Haruskah? Demikian seseorang mulai merakit tanya, di tengah derasnya hujan, bersama debu yang yang hilang seketika. Ia gundah, sembari menyangga dagu, menatap langit yang gelap, sesekali kilat menyambar, menambah suasana menjadi kian syahdu.
"Akankah?" Desahnya lemah. "Akankah aku membiarkan rasa ini begini saja, bahagia sesaat lalu tiba-tiba murung, diliputi kabut curiga dan khawatir?." Dalam keadaan yang begitu kelabu, hati yang tak menentu, emosi yang yang kehilangan bentuk, semua tak lagi baik, tak ada yang indah, yang tersisa adalah kemungkinan buruk yang bisa saja nyata dan menghancurkan segalanya.
Ia terdiam. "Mungkinkah aku terus saja berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa di sini, di dalam sini, di hatiku?". Ia dengan kesal bergumam, sesekali ia rasanya ingin lelap di bawah rintik hujan, bersama rumput yang hanyut terbawa arus yang mulai kian deras.
Mengalah, diam lalu membiarkan ini seperti apa adanya malah membuatnya lumpuh, kehilangan naluri untuk berjuang. Cinta itu menjelma kutukan, seolah dengan mencabutnya akan membuatnya benar-benar dalam bahaya. Ia akhirnya benar-benar harus pasrah, meskipun demikian menyiksa, sepanjang waktu, hingga benar-benar sesak, nafas pun terengah-engah.
Masih dalam keraguan, namun hanya tinggal keraguan, tak pernah benar-benar bisa merubah apapun. Meskipun ia sadar perjalanan ini masih panjang, tapi di kedalaman sana ia dengan bodoh masih percaya cinta akan menyelamatkannya bahkan dari keadaan terburuk sekalipun.
Keyakinan bodoh bukan? Tapi ia benar-benar mempercayainya, meskipun dengan segala bentuk luka yang terukir di sekujur tubuhnya, ia masih berdiri teguh, memegang keyakinan itu. Ia terus saja bergumam lugu dan bodoh "ini belum seberapa jika dibandingkan dengan cinta seorang Qois".
Tapi, mungkinkah membiarkan sumber segala yg menyiksa jiwa itu begitu luasa menguliti, memporak-porandakan kesadaran, tubuh pun kerapkali sempoyongan, layaknya mayat yang bangkit dari kematian.