudah menjadi lalai.
Begitu juga denganku, karena merasa kondisi bapak semakin membaik, aku kembali terlena dan menyibukkan diriku sendiri dengan berbagai hal di kampus. Kejadian berulang lagi, pesan dari bapak sekarang semakin jarang ku balas, bahkan sekarang pesannya seminggu dua kali, malam Senin dan Kamis. Pesannya berbunyi seperti ini:
“Assalamu’alaikum, Bapak mau cuci darah besok, siapa yang mau nemenin?”
dan pada malam Kamis pesan bapak pun sama.
Aku yang membaca, tak pernah sekali pun menggubris pesan bapak. Kenapa ya Dhany? aku sampai heran bila mengingatnya lagi. Kenapa aku begitu angkuh dan mementingkan urusanku sendiri? Tidakkah aku punya sedikit empati dan menggerakkan diriku untuk menemani bapak cuci darah. Aku tidak tahu. Dulu rasanya aku memang sibuuuk sekali, sampai-sampai pulang ke rumahku sendiri saja jarang T_T.
Pak, maafkan Dhany
Kemudian waktu berjalan dengan cepat, hingga kurang lebih satu tahun lamanya. Selama itu pula komunikasiku dengan bapak hanya berjalan via pesan elektronik. Ada perubahan yang terjadi, bapak tidak begitu sering menelponku dan bila aku membalas pesan bapak, jawaban balasan dari bapak lebih lama dari biasanya. Aku mulai merasa khawatir.
Berbekal rasa penyesalan dan kekhawatiran, aku kembali mengajak beberapa teman untuk mengunjungi bapak di rumah, tanpa bilang terlebih dahulu kepada bapak. Singkat cerita kami sampai di rumah, sepi sekali keadaannya, Kuketuk pintu rumah, lalu terdengar langkah kaki mendekat, itu Bapak!
Begitu bapak membukakan pintu, bapak bertanya, “Siapa itu?”, wajah bapak tidak tersenyum, justru menyipitkan mata seperti mencoba memfokuskan pandangan. Jujur saja remuk lagi hatiku melihat bapak saat itu. Bapak semakin kurus, betul-betul kurus, dan wajah bapak mulai pucat. Kusampaikan bahwa ini aku dan teman-teman, kemudian dipersilahkannya masuk ke dalam ruang tamu rumah.
Suasana menjadi cair kembali, bapak tidak merasa marah atau kecewa kepadaku, bahkan bapak merasa biasa saja dan tetap dengan hangat memberikan nasihat-nasihat kehidupan. Kesehatan bapak makin menghawatirkan, kulihat jemari bapak bergetar hebat kala menunjukkanku pesan di telepon genggamnya (aku jadi paham mengapa bapak agak lama mengirim balasan pesan kepadaku, tangan bapak sekarang mudah gemetar). Selain itu, kaki bapak mulai menghitam, diabetes kata bapak, aku hanya bisa mengelus-ngelus kaki bapak, yang katanya sering gatal bisa salah konsumsi makanan, ingin menangis rasanya aku kala itu.
Bapak menyampaikan juga bahwa ia satu-satunya pasien yang tidak tidur bila cuci darah, kebiasaan bapak adalah mengobrol dengan pasien lain dan perawat di sana. Bahkan para perawat begitu bahagia bila bapak sudah mengeluarkan humor-humornya yang menghibur, bapak tak berubah.
Kami pamit, dan aku berjanji akan datang lagi, pesan dari bapak:
“Ajak juga calonmu ya! kenalin ke bapak sini”, bapak tersenyum.
InsyaaAllah pak.
Singkat cerita aku datang lagi ke rumah bapak, ada seseorang yang juga datang menemuiku dan bapak. Kita mendapat banyak wejangan soal kehidupan dan hal-hal persiapan berumah tangga. Bahagia rasanya pagi itu, bapak pun juga terlihat ceria. Pintaku kala itu adalah agar bapak bisa datang ke pernikahanku kelak, dan bapak hanya tersenyum dan mengamini. Seseorang itu pergi, dan aku tetap bersama bapak.
Aku menghabiskan setengah hariku di rumah bapak. Hari yang begitu tenang, hanya aku dan bapak, kami banyak mengobrol hal-hal sederhana. Kami makan siang bersama di sebuah warteg dekat rumah, bapak menggandengku sepanjang jalan, bahagia rasanya, tetapi aku juga perlu menjaga bapak supaya tidak tersandung kerikil dan lainnya. Bapak dan aku makan dengan lahap. Selesai makan pun aku pamit, supaya bapak bisa istirahat. Kucium tangan bapak lagi dan kuucapkan salam, “assalamu’alaikum Pak, nanti Dhany main lagi ya.” Bapak tersenyum.
Namun takdir Allah selalu punya jawaban yang tidak bisa kita ramalkan.
Di malam hari, saat aku sedang berada di kampung halaman. Kuingat betul saat itu pukul 23.00 WIB, aku sedang mengerjakan tugas perkuliahan. Ada satu notifikasi yang berasal dari grup whatsapp komunitas bapak. Salah satu admin grup mengirimkan pemberitahuan singkat. Bapak telah wafat, akan dimakamkan besok pagi. Aku sangat kaget, betul-betul sangat kaget hingga aku menangis sesengukan. Baru satu bulan yang lalu aku bertemu bapak, baru sebulan lalu bapak janji akan menghadiri pernikahanku, kenapa sekarang berita ini yang datang? aku tidak bisa terima! di mana bapak? jangan bercanda!
Aku yang kalut, terus saja marah pada diri sendiri, mengapa waktuku begitu sebentar bersama bapak, aku benci dengan kenyataan ini. Aku langsung mengabari temanku, tak kuat aku menelponnya, jadi aku hanya mengirimkannya pesan pemberitahuan itu. Kukirim juga ke beberapa temanku, kuminta mereka untuk datang. Aku? akan kuusahkan bagaimanapun juga untuk ke Yogyakarta besok pagi.
Nekat, akhirnya aku memesan tiket kereta api secara online. Aku mendapat tiketnya. Setelah aku beristighfar dan merasa lebih tenang, aku mengabari orang tuaku tentang situasi ini, aku meminta bapak kandungku mengantarku ke stasiun dini hari nanti pukul 3 pagi. Singkat cerita aku sudah di kereta, menangis, mengaji, menangis lagi, tak karuan hatiku kala itu. Aku terus mendoakan bapak.
Sesampainya di sana aku masih harus menunggu beberapa temanku untuk bersama-sama ke rumah bapak. Kami pun tiba di rumah bapak.
“Assalamu’alaikum, Dhany pulang pak, bapak di mana?”, ucapku dalam hati.
Aku langsung masuk ke rumah, menangisi jasad bapak yang sudah terbujur kaku di atas dipan yang sengaja disediakan untuk alas jasad bapak berbaring sebelum dikuburkan.
Aku memandangi sekeliling rumah, ada foto bapak terpanjang dibeberapa bingkai foto, masih diletakkan pada tempatnya. Aku menangis lagi, kini rumah bapak memiliki aura yang berbeda, bau kamper dan bunga mawar menyelimuti ruangan. Aku tidak bisa banyak berkata.
Aku tak ikut ke pemakaman, malu karena merasa bukan siapa-siapa. Maka selesai mendoakan bapak, aku berpamitan pulang. Cerita ini pun selesai.
“Pak, sampai Dhany menulis ini, Dhany masih rindu suara bapak, Dhany masih rindu semuanya. Semoga bapak mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT, semoga bisa bertemu bapak lagi ya pak, aaamiin.”
Salam rinduku, untukmu.