“Jika gagal, maka coba sekali lagi. Jika gagal lagi maka coba sekali lagi. Jika masih gagal lagi, jangan menyerah dulu tapi coba lagi sekali lagi. Begitu terus hingga akhirnya ujian bisa kau lewati.”
Entah sudah ke berapa kali tapi hasilnya masih sama; tidak memuaskan. Aku menatap supervisor dengan pandangan sedih sambil menyodorkan cetakan rahang atasku. Supervisor yang tadinya marah akhirnya mulai melihatku dengan tatapan kasihan sekaligus lucu. “Saya coba sekali lagi ya dok…” sebutku dengan nada yang lemas sambil mengharap iba. “Yaudah dicoba lagi ya, itu kayaknya kamu kurang neken deh bagian posteriornya”, kali ini ia bicara dengan nada yang lebih lembut dan ditutup dengan senyum melihatku yang mulai celemotan alginate. Padahal tadi pagi nadanya agak seram saat menghujaniku dengan pertanyaan – pertanyaan tak terduga yang sulit untuk ku jawab, huhu.
Aku kemudian kembali ke kursi gigi dan membersihkan mangkuk aduk yang barusan ku pakai. Ku siapkan lagi bubuk alginate dan air untuk mengaduk adonan yang baru. Untungnya hari ini aku tidak kerja sendiri tapi berdua dengan seorang teman. Di percobaan selanjutnya pun hasilnya masih belum memuaskan, ada saja yang kurang ketika cetakan sudah mengeras dan ku lepas dari modelnya. Saat itu tubuhku yang belum meneguk setetes air ataupun menyuap sesendok makanan pun semakin lemas dan tak berdaya. Emosiku semakin tidak karuan dan perasaan yang sudah begitu letih mengalami kegagalan mencetak terus-terusan.
Ku lihat kemasan bubuk alginateku yang kini mirip dengan kesabaran dan fokusku saat itu ; sudah hampir habis. Rasanya ingin menyerah saja dan pulang ke rumah. Atau berharap diriku tiba – tiba pingsan saja dan bisa melupakan drama cetak – mencetak hari ini. Rasanya benar – benar tidak karuan karena tidak bisa menjawab pertanyaan – pertanyaan supervisor ditambah lagi cetakanku yang ada saja kurangnya. Sedetik terbersit untuk mengakhiri saja semua kelelahan lahir batin di perkoasan ini, tapi tidak, tidak bisa begitu! Aku sudah menetapkan; menyerah bukan solusi. Bahkan seburuk apapun kondisinya, sehancur apapun aku jadinya atau sepahit apapun rasanya; menyerah tidak boleh ada dalam baris pilihanku dalam menyelesaikan masalah terkhusus dalam perkoasan ini.
Ku pandangi lagi gambar di layar handphoneku yang sengaja ku pasang foto ayah dan bunda. Cara ini ku lakukan untuk memecut nyali dan semangatku ketika mulai krisis. Aku mengambil nafas panjang dan berbisik lirih dalam hati memohon ampun dan pertolongan Nya. Peluh keringat terus menetes di balik baju operasi yang juga dibungkus baju kerja anti hazmat yang mirip pakaian ala astronot itu. Sudah saatnya mempercepat gerakan sebelum akhirnya aku pingsan beneran. Maka sekali lagi ku buat adonan. Melewati sekali lagi rasa penuh harap dan cemas saat melepas cetakan. Sekali lagi kecewa dan ingin menyerah melihat hasil cetakanku yang masih tak sesuai harapan. Tapi untungnya juga sekali lagi juga aku bangkit lewat kekuatan yang Allah berikan.
Ku sodorkan cetakan terbaruku kepada supervisor baik hati yang dari tadi tak bosan menunggu prosesku. Jawabnya mengejutkan, “Kayaknya bagusan yang pertama tadi deh, masih ada gak? Pakai yang itu aja kalau ada”. Aku melongo hampir pingsan, ku jawab ia dengan penuh kepasrahan, “Yang pertama tadi sudah saya buang dok…”. Sang supervisor kemudian senyum dengan sedikit tertawa, diikuti dengan diriku yang juga ikut tertawa karena tidak tahu lagi harus merespon apa. “Saya coba sekali lagi saja ya dok”, ucapku entah sudah keberapa kalinya lalu diikuti dengan responnya yang menganggukan kepala.
Aku percaya bahwa sesulit apapun cobaan, Allah tidak menguji diluar kesanggupan. Sesulit, selama dan sebanyak apapun yang rasa sakit ini, semua akhirnya pasti akan terlewati. Sama seperti hari ini, dengan kuasa Allah yang melembutkan hati supervisor dan memudahkan prosesku, cetakan terakhir akhirnya disetujui walau aku sendiri menyadari dan merasa belum puas hati. Tapi setidaknya aku tidak menyerah, kabur atau lari. Aku bangga dengan diriku yang memilih untuk terus sabar menghadapi. Dan sejatinya sudah seharusnya seperti ini. Seorang muslim tidak boleh kalah atau menyerah dari ujian, hanya ada dua pilihan baginya ; hidup menang atau mati syahid. Terima kasih untuk mau terus berusaha Aldri! Mari terus berjuang dan hanya boleh berhenti jika diizinkan Sang Illahi.