"Seperti filosofinya sebenarnya benang merah tak pernah putus. Hanya saja, terkadang jaraknya terlalu panjang hingga kita tak mampu menjangkaunya lagi"
Kalian pernah dengar kata-kata seperti "Kita jangan sampai asing ya. Kita harus sama-sama selamanya," tidak ?
Kata-kata yang menenangkan dan penuh harap bahwa kita akan bersama selamanya. Menjadi bagian di tiap-tiap kehidupan, entah senang maupun sedih. Menjadi orang yang "penting" di tiap-tiap kejadian. Menjadi orang yang selalu mendapatkan kabar darinya. Betapa senang ketika pernyataan itu muncul dari orang lain. Berharap kalimat tersebut menjadi kenyataan dengan segenap jiwa.
Namun, baru satu hari sejak kalimat itu di ucapkan dan jarak mengambil ruang pada hubungan ini, kata-kata itu jadi terdengar sarkas dan menyebalkan. Rasa harap dan bahagia itu seketika hilang menjadi sedih berkepanjangan. Menjadi ribuan tanya dengan awalan "kenapa?" Sebenarnya apakah benar karena jarak ? Atau sebenarnya sejak awal memang hanya saya yang mengaminkan ?.
Malam ini, ribuan tanya dan perasaan tidak menyenangkan itu akan saya lepaskan. Rasa lelah selalu berpikir banyaknya kemungkinan dan alasan, saya ganti menjadi rasa cukup. Melepaskan usaha-usaha kecil yang selalu dilakukan untuk tetap bersama. Chat-chat tidak penting, menanyakan kabar, me-reply insta story dengan emotikon lucu, atau sekedar memberi tanda suka pada postingannya akan menjadi hal normal, layaknya individu menghabiskan waktu di media sosial.
Saya akan coba mempercayai bahwa memang,
"Setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya".
Meskipun sebenarnya dalam hati saya begitu banyak pertentangan. Karena sejak awal yang saya yakini adalah tetap bersama dalam waktu lama atau sebentar adalah pilihan. Namun apabila kejadian seperti ini terjadi berkali-kali, maka berarti saya yang harus belajar kembali bahwa ada hal-hal yang hanya sementara. Ada orang-orang yang menjadi tokoh utama dalam cerita pendek, bukan novel berbab-bab. Bahwa pembelajaran dengannya memang hanya singkat, karena saya harus naik level dan bertemu dengan orang lainnya untuk belajar kembali. Bahwa yang selamanya akan bersama saya adalah diri saya sendiri.
Saya jadi menyadari betapa saya selalu mudah memberikan rasa sayang dan kasih itu kepada orang-orang di sisi saya. Namun saya juga selalu mudah melupakan diri saya, dan lupa memberikan rasa sayang kepada diri ini. Barangkali perginya orang-orang tersebut adalah karena Tuhan sayang dan tau bahwa kita akan kehilangan diri kita sendiri jika benang merah ini terus berlanjut.
Maka dari itu, saya akan tetap berterima kasih kepada semua orang-orang yang hadir di tiap-tiap masanya. Saya akan tetap menghargai waktu-waktu yang dihabiskan bersama di masa lampau. Saya tetap akan menyimpan ribuan kenangan indah dan beribu alasan betapa cocoknya kami menjadi teman akrab di masa itu. Selebihnya, biarkan hanya doa dan takdir yang menuntun kita. "Biarkan semesta menentukan, apakah benang merah kita akan bertemu lagi dan menjadi cerita baru ?"
Siapakah orang yang sebelum lelap tidurmu selalu kau sebut namanya? Orang yang dalam keheninganmu tapi selalu tiba-tiba membuat ramai hatimu ketika mengingatnya. Bahkan, saat kamu tidak dengan sengaja mencoba untuk mengingatnya, saat kau sedang memejamkan matamu untuk mendapatkan ketenangan, bayang-bayang dialah yang selalu muncul.
Tentang isi hatimu, pernahkah kamu menanyakan siapakah orang yang berhak untuk mengisinya? Tentang rindumu, pernahkah benar-benar terwujud menjadi temu dengan seseorang yang kamu tuju? Tentang senyumanmu, pernahkah berpikir karena siapa kamu bisa sebahagia itu? Pernahkah sesekali untuk merenungkan.
Disitulah hatimu berada. Namun, pastikanlah dirimu untuk bisa ada dihatinya. Buatlah dia merasakan hal yang sama, buatlah dirimu menjadi orang terakhir yang dia ingat pula. Buatlah ingatan menjadi impian, buatlah impian menjadi perjuangan, buatlah perjuanganmu mendapatkan hasil yang diinginkan. Buatlah semuanya masuk dalam sekenario Tuhan.
Mulailah beranjak. Mulailah untuk mengajak. Mulailah menjadi orang yang mempunyai kekuasaan penuh untuk menjaga hatinya.
Berhenti bercanda. Ingatlah dimana hatimu berada. Hati yang harus kau urus bukanlah hatimu saja.
Ketika kamu bertemu seseorang yang memiliki terlalu banyak kesamaan denganmu, menemui terlalu banyak ketidaksengajaan dengan dia dan dirimh terlibat tanpa pernah direncanakanmu sebelumnya, maka saat itu pertanyaan tentang "kebetulan atau takdirkah?" benar-benar akan menghantui tempurung kepalamu
Menutup manis tahun 2014 dengan pergelaran #BenangMerah bersama @kulturaina. Makin banyak kesempatan yg ditawarkan di tahun 2015. Semoga diizinkan untuk memberikan lbh banyak lg untuk Indonesia. Amin 🙏 Smangattt @priviliani @ristyred @namiradaufina @rereanindita @ndrmiyanka @nadyaalulu @gitaeda @mutxi @monicandr @amaliadwiw @chitraannisya @nrladrisa @ryanadelino @beautyalen @farahgozali @tiyantonia @shannaztiara @puspitarestoe @ferikid 🎥 : @karfianda
Harvard Social Innovation Collaborative Present : Village To Raise a Child
This is an Interview of a Harvard undregraduate who is currently the Director of Operations Igniting Innovation Summit as well as Village to Raise a Child, Michi Ferreol.
Tell us about this Village to Raise a Child project that you have at Harvard. what is it exactly?
Village to Raise a Child is a program established by the Harvard Social Innovation Collaborative (SIC) that identifies and nurtures five young entrepreneurs from around the world. These five students—called “Global Trailblazers”—are selected through a competition, requiring a written application and a video application. Winners are then invited to come to Harvard to attend and present their ideas at the 5th annual Igniting Innovation Summit. Through this, they will earn the tools, skills and resources they need to execute their community-based projects as well as peer-based mentorship from members of SIC. Please visit our website at www.ignitinginnovationsummit.com/program/ for more information!
the mission of the project seems to lean more towards "inspiring" and "nurturing" students rather than actually guiding them to actually executing their projects. Why is that
I would say that the program is meant to both inspire and help execute the projects. Since the summit is in its fifth year, we wanted to do something grand. We realized that the buzz words “innovation” and “entrepreneurship” are often used and talked about in the U.S., but that so many brilliant and talented students all over the world haven’t been introduced to these concepts yet. We wanted our summit to reach a global scale—so that the ideas and inspiration that we share with each other at Harvard can reach even the most remote villages across several countries. Of course, students first need to be motivated and inspired to pursue their ideas and believe that they can actually do something to make a difference in their communities, but after that is giving them the tools to actually execute it. That’s why we’re providing these students the chance to come to Harvard to learn from professors and actual entrepreneurs, and then to receive peer-based mentorship from us throughout the rest of the year.
Has there been any success stories in the past though? Projects executed by previous students that actually made a significant difference?
This is the first year this is happening so perhaps next year I’ll have a success story to share!
The main event for this project is the Igniting Innovation Summit or the IIS. Tell us more about the summit, what makes it so exciting and different?
The Igniting Innovation Summit is a full day of workshops, panels, brainstorming sessions, and lively discussion. We bring in entrepreneurs, professors, changemakers, and everyone in between. The Summit is the one place that college undergraduates can come together--whether naive or experienced, uncertain or sure, armed with ideas or strategies--to share their passions with others who are just as excited as they are. To be part of the Summit is to enter into a community of individuals wanting to see positive change in the world, to open one's mind to the advice of those who have tried before them, and to make a commitment to continue to breach boundaries and inspire innovation.
It is rare to find a diverse group of students, representing all backgrounds and interests, who share a common goal of igniting the student community to enact change in the world. Not only does the Summit bring together the best and the brightest personalities and ideas that are making the world a better place - it inspires young people to do the same. To us, that energy and empowerment is DOING GOOD.
What was the highlight of last year's summit? Just to get the viewers an idea of the things that they might expect if they are chosen to attend.
Last year, we partnered with Forbes and the Skoll World Forum to launch an online series of articles from speakers at the Igniting Innovation Summit. It was wicked awesome. You can see it here: http://skollworldforum.org/debate/a-special-series-for-the-igniting-innovation-summit-on-social-entrepreneurship/
Whats does a "winning" idea look like? Perhaps you can give some tips to those who are just itching to start applying.
A winning idea has three main traits: First of all, it must be focused. Students have to realize the particular need they wish to address and the particular population they want to serve. Second, it must be realistic. Students should acknowledge their limited capacity and resources and find innovative ways to use this to create a solution to the problem they identify. Finally, it must be sustainable. We want to make sure that the projects we choose can continue in the long-term and not just flounder once these students’ priorities change.
Lets talk more specifically about Indonesia. Unlike countries like Singapore, there’s still plenty of room for students-initiated community involvement activities here, especially if we're talking about students below the undergraduate level. One of the reasons is perhaps due to the fact that as a developing nation, many people still view education strictly as a pathway to securing better jobs and salary (not as means for them to learn how to contribute to their communities). How important is it, in your opinion, for students in Indonesia to engage in community involvement activities?
Incredibly important! As the generation most exposed to technology-based solutions, we are in a prime position as students to use the knowledge we have that our parents don’t necessarily have to think of more creative answers to problems. It’s cheesy to say, but we really are the voice of this time and this generation and we have to be involved in making sure our communities improve.
Harvard is a very big and daunting name. But sadly many indonesians students view attending Harvard, or programs initiated by harvard such as this one, as a pipe dream. Do you have any words of encouragement?
Most students who go to Harvard now viewed it as a dream! None of us ever thought we would end up there, but we took a shot and were fortunate enough to be given a chance. This is YOUR chance. And it’s so simple: write up an application and make a video. That’s it! Trust yourself and take the leap. You miss 100% of the shots you don’t take, right?
What about university education in general? Coming from a similarly developing nation, the Philippines, how realistic do you think for someone who lets say go through a basic national education, to apply to big names like Harvard: whether in the states, the UK, or even in other countries?
I think that there are definitely some restrictions: Harvard needs to know you are academically prepared and are mature enough to leave home, especially if you’re coming in as an international student. A lot of this, then, is dependent on the type of education you received in your younger years. But that doesn’t mean you shouldn’t try. Applying is free if you just put your heart and hard work into it.
Any advice for them who perhaps have been dreaming to be your junior one day?
1) Do well at school. There is nothing that can replace good grades when applying to colleges in the U.S.
2) Be involved. Join activities and find what you love to do and stick to it. Most importantly, be great at it!
3) Ask questions. Find out how others before you did it and see what you can learn fromthem!
4) Take a shot. Seriously. You have nothing to lose and so much to gain!
Thank you so much for your time. Any last words that you want to say to the viewers?
Thank you for taking the team to read this and I hope to be reading your application soon!
Waktu itu aku masih berumur kurang dari lima tahun; berarti Abang masih kelas empat atau lima SD, sedangkan Kakak berulang tahun yang kedelapan. Kami masih tinggal di rumah kami yang kecil di jalan Siak; dengan sofa hitam kulit imitasi yang sudah mengelupas, dinding bercat putih yang penuh dengan bercak-bercak hitam berbentuk tangan dan kaki, serta boneka-boneka lama yang dijadikan pajangan oleh Ibu.
“Kenapa Kakak yang ulang tahun dapet kue? Waktu itu aku dan Abang ulang tahun nggak dikasih!” aku bertanya. Senyuman Ibu masih dapat terlihat jelas, lembut tapi penuh dengan semangat, “Loh, tapi Ibu kan beli ini buat kalian bertiga, jadi rayain bareng-bareng.” Mungkin waktu itu Abang juga sebal tetapi tidak berani untuk protes…
Kue yang dibeli Ibu adalah kue stroberi kecil, mungkin hanya sebesar lingkaran atas mangkok mie ayam yang biasa dijual di jalanan. Kue tersebut diselimuti lapisan krim putih yang dilengkapi dengan potongan buah stroberi kecil. Di tengah kue, dipasang sebuah batang lilin kecil yang diletakkan hanya untuk dicabut lagi setelah ditiup oleh Kakak. Aku teringat pikiran yang muncul di benakku saat itu: kalau rayain bareng-bareng, kok cuma kakak yang meniup?
“Ayo foto dulu, ya! Kalian bertiga merapat ke tengah dong, biar muat di kamera… Senyum, ya!” Ibu dengan semangat mengarahkan kami bertiga. Melihat kamera yang bertengger di depan muka siap memotret, aku langsung lupa akan ketidakadilan Ibu.
Ibu lalu membelah kue tersebut dengan pisau plastik bergerigi yang diberikan gratis saat membeli kue. Setiap belahan kue dipotong sama besarnya. Meski aku berusaha untuk mencari bagian yang terbesar, pada akhirnya aku, Kakak dan Abang melahap porsi yang sama.
“Enak tidak kuenya?” Ibu bertanya (dengan muka berseri?)
“Enak! Tapi kita kenapa jarang makan kue, Bu? Kue begini mahal ya harganya?” Kakak membalas pertanyaan ibu, penuh rasa ingin tahu. Ibu hanya tersenyum, dan sembari membereskan meja yang penuh dengan bercak-bercak krim menjawab pertanyaan kakak, “Ya kalau sering-sering makan, Ibu jamin nggak akan enak lagi kuenya…” Aku rasa bahkan sampai sekarang, tidak satupun dari kami bertiga ada yang mengerti maksud jawaban Ibu.
Memang perkataan Ibu suka banyak yang susah untuk ditangkap maksudnya. Kalau Ibu senang, Ibu sering sekali bergurau walau kami terkadang tidak menangkap lelucon yang disampaikan.
“Loh mana ada sih istilah potong rambut! Kamu kira daging, dipotong!”
Tetapi melihat ibu tertawa akan candaannya sendiri, kami pun biasa jadi ikut tertawa. Namun disaat sedang serius, kalimat-kalimat yang Ibu utarakan sama membingungkannya bagi kami, apalagi ketika kami masih kecil.
“Yah, kalau kamu sudah tahu mau kencing baru cari toilet, Ibu tidak bisa bantu kamu!”
Tetapi satu hal yang kami mengerti tentang Ibu adalah jangan pernah membuat Ibu marah. Kalau sudah marah, Ibu bagaikan gunung yang meletus, mengepul-ngepul dan mampu menyemburkan api ke segala penjuru. Aku jarang terkena semburan Ibu, tidak seperti Abang yang sepertinya paling sering kena marah oleh Ibu. Terkadang, aku dan kakak setuju kalau memang Abang yang sepertinya senang cari gara-gara. Kami selalu tahu kapan Ibu sedang dalam suasana hati yang buruk; tetapi disaat-saat seperti ini, di mana setiap kesalahan kecil dapat membuat ibu meledak, Abang seakan sengaja menolak untuk mematuhi perintah-perintah Ibu.
“Kalau kalian tidak berhenti main dan turun makan dalam hitungan ketiga, Ibu akan ambil rotan! Tiga, dua, satu… Mana Abang?! Memang kurang ajar anak yang satu ini!” Pernah muncul di pikiranku,mungkin karena ini Ibu tidak membeli kue waktu Abang ulang tahun …
Memang kalau diingat-ingat, Kakaklah yang paling banyak membantu Ibu. Tidak seperti aku dan abang yang senang bermain game, hobi kakak adalah membaca dan menulis. Kakak tidak pernah membantah ucapan atau menolak suruhan Ibu. Kalau Ibu perlu meninggalkan kami bertiga di rumah sendirian, Ibu akan menitipkan aku ke Kakak, bukan ke Abang, walaupun Abang dua tahun lebih tua dari Kakak.
Ibu akan berujar, “Jaga adikmu, ya! Awas nih kalau Ibu pulang tau-tau adik diculik… Kamu yang tanggung jawab ke Ayah, ya!” Aku ingat jelas, dulu aku sering kesal dengan Abang, tetapi selalu rukun dengan Kakak. Aku dan Abang sering saling kejar-kejaran mengelilingi meja makan yang bundar karena memperebutkan mainan. Sedangkan Kakak, disaat-saat seperti itu, akan mencoba melerai kami, walau biasanya Kakak tidak pernah berhasil.
“Sudah, sudah! Kalau sampai ketahuan nanti Ibu marah, lho! Terus kita semua yang kena… Ah, ya sudah kalau nggak mau dengar! Pokoknya aku nggak tanggung jawab kalau Ibu sampai marah!” Itulah usaha Kakak untuk melerai pertengkaran aku dan Abang.Lalu kakak akan mengunci dirinya di kamar, dan mungkin, dengan perasaan bangga atas prediksinya yang akurat, mendengarkan aku dan Abang dimarahi Ibu beberapa saat kemudian.
Setelah perayaan ulang tahun Kakak berlalu, aku dengan tidak sabar menunggu hari ulang tahunku yang berikutnya. Waktu itu aku sangat yakin kalau Ibu juga akan membelikan kue untukku – mungkin kue cokelat yang lebih besar dari kue stroberi Kakak. Tetapi sayangnya, kue stroberi tersebut adalah satu-satunya kue yang pernah Ibu belikan untuk merayakan ulang tahun kami sampai saat ini, walau lebih dari lima belas tahun sudah berlalu. Tidak seperti anak-anak yang ada di film-film, setiap ulang tahun kami tidak bergegas untuk beranjak dari tempat tidur dan membuka hadiah yang sudah terbungkus rapi di sebelah ranjang. Kami juga tidak pernah meniup lilin atau memotong kue ulang tahun, baik yang berasa stroberi maupun cokelat. Aku sempat menuntut Ibu untuk membelikanku kue ulang tahun, “Ibu nggak adil! Kemarin Kakak dibelikan kue, tapi aku nggak!” Sayangnya waktu itu suasana hati Ibu sedang buruk. Yang kudapatkan bukanlah kue, tetapi omelan Ibu, “Kamu kira ini Ibu beli makanan yang kamu suka untuk apa?!” Semenjak itu tidak pernah lagi terbesit di pikiranku untuk meminta kue ulang tahun.
Sekarang aku, Kakak dan Abang sudah dewasa. Kami semua sudah menginjak kepala dua – bahkan Abang sudah lulus kuliah dan sedang bekerja. Aku dan Abang tidak pernah lagi berlari-lari mengelilingi meja makan untuk memperebutkan mainan. Abang tinggal di sebuah kosan di dekat tempat kerjanya dan hanya pulang seminggu sekali, terkadang malah tidak sama sekali jika sedang sibuk. Aku sendiri juga sering dipenuhi kesibukan pelajaran, sehingga sangat jarang berinteraksi lagi dengan Abang. Kakak yang dari dulu senang membaca, mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di luar negeri sejak enam tahun yang lalu; dan karena perbedaan waktu, biasanya hanya Ibu yang sempat berbicara dengan Kakak untuk menanyakan kabarnya. Sedangkan aku sekarang tidak senang makan yang manis, walaupun aku tidak perlu lagi meminta Ibu untuk membelikan kue.
Kami juga sudah meninggalkan rumah lama kami yang di Jalan Siak. Rumah baru kami jauh lebih besar, lengkap dengan sofa yang empuk, dinding yang dilapisi dengan wallpaper, dan pajangan-pajangan yang kami beli ketika bertamasya keluar negeri. Tapi di rumah yang lebih besar ini, suara ibu tidak sering terdengar, tidak seperti dulu. Suara tawa Ibu yang sering mengisi ruangan ketika Ibu sedang mencoba untuk bergurau berangsur-angsur punah. Kami jarang sempat bercakap dengan Ibu, dan jika ada waktu, kami hanya akan membicarakan hal-hal yang serius. Teriakan amarah Ibu juga tidak pernah lagi terdengar, sebab Abang tidak perlu lagi diingatkan untuk makan malam, dan aku tidak pernah lagi meminta Ibu untuk dibelikan kue. Ibu sekarang menghabiskan waktunya dengan menonton televisi atau mencari-cari berita di internet. Rumah baru kami besar dan tenang…
“Dek, sedang apa?” Suara Ibu dari belakang membangunkanku dari renungan. “Oh, nggak Bu, lagi liat-liat foto saja.”
Ibu lalu mengambil bingkai foto tersebut dari tanganku. Kue stroberi kecil sebesar lingkaran atas mangkok mie ayam terpajang di depan senyuman lebar aku, Kakak, dan Abang. “Wah… Sudah lama sekali, ya!” kata Ibu pelan.
Ibu lalu tersenyum dan menaruh kembali foto tersebut, “Ya sudah, Ibu mau nonton lagi, kamu sudah makan, kan?”
Itulah waktu yang ditunjukkan jam dinding Ikea kecil di meja kecil samping tempat tidurku. Hawa yang semakin dingin membuatku terbangun dari tidurku, setelah hari yang melelahkan. Pikiran mengenai tugas kuliah, acara-acara mendatang dimana aku menjabat sebagai panitianya, kesibukkan-kesibukkan lain yang tersebar disana-sini, serta checklist yang tidak kunjung terselesaikan. Oh, belum lagi melipat pakaian yang baru kucuci semalam.
Kucoba untuk kembali terlelap, hanya saja pikiranku tidak berkompromi untuk tidur bersama badan yang letih, serta kepala yang berat. Kupikir aku lapar.
Menuju dapur yang bersatu dengan ruang tamu, aku berpikir ada snack apa yang tersisa untuk ku makan, berpikir mungkin 1-2 batang cokelat Mars dapat menenangkan pikiranku. Ternyata setelah beberapa gigitan, peningnya kepala tetap ada, letihnya badan jangan ditanya. Sampai akhirnya, hanya ada 1 hal yang aku tahu dapat menjadi obat penenang nomor 1; rumahku di Indonesia, bantal dan aroma sprei kamar tidurku.
Hal di atas memang kerap kali terjadi pada anak-anak Indonesia yang studi ke luar negeri, terutama di tengah banyaknya deadline, exams atau ketika jatuh sakit. Pelajar berpikir adanya orangtua atau saudara di rumah dapat menghibur mereka, bahkan makanan rumah. Hal ini dikarenakan psikologi seseorang yang sudah nyaman dan sangat terbiasa dengan suasana rumah di Indonesia.
Jangan salah sangka, tinggal di negeri lain sangatlah menyenangkan. Masuk ke dalam sebuah dunia baru yang sama sekali tidak dikenal di awal ketibaan. Butuh beberapa waktu pula untuk bisa benar-benar terbiasa dengan lingkungan dan kebiasaan penduduk lokal. Juga sungguh menyenangkan ketika bertemu dengan murid-murid atau teman baru yang sama-sama dari kampung halaman. Oleh karena merasa seperjuangan, akan terjalin sebuah persahabatan yang sangat erat, hingga mereka menjadi seperti keluarga sendiri. Tidak heran, karena bertemu setiap hari bukan hanya di universitas, namun juga aktivitas gereja, perhimpunan-perhimpunan pelajar Indonesia, dan juga makan bersama di tempat-tempat favorit.
Di sini, satu hal yang sangat terasa berbeda pula ialah mobilitas yang sangat mudah. Selain fasilitas transportasi umum yang memadahi, hari-hari tanpa ada orangtua memungkinkan kita untuk berpergian, sampai malam sekalipun. Aku juga tersadarkan bahwa ketika tinggal tanpa saudara/ orang tua, aku jadi lebih bisa mengenal diri sendiri, termasuk sifat dan hal-hal yang menjadi prioritas dalam hidup ini.
Namun dari sini, tidak dapat dipungkiri bahwa selain menjadi lebih sayang terhadap orangtua, saudara, dan menghargai segala fasilitas nyaman yang ada di rumah, pelajar juga kerap kali jadi tersadarkan akan hal-hal positif yang dimiliki Indonesia. Walau ada kemacetan, banjir, korupsi, polisi yang mudah disogok, atau bahkan hal-hal konyol seperti slang lokal, sinetron yang terlalu dramatis dan tidak masuk akal, serta program infotainment di sepanjang hari, namun pada akhirnya, di saat-saat tertentu, pelajar merasa rindu akan Indonesia, dan menunggu-nunggu liburan untuk kembali terbang ke Tanah Air.
Biasanya yang dapat dilakukan pelajar Indonesia di luar negeri saat kangen rumah adalah berbicara dengan teman yang sama bahasanya, menghubungi teman dan keluarga di Indonesia melalui Skype atau WhatsApp, makan makanan Indonesia, serta streaming channel Indonesia.
3:09 AM.
Dalam waktu sekitar 30 menit, menulis tentang rumah, Indonesia dan segala keunikkannya membuat aku melupakan hal-hal yang berputar di kepalaku. Merasa lebih tenang, kurasa ini waktu yang baik untuk menyelinap di antara kesibukkan pikiranku untuk kembali tidur. Aku tidak menulis banyak, namun cukup untuk menggambarkan rasa kangen rumah yang sesekali dirasakan pelajar Indonesia di luar negeri.
Rabu, 18 Juni 2014—Beranda Kitchen, Coffee, & Terrace, Jakarta—Jakarta Movement of Indonesia (JKTMoveIn) menggelar konferensi pers terkait dengan rangkaian acara yang mereka gelar sejak bulan Februari lalu. Dalam konferensi pers, Nuya (Founder JKTMoveIn) menyampaikan tujuan diselenggarakannya acara ini. Berawal dari keinginan untuk berkarya yang bercampur dengan keprihatinannya terhadap kemajuan dunia kreatif di Indonesia, Nuya memilih untuk melakukan sebuah perubahan.
“Kami ingin menciptakan karya yang memperjuangkan idealisme, kesan pesan yang baik, tidak hanya sebagai hiburan tetapi sebagai sarana edukasi, sarana komunikasi massa, memiliki kekuatan untuk menyatukan bangsa. Tapi kami bingung, lewat mana kami harus memperjuangkan itu semua,” tutur Nuya ketika menceritakan latar belakang lahirnya JKTMoveIn. Pada akhirnya, daripada menunggu wadah yang ideal untuk mewujudkan mimpi tersebut, Nuya berfikir untuk menciptakan saja wadah ideal itu. Oleh karena itu, Nuya mengajak teman-temannya untuk membantunya mewujudkan mimpi tersebut lewat sebuah acara yang memadukan seni, pendidikan, dan anak muda sebagai jiwa dari pergerakan tersebut.
Setelah berdiskusi dengan teman-temannya yang tergabung dalam tim inti JKTMoveIn, maka lahirlah keinginan untuk membuat sebuah musikal sebagai puncak dari rangkaian acara tersebut. Konsep musikal dipilih karena dapat memadukan banyak sekali unsur seni di dalamnya, musik, tari, teater, seni rupa dan teknologi audio visual modern. Selain itu, produksi drama musikal merupakan salah satu format seni yang tingkat kesulitannya tinggi dan membutuhkan kualitas team work yang sangat baik. Keberhasilan JKTMoveIn dalam mempersembahkan drama musikal ini akan menjadi bukti kekuatan pemuda dan seni, serta akan menjadi parameter baru bagi kreatifitas pemuda Jakarta.
Tim JKTMoveIn menyadari bahwa acara ini merupakan acara yang besar, dan harus dapat dipertanggungjawabkan, maka dipilihlah mentor untuk membantu selama proses perisapan berlangsung. Ada tiga mentor utama, yaitu Anies Baswedan (Founder Indonesia Mengajar), Toto Arto (Produser Musikal Laskar Pelangi), dan Pandji (Performing Artist). Tim JKTMoveIn juga melakukan-perekrutan terbuka, baik untuk kepanitiann, ataupun pemain dari musikal tersebut. Melalui perekrutan terbuka itu, didapatkanlah anak muda yang kompeten dalam bidangnya, dan memiliki komitmen untuk bersama-sama melakukan perubahan.
Sejak bulan Februari, sampai dengan saat ini JKTMoveIn sudah menggelar beberapa acara untuk memunculkan awareness masyarakat, khususnya pemuda Jakarta terkait dengan perubahan yang ingin mereka lakukan. Acaca tersebut adalah ROADSHOW, INSPIRATION SESSION, dan PARADE. Selanjutnya, mereka akan menampilkan drama musikal bertajuk MUSIK SEKOLAHAN pada tanggal 16-17 Agustus 2014 di Teater Jakarta. Acara musikal yang menjadi puncak rangkaian acara JKTMoveIn ini, merupakan acara dari pemuda, untuk pemuda, dan oleh pemuda. Seluruh komponen yang terdapat di dalamnya, mulai dari script, aransemen musik, dan lain-lain merupakan murni karya pemuda, dan bersifat volunteer, mereka semua disatukan oleh passion mereka masing-masing, untuk mewujudkan mimpi perubahan tersebut.
Dalam acara press conference tersebut, juga hadir Toto Arto, salah satu mentor JKTMoveIn, yang membantu tim dalam proses produksi musikal. Terkait dengan alasannya mau bergabung dengan acara ini, Toto menyampaikan bahwa siapaun yang diajak terlibat harus mau untuk bergabung, karena semangat pemuda yang ada tidak boleh diabaikan, dan harus ditangani dan diarahkan dengan benar. Toto mengaku kagum dengan acara ini, karena keseluruhan acara musikal tersebut dikerjakan oleh pemuda dari mulai teknis sampai dengan original costume, script, aransemen, dan lainnya, tanpa menggunakan tenaga profesional. Ambassador dari JKTMoveIn, Chelsea Islan, Barry Likumahuwa, Ryan Adriandhy juga menyatakan dukungan mereka terhadap acara ini, karena mereka merasa memiliki semangat, visi, dan misi yang sama dengan JKTMoveIn, untuk membawa perubahan di Indonesia.
Selain menjelaskan mengenai JKTMoveIn, dalam konferensi pers tersebut juga diberikan cuplikan penampilan dari para cast musikal yang akan ditampilkan pada drama musikal Agustus yang akan datang. Dengan adanya konferensi pers ini, diharapkan masyarakat khususnya pemuda Jakarta lebih mengenal acara JKTMoveIn ini, sehingga mereka dapat mendukung acara ini, dan terinspirasi untuk melakukan perubahan. Sesuai dengan harapan dari adanya JKTMoveIn, yaitu karya yang dihasilkan dapat berdampak signifikan bagi industri kreatif, dan JKTMoveIn bisa terus ada dan menjadi wadah untuk pemuda yang ingin belajar, menyalurkan passion, dan membawa perubahan terhadap industri kreatif ke arah yang lebih baik. Rangkaian acara Jakarta Movement of Inspiration yang didukung oleh Urban Icon, Garuda Indonesia, Zap, Bratpack & Co, dan official make up by Moor’s Professional Make Up (Mustika Ratu).